Memalukan.
Seumur hidup, rasa yang tidak pernah dirasakan oleh Makiel adalah rasa malu. Dia adalah tipe orang malu-maluin yang membuat orang di sekitarnya malu. Namun sekalipun, Makiel tidak pernah merasakan perasaan malu dalam hidupnya.
Dia terbiasa bebas tanpa mendengarkan pendapat orang lain.
Yang penting dia kaya.
Yang penting dia tampan.
Yang penting dia punya teman.
Tiga kategori itu, sukses membuat Makiel hidup sebebasnya sendiri. Namun, Makiel sukses dikejutkan oleh dirinya sendiri karena sudah merasa malu.
Apa tadi?
... Bisakah..., Kau tidak mencintainya? ....
Sumpah demi apapun yang ada di dunia ini, itu adalah kalimat yang paling tidak keren yang pernah Makiel ucapkan seumur hidupnya.
"Apa maksudmu?" Tanya Sharena kemudian.
Dengan cepat, Makiel menyembunyikan kegugupannya dengan tertawa kaku. Dia kemudian menatap wajah Sharena kembali. "Aku hanya bertanya. Lagipula, untuk apa mencintai seseorang yang bukan milikmu? Buang-buang waktu saja."
Sharena tersenyum. Dia menempelkan bokongnya pada tepian meja sedangkan tangannya bersedekap di depan d**a. "Kau belum pernah jatuh cinta ya?"
Makiel membuang napas. Dia duduk di tepian kasur. "Perasaan yang sukses membuat sahabat-sahabatku lupa diri itu? Sama sekali tidak akan kulakukan."
"Cinta itu bukan sesuatu yang bisa kau rencanakan," balas Sharena dan berpikir sejenak. "Jika dijabarkan sebagai sebuah bisnis, cinta itu bagaikan suatu bisnis yang sangat beresiko tapi kau tidak punya pilihan lain dan tetap melakukannya. Begitulah intinya."
"Bisnisku lancar dan tidak beresiko."
"Kau hanya terlalu bermain aman. Kau menghindarinya karena mungkin menurutmu itu bisa melemahkanmu."
"Bisakah kita berhenti membicarakan tentang cinta?" Tanya Makiel kemudian. Mendelik kesal. "Seseorang yang sering mengatakan cinta pada pasangannya bahkan bisa berselingkuh. Lalu kenapa cinta jadi sesuatu yang sangat istimewa bagi orang-orang?"
"Jika cintanya diberikan pada seseorang yang sepertimu, tentu saja akan ada pengkhianatan," balas Sharena kemudian, mengabaikan pelototan Makiel. "Tapi untuk mantan suamiku, dia adalah orang yang paling pantas untuk kuberikan cintaku."
Makiel berdecih tidak suka. "Memangnya kenapa dengan mantan suamimu itu? Dia memiliki banyak bisnis yang mendunia?"
Sharena menggeleng. "Dia seorang karyawan."
"Seorang karyawan? Dan kau membandingkan orang sepertinya itu denganku? Lagipula, jika memang dia sangat berkesan untukmu, kenapa pula kalian harus bercerai?"
Raut wajah Sharena berubah sendu. Dia berjalan ke tengah ruangan, menatap sebuah pigura yang menempel di tembok. Pigura berisikan sebuah kartu nama yang ia dapatkan sekitar 2 tahun yang lalu. "Aku menjadi jalang. Bahkan saat kami masih menjadi pasangan suami istri."
Makiel melotot. Dia menegapkan tubuhnya dengan tegang. Sungguh, perkataan Sharena sukses membuat Makiel sangat terkejut. Makiel saja sudah terkejut dengan Sharena yang tidak melanjutkan pendidikannya. Dan lagi, kali ini dia kembali dikejutkan dengan Sharena yang sudah pernah menjadi seorang istri sekaligus menjadi jalang ketika masih bersuami. "Kau serius dengan perkataanmu?" Tanyanya kemudian.
Sharena mengangguk tanpa menatap Makiel. "Entah kenapa aku bisa menceritakan ini padamu. Tapi mungkin, karena kita sudah berbulan-bulan tidak bertemu dan kau takkan menyebarkan ceritaku ke mana-mana."
Makiel mendengus sinis. "Benar kan kataku? Tidak ada yang istimewa dengan cinta."
"Tentu saja ada. Aku meninggalkannya karena aku mencintainya," kata Sharena dengan helaan napas panjang. "Bukan tanpa alasan kenapa aku harus menjual tubuhku. Saat itu, kami sedang krisis ekonomi. Dan selain itu, kami belum dikaruniai anak walaupun sudah 6 tahun bersama. Aku tidur dengan pria lain berharap aku hamil walaupun harus anak dari orang lain. Lucu bukan?" Ujarnya kemudian tertawa penuh ironi.
Makiel mengedip. Dia lagi-lagi terkejut dengan kisah hidup Sharena. Mungkinkah memang benar yang dikatakan orang-orang? Walaupun banyak prostitusi genit di luar sana yang mengangkang lebar di bawah pria, mereka tetap terpaksa untuk melakukannya dan bukan keinginan mereka untuk bekerja sebagai pezina.
Rasa canggung seketika menghampiri keduanya. Makiel kemudian berdiri, mencoba tertarik dengan apa yang ditatap Sharena dalam kurun waktu yang lama. Namun nyatanya, ketika Makiel ada di belakang Sharena, dia benar-benar tertarik dengan apa yang dilihatnya. Sebuah kartu nama. Dengan nama orang terbesar di dunia yang tercetak di sana.
"Xavier?! Itu sungguh kartu nama milik Xavier temanku?! Owner?!" Pekik Makiel, dan dijawab anggukan oleh Sharena. "Bagaimana kau bisa mendapatkannya?! Kau sudah pernah tidur dengannya?!"
Sharena memejamkan matanya sejenak, mencoba bersabar dengan teriakan Makiel yang melengking di telinganya. "Tidak. Aku hanya berciuman dengannya. Dan situasi saat itu benar-benar canggung."
"Bagaimana bisa?!"
Teriakan Makiel kali ini membuat Sharena berjengit. Dia segera berbalik, melotot menatap Makiel. "Bisa biasa saja tidak bicaranya? Kenapa harus teriak-teriak segala?"
"Tentu saja aku harus teriak!!" Teriak Makiel lagi. Jarinya menunjuk pada pigura berisi kartu nama itu. "Dan kenapa juga kau harus membingkai kartu nama orang sial itu?!"
Sharena melotot. Dia memukul tangan Makiel yang menunjuk pada pigura. "Hati-hati dengan bicaramu! Kau tidak tahu dia ini siapa?"
"Tentu saja aku tahu!! Kau yang tidak tahu dia itu siapa!! Dia bahkan bisa menyingkirkanmu dengan kuku jarinya! Dan apa?! Si sialan itu menciummu?! Kapan?! Berani-beraninya dia mencium wanita lain disaat sudah memiliki anak!!"
Sharena menghela napas kesal. "Makiel! Aku tidak mengerti kenapa kau marah-marah begini."
"Siapa yang marah?! Aku?! Untuk apa aku—" jeda, Makiel menghentikan ucapannya. Dia tersadar sendiri dengan apa yang sedari tadi dilakukannya. Ya, marah. Marah tanpa alasan. Sebenarnya, marah karena sebuah alasan. Kenapa juga Makiel harus marah mendengar Sharena berciuman dengan Xavier? Dan lagi, si psikopat itu membiarkan Sharena hidup. Apa Sharena memiliki kesan untuk Xavier hingga pria itu bahkan tidak membunuh Sharena?
Sharena membuang napas kembali, menggeleng, lalu berjalan menjauh dari Makiel. Kembali ke meja makan dan duduk di sana. "Kau tidak ingin minum jusnya?"
"Bagaimana kau bisa selamat dari Xavier?" Tanya Makiel kemudian, mengabaikan pertanyaan Sharena.
Sharena mengangkat bahunya sekilas. "Aku hanya beruntung."
"Lalu kenapa kau bisa bertemu dengan Psikopat satu itu?!"
Sharena melamun sejenak. Dia mengetukkan jarinya di atas permukaan meja. "Saat itu, beberapa bulan aku bercerai dari mantan suamiku. Aku mengikuti konseling. Seorang psikolog menyarankanku ke Islandia dan menikmati pemandangan di sana. Namun, saat aku dalam perjalanan menikmati pemandangan di Islandia, aku mendengar pembicaraan seseorang. Mengatakan jika Owner tinggal di Islandia."
"Jangan bercanda. Kau lulusan SMA. Mana mungkin mengerti bahasa Islandia."
Sharena mendengus. Dia menghentikan ketukan jarinya dan bersedekap di atas meja. "Kau pikir aku akan tertarik begitu saja dengan pembicaraan orang lain? Aku tertarik karena mereka berbicara bahasa Inggris."
"Lalu setelah mendengarnya, kau mau apa dengan Xavier? Tidur dengannya? Uangnya memang lebih banyak dariku."
Sharena mengangguk. "Ya, aku berencana untuk tidur dengannya. Tapi aku tidak berencana mengemis uangnya."
"Jangan melucu—"
"Aku berencana mati di tangannya," potong Sharena kemudian. "Karena yang kudengar, Owner membunuh jalang-jalang kurang ajar yang pernah tidur dan menyebut namanya setelah tidur dengannya."
Makiel mendelik tidak percaya. "Kalau kau ingin mati kenapa harus di tangan Xavier?! Kau bisa membunuh dirimu sendiri!"
"Aku berpikir begitu sekilas," balas Sharena, kemudian menggeleng. "Tapi hidupku terlalu bodoh untuk berakhir dengan bodoh pula. Aku yang tidur dengan pria lain, tapi aku yang bunuh diri setelah bercerai? Bukannya itu terdengar sangat bodoh? Dan lagi, jika aku bunuh diri, aku takut jika mantan suamiku menyalahkan dirinya sendiri. Dia terlalu baik bahkan untuk wanita hina sepertiku."
"Berhenti memuja-muja mantan suamimu itu!! Bahkan sekarang pun kau terlihat bodoh!" Kemarahan Makiel kembali. Dia sangat terganggu dengan pujian-pujian yang dilontarkan Sharena.
"Apa kita tidak bisa berbicara normal? Setiap bertemu selalu debat."
"Kau yang tidak normal! Dasar p*****r!" Kesal Makiel. Dia segera mengambil kunci mobilnya, dan berjalan ke arah pintu. Tanpa mengucapkan kata perpisahan, Makiel segera keluar dengan membanting pintu kuat-kuat.
Sharena membuka mulutnya dengan tidak percaya. Dia menggelengkan kepalanya dengan heran. Sungguh, Makiel ini sepertinya memang memiliki bipolar. Bentar-bentar marah, bentar-bentar bisa diajak mengobrol santai.
Baru saja Sharena akan meminum jus yang dibuatnya sendiri, tatapannya menangkap jendela apartemennya yang tidak terkunci. Sharena mengedip. Dia berdiri, berjalan melangkah menuju jendela dan menatap heran sekaligus takut.
Apa Sharena lupa mengunci jendelanya?
***
"XAVIER!! XAVIER!!"
Teriakan Makiel menggema di rumah yang luas itu. Tidak terlalu luas karena rumah milik Makiel lebih luas. Dan ya, yang Makiel panggil adalah seorang Xavier Marx Wilkinson. Dia dikenal sebagai Owner bagi orang-orang yang tahu identitasnya. Identitas Xavier sebagai Owner dikenal oleh seluruh pebisnis dunia. Bisa dikatakan, Xavier adalah puncak tertinggi di dalam suatu piramida dan pebisnis lain ada di bawahnya. Jika ingin bisnis lancar jaya, jangan pesugihan. Tinggal datangi Xavier dan menjadi salah satu anak buahnya. Jika tidak dibunuh, maka kalian akan beruntung dalam bisnis.
Xavier yang sedang makan tahu gejrot segera tersedak. Dia minum air putih dengan cepat, dan menatap Makiel dengan heran. "Kau bosan hidup?! Ingin mati muda di tanganku?!"
Makiel menghampiri Xavier yang sedang duduk di meja makan. Raut wajahnya tetap menampakkan kekesalan. "Kenapa Sharena memiliki kartu namamu?!" Tanyanya sewot.
Xavier mengernyitkan alisnya bingung. "Siapa Sharena? Kenapa bisa dia memiliki kartu namaku?"
"Jangan melucu!! Kalian berciuman!"
"Aku? Kapan?"
Rahang Makiel mengeras menatap seorang Owner yang Makiel anggap musuhnya sendiri. Suara mendesis terdengar dari Makiel. Dia segera berjalan ke arah tangga. "EMILIE!! SUAMIMU SELINGKUH!!"
Seharusnya Xavier tahu, Makiel tidak akan pernah datang jika keadaannya normal jaya. Pria sinting itu pasti memiliki sesuatu untuk dikacaukan. Dan saat ini Xavier adalah korbannya. Segera, Xavier dengan terpaksa berdiri dari duduknya dan menghampiri Makiel yang kesetanan. "Emilie tidak ada! Dia sedang berjalan-jalan dengan Zander!" Kesalnya sambil menarik bahu Makiel.
Wajah Makiel masih terlihat marah saat kembali menatap Xavier. Malah wajahnya makin terlihat marah. "Kau jujurlah padaku. Kau berniat selingkuh apa tidak?!" Sewotnya.
Xavier melotot. "Kau gila?! Aku saja cinta mati pada Emilie."
"Lalu kenapa sekarang kau mengizinkan Emilie berduaan dengan Zander?! Kau kan binatang peliharaan Emilie!"
"Lalu bagaimana lagi?! Jika wanitaku memintanya, pasti akan kuturuti."
"Bohong!! Kau tidak cinta lagi pada Emilie kan?!"
"Kau malah berkata seolah-olah aku yang tidak mencintaimu lagi."
"Lalu kenapa kau berciuman dengan Sharena?!"
"AKU BAHKAN TIDAK TAHU SIAPA YANG KAU BICARAKAN BERENGSEK!!"
"SHARENA BILANG DIA MENEMUIMU! DI ISLANDIA! DAN KAU BERCIUMAN!! TUJUANNYA ADALAH MATI DI TANGANMU!"
Diberikan garis besar seperti itu membuat Xavier sontak kembali ke masa lalu. Saat ada wanita yang dengan beraninya mendatanginya hanya untuk dibunuh. "Oh... Jadi namanya Sharena."
Makiel melotot. "Jadi benar kalian berciuman?!"
"Hanya untuk skenario agar Emilie membenciku," kata Xavier santai. Dia mengangkat bahunya sekilas. "Kenapa kau bertanya? Kau menyukainya?"
"Jangan melucu!!! Untuk apa aku menyukainya?!"
"Lalu kenapa kau datang marah-marah?!"
"Siapa yang marah-marah?!!"
"Kau, bodoh!!"
"Aku tidak marah sialan!!!"
"Lalu kenapa kau bertanya ke sini sambil berteriak-teriak?!"
"Memangnya aku tidak boleh bertamu sambil berteriak-teriak?!"
"Itu tidak normal sialan!!"
"AKU TIDAK MENYUKAINYA!!"
Xavier membuka mulutnya, kemudian kembali menutup mulutnya. Dia membuang napasnya dengan gemetar karena menahan kesal. Makiel masih melotot dengan wajah memerahnya. Terlihat benar-benar marah dan siapapun juga tahu jika Makiel sedang cemburu sekarang. Xavier membuang napasnya pelan. "Kau menyukainya, kan? Jujur saja, Sharena memang cantik—"
BUGH!!
Satu tendangan kuat dari Makiel dan Xavier jatuh di atas lantai. Makiel segera menindih tubuh Xavier di atas perutnya.
Xavier melotot dan mencoba berdiri. "Setan satu ini—UHUK!!"
Ucapan Xavier terpotong saat Makiel mencekik Xavier dengan kesal. "Kenapa kau memujinya?!"
"Berengsek!! Kau kesurupan hah?! Dia memang cantik tapi—UHUK!! EMILIE LEBIH CANTIK!! LEPASKAN AKU!!"
"Kau menciumnya bodoh!!"
"Sudah kubilang itu hanya skenarioku!!"
"XAVIER!!" Teriakan melengking dari suara yang dikenalnya membuat Xavier dan Makiel sama-sama menatap ke samping. Namun Makiel belum sempat menghindar saat sebuah tendangan melayang ke wajahnya. Tapi hebatnya, Makiel bergeming mencekik Xavier. "LEPASKAN XAVIER!!"
"Tidak mau!!"
"Kau!!" Emilie segera meraih kepala Makiel, menggigit kepala pria itu dengan kuat-kuat.
"AAAKHHH!! SAKIT!!" Akhirnya cekikan Makiel di leher Xavier terlepas. Makiel terdorong saat Xavier bangkit. Dia akhirnya berlutut di atas lantai. Matanya menatap nyalang pada Emilie. "Kau—"
DUK
"AAAAAAARRRRRRGGGGGHHHH!!" Satu tendangan kuat di benda pusakanya dan Makiel sukses menggelepar di atas lantai dengan tangan yang memegang tempat bekas tendangan Emilie. Wajah Makiel semakin memerah saat menatap Emilie. Urat-uratnya bahkan terlihat menonjol. "K-kau! P-psikopat!" Ujarnya terbata dengan jari telunjuknya yang gemetar saat menunjuk Emilie.
Emilie mengangkat dagunya. Kedua tangannya disimpan di samping pinggang. "Makanya! Jangan main-main dengan keluargaku!"
Makiel tetap mengerut di tempatnya. Yang di bawah sana benar-benar luar biasa nyeri karena tendangan kuat Emilie. Baru pertama kali ada yang menyentuhnya sebrutal itu. "P-pasangan p-psikopat."
Xavier sendiri hanya menyentuh lehernya dan mengusap bekas cekikan Makiel. "Si Iblis ini. Datang-datang hanya untuk membuat kekacauan."
Emilie menatap tajam pada Xavier. "Kenapa kau tidak teriak?! Jika kau teriak pasti para penjaga akan menyelamatkanmu!"
Xavier melotot. "Seorang Owner berteriak?! Harga diriku akan jatuh jika seseorang mendengarnya!"
"Lalu apakah harga dirimu tidak jatuh saat kau diselamatkan oleh seorang wanita?! Wanita yang bahkan tingginya jauh lebih pendek darimu?!"
Xavier terdiam seketika mendengar ucapan istri mungilnya. Sedangkan jauh darinya, Zander yang menggendong anak Xavier sedang tertawa melihat kebodohan Xavier.
Namun lebih dari itu, Keluarga Psikopat itu bahkan tidak mempedulikan Makiel yang mengerang dan mengerut kesakitan.