Crazy 4 - Wow Besar Ya

2088 Words
Sharena dan Makiel keluar bersamaan dari kamar mandi. Mereka keluar dengan rambut Sharena yang sudah sangat kering dan benar-benar tidak ada setitik pun basah di rambutnya. "Di mana kamarmu?" Tanya Sharena kemudian, berbalik menatap Makiel yang masih berada di belakangnya. "Haruskah di kamarku?" Makiel bertanya balik dengan tidak rela. Bagaimana pun, kamarnya belum pernah dipijaki oleh siapapun, tidak terkecuali teman-temannya. "Ya." Kata Sharena sambil tersenyum. Makiel menghela napas dengan wajah lesu. "Tidak bisakah di tempat lain? Hotel, misalnya?" "Jawaban yang kuinginkan hanya baiklah atau perjanjian kita batal." Makiel menatap kesal pada Sharena. "Sial, jika tahu aku akan terjebak denganmu, aku mungkin akan menambah kasur di ruang kosong di rumah ini." Ocehnya, kemudian pergi dari hadapan Sharena dan berjalan ke lantai 2. Sharena tersenyum, bisa menebak jalan pikiran orang-orang kaya yang selalu ingin kamarnya berada di lantai 2. Selain karena pemandangan yang bisa mereka lihat dari atas, orang-orang kaya juga suka dalam berolahraga, tidak terkecuali dengan turun tangga. Sesampainya mereka di kamar Makiel, Sharena menatap Makiel yang masih terlihat kesal. Perlahan, tangan Sharena melepaskan tali jubah mandinya sedangkan tatapannya masih terpaku pada Makiel. "Sebenarnya, akan lebih mudah jika kau membayangkan wanita yang kau sukai. Apakah kau tidak memiliki seseorang yang kau sukai?" Tanya Sharena. Makiel terlihat berpikir. Dia kemudian tersenyum cerah ketika mengingat sebuah nama. "Ada! Angel-ku! Walaupun dia mengkhianatiku, tapi aku masih tetap menyimpan namanya di lubuk hatiku yang sangat dalam, tidak terhapus walaupun dia memilih pria lain dan tidak akan pudar oleh waktu." Katanya sambil menyunggingkan cengiran. Sharena melongo menatap wajah bodoh Makiel. Tangannya bahkan berhenti menarik tali jubah mandinya. "Benarkah? Kau tetap mencintainya sedalam itu walaupun wanita itu mengkhianatimu?" "Ya. Dia sangat cantik, tidak ada yang menyaingi. Aku tidak akan pernah bisa berpaling darinya." "Wow. Siapa dia?" "Istri dari sahabatku, Annabelle." Suara gubrak seolah menggema di telinga Sharena. Sharena pikir, Makiel hanya salah satu orang bodoh yang kebetulan menjadi pelanggannya. Namun ternyata, Sharena kali ini berhadapan dengan orang paling g****k sedunia. "Bagaimana dia mengkhianatimu?" Tanyanya kemudian, menahan gejolak emosi yang berada di hatinya. "Ah, itu terjadi sekitar kurang lebih satu tahun yang lalu. Annabelle menyatakan cinta pada suaminya, dan aku merasa terkhianati." Sharena mengerjap bingung. "Bukannya saat itu Annabelle memang sudah menikah dengan Darren? Beritanya tersebar sangat luas sekali." "Ya, memang. Tapi tetap saja aku merasa terkhianati karena Angel-ku mencintai pria lain." Kali ini, Sharena tidak dapat menahan amarahnya. Mulutnya menganga lebar melihat wajah bodoh Makiel. "Kau ini gila apa bagaimana?! Memangnya kenapa jika Annabelle mencintai suaminya sendiri?!" "Kenapa kau marah?! Aku hanya menjawab pertanyaanmu!!" "Karena kau bodoh!! Annabelle tidak mengkhianatimu tapi kau yang tidak waras!!" "Apa katamu?! Berani-beraninya jalang sepertimu—" "Berhenti menghinaku! Aku tidak sudi dihina orang bodoh!!" "Kau!!! Darimana arogansi itu berasal hah?! Memangnya kau bisa hidup tanpa uangku?!" "Kau juga dari mana arogansi itu berasal, hah?! Memangnya kau satu-satunya orang yang memiliki uang?!" Rahang Makiel mengeras melihat arogansi dari wanita jalang di hadapannya itu. Dengan kesal, Makiel menarik tubuh Sharena dan mengurung wanita itu dalam pelukannya. "Sial! Aku tidak tahan lagi! Berdebat denganmu membuatku b*******h!" Geramnya. Dan sedetik kemudian, Sharena membulatkan matanya kala merasakan bibir Makiel menekan keras bibirnya, melumat bibir Sharena dengan kasar dan terburu-buru, mengikuti gairah yang membuat Makiel dengan nafsu memasukkan lidahnya ke dalam mulut Sharena, bergulat dengan lidah basah nan kenyal milik wanita itu. Sharena mendorong tubuh Makiel, namun pria itu beralih mengecup leher Sharena, dan membuka jubah mandi wanita itu dalam sekali tarikan. Makiel menjauhkan tubuhnya dari Sharena, memandang tubuh telanjang milik wanita itu. Mata Makiel menggelap seketika ketika matanya menelusuri seluruh tubuh Sharena. Begitu sempurna tanpa adanya tato seperti jalang-jalang yang sudah Makiel tiduri dengan gratis. Makiel menelan ludahnya ketika melihat bekas goresan di sekitar perut Sharena. Seperti pernah ada luka memanjang di sekitar sana. Makiel menatap mata Sharena. Pria itu kemudian melangkah maju, membuang handuk kimono Sharena ke lantai, mendorong wanita itu agar tidur di kasurnya yang belum pernah dijamah siapapun selain Makiel. Jemari Makiel kemudian bergerak, menelusuri bekas luka yang panjang itu, menyusulnya dengan kecupan di sekitar perut Sharena, membuat wanita itu tersentak dan mendesah pelan. "Ah..." Sharena menggeliat kala Makiel mengganti bibirnya dengan lidah, menelusuri bekas luka di perut Sharena, terus turun hingga lidahnya hampir menyentuh kewanitaan Sharena. "Ash..." Namun Makiel berhenti. Jemari pria itu menyentuh kewanitaan Sharena, membuat Sharena tersentak dan menggeliat ketika jari-jari itu bergerak di garis kewanitaannya. Kepala Makiel mendongak, menatap wajah merah merona Sharena dari bawah. "Sudah kubilang aku tidak bisa bertengkar denganmu, tapi kenapa kita selalu berdebat?" Tanya Makiel serak, dan dibalas desahan kuat dari Sharena karena jari tengah Makiel yang memasuki kewanitaannya. Makiel kali ini fokus menatap kewanitaan Sharena yang basah dan sedikit bulu-bulu kasar di sana. Jari tengah Makiel bergerak memutar di dalam kewanitaan Sharena, membuat wanita itu meremas seprai milik Makiel dan mencoba menjauhkan dirinya dari serangan jari Makiel. Melihat respons yang berbeda dari wanita biasanya itu, Makiel mendongak menatap wajah Sharena. Mata wanita itu terpejam rapat kali ini. Dan bibirnya bawahnya digigit seolah menahan desahan. Makiel terpaku dengan wajah b*******h milik Sharena. Bibirnya tersenyum miring. "Kau bahkan bukan perawan, tapi kenapa responmu sangat polos?" Ujarnya, membuat Sharena membuka mata dan menatap Makiel dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. "Bersyukurlah, kau satu-satunya yang mendapatkan ini." "AKH!!" Dan sedetik kemudian, Sharena menjerit kencang saat merasakan mulut Makiel yang menyentuh klitorisnya. Tubuhnya tersentak dan menggeliat. Sharena mencengkeram karpet dengan kuat, mencoba menjauhkan pinggulnya dari mulut panas Makiel namun tangan Makiel menahannya. Lidah Makiel bergerak menjilati k******s Sharena sedangkan jari tengah Makiel maju mundur dengan cepat. "Ah!!" Teriak Sharena ketika Makiel menambah jarinya sekaligus menambah laju lidahnya di kewanitaan Sharena. Tangan Sharena beralih, menjambak kuat rambut Makiel ketika rasa ngilu dan nikmat di kewanitaannya sudah tidak bisa tertahankan lagi. "Ah! Ah! P-pelan-pelan!" Makiel tidak mendengarkan. Dia menambah jarinya lagi di kewanitaan Sharena, membuat wanita itu kembali berteriak kencang. "Ah Tuhan!" Pekiknya kala Makiel menghisap klitorisnya dan memainkannya sekaligus di dalam mulut Makiel. "B-berhenti! Berhenti! A-aku—AHH!" Dan Sharena meledak hanya karena tiga jari Makiel yang berada di kewanitaannya dan juga mulut Makiel yang berada di klitorisnya. Makiel masih menekan tangannya di kewanitaan Sharena ketika tubuh Sharena tersentak-sentak mengeluarkan cairannya. Mata Makiel menggelap melihat ekspresi wanita itu kala meledakkan cairannya. Sungguh polos dan cantik. "Kupikir kau berpura-pura, ternyata kau memang sepolos itu." Kata Makiel. Dia melepaskan jarinya, kemudian melepaskan jasnya dengan terburu, membuangnya ke lantai dan kemejanya kemudian menyusul jasnya. Makiel menindih tubuh Sharena, membiarkan dadanya dan p******a milik Sharena menempel dengan sendirinya. Bibirnya menyatu dengan bibir Sharena, melumat bibir bengkak itu dengan kasar dan terburu, sarat akan gairah. Tangan Makiel kini beralih, menekan tengkuk Sharena, memperdalam ciuman mereka dan memasukkan lidahnya ke dalam mulut wanita itu, menggelitik langit-langit mulut Sharena, mengabsen gigi wanita itu dengan lidahnya, dan memainkan lidah wanita itu dengan nafsu. Sharena kembali mendorong Makiel. Napasnya berembus kasar, membuat payudaranya menekan-nekan d**a Makiel. "K-kejantananmu. Aku harus membangunkannya." "Lupakan itu. Aku ingin memuaskanmu." Balas Makiel, beralih menyerang telinga Sharena, mengecup cuping telinga wanita itu, kemudian memasukkan ke dalam mulutnya. Melumat cuping telinga wanita itu. "A-ah..." Desah Sharena ketika lidah Makiel memasuki lubang telinganya, bergerak memutar, lalu lidahnya menyelusuri cuping telinga Sharena. Sharena memejamkan matanya ketika lidah Makiel terus turun, menjilat lehernya, tulang selangkanya, kedua p****g payudaranya, terus turun hingga bermain di pusarnya. Sharena menggeliat tidak terkendali. Tangannya kembali meremas seprai kala tangan Makiel memainkan p****g payudaranya. "AH!" Mata Sharena terbuka seketika. Mulutnya menganga, dan tubuhnya tersentak kala merasakan sesuatu yang panjang dan keras memasuki kewanitaannya. Napas Sharena terputus-putus, matanya menatap tidak percaya pada Makiel yang sudah berada di antara kakinya. "K-kau..." Makiel tersenyum miring. "Ya, aku sudah bisa memasukimu sekarang." Katanya. Makiel memajukan tubuhnya, membuat kejantanannya masuk lebih dalam ke pusat tubuh Sharena. Mereka sama-sama mendesah saat kejantanan Makiel sudah masuk sempurna. Tubuh Makiel membungkuk, kembali berada di atas tubuh Sharena dengan kedua tangan yang menopang tubuhnya. "Kau siap?" Tanya Makiel. Sharena tidak menjawab dan hanya mengalungkan tangannya di leher Makiel. "Ah! Ah!" Desah Sharena saat Makiel membuat gerakan memutar di dalam tubuhnya. Makiel memundurkan kejantanannya hingga hanya kepala kejantanannya saja yang berada di dalam tubuh Sharena. "AH!!" Sharena menganga lebar ketika Makiel menyentak tubuhnya dalam-dalam. Tubuh Sharena mengerut ketika merasakan kejantanan Makiel yang terasa menyentuh titik terdalamnya. "Ya Tuhan! AH!!" Desah Sharena ketika Makiel bergerak cepat tak terkendali, seolah mengeluarkan seluruh gairah yang ditahannya selama setahun ini. Bergerak cepat, keras dan dalam, membuat Sharena tidak dapat menghentikan mulutnya untuk terus terbuka dan mendesahkan nama Makiel. Makiel tidak menurunkan temponya sama sekali. Bahkan ketika Sharena meledak, Makiel tetap tidak menurunkan temponya, membuat Sharena keluar berkali-kali sedangkan Makiel meledakkan dirinya di akhir. Menyentak tubuh Sharena, mengeluarkan cairannya di dalam tubuh wanita itu. *** "... Apa aku salah lihat?" "Tidak. Jika kau salah lihat, tidak mungkin aku melihat hal yang sama juga. Benar kan Darren?" "Hm." "Kau melihatnya juga, Darren?" "Hm." "Woah, apakah ini berarti kejantanan Kiel sudah kembali berjalan normal?" "Sepertinya begitu. Aku belum puas mengejeknya selama setahun ini." "Kalau aku masih bisa karena aku yang paling tampan dari kalian bertiga." "Aku pun tampan!!" "Tapi tidak lebih tampan dari Kiel. Kau bahkan tidak lebih kaya dari Kiel." "Hey!! Perusahaan Damian adalah satu-satunya yang tersebar di dunia! Reinhard, Wilkinson, Phillips dan McKennedy juga masih berada di bawahku! Maka dari itu Darren masih mau menjadi bawahanku hingga sekarang!" "Itu karena perusahaanmu adalah yang paling miskin! Benar, kan Darren?" "Hm." "Sial!!! Kalian sekarang akan beralih menjadi mengejekku setelah tidak ada lagi yang bisa kita ejek dari Kiel?!" "Berisik!!!" "Ah kaget!" Refleks salah satu dari 3 pria yang berdebat di dalam kamar Makiel itu. Mereka serentak terdiam saat pria yang tengah telanjang di atas kasur itu meregangkan tubuhnya, mengerjapkan dan menyimpitkan mata ketika menatap tiga orang yang ada di sana. Makiel membuang napasnya. "Apa aku bermimpi? Kenapa ada tiga setan di dalam kamarku?" Tanyanya serak, kemudian merubah posisinya menjadi membelakangi tiga orang itu. "Ah mungkin ini yang dinamakan lucid dream. Terasa sangat nyata." Dan Makiel kembali meneruskan tidurnya. "Si bodoh ini bahkan lebih bodoh ketika bangun tidur." Mendengar ucapan dingin yang sangat dikenalinya itu, Makiel membuka matanya, menatap wanita yang ada di pelukannya, lalu berbalik ketika melihat orang-orang yang berada di belakangnya. "KYA!!!! APA YANG KALIAN LAKUKAN PADAKU?!!" Tiga orang pria yang merupakan sahabatnya itu hanya menghela napas lelah. "Dia sangat bodoh. Aku bahkan tidak bisa membandingkan siapapun yang lebih bodoh darinya." Kata Alarick. "Kau benar. Ternyata Makiel masih bisa kita ejek dengan sifat bodohnya sendiri." Balas Felix. "Apa aku boleh pulang sekarang?" Tanya Darren dengan datar. Makiel segera duduk, dia segera menaikkan selimut tebalnya itu agar menutupi tubuh Sharena hingga ke lehernya. Matanya kemudian menatap geram pada teman-temannya. "Apa yang kalian lakukan di sini?!! Jika rindu padaku tidak usah mendatangiku ke rumahku!! Kalian membuat rumahku kotor, tahu tidak?" "Si Berengsek ini!! Memangnya aku mau ke rumahmu hah?!! Ini semua gara-gara Darren!!" Balas Felix. "Tidak mungkin Darren yang menyarankan kalian untuk datang! Dia itu orangnya tidak memiliki kepedulian selain pada Angel-ku!!" "Itu benar." Tambah Darren. Alarick menggelengkan kepalanya dengan kesal. "Memang bukan Darren. Tapi Angel-mu itu yang menyuruh kami datang karena kau tidak datang ke rumahnya selama 3 hari tanpa kabar." "Hey!! Yang kalian sebut Angel itu istriku!!" Sentak Darren, kali ini emosinya muncul dan wajahnya memiliki ekspresi kesal. "Benarkah? Angel-ku melakukannya?" Tanya Makiel dengan cengiran senang. "Sialan!! KAU INGIN KUBUNUH SEKARANG JUGA HAH?!" "SILAHKAN SAJA JIKA KAU INGIN ANGEL-KU MEMBENCIMU!!" "BERHENTI MEMANGGILNYA BEGITU!! ADA WANITA DI SAMPINGMU! KAU DENGAN DIA SAJA JANGAN DENGAN ISTRIKU!!" "APA HAKMU MELARANGKU?!! HANYA SELINGKUHAN SAJA BANGGA! DASAR PENGKHIANAT!" "AKU YANG SUAMINYA TAPI AKU YANG PENGKHIANAT?!" Sedangkan 2 orang itu saling berteriak, Felix dan Alarick berbisik di belakang mereka. "Apakah kita harus menghentikannya?" Tanya Alarick. "Diamlah. Aku suka melihat Si Dingin Darren itu emosi. Sungguh menyenangkan." Balas Felix, ikut berbisik. "Wah, kau benar. Apakah aku harus memvideo momen langka ini?" "Haruskah? Idemu bagus juga." Namun, belum mereka mengeluarkan ponsel mereka, geraman seseorang membuat keempat pria itu menoleh dan mendapati wanita yang ada di balik selimut itu terbangun dengan posisi selimut yang sedikit melorot. Tiga pria di sana melotot melihat p******a wanita itu. Sharena mengerjap melihat ramainya tempat itu sekarang. "Ada apa di sini?" "Wow. Besar ya." Kata Felix. "Kau benar." Balas Alarick. "SIALAN!! TUTUP MATA KALIAN BERENGSEK!!" Pekik Makiel, segera memeluk Sharena dan membuat b****g telanjangnya terekspos bebas ke hadapan pria di sana. "Ah sial! Kau membuat mataku ternodai, Kiel!!" "Hey!! Kau menghalangi pemandangan indah tadi!" "Pantatmu sungguh jelek sekali." "KELUAR JIKA KALIAN TIDAK INGIN KUTUNJUKKAN TUBUH DEPANKU!!" Dan sedetik kemudian, tiga orang di sana kabur seketika dari hadapan Makiel. Jangan salah. Pria itu adalah orang yang paling nekad di dunia. Dan mereka tidak ingin mempertaruhkan mata mereka dengan melihat tubuh telanjang Makiel di bagian depan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD