Crazy 10 - Aku Tidak Menyukainya

2254 Words
Sharena terlelap kelelahan setelah melayani nafsu binatang Makiel. Tubuh mereka masih telanjang bulat di atas kasur dengan Sharena yang memeluk perut Makiel erat. Napas teratur Sharena terasa di d**a Makiel. Pria itu hanya dapat tersenyum sendiri dan mengusap rambut Sharena dengan lembut saat sibuk dengan pikirannya. Tidak ada yang pernah tidur di atas kasur Makiel selain Makiel sendiri. Hanya Sharena yang pertama kali Makiel izinkan untuk tidur di atas kasurnya. Ting! Makiel mengerjap heran. Dia melihat ponsel khusus yang mana hanya berisi kontak milik teman-temannya, yaitu The Devils. Makiel segera meraih ponsel itu, dan sesuatu yang tidak terduga terjadi. 3 orang i***t, 1 orang jenius Darren Valentino Reinhard added you to the group Felix Wilkinson ?????? Oh Em Ji Oh May Gad. What happen aya naon ini?????? APA AKU SALAH LIHAT???? APA MATAKU SUDAH PINDAH HALUAN???? BAGAIMANA BISA SEORANG DARREN MEMBUAT GRUP SEPERTI INI????? INI HARUS DIABADIKAN DALAM SEJARAH!! DIMASUKKAN KE DALAM SALAH SATU KEAJAIBAN DUNIA Darren Valentino Reinhard ? Makiel Zander McKennedy SIP SUDAH AKU SCREENSHOT DAN KAU TIDAK SALAH LIHAT KAWANKU DARREN SUDAH TIDAK WARAS DIA SUDAH RESMI MENJADI ANGGOTA KITA Darren Valentino Reinhard ? Alarick Kaslov Damian Maksudmu apa Kiel? Memangnya The Devils adalah kumpulan orang tidak waras? Satu-satunya yang tidak waras kan kau Makiel Zander McKennedy Yang paling tidak waras setelah aku adalah kau Jadi kau tidak usah komentar Alarick Kaslov Damian Baiklah Kuakui aku tidak waras setelah kau Setidaknya aku ada di urutan ke dua HAHA AKU MENGALAHKAN FELIX Darren Valentino Reinhard Diam Kau bau Alarick Kaslov Damian Kejamnya Felix Wilkinson ??????????????????????? Aku ngakak sampai ususku keluar Makiel Zander McKennedy Apa itu ngakak? Felix Wilkinson Bahasa si Anak Setan Artinya ngakak adalah tertawa Makiel Zander McKennedy Kau menyebut anakmu dengan sebutan yang benar Anak Setan Anakmu Berarti kau setan ??????????????? Aku ngakak sampai ususku keluar Alarick Kaslov Damian ??????????????????? Aku ikutan ngakak sampai ususku keluar Felix Wilkinson Untuk apa nama kita The Devils jika kita bukan setan? Darren Valentino Reinhard ? Bisakah kalian berhenti main-main? Kita sudah menjadi ayah Masih saja kekanakan Makiel Zander McKennedy Yang masih cemburu pada anaknya sendiri lebih baik diam Darren Valentino Reinhard Siapa maksudmu? Aku? Makiel Zander McKennedy Ya Memangnya siapa lagi yang mengusir bayinya sendiri ke depan pintu hanya karena aktivitas bercintanya terganggu? Felix Wilkinson ?????????????????? Sungguh???????? Darren kau gila? Anakmu masih sangat kecil!!!!!!!!!!! Makiel Zander McKennedy Dia dengan teganya menyimpan bayinya di depan pintu Di lantai yang dingin Sadis sekali Lebih sadis dari Xavier Darren Valentino Reinhard Itu anakku Terserah padaku Siapa suruh dia tidak mau melepaskan Anna Felix Wilkinson ?????????? Kejam sekali Darren Valentino Reinhard ? Alarick Kaslov Damian ???????????????? Aku ngakak sampai ususku keluar Darren kau cerdas sekali Lain kali aku akan mempraktekkannya Felix Wilkinson Dasar para ayah berengsek Darren Valentino Reinhard Bisakah kalian diam? Aku ingin menyampaikan sesuatu Mengenai Sharena Makiel tersentak. Alisnya mengernyit dalam. Bayangan ketika ketiga temannya bertemu Sharena hinggap di pikiran Makiel. Saat mereka memuji-muji Sharena, dan bahkan mengagumi Sharena secara langsung. Hal itu membuat Makiel tidak nyaman seketika. Apalagi yang membuat grup adalah Darren, pria dingin yang bahkan tidak mempedulikan siapapun. Pria dingin yang bahkan gampang melupakan nama orang. Tapi sekarang pria dingin ini membuat grup. Dan bahkan mengingat nama Sharena. Makiel dengan segera mengetikkan sesuatu. Makiel Zander McKennedy Sialan Reinhard! Kau sudah punya istri dan anak! Apa maksudmu menanyakan Sharena? Felix Wilkinson Wow b***k cinta sudah mulai beraksi Alarick Kaslov Damian ???????????????? Aku ngakak sampai ususku keluar Makiel Zander McKennedy Sialan aku tidak main-main! Dengar, Reinhard! Jika kau berani selingkuh dari Annabelle, kupastikan hidupmu makin miskin! Darren Valentino Reinhard ? Makiel Zander McKennedy Aku tidak main-main sialan! Dan aku tidak jatuh cinta! Apalagi pada seorang jalang seperti Sharena! Pikirkan wanitamu! Aku tidak ingin Angel-ku terluka Darren Valentino Reinhard Sialan diamlah Kau pikir aku mau melakukan hal bodoh seperti ini jika bukan wanitaku yang menyuruh? Felix Wilkinson Kau aneh setelah bertemu Sharena, Darren Kau memujinya sepanjang jalan Benar kan Alarick? Darren Valentino Reinhard ? Alarick Kaslov Damian Iya benar apa yang Felix katakan Makiel Zander McKennedy Sialan!!! Berengsek kau Reinhard!! Lihat saja nanti Felix Wilkinson ??????????????? Alarick Kaslov Damian Aku ngakak sampai ususku keluar Darren Valentino Reinhard ? Makiel Zander McKennedy Hey! Aku serius! Alarick Kaslov Damian Itu masalahmu, Kiel Kau tahu kau jatuh cinta tapi masih menyangkal Makiel mengeratkan rahangnya. Sialan. Ternyata dia dikerjai oleh teman-temannya. Seharusnya Makiel bisa menduganya tadi. "Umh..." Sharena menggeliat dalam tidurnya. Makiel tersentak. Dia menatap tangannya yang berada di punggung telanjang Sharena, mengeratkan pelukan seolah takut Sharena pergi. Makiel menelan ludahnya. Dia melepaskan tangannya dari Sharena dan menggenggam kembali ponselnya yang ternyata sedari tadi hanya dia pegang dengan satu tangan. Sial, Makiel bahkan tidak sadar hanya mengetik dengan satu tangan. Darren Valentino Reinhard Aku serius dengan ucapanku Aku tadinya tidak memikirkan ini Tapi Anna bersikeras Dia ingin kejelasan dari identitas wanita itu Tidak mungkin ada yang bisa melupakan kita. The Devils. Kita adalah orang yang paling menonjol hingga sekarang Felix Wilkinson Kau benar juga Kita dulu bahkan tidak tahu nama aslinya siapa Kita hanya memanggilnya Si Cupu Apa dia memiliki kembaran? Alarick Kaslov Damian Tidak mungkin Kiel salah Kiel kan mantan pacarnya Felix Wilkinson Jangan lupakan kalau sahabatmu yang satu itu berengsek, Damian Dia bahkan melupakan semua nama wanita yang pernah tidur dengannya Makiel Zander McKennedy Felix benar Aku hanya memanggilnya Cinderella Dia dulu sering tersenyum saat aku memanggilnya begitu Padahal secara tidak langsung aku mengatainya upik abu Felix Wilkinson Nah kan Dasar bajingan Darren Valentino Reinhard Maka dari itu Inilah tugas kita sekarang Anna akan marah jika aku tidak benar-benar tahu siapa itu Sharena Makiel Zander McKennedy Sudahlah lupakan Untuk apa juga kalian mencaritahu tentang dia? Dia hanya seorang jalang Darren Valentino Reinhard Kiel Anna adalah orang yang sangat perhatian dan peka Dia tahu kau jatuh cinta Dan saat kau jatuh cinta pada wanita Kita sebagai sahabatmu harus membantumu Makiel Zander McKennedy Sial! Sudah kubilang dia hanya jalang!! Berhentilah mengataiku begitu!! Kalian membuatku merasa jijik pada diriku sendiri! Alarick Kaslov Damian Dasar keras kepala Aku lupa dengan sikap gilamu ini Felix Wilkinson Kiel Kami tidak ingin kau menyesal seperti kami Makiel Zander McKennedy Kalian tenang saja Apapun yang terjadi Aku takkan menyesal Darren Valentino Reinhard Jika hal buruk terjadi Kau pasti menyesal Makiel Zander McKennedy left the group "Sialan," desis Makiel kesal. Dia menyimpan ponselnya kembali. Tidur menyamping, memeluk Sharena sepenuhnya. Meredakan sebuah rasa tidak nyaman yang menggerogoti dadanya. Mencoba meredakan rasa takut yang memenuhi dadanya. "Aku tidak boleh menyukaimu..." Bisiknya, makin mengeratkan pelukannya. "... tidak, pada jalang menjijikkan sepertimu." *** "Cepat lompat!!" "Ayo lompat dasar cupu!" "Penakut!" "Lompat sekarang atau kita yang mendorongmu!" Seruan itu bersahutan kala Sharena tenggelam dalam silaunya terang yang tiba-tiba menariknya ke dasar. Warna biru dari air kolam membuat Sharena terheran. Dia mengernyitkan alisnya, menoleh ke sampingnya dan hanya ada banyak orang yang mengerumuninya dengan ekspresi mengejek. Tunggu. Mengejek? Berani-beraninya mereka mengejek Sharena! Seorang jalang kelas atas yang— Tunggu. Kenapa Sharena memakai overall yang sangat culun? Sharena mengerjap dan kembali menatap kolam. Dia mendapati wajahnya yang sangat muram dengan kacamata dan jerawat-jerawat yang memenuhi wajahnya. Damn. Sejak kapan Sharena jadi sejelek ini?! Dan ada apa dengan wajah kusam itu? "Hey! Berhentilah mengganggunya!" Sharena menoleh dengan cepat. Suara berat seorang pria yang sangat Sharena kenal membuat Sharena sukses mengernyitkan alisnya. Bisikan-bisikan mulai terdengar. Namun kali ini bukan bisikan yang mengejek Sharena, melainkan bisikan yang memuja pria itu. "Pstt! Diamlah! Jangan melawan Makiel! Jangan melawan The Devils!" Makiel? The Devils? Ah... Ternyata ini potongan memori Sharena. "Kau tak apa?" Suara itu kali ini terasa dekat. Dan benar saja. Makiel tiba-tiba berada di sampingnya. Wajahnya sangat muda dan manis. Berbeda dengan wajahnya yang sekarang yang terlihat sekali berengseknya. "Hey, kau terkejut ya?" Makiel melambaikan tangannya di hadapan Sharena. Senyum manisnya tidak hilang sedikit pun. Lambaian tangan Makiel terhenti. Pria itu kemudian tersenyum lembut dan mengulurkan tangannya ke hadapan Sharena. "Ingin lari bersamaku, Cinderella? Menghilang dari dunia yang memuakkan ini?" *** Sharena membuka matanya. Dia mengerjap, menyentuh dadanya sendiri yang tiba-tiba dialiri rasa hangat yang membuncah. Makiel... Apa itu sungguh mimpi Sharena? Atau potongan masa lalunya? Kenapa bisa Sharena melupakan Makiel? Sharena mendudukkan tubuhnya saat tidak mendapati Makiel di sana. Tubuhnya masih telanjang bulat. Sharena tidak memakai pakaian sehelai pun. Suara ribut yang samar di luar, membuat Sharena segera turun dari kasur dan meraih kemeja Makiel di dalam lemari. Memakainya tanpa memakai dalaman. Segera, Sharena keluar dari kamar dan suara ribut itu makin terdengar. Suara ribut dari permainan PS. Dan mungkin saja Makiel yang sedang bermain. Sharena mengikuti arah suara. Dari depan kamar, ia berbelok ke kanan dan agak jauh dari kamar. Dan bisa dia lihat cahaya di balik ruangan tersebut. Seberkas cahaya di dalam ruangan gelap itu. Sekarang jam sudah menunjukkan hampir subuh, dan Makiel bermain game sendirian di rumahnya. Sharena menyandarkan lengannya di tembok, menatap Makiel yang bersemangat bermain PS. "Tidak bisa tidur? Atau sengaja bermain sekarang?" Makiel tersentak sejenak. Dia mempause gamenya dan menoleh ke belakang. Mendapati Sharena di belakangnya. "Kukira setan." Katanya dan kembali memainkan gamenya. Sharena mendelik. "Setan teriak setan." "Suruh siapa kau pakai baju putih begitu. Rambutmu digerai, lagi. Aku sempat berpikir kau adalah Sadako." "Bagaimana jika aku benar-benar Sadako yang berpura-pura jadi diriku?" "Tinggal aku tembak seperti zombie-zombie ini," kata Makiel tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi. "Game apa yang kau mainkan?" "Resident evil." "Kau tidak takut?" "Aku tidak seperti Felix. Jika aku penakut, untuk apa aku sendirian di rumah ini?" "Felix orangnya penakut?" "Tentu saja." Dan Sharena terdiam. Dia sedikit tersenyum, tidak menyangka bahwa Makiel akan menjawab semua pertanyaannya. Biasanya, laki-laki di luaran sana pasti tidak sudi menjawab ataupun menghiraukan keberadaan orang lain saat main game. Tapi Makiel bahkan sempat mempause permainannya. Entah kenapa, semenjak Sharena bermimpi seperti itu, dia menjadi menilai Makiel dengan sisi yang positif juga. Melihat tubuh atas Makiel yang hanya memakai baju tanpa lengan membuat Sharena tergoda dengan otot-otot yang timbul di sana. Makiel bukan pria sixpack. Namun dadanya yang bidang dan perutnya yang fourpack membuat Sharena betah berlama-lama memeluk Makiel. Dan mungkin hobinya yang sekarang adalah tidur sambil memeluk Makiel. Sharena berjalan mendekati Makiel. Dia masuk ke dalam sela-sela tangan Makiel, duduk di pangkuan pria itu dan memeluk Makiel dengan manja. "Aku pikir, aku hilang ingatan." "Hm? Apa maksudmu?" Tanya Makiel tanpa melepaskan pelukan Sharena maupun konsol gamenya. "Aku tadi bermimpi. Tapi kupikir itu adalah potongan ingatanku. Saat aku bertemu denganmu di sebuah kolam." "Kolam? Memangnya kapan kita bertemu?" Sharena merasa sedikit kecewa karena Makiel tidak ingat. Atau bahkan ingatan itu bisa jadi tidak ada dan yang tadi benar-benar hanya mimpi. "Ah, kupikir itu hanya mimpiku saja." "Bermimpi tentangku?" "Ya. Aku diejek cupu oleh orang-orang. Kau menolongku dan memanggilku dengan sebutan Cinderella." Kali ini Makiel sukses menghentikan gerakan tangannya, membiarkan pemain dalam gamenya mati dimakan zombie. "Sungguh? Aku memanggilmu Cinderella?" Sharena mengeratkan pelukannya. "Abaikan saja. Kupikir itu hanya mimpi." Makiel membuang konsol permainannya. Dia membalas pelukan Sharena, mengecup puncak kepala Sharena dan menggoyangkan tubuhnya ke kanan ke kiri. "Sepertinya kau memang hilang ingatan. Aku memang memanggilmu Cinderella, dulu. Tapi bukannya aku memujimu, ya! Itu ejekanku secara tidak langsung. Cinderella kan upik abu." Sharena terkekeh kecil. Dia memukul punggung Makiel dengan kesal. "Kau memang menyebalkan! Merusak suasana saja. Padahal, saat bangun tidur tadi, dadaku terasa hangat karena ingatanku tentangmu." Makiel tidak menjawab. Dia mengelusi rambut Sharena, dan menyimpan pipinya di ubun-ubun Sharena. "Kau ingin memeriksakan dirimu? Siapa tahu kau benar-benar hilang ingatan." "Hm. Mungkin, gara-gara kecelakaan waktu itu." "Kapan kecelakaan itu terjadi?" "Aku lupa. Tapi...," Sharena bergerak dalam pelukan Makiel. Dia memundurkan tubuhnya dan menatap Makiel. "... Aku baru ingat. Sepertinya, aku bahkan tidak lulus SHS. Aku tidak memiliki ijazah SHS. Saat bangun, aku bertemu mantan suamiku, kita menikah, bercerai, aku jadi jalang. Jika dipikir-pikir, aku bahkan belum pernah mencoba mencari pekerjaan." "Ck," decak Makiel dengan kesal karena lagi-lagi Sharena membahas tentang mantan suami tercintanya. Dia kali ini mencoba menyingkirkan Sharena di pangkuannya. "Menyingkir. Aku mau main game." "Tuan, apakah kau hari ini akan bekerja?" "Kau ini aneh sekali. Kadang memanggilku Tuan, kadang langsung memanggil Makiel." "Psttt! Jawab saja pertanyaanku!" Makiel menghentikan gerakan tangannya yang mencoba menjauhkan Sharena darinya. Dia kembali menatap Sharena. "Tidak. Aku jarang masuk kantor." Sharena berubah sedih. "Benarkah?" "Hm. Kenapa bertanya?" Sharena menggeleng. "Tidak. Hanya saja, aku ingin melihat bagaimana isi sebuah kantor." "Membosankan. Hanya ada meja, kertas, kursi, komputer dan hal-hal membosankan lainnya." "Kau malah membuatku makin penasaran." Makiel membuang napasnya pelan. Dia menatap wajah muram Sharena. "Kau sebegitu inginnya melihat tempat membosankan itu?" Tanyanya kemudian. Sharena terkekeh pelan. "Aku sungguh heran bagaimana bisa kau menjadi sebuah bos besar." Ucapnya dengan senyum yang menampakkan giginya. Makiel mengumpat di dalam hati. Senyum wanita itu, lagi-lagi membangunkan dirinya. Dan lagi, Sharena yang sangat menggoda di hadapannya dan tidak mengenakan apapun membuat Makiel makin b*******h. Tapi Makiel tidak bisa menerjang Sharena sekarang. Sharena pasti kelelahan karena kegiatan s*x mereka yang sebelumnya. Tapi... Makiel menyeringai. Dia mendapatkan ide yang sangat bagus. Berdeham, Makiel segera menyentuh pinggang ramping Sharena. "Baiklah. Kita ke kantorku. Tapi, ada syaratnya." Sharena membulatkan matanya lebar. Senyumnya melebar seketika. "Benarkah?! Kau serius dengan perkataanmu?!" Makiel mengangguk. "Tentu saja. Tapi jangan lupa kalau aku memiliki syarat." "Apa syaratnya?" Tanya Sharena dengan semangat. "Akan kukatakan nanti saat kita sampai di kantor." "Baiklah!!" Ucap Sharena langsung, kelewat bersemangat. Dia menangkup wajah Makiel dengan kedua tangannya. Mengecup kening Makiel lama, kemudian mengecup bibir Makiel. "Terima kasih Makiel!" Sharena berdiri dari pangkuan Makiel, menjauh dari pria itu dan kembali ke kamarnya. Sharena tidak sadar, jika kelakuannya yang barusan membuat Makiel bergeming di tempatnya dalam waktu yang lama. Tangan Makiel terangkat, menyentuh pipinya yang terasa memanas. "Apa-apaan jalang itu." Bisiknya dan lagi-lagi terdiam di dalam kegelapan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD