Crazy 8 - Teror

2395 Words
"Sungguh? Impoten? Lagi?!" Makiel mengangguk saat ditanya Sharena. Beberapa waktu lalu, Makiel menunggu dengan sangat sabar di depan pintu apartemennya Sharena. Dia sudah membunyikan bel namun tidak ada jawaban apapun dari dalam apartemen. Hal itu membuat Makiel berpikir bahwa Sharena belum pulang entah dari mana. Apalagi dengan keadaan mereka yang saling memblokir nomor satu sama lain membuat Makiel tidak tahu harus ke mana menanyakan Sharena. Ingin menelepon dengan nomor teleponnya yang lain, tapi takut di-reject karena Sharena tidak tahu nomornya yang itu. Hingga akhirnya Makiel memutuskan untuk menunggu dan baru bertemu Sharena saat petang mulai tiba. Sharena sendiri hanya menggunakan Levis panjang dan tanktop di tubuhnya. Namun anehnya sangat modis jika dipakai Sharena. Apalagi dengan sling bag yang menggantung di bahunya. Berbeda jauh dengan Makiel yang menunggunya dari siang dan sangat kucel dengan pakaian santainya yang mahal. "Bagaimana ini? Apakah akan mulai dari awal lagi?" Tanya Makiel dengan memelas. Semalam saat pulang dari rumah Xavier, Makiel kembali melakukan rutinitas hariannya. Having s*x. Namun ternyata kejantanannya tak kunjung berdiri, membuat Makiel harus kembali sok keren dengan berkata, "Kau ternyata tidak sehebat itu. Lihat, kau tidak bisa membuat kejantananku berdiri dengan pesona murahanmu." dan membatalkan dirinya masuk ke dalam lubang. Sharena sendiri hanya menghela napas pelan. "Kita tidak bisa menggunakan metode lama. Akan terasa hambar karena kau tahu bagaimana rasanya," katanya, membuat Makiel kembali terlihat lesu. "Apa kau tidak berniat untuk pergi ke dokter saja?" Makiel menggeleng cepat. "Tidak mau! Kau gila ya?! Ini aib seorang pengusaha terkenal, tahu?!" Sharena mendelik kesal. "Lebih baik kita masuk ke apartemenku dulu. Aku tahu kau pasti sudah lelah menunggu. Aku akan memasakkan sesuatu untukmu." Makiel kembali menggeleng. Wajahnya makin lesu. "Tidak usah. Aku pulang saja. Hanya, buka saja blokirmu dan hubungi aku dengan segera. Aku harap kau bisa menemukan solusinya segera." Sharena mengangguk dan memberikan senyum. "Baiklah. Aku akan segera mengabarimu." "Aku pergi." Pamit Makiel, tidak seperti kemarin yang pergi tanpa pamit. Setelah mendapat anggukan dari Sharena, Makiel segera berjalan pergi dari sana. Dapat Makiel dengar suara Sharena yang membuka pintu di belakang tubuhnya. "AHH!" Teriakan singkat dan suara gebrakan pintu membuat Makiel segera berbalik ke belakang, dan mendapati Sharena yang sedang memegangi gagang pintu dengan postur tubuhnya yang terlihat ketakutan. Makiel berlari kecil, menghampiri Sharena yang gemetar di depan pintunya. "Kenapa?! Ada apa?!" Paniknya. Sharena mengangkat pandangannya pada Makiel. Matanya berkaca-kaca dan Sharena terlihat menelan ludahnya berkali-kali. "Apa kau tidak masuk ke dalam apartemenku? Sama sekali?" Makiel mengernyit dan menggeleng. "Tidak. Kenapa?" "Kau tidak melihat seseorang yang masuk ke dalam? Sama sekali?" Makiel kembali menggeleng. "Kenapa?" Sharena membuang napasnya dengan kasar. Dia memejamkan matanya sejenak, kemudian menggeleng. "Tidak ada. Kau pergi saja." "Lalu kenapa kau berteriak? Kenapa kau gemetar seperti ini?" "Tidak ada." Makiel kali ini mengernyit marah. Dia mendorong Sharena menjauh dari pintu. "Makiel, kau—" Terlambat. Sharena terlambat menahan Makiel yang membuka pintu dalam sekali sentakan. Pintu terbuka lebar, dan Makiel sukses melotot kaget dengan apa yang dilihatnya. Apartemen Sharena berantakan. Beberapa barang banyak yang pecah. Sebuah semprotan pilox warna warni mengelilingi tembok rumah Sharena. Dan lebih dari itu, satu kata dengan pilox berwarna merah membuat kemarahan Makiel menjadi. Satu kata bertuliskan; die! "Ini bukan apa-apa." Kata Sharena sambil menutup pintu apartemennya kembali. Makiel menatap Sharena dengan tajam. Sebuah tawa sinis meluncur dari mulutnya. "Bukan apa-apa, kau bilang?!" Sharena membuang napas. Dia mengangkat wajahnya, menatap Makiel. "Ini hanya kemarahan sementara. Aku pernah mendapat SMS ancaman, tapi—" "Mendapat SMS ancaman?! Dan kau tidak melapor?!" "Ini bukan apa-apa!!" "Aku akan menelepon polisi," ucap Makiel kemudian, menghindari Sharena. Mengambil ponsel di sakunya dan segera menekan beberapa angka. "Makiel!!" Sharena berjinjit, mengambil ponsel Makiel dan menyembunyikannya di belakang tubuh. "Jika kau memanggil polisi untuk ke sini, akan ada banyak orang yang diselidiki!!" "Kau pikir aku peduli?" Tanya Makiel dingin, dan kembali merogoh saku. Mengambil satu ponselnya yang lain. Sharena membuka mulutnya dengan tidak percaya. Dia kembali mencoba meraih ponsel milik Makiel, namun kali ini Makiel menjauhkannya. "Makiel!! Kemarikan ponselmu!!" Pekik Sharena sambil melompat-lompat mencoba meraih ponsel Makiel. Sambungan pun terhubung. Makiel segera mendekatkan ponselnya ke telinga. "Halo? Bisa sambungkan dengan kepolisian?" Sharena akhirnya menyerah untuk mencoba mengambil ponsel Makiel. Dia menatap Makiel dengan tajam. "Jika kau melaporkannya, aku tidak akan membantumu lagi," ancam Sharena. "Aku tidak main-main." Rahang Makiel mengeras. Matanya menatap Sharena dengan nyalang sedangkan suara operator di sana mulai menanyakan banyak hal pada Makiel. "Kau sebegitu inginnya menyembunyikan ini?" "Ini bukan hanya tentang aku," ujar Sharena dengan desahan kesal. "Tidak bisakah kau pura-pura tidak tahu dan tidak ikut campur?" Sejenak, keduanya saling menatap dalam diam. Hanya suara operator yang terdengar di telinga Makiel sedangkan orang yang sedang ditanyai hanya menatap lurus-lurus pada Sharena. Memikirkan tentang ucapan Sharena yang sebelumnya. Yang mengatakan jika dia tidak akan membantu Makiel jika Makiel nekad untuk melaporkan hal ini. "Aku tidak peduli," ucap Makiel akhirnya. Dia segera berfokus pada operator. "Ada sebuah teror di—umph!" Ucapan Makiel terpotong saat Sharena mencium bibirnya dalam-dalam. Serangan tiba-tiba itu membuat Makiel melotot. Lumatan di bibirnya terasa kasar dan menuntut. Makiel menyentuh bahu Sharena, mencoba mendorong wanita itu. Namun ponselnya malah terjatuh dan bersamaan dengan itu, Sharena melepaskan ciumannya dan mengambil ponsel Makiel. Sejenak, tidak ada respons dari Makiel. Dia terlalu terkejut dengan serangan nikmat dari Sharena. Akhirnya, dia berdeham mencoba untuk terlihat tenang. "Itu curang." Katanya. Sharena melakukan kecurangan lainnya. Dia memasukkan kedua ponsel Makiel ke dalam celana dalamnya di bagian p****t. Makiel mengernyit melihatnya. "Dan itu jorok." Sharena menghembuskan napas dengan kasar. Dia menatap kesal pada Makiel. "Kau mungkin tidak peduli dengan orang lain, tapi aku peduli. Orang-orang di sini adalah orang-orang yang mengatakan pada keluarganya bahwa mereka memiliki pekerjaan tetap yang menjamin hidup dirinya dan keluarganya. Apa kau pernah berpikir, jika hal ini menyebar ke media massa, akan banyak keluarga yang merasa hancur mendengar berita itu?" "Kenapa aku harus berpikir seperti itu? Itu salah mereka sendiri karena memiliki pekerjaan sehina itu." "Makiel, tidak banyak orang yang hidupnya lancar dalam keuangan sepertimu..." Kesal Sharena. "Pokoknya, aku tidak mau hal ini sampai pada kepolisian." "Pelapor bisa siapa saja. Tidak harus korban," kata Makiel sambil kembali mengeluarkan ponsel lainnya dari saku. Sharena yang melihatnya sungguh lelah. Dia menepuk keningnya sendiri. "Makiel..., harus bagaimana lagi aku berbicara denganmu? Dengan ancaman pun kau tidak bergeming." Kesalnya. "Kenapa kau tidak menurutiku saja? Lapor polisi, semuanya beres." "Ada banyak pejabat yang memiliki satu budaknya di sini." "Kau pikir aku peduli?" "Makiel!!!" Rengek Sharena. Dia menatap Makiel dengan tatapan memelasnya. Makiel terpaku sejenak. Dia mengedip, lalu mengalihkan pandangannya dari Sharena. "Jangan menatapku seperti itu." Sharena heran sejenak. Memangnya, Sharena menatap Makiel seperti apa? Kenapa Makiel sampai terlihat kikuk dan seolah menghindari Sharena? Apa itu melemahkan Makiel? Tatapan memelas Sharena? Memiliki sedikit ide, Sharena mencoba untuk bereksperimen. Dia berjalan ke hadapan Makiel, mencoba memberikan wajah baby face selucu mungkin. "Makiel... tidak bisakah kau mendengarkanku sekali saja? Hm?" Rengek Sharena dengan cemberut, kemudian mengedip lucu. Makiel melotot. Dia kembali mengalihkan pandangannya. "Kubilang, jangan menatapku seperti itu!!" Sharena tersenyum jahil. Dia kali ini memeluk tubuh Makiel dari depan, mengangkat wajahnya yang berada tepat di bawah dagu Makiel. "Sekaliii saja. Bisakah? Ya? Ya? Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan. Bahkan aku akan membantumu dengan gratis. Bagaimana?" Rengeknya lagi dengan cengiran lebar yang ia usahakan selucu mungkin. Makiel terlihat menelan ludah dengan susah payah. Dia menatap Sharena yang malah memiringkan wajahnya dan mengedip lucu. Apalagi dengan cengiran yang mengukir pipi chubbynya. Makiel akhirnya menyerah. Dia membuang napas pelan dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. "Baiklah. Tapi janjimu harus ditepati. Kau akan melakukan apapun yang kuminta, bukan?" Sharena melepaskan pelukannya, kemudian mengangguk. Makiel membuang napas pelan. "Kau tinggal denganku sampai ancaman ini mereda dan aku mendapatkan pelakunya." "Baiklah." "Secepat itu?!" Pekik Makiel tidak percaya. Ia kira akan sulit untuk meminta hal itu. Mengingat bahwa Sharena orangnya sangat keras kepala. Sharena menyampirkan rambutnya ke samping dan tersenyum pada Makiel. "Aku juga takut, sebenarnya. Mumpung ada seorang bos besar yang memintaku tinggal, kenapa harus tidak setuju? Hehehe." Makiel mendengus geli. Dia menggelengkan kepalanya dengan heran. Sungguh, Sharena ternyata di luar dugaan. Kenapa dulu Makiel pernah mengabaikan orang yang tergila-gila padanya ini? *** Makiel sudah menahan senyum lebarnya ketika membawa Sharena ke rumahnya. Senang luar biasa ketika dia bisa membawa wanita itu kembali, entah karena apa. Biasanya Makiel amat sangat tertutup dengan rumahnya sendiri. Bahkan keempat temannya—eh, tiga maksudnya. Xavier mulai Makiel jadikan musuh. Intinya, ketiga teman dekatnya sama sekali tidak pernah menginjakkan kakinya—dulu, karena kemarin mereka menerobos dengan tidak sopannya. Ketiga temannya bukannya tidak Makiel izinkan. Tapi mereka yang tidak mau menghampiri rumah Makiel walaupun Makiel ajak. Katanya, rumah Makiel adalah rumah yang paling tidak punya modal. Tanpa pembantu, tanpa pengawal. Sangat tidak aman. Bahkan rumah Darren saja minimal memiliki pembantu. Dan sekarang, Darren bahkan memiliki puluhan pengawal di rumahnya. Hanya untuk mengusir Makiel dan melarang Makiel mendatangi rumahnya, apalagi jika Makiel menggoda istrinya. Sharena mengikuti Makiel dari belakang saat mereka sudah turun dari mobil. "Aku tahu ini terlambat," Makiel menghentikan langkahnya, dan menoleh ke belakang. Dia tersenyum saat Sharena berjalan mendekatinya. "Tapi, bagaimana komentarmu mengenai rumahku?" Sharena mengangkat sebelah alisnya. "Bukannya media sudah berkomentar? Rumahmu yang paling tidak bermodal di antara temanmu yang lain." Makiel melotot. "Sembarangan! Rumahku ini walaupun tidak ada pengawal dan pembantu, tetap saja harganya tidak sesederhana itu!" "Oh ya? Lalu kenapa tidak menggunakan teknologi canggih saja? Seperti rumah milik Felix." "Kalau dia berbeda. Dia kan memiliki perusahaan di bidang IT. Tentu saja dia harus meningkatkan teknologinya dan menggunakan produknya sendiri agar laku. Padahal, produknya tidak bagus-bagus amat." "Alarick memiliki banyak pembantu di rumahnya, Darren memiliki banyak pengawal di rumahnya. Dan Owner bahkan memiliki kebun binatangnya sendiri." "Kenapa kau membandingkan aku dengan Xavier?!" "Aku tidak membandingkanmu dengan Own—" "Pokoknya jangan ada Xavier di antara kita!! Nama Xavier dilarang di rumah ini!" "Aku tidak mengatakan namanya—" "Tetap tidak boleh!! Bahkan walaupun hanya imbuhan dan kata bantu juga tidak boleh!!" Kesal Makiel, dan berjalan mendahului Sharena dengan kesal. Melihat Makiel marah-marah lagi membuat Sharena luar biasa heran dengan kelakuan Makiel. "Apa dia musuhnya Owner? Kenapa sensitif sekali?" Bisik Sharena bertanya-tanya. Sharena akhirnya berdeham. Dia berlari kecil mendekati Makiel dari belakang. "Apa kau marah?" Tanyanya, dan dijawab diamnya Makiel. "Maaf, aku bukannya ingin memuji musuhmu." Dan Makiel tidak menjawab lagi. Sharena membuang napasnya pelan. Ternyata Makiel memiliki sisi yang ini. Sisi ngambek yang diam. Untunglah jika begitu. Sharena selalu memuji pria yang jika marah itu diam daripada marah-marah dan berbicara kasar pada wanita lain. Walaupun Makiel kadang marah-marah tapi ternyata tidak marah sungguhan. Sadar diri kalau dirinya akan tinggal di sini untuk sementara, Sharena mencoba untuk membuat perasaan Makiel kembali seperti semula. Dia mempercepat jalannya mendekati Makiel. Rumah Makiel memang terbilang mewah. Seperti ballroom besar yang memiliki lorong panjang untuk mencapainya. Dan mereka masih belum menemukan pintu di sini. Selain itu, rumah Makiel juga terbilang terlalu aman. CCTV dengan berbagai merek tercanggih. Yang bahkan bisa mengikuti Sharena saat berjalan. Ada juga CCTV yang bisa berputar 360 derajat. "Aku yakin semua rumah memiliki kelebihan sendiri," kata Sharena sambil mencoba menyejajarkan langkahnya dengan susah payah saat mendekati Makiel. "Kalau rumahmu, apa kelebihannya?" "Anti maling." Jawab Makiel singkat. Sharena tersenyum. Dia sudah tahu itu karena ada CCTV. "Bagaimana bisa?" Tanyanya walaupun sudah tahu Makiel akan menjawab apa. "Pakai dukun." Dan langkah Sharena terhenti seketika. Matanya menatap kesal pada punggung Makiel yang menjauh darinya. Bibirnya mencebik kesal. "Menyebalkan!" Kesalnya, dan melangkah dengan kaki yang dihentak. Berjalan mengikuti Makiel masuk ke dalam rumah. "Tuan McKennedy." Suara itu membuat Sharena mengangkat kepalanya dan mendapati seorang pria yang berdiri sigap dengan puluhan paper bag di sisi tubuhnya. "Ah, Karl. Kau sudah datang?" Tanya Makiel dengan senyum semangat di bibirnya. Karl terlihat kesal. Dia membuang napas kesal sedangkan Makiel malah memainkan ponselnya. "Ya, Tuan. Dan saya sudah membawakan yang Anda minta. Tapi Tuan, lebih baik Anda menyuruh orang lain saja. Orang kepercayaan Anda. Saya kan sekretarisnya Tuan Felix." "Aku tidak mau. Aku ingin yang sepertimu atau minimal seperti Zander walaupun aku membenci namanya." "Tapi Tuan, Anda mengganggu saya dalam bekerja—" "Sudah kutransfer 8 juta dollar ke rekeningmu." "—baik. Terima kasih. Jika ada yang Tuan inginkan lagi, Tuan bisa memanggil saya kapan saja." Sharena mendelik. Tentu saja, uang bisa membeli segalanya. Padahal Karl tadi menolak, tapi mendengar Makiel sudah transfer saja Karl langsung setuju. Padahal dia adalah sekretarisnya Felix. Makiel hanya tertawa. Dia menepuk lengan atas Karl dengan bersahabat. "Itu baru uang muka. Bagaimana dengan yang kusuruh tadi?" "Mengambil dari ucapan Tuan, maka saya akan memfokuskan pada mantan pelanggan Nona Sharena dan mantan-mantannya lebih dulu." Sharena mengerjap ketika namanya diucapkan. "Aku?" Tanyanya heran, lalu menatap Makiel. "Makiel, apa maksudnya?" Makiel tidak menggubris. Dia tetap mengobrol dengan Karl. "Bagus. Sudah mendapatkannya?" "Anda bahkan memerintahkan saya belum sampai satu jam. Saya masih harus mencari tahu lebih banyak lagi." "Baiklah. Berapa hari yang kau butuhkan?" "Tujuh hari?" "Kenapa lama sekali?" "Makiel!!" Kesal Sharena karena Makiel tidak menjawab pertanyaannya. "Kalau kasusnya lebih serius, malah akan memakan waktu lebih." Jawab Karl kemudian. Makiel mengangguk. "Baiklah. Kabari aku setiap prosesnya." "Baik, Tuan!" "Makiel!!!" Sharena kali ini memberanikan diri menyentuh pakaian Makiel dan menarik ujung kaosnya. "Kau bisa pergi sekarang." Kata Makiel kemudian. Dia menarik kaosnya agar lepas dari tangan Sharena lalu berjalan menjauhi Sharena dan Karl. Sharena cemberut menatap punggung Makiel yang menjauh. Dia menghentakkan kakinya dengan kesal. "Dasar pria tukang ngambek!" Desisnya, lalu menatap Karl. "Apa yang sebenarnya kalian bicarakan? Apa Makiel menyuruhmu untuk mencari tahu dalang dari teror di apartemenku?" "Sebelumnya, Nona. Saya ingin bertanya," kata Karl, mengabaikan ucapan Sharena. Sharena hanya menatap Karl dan pria itu mengartikannya sebagai sebuah persetujuan. "Apakah Anda pernah mendapati keanehan di apartemen Anda? Seperti benda yang tidak pada tempatnya atau jendela yang pernah terbuka tanpa Anda menyentuhnya?" Sharena menegang sejenak. Dia terdiam tanpa menjawab Karl. "Pernah, rupanya?" Putus Karl saat melihat ekspresi Sharena. "Nona, jika teror yang sampai pada menerobos rumah, itu bukan lagi ancaman kosong. Jika diberikan bangkai tikus di depan rumah atau surat ancaman dengan darah, Anda bisa menganggap itu hanya ancaman kosong. Namun jika seseorang sudah sampai menerobos rumah Anda, maka dia sungguh-sungguh dengan ucapannya." Sharena menelan ludahnya susah payah. Wajahnya sudah pucat pasi seketika saat mendengarkan kalimat demi kalimat yang diucapkan Karl. Kakinya terasa melemas dan matanya menatap tidak fokus pada wajah Karl yang berbicara serius padanya. Ketakutan Sharena sudah ditahan sedari tadi. Dia sudah mencoba untuk meredakan rasa takutnya. Namun saat Karl berkata, "Dia benar-benar menginginkan Anda mati." Dan Sharena benar-benar ketakutan saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD