Crazy 6 - Bisakah Kau Tidak Mencintainya

2333 Words
Menjadi seseorang yang pernah impoten adalah sesuatu yang memalukan dan tidak mungkin terjadi pada Makiel di masa lalu. Pria gila s*x yang selalu membuat wanita rela melemparkan dirinya dengan gratis. Bukan hanya tampan, sifat Makiel juga limited edition. Tidak akan ada di mana-mana. Sikap bodohnya bukannya membuat orang lain ilfil, tapi sebaliknya. Mereka malah menyukai Makiel dan bahkan Makiel adalah satu-satunya orang di The Devils yang memiliki fanbase. Bahkan si Hot Devil Felix saja tidak bisa mencapainya. Followers i********: milik Makiel bahkan yang paling banyak di antara teman-temannya. Bahkan teman-temannya sudah tidak terlihat lagi akun instagramnya setelah menikah. Memiliki satu wanita di hidup pria itu memang sangat menyusahkan. Dan apa barusan yang teman-temannya bilang? Jatuh cinta? Seorang Makiel? Ayolah, Makiel bahkan tidak pernah jatuh cinta sedari kecil. Berbeda dengan semua teman-temannya yang sudah mencintai wanita dari umur yang sangat kecil. Dan wanita-wanita itu adalah satu-satunya yang ada di hidup mereka. Kalaupun Makiel harus jatuh cinta, tidak bisakah dia jatuh cinta dengan seseorang yang lebih high class? Dan bukannya p*****r seperti Sharena. Sangat tidak masuk akal sekali, bukan? Makiel menginjak remnya kuat-kuat. Matanya mengerjap kemudian melotot saat melihat rumah sakit anak di depannya. "Kenapa aku bisa tersesat sampai ke sini?" Gumamnya. ... Hey, Tuan Penggila s*x, jika kau kelebihan uang, ada beberapa rumah sakit khusus anak di sebelah Timur LA. Kau bisa membuang uangmu di rumah sakit itu jika kau mau... Makiel kembali mengerjap ketika mengingat ucapan Sharena di pikirannya. Dia tertawa hambar. Itu bahkan ucapan Sharena berbulan-bulan lalu. "Apa yang kupikirkan sebenarnya?" Gumamnya sambil tertawa kaku. "Lagipula, ini pasti bukan Timur. Bisa jadi Selatan, Utara atau Tenggara kan? Tidak mungkin benar-benar Timur." Makiel menggelengkan kepalanya sambil tetap tertawa kaku. Tok tok tok "Astaga! Kaget!" Henyak Makiel saat seseorang mengetuk jendela mobilnya. Dia melotot saat menatap ke sampingnya dan melihat Sharena di sana. "Apa-apaan ini?! Aku benar-benar ke Timur?! Dan lagi, tanpa sadar?!" Tanyanya pada dirinya sendiri. Sharena yang berada di luar hanya mendekatkan wajahnya ke jendela dan kembali mengetuk jendela mobilnya Makiel. "Tuan?" Panggil Sharena samar. Makiel mengerjap. "Apa dia tahu ini aku?! Bagaimana bisa?! Dia bahkan baru sekali naik mobilku. Dan itu berbulan-bulan yang lalu!" Tok! Tok! Tok! "Tuan!" "Woah, dia wanita yang menakutkan," kata Makiel sebelum membuka jendela mobilnya dengan sengaja. Dan terlihatlah wajah Sharena yang terlihat terkejut melihatnya. "Bagaimana kau bisa tahu itu aku? Apa sebegitu berkesannya tidur denganku hingga kau sampai mengingat detail dalam diriku dan tahu plat nomor mobilku? Apa mungkin kau jatuh cinta padaku dalam sehari? Apa aku sebegitu hebatnya di ranjang?" Sharena melipat tangannya di depan d**a. Dia memiringkan kepalanya sedikit. "Dengan segala hormat, Tuan. Tujuanku mengetuk jendela mobilmu adalah karena kau parkir sembarang tempat. Dan lagi, aku mana tahu ini mobilmu? Lagipula, bukannya aku sudah bilang kalau kita sebaiknya tidak usah bertemu? Kenapa aku harus menghampirimu dan bukannya menghindarimu?" Makiel mengerjap. Dia menatap sekelilingnya, kemudian berdeham dengan canggung. "Ah, benarkah?" Melihat wajah Makiel yang kebingungan membuat Sharena sukses mendengus geli. "Melihat kau ada di sini, mungkinkah kau mendengarkan perkataanku?" "Siapa yang mendengarkan perkataanmu?" Sela Makiel cepat. "Lagipula, ini bisa jadi bukan Timur. Bisa jadi Selatan atau Utara kan?" Kembali, Sharena mendengus geli. "Kau bahkan masih ingat aku mengatakan Timur." "Siapa yang ingat?!" Sentak Makiel sambil melotot. "Aku hanya kebetulan lewat! Itu saja!" Sharena mendelik. "Tuan satu ini gengsian sekali," bisik Sharena pada dirinya sendiri. "Apa?" Tanya Makiel tiba-tiba. Sharena menggeleng dan kembali mengeluarkan senyum menawannya. "Tuan ingin mampir ke rumahku? Rumahku di dekat sini." Makiel mengerjap mendengar tawaran yang tiba-tiba itu. Dia berdeham. "Aku ini seorang bos. Aku kan orang sibuk," gumamnya sambil menelan ludah dengan susah payah. Dia kembali berdeham. "Tapi, akan tidak sopan jika aku menolak tawaranmu. Aku bisa meluangkan sedikit detik berhargaku untukmu. Naiklah." Sharena menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Kurasa sebaiknya aku membatalkan tawaranku. Aku lupa kau adalah orang tersibuk di LA." Makiel melotot. "Kau tahu kalau kau saat ini sedang bersikap tidak sopan? Aku sudah mengiyakan tawaranmu tapi kau membatalkannya? Yang benar saja!" "Bukannya begitu. Hanya saja, aku tidak punya makanan yang high class untukmu." "Tenang saja. Aku pemakan segala. Apa yang kau bawa di tanganmu?" Sharena mengangkat paper bag di tangannya. "Ini? Hanya mie instan dan—" "Mie instan?! Kau ini mau membunuhku atau apa?!" Sentak Makiel cepat. Matanya makin melotot. Sharena mengerjap terkejut. "Kenapa berlebihan sekali? Itu hanya mie instan." "Ya! Dengan tambahan bahan kimia dan pengawet! Kau pikir makanan berat yang bisa kadaluwarsa bertahun-tahun itu sehat?!" Sharena menggaruk kepalanya dengan bingung. "Tapi—" "Permisi, Tuan, Nona," ucapan Sharena terpotong saat seseorang menyapa mereka. Seorang tukang parkir dari rumah sakit datang menghampiri. "Maaf, tapi jalan ini bukan untuk parkir. Sebaiknya jika ada kepentingan di sini silakan masuk ke dalam dan parkir di lapangan parkir yang sudah disediakan saja." Sharena dan Makiel saling tatap sejenak. Makiel kemudian memunculkan sedikit wajahnya dan tersenyum tipis pada tukang parkir tersebut. "Baiklah, kami akan segera pergi," katanya dan kembali menatap Sharena. "Sekarang masuklah dulu ke dalam." Sharena mengangguk. Setelah memberikan senyuman sopan dan canggung pada tukang parkir tersebut, Sharena kemudian masuk ke dalam mobil milik Makiel. Makiel berdecak saat mulai menjalankan mobilnya. "Kau buang saja belanjaanmu itu. Tidak layak dimakan." Sharena membuang napas kesal. "Begini ya, Tuan McKennedy yang terhormat. Mie instan ini bagiku adalah segalanya. Pusat hidupku. Jika aku tidak makan mie ini, aku akan mati kelaparan." "Kau bisa membuat masakan sehatmu sendiri." "Aku tidak bisa memasak dan aku tidak sepertimu yang mungkin memiliki puluhan chef di rumahmu." "Siapa bilang aku memiliki puluhan chef?" "Uangmu yang memberitahuku." Makiel mendengus. "Walaupun aku ini kaya raya tiada tara dan takkan habis uangnya, jika untuk makananku, aku membuatnya sendiri." Sharena mengerjap terkejut. Dia menatap Makiel sepenuhnya, seolah ucapan Makiel adalah hal yang tidak mungkin dilakukan oleh orang kaya raya seperti pria itu. "Benarkah?!" "Tentu saja," jawab Makiel santai. "Siapa yang tahu apa yang dimasukkan di sana? Uangku itu berbahaya. Banyak yang mengincarnya. Nyawaku bisa jadi ada dalam sesendok makanan yang kumakan." Sharena mengerjapkan matanya pelan. "Tapi waktu itu kau makan di restoran denganku." "Itu adalah acara makan dadakan. Kemungkinan orang ingin membahayakanku hanya sekitar 1 persen. Kecuali jika aku mereservasi lebih dulu. Kemungkinannya bisa mencapai 50 persen." Sharena terdiam sejenak. Memikirkan ucapan Makiel yang entah kenapa membuat Sharena sedikit kasihan. Sungguh, Sharena pernah berpikir bahwa orang-orang kaya itu hidupnya sangat enak dan sudah pasti tidak ada keresahan dalam kehidupannya. Namun mendengar ucapan Makiel sukses membuat Sharena berpikir ulang tentang hal itu. Nyatanya, ketakutan mereka lebih banyak. Takut uang berkurang, takut akan ada yang merebut posisinya, takut tentang kemungkinan adanya orang lain yang mengincar uang mereka. "Ke mana kita sekarang? Di mana rumahmu?" Tanya Makiel kemudian, membuat Sharena tertarik dari lamunannya. Sharena mengedip. Dia memutar tubuhnya dengan panik. "Ini sudah terlewat. Kita harus memutar balik." "Benarkah? Kau ini menyusahkan sekali. Kenapa pakai melamun segala sih?" "Apa kau tidak bisa diam barang sedetik saja? Semuanya saja dikomentari." Kesal Sharena. "Kenapa jadi kau yang marah? Kan ini memang salahmu." "Itu karena kau cerewet sekali. Apa susahnya tinggal putar balik saja dan tidak usah berkomentar?" "Kau—" Makiel menghentikan ucapannya saat ia melirik wajah kesal Sharena. Makiel menghembuskan napas kesal, kemudian menutup mulutnya dengan terpaksa. "Baiklah. Aku yang salah." Sharena cemberut dan hanya menatap jalanan. Dia hanya mengeluarkan suara ketika menunjukkan jalan pada Makiel. "Di sini. Kau masuk saja ke dalam." Makiel mengikuti arahan Sharena. Makiel sempat terkejut karena sempat berpikir bahwa Sharena akan tinggal di tempat kumuh seperti Valerie—istri Alarick. Namun ternyata memang Sharena ini adalah p*****r kelas atas. Apartemennya walaupun namanya tidak dikenal oleh Makiel, tapi tetap saja terlihat mewah dengan mobil-mobil ber-harga jual tinggi yang menghiasi pelataran parkir. "Aku baru melihat apartemen mewah yang tidak terkenal seperti ini," komentar Makiel kemudian. Dia menatap Sharena yang sedang membenarkan letak paper bag di tangannya. "Dan aku tidak menyangka kau tinggal di tempat seperti ini. Kukira kau akan tinggal di tempat yang kumuh." Sharena mendengus geli. "Kau ini terlalu banyak berkhayal." Katanya kemudian keluar dari dalam mobil. Makiel menyusul Sharena kemudian dan mengunci mobilnya. "Aku serius. Banyak kisah yang mengatakan kalau bekerja sebagai jalang itu adalah sebuah keterpaksaan. Mereka tidak punya pilihan lain. Rumah mereka kebanyakan jelek." Sharena mengangguk sambil berjalan bersisian memasuki gedung apartemen. "Sebagian begitu. Tapi aku tidak," katanya. Dia berhenti di depan elevator. Tangannya terulur untuk menekan tombol lift. "Menjadi p*****r adalah pilihanku. Jalan termudah mencari uang. Jalan yang kuinginkan untuk diinginkan orang lain. Tapi aku tidak seperti mereka yang terpaksa menjadi seorang jalang. Dan dengan ijasahku yang sebatas SHS saja, apa mungkin aku bisa menikmati hidup enak dan mudah seperti ini jika tidak menjadi jalang?" "Apa kau tidak bisa berhenti menjadi p*****r?" Sharena tersenyum. Dia memasuki lift bersama Makiel yang mengikutinya dari belakang. Jarinya kembali menekan tombol bernomor 12. "Kau tahu apa yang dipikirkan para p*****r setelah sukses mendapatkan uang dengan mudahnya?" Tanyanya, menatap Makiel kembali. Masih dengan senyum. "Kecanduan. s*x bukan hanya sebuah kebutuhan, tetapi seperti yang kau tahu, s*x bisa menjadi hobi. Orang-orang di sekitarku memang pernah terpaksa melakukan pekerjaan ini. Tapi setelahnya? Mereka menikmati. Bahkan ada yang pernah mencoba keluar dan mendapatkan pekerjaan lain. Namun setelah mereka diterima di pekerjaan lain, mereka dengan sengaja keluar dan kembali menjadi seorang p*****r," Sharena mengalihkan tatapannya pada layar monitor di atas lift yang menunjukkan angka elevator yang naik ke atas secara perlahan. "Maka dari itu, aku membatasi diriku sendiri. Aku tidak ingin menjadi gelap mata. Pekerjaan ini mungkin terdengar hina. Namun kupikir, semua pekerjaan itu mulia selagi tujuannya adalah untuk bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Tapi bagi mereka yang menjadikan pekerjaan ini sebagai ajang menjajakan tubuh tanpa tujuan, merekalah yang hina. Tapi tidak semua." Makiel terdiam mendengar kata demi kata yang meluncur dari mulut menggoda Sharena. Makiel tidak pernah berpikiran sejauh itu. Menurutnya, jalang adalah manusia rendahan dan teman-temannya bahkan tahu sebanyak apa Makiel membenci pekerjaan hina itu. Namun mengenal Sharena kembali membuka pikiran Makiel walaupun tidak sepenuhnya setuju dengan argumentasi Sharena. Ya. Semua pekerjaan itu mulia selagi tujuannya adalah untuk kebaikan. Manusianya saja yang salah dalam pekerjaan itu. "Ah dan tentang apartemen mewah ini," Sharena menatap Makiel kembali. Dia tersenyum. "Apartemen ini adalah apartemen yang kebanyakannya disewa oleh orang-orang sepertiku. Bahkan ada beberapa yang merupakan teman tidur pejabat. Makanya kau tidak akan mendapati CCTV di sini." Makiel akan merespon, namun elevator yang mereka naiki malah berhenti di lantai apartemen Sharena. Sharena keluar dari sana dengan Makiel yang mengikutinya dari belakang. "Tidak ada CCTV di sini?" Tanya Makiel kemudian, saat Sharena berhenti di depan sebuah pintu. Sharena mengangguk sambil memasukkan kode keamanan apartemennya. "Ya. Jadi kau tenang saja. Tidak akan ada yang mendapatimu denganku di sini." Makiel mendesah lega. Dia hampir saja lupa tentang hal itu. Kenapa dia tidak berpikir dulu sebelum memasuki apartemen mewah Sharena? Sharena membuka pintu apartemennya. "Silakan masuk, Tuan." Katanya dengan senyum lebar. Makiel mendengus geli. Dia memasuki apartemen Sharena dengan langkah ringan. "Kau berbeda sekali dengan saat kita pertama kali bertemu." "Tentu saja harus berbeda. Saat jadi pelangganku, kau adalah muridku yang harus aku atur. Dan sekarang kau adalah tamuku, bukan pelangganku. Dan lagi, kau adalah pemilik perusahaan terkenal. Tidak mungkin kan aku bersikap tidak sopan?" Jelas Sharena panjang lebar. Makiel hanya mengangguk saja. "Masuk akal." "Kau lihat-lihat saja dulu. Aku akan menyiapkan minuman." Pandangan Makiel berubah menjadi pandangan menyelidik. "Bukan minuman instan kan?" Sharena mendesah lelah. Dia mengeluarkan sebuah apel dan jeruk di dalam paper bagnya. "Mau pilih yang mana?" Makiel tersenyum miring dengan sangat menawan. "Apel. Jangan pakai gula." Sharena mendelik. "Dasar Tuan Hidup Sehat." Gumamnya ketika menjauh dari Makiel. Makiel mengabaikan. Dia kembali melihat-lihat isi apartemen Sharena. Apartemen studio yang tidak memiliki pintu lain selain pintu masuk dan pintu kamar mandi saja. Patut diacungi jempol bahwa wanita ini memiliki rumah yang rapi walaupun makanannya tidak sehat. Semua yang ada di sana tertata rapi dan memiliki aturannya sendiri. Ruangan seseorang itu mencerminkan kepribadian orang tersebut. Dan melihat hiasan dinding berisi quote di sana membuat Makiel yakin bahwa Sharena adalah orang yang memiliki kecenderungan positif dan sabar. Ada pot bunga juga di dekat jendela. Total 3 pot yang berisi bunga segar. Sharena sepertinya sangat menyukai bunga. Terlihat dari rajinnya Sharena mengganti bunga-bunga segar tersebut. Mata Makiel kemudian menyipit kala melihat sebuah bingkai foto di atas kasur yang entah mengapa membuat Makiel merasa terganggu. Dia mendekati kasur, membawa bingkai tersebut dan menatapnya dengan tidak nyaman saat melihat Sharena yang sedang tersenyum lebar. Ya, tersenyum lebar dengan seorang pria yang berlutut di hadapannya. Wajah pria itu tidak terlihat. Dan hanya Sharena saja yang terlihat dalam foto tersebut. Namun lebih dari apapun pria itu sepertinya memiliki posisi yang istimewa pada diri Sharena. Terlihat dari bingkai foto yang masih tergeletak di atas kasur. Membuat Makiel berpikir bahwa Sharena masih sering memeluk foto itu setiap malam. "Jusnya sudah siap, Tuan McKennedy." Suara Sharena terdengar di belakang tubuh Makiel. Makiel berbalik. Dia menunjukkan bingkai foto itu pada Sharena. Dan melihat Sharena yang tersentak sejenak, membuat Makiel berasumsi bahwa tebakannya itu benar. "Dia siapa?" Tanya Makiel kemudian. Sharena tersenyum dan meletakkan jusnya di atas meja. Bukan senyum biasanya. Kali ini senyumannya penuh kesenduan. "Mantanku." "Mantan pacarmu?" "Bukan," Sharena menggeleng. Kembali menampilkan senyum sedihnya. "Mantan suamiku." Baru kali ini Makiel merasakannya. Baru kali ini setelah ibunya tiada, Makiel merasakan dadanya seolah diremas kuat-kuat. Dan lagi, hanya dengan mendengar perkataan Sharena saja. Wanita itu, ternyata sudah pernah menikah? "Benarkah?" Tanya Makiel sambil mendengus. Dia melempar bingkai foto itu ke atas kasur, mengalihkan pandangannya dari wajah Sharena. Menatap apapun selain Sharena. "Kenapa kau menyimpannya di atas kasur? Kau masih mencintainya?" "Ya. Aku masih mencintainya. Sampai kapanpun." Makiel menegang seketika. Dia membeku di tempatnya dengan seluruh tubuhnya yang terasa mendingin dan kesemutan secara tiba-tiba. Perkataan wanita itu mengejutkannya. Sangat mengejutkannya. Entah ada apa dengan diri Makiel. Entah itu hanya ilusinya saja atau sebatas terbawa perasaan saat teman-temannya menempatkan Makiel dalam posisi sial. Yaitu jatuh cinta. Namun Makiel tidak bisa menahannya. Makiel tidak bisa menahan dirinya. Makiel tidak bisa menahan mulutnya sendiri saat ia berkata, "Bisakah..." Jeda, Makiel mengangkat kepalanya, menatap Sharena tanpa ekspresi yang terlihat di wajahnya. "Bisakah..., Kau tidak mencintainya?" Wanita di depannya terlihat sangat terkejut. Sharena mengerjap beberapa kali. "Apa..., Maksudmu?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD