Crazy 11 : Seterpengaruh Ini

2525 Words
Kedatangan Makiel yang mendadak dan tidak terduga membuat para karyawan kantor pusat tercengang. Beberapa kabur, sedangkan beberapa orang lainnya segera pura-pura mengerjakan sesuatu atau bahkan tercengang di tempatnya. Namun lebih dari itu, seorang wanita berjalan di depan Makiel, dengan Makiel yang membuntuti di belakangnya dengan senyuman jahil. "Di mana kantormu?" Sharena berbalik, dia berjalan mundur dengan tubuh depannya yang menghadap Makiel. Makiel mengernyit. Dia segera meraih pinggang Sharena, membuat langkah mereka terhenti. "Jangan berjalan seperti itu. Kau menggunakan hak tinggi, dan tidak tahu bagaimana bentuk lantai yang kau pijiaki." Sharena tersenyum lebar. "Maaf-maaf. Aku hanya terlalu antusias." Makiel menghela napas panjang. "Jangan seperti orang kampungan. Dan jangan seperti anak kecil. Malu dengan umurmu yang sudah—" Sharena segera menutup mulut Makiel. "Cerewet!" Kesalnya. "Jika kita diam di sini, kita tidak akan sampai ke kantormu." Makiel menatap Sharena datar. Dia menurunkan tangan Sharena dari mulutnya. "Aku serius." "Ya sudah, aku juga serius. Kali ini aku mau jujur padamu," ucap Sharena, melipat tangannya di depan d**a sedangkan tubuh bawahnya masih menempel pada tubuh Makiel karena Makiel belum mau melepaskan pelukannya. "Kenapa aku tidak boleh memalukan sedangkan kau boleh memalukan? Kenapa aku harus menurutimu sedangkan membuatmu menurutiku sangat sulit?" "Aku kaya. Aku bebas." "Tidak ada hubungannya!" "Tentu saja ada. Kalau miskin, tertawa pun bisa dilarang. "Mana ada yang seperti itu?!" "Tentu saja ada," balas Makiel keras kepala, lalu menunjuk salah satu karyawan yang sedang tersenyum. "Jangan tersenyum!" Sharena menatap arah pandang Makiel, dan mendapati karyawan pria itu benar-benar berhenti tersenyum. Dan saat Sharena menatap Makiel, pria itu sedang tersenyum miring penuh arogansi. Kekesalan Sharena memuncak. Dia menghempaskan tangan Makiel yang menyentuh tubuhnya, mundur, dan kembali melipat tangannya di depan d**a. "Mereka karyawanmu! Aku berbeda! Kau bukan bosku!" "Kenapa berbeda? Aku juga bisa menyuruhmu," kata Makiel sambil mengacungkan telunjuknya ke depan wajah Sharena. "Jangan marah!" Sharena melotot. Dia meraih tangan Makiel, memasukkan jari Makiel ke dalam mulutnya dan menggigitnya kuat. "Aw!" Makiel mengaduh, namun tidak mendorong wajah Sharena. Dia malah tertawa dan menyentil kening Sharena. "Anjing nakal!" Sharena makin menggigit jari Makiel. "Aduh!" Desis Makiel, kali ini memukul kepala Sharena. "Sakit!" Sharena menatap Makiel dengan tatapan membunuh dan melepaskan gigitannya. "Salah sendiri menyamakanku dengan anjing." Makiel mendekatkan wajahnya pada Sharena. "Kalau mau gigit, gigit nih telingaku." Sharena menggeram kesal. Dia menggigit pipi Makiel dengan gigitan kecil dan sengatan luar biasa. "Aish, anjing nakal!" gemas Makiel. "Terserah! Aku akan mencari ruanganmu sendirian!" Balas Sharena kesal. Berbalik, berjalan mendahului Makiel. Melihat wanita itu uring-uringan dan tidak seperti biasanya membuat Makiel tersenyum geli dan menggelengkan kepalanya. Dia berjalan mengikuti Sharena, tidak membalas sapaan karyawan-karyawannya namun menatap penuh ancaman pada karyawannya yang menatap Sharena dengan nafsu. Makiel meraih tangan Sharena, menyelipkan jari jemarinya di sela jari jemari Sharena. Menggenggamnya erat. "Jangan marah begitu. Gedungku ini sangat luas. Kau bisa tersesat." "Kau menyebalkan!" Kata Sharena, mencoba melepaskan genggaman Makiel namun Makiel malah menariknya hingga mereka kembali berdekatan. "Ingat. Ini kantorku. Dan ingat, aku punya banyak syarat." Sharena mencebik kesal mendengar ucapan Makiel. "Tidak usah sok imut begitu. Kau itu sudah tua." "Aku satu tahun di bawahmu, tahu!" "Ya, ya, Cinderella." "Mengetahui arti dibaliknya, membuatku kesal mendengarmu memanggilku begitu." Makiel hanya terkekeh. Mereka memasuki lift yang akan membawa mereka ke lantai yang paling atas. "Sudah kuduga. Pasti di lantai teratas." Kata Sharena. "Sebenarnya, aku tidak memiliki kantor di sini. Tapi CEO punya." "Kenapa begitu?" Heran Sharena. "Ah, pasti karyawanmu tidak mau mengakui bosnya yang bodoh, jadi kau diusir dan tidak memiliki tempat, kan?" Makiel mendelik. "Kau tidak lihat mereka membungkuk-bungkuk begitu? Aku ini, kalau dibandingkan dengan si Xavier berengsek itu, aku ini adalah raja. Siapapun yang macam-macam padaku, hukumannya adalah penggal." "Hukum penggal sudah ditiadakan sejak lama, Yang Mulia." "Kau ini—" "Sudah sampai!" Sharena segera keluar dari lift, meninggalkan Makiel yang melongo melihat keantusiasan wanita itu. Makiel menggelengkan kepalanya dengan senyum yang bermain di wajahnya. "Asal kau tahu. Setelah lift ini, yang kau temukan adalah ruangan luas langsung tanpa pintu—" ucapan Makiel terhenti seketika saat matanya memandangi orang-orang di sana. Sharena pun terdiam kaku dan tidak dapat melangkah lebih jauh. Satu, dua, tiga. Total ada tiga orang yang benar-benar tidak ingin ditemui Makiel, apalagi dengan adanya Sharena di sampingnya. "KENAPA KELUARGA PSIKOPAT ADA DI SINI?!!!" Sharena menggigit bibir bawahnya. Dia memukul lengan atas Makiel, kemudian menundukkan kepalanya dengan malu. "M-maaf, Owner." "Sharena, kau pergi dulu dari—" "Sharena?" "Oh ini ternyata wanita yang membuat suamiku dicekik?" "Berisik!!" Kesal Makiel, lalu menatap CEO perusahaannya. "James!! Kenapa kau tidak bilang akan ada mereka di sini?!" James, CEO sekaligus sahabat Makiel hanya dapat mengerjapkan matanya dengan bingung. "Sudah sekitar 2,5 tahun kau tidak mau menerima laporan apapun kecuali tentang keuangan dan perkembangan—" "YANG INI PENGECUALIAN!! POKOKNYA KALAU KELUARGA PSIKOPAT INI DATANG, SEGERA USIR!!" "U-usir?!" Ulang James dengan gugup. Dia menelan ludahnya dengan susah payah sambil melirik Xavier. "M-mana berani—" "DIA SUDAH TIDAK BUNUH-BUNUHAN LAGI!! SUDAH ADA PAWANGNYA!!" "BERISIK!! KAU INI TIDAK SOPAN SEKALI!!" Balas Emilie yang mulai kesal karena suaminya dihina sedemikian rupa. "Kalaupun Xavier harus membunuh, kau adalah korban yang kuizinkan untuk terbunuh!" "Benarkah sayang?" Tanya Xavier dengan mata yang berbinar. "Tentu saja tidak, Bodoh!" "Dasar labil," komentar Makiel kemudian. "Pokoknya kalian pergi. Memangnya, kau rela melihat suamimu bertemu dengan wanita yang sudah berciuman dengannya?" "Tentu saja tidak. Tapi kenapa harus aku yang pergi? Kenapa tidak wanita itu saja?!" Sharena tersentak. Dia mengepalkan tangannya, merasa terhina untuk pertama kalinya. Kenapa juga Makiel harus mengungkit tentang insiden ciuman itu? Sharena yang tadinya tidak merasakan apa-apa, menjadi canggung seketika. "A-aku minta maaf. Aku akan keluar." "Berani-beraninya kau, Emilie," desis Makiel dengan tatapan menajam yang terarah pada Emilie. "Apa suamimu tidak pernah memperingatimu bahwa aku memiliki kekuatan untuk mengusir siapapun dari LA termasuk suamimu?" "Makiel, Emilie hanya bercanda." Xavier menyahuti. "Bercanda juga memiliki batasan, Xavier." "Kau ini kenapa? Kenapa sekarang menjadi sensitif sekali?" Zander segera berdiri di depan Emilie, menatap Makiel dengan pandangan yang sama tajamnya. "Jangan mengganggu Nona Em." Melihat situasi yang menjadi runyam membuat Sharena merasa ini adalah kesalahannya. Apalagi tentang insiden lama itu. Makiel seharusnya tidak mengungkitnya. "Makiel, sudahlah. Kemarahanmu ini tidak beralasan." Kata Sharena kemudian. "Tidak beralasan?! Kau berciuman dengan pria lain—" "Memangnya kenapa?!" Sentak Sharena kesal. Karena lagi-lagi Makiel mengungkitnya. "Aku ini jalang!! Bukan cuma satu dua orang yang pernah menciumku tapi banyak! Owner dan aku tidak pernah bertemu lagi semenjak itu dan walaupun kau memiliki hak atasku, bukan berarti kau berhak mempermalukanku seperti ini!!" "Mempermalukanmu?! Aku membelamu!" "Bagian mana yang membelaku?! Bagian kau mengungkit tentang insiden lama itu?!" "Memang itu—" "Kau tidak masuk akal!" Potong Sharena, menggelengkan kepalanya dengan pandangan tidak percaya. "Benar-benar tidak masuk akal!" Makiel tidak lagi menjawab. Hanya ada kebingungan yang tidak dapat dijelaskan saat matanya menatap manik mata Sharena yang penuh kekecewaan. Di mana dia pernah melihatnya? Kapan tatapan itu pernah mengganggunya? BUGH! "AAAAAAARRRRRRGGGGGHHHH!!" "Makiel!!" Teriakan Makiel bersatu dengan teriakan Sharena saat Emilie tiba-tiba menendang kemaluan Makiel tanpa aba-aba. Makiel jatuh ke lantai dengan wajah memerah padam. Mata Makiel yang juga memerah menatap sang pelaku yang berdiri dengan tangan terlipat di depan d**a. "K-kau!" Ucapnya dengan suara tersendat. "Apa?! Memang ini salahmu, tahu!!" Ucap Emilie kesal. "Pemberitahuanmu itu membuat CEO perusahaanmu yang tadinya tidak tahu jadi tahu!! Memang dasar kalau mulutnya tidak bisa dijaga ya bakal sepertimu!!" Jari telunjuk Makiel yang gemetar, menunjuk pada Emilie. "J-jalang! P-psikopat!" Emilie kembali mengangkat kakinya, mengarah pada kejantanannya Makiel. "JANGAN!! AMPUN!!" Teriak Makiel histeris, memeluk kakinya sendiri agar Emilie tidak bisa mengakses kejantanannya. "Sekali lagi kau mengancamku, lihat saja!" Emilie mengibaskan rambutnya, lalu berjalan cepat menjauhi Makiel. "Woah, aku lupa. Wanitaku itu memang sangat bisa melindungi diri sendiri." Komentar Xavier yang malah kagum pada skill tukang tendang istrinya. Makiel menutup matanya rapat dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Berengsek." "XAVIE!! CEPAT KITA PERGI DARI BANGUNAN KUMUH INI!!" Teriak Emilie. "IYA SAYANG!!" "Dia bahkan sempat-sempatnya mengejek bangunanku," desis Makiel, makin menekan tangannya ke wajah. Sedangkan Zander hanya berdiri, menatap tanpa kedip pada Sharena yang sedang mengasihani Makiel. Penasaran dengan wanita yang sudah dicium Xavier tapi masih hidup. "Zander..." Geram Makiel. "Pergilah, jangan menatapi Sharena seperti itu." Katanya dan dibalas dengan sebelah alis terangkat dari Zander. "Zander?" Kedip Sharena, dan menatap pria yang masih berdiri mengamatinya. Sharena tersenyum. "Namamu mirip dengan nama tengah Makiel." "Jangan tersenyum padanya!!" Sentak Makiel, kemudian menatap Zander. "Lihat! Pipinya memerah!!" Sharena mengerjap, dia kembali menatap Zander dengan mata bulat penuh rasa penasaran. Namun Zander malah balas menatapnya tanpa kedip. "ZANDER!!! KENAPA KAU TIDAK MENGIKUTIKU?!" Teriakan Emilie kembali menggema. Dengan secepat kilat, Zander sudah tidak lagi berdiri di hadapan Sharena dan menyusul Nonanya yang sedang merajuk. "Argh sialan," erang Makiel. Kakinya masih terasa ngilu akibat tendangan Emilie di kejantanannya. Sharena berjongkok. Kedua tangannya mengibas di depan kejantanan Makiel. "Pasti sakit sekali." Ucapnya prihatin namun tak dipungkiri bahwa Sharena sebenarnya menahan tawa. "Ini sudah kedua kalinya dia menendangku di sana," kata Makiel sambil mengerang kembali. "Dasar Psikopat. Aku tidak takut dengan Xavier, tapi istri kecilnya itu benar-benar menyusahkan. Dia tidak takut pada apapun. Bahkan dia tidak takut pada Xavier." Sharena mendengus geli. Dia berhenti mengibaskan tangannya untuk mengipasi kejantanan Makiel. Tangannya kali ini disimpan di atas lutut. "Tapi sepertinya kau menyukainya." "Tidak ada wanita yang kusukai kecuali Angel-ku," Makiel membalas sambil mendudukkan tubuhnya dengan susah payah. "Semua wanita adalah jalang di mataku." "Angel? Siapa itu? Pacarmu?" Tanya Sharena, tanpa mempedulikan pemikiran Makiel tentang wanita. Lagipula, Sharena sudah biasa disebut sedemikian kejamnya. "Ada. Calon istri masa depanku. Sekarang dia sedang berselingkuh dengan suaminya." Sharena mengedip dengan heran. Pikirannya mulai berimajinasi tentang Makiel yang mencintai wanita dengan sangat luar biasa, tapi wanita itu dijodohkan oleh orangtuanya sehingga Makiel menyebut wanita itu sedang selingkuh. "Ah, begitu rupanya." "Ya, begitulah. Aku menunggu suaminya mati dulu." Sharena mengedip. Pria ini memiliki pemikiran yang psikopat juga, ternyata. "Siapa suami Angel?" Makiel mengusap-usap kejantanannya yang masih panas. "Sialan, ini perih sekali," desisnya. "Apa dia tidak punya hobi lain selain menendang kejantanan orang lain?! Kenapa tidak menendang kejantanan suaminya saja?! Atau si berengsek Zander saja! Dia punya banyak pria tapi kenapa hanya aku yang jadi korban?! Menyebalkan!!" Sharena tersenyum. Dia mendekati Makiel, menundukkan kepalanya dan menyejajarkan wajahnya di depan kejantanan Makiel. Meniupkan angin dari mulutnya, tepat ke kejantanan Makiel yang masih terbalut celana. Glek Makiel menelan ludahnya dengan susah payah. Rasa dingin kali ini menggelitik kejantanannya, membuat rasa panasnya makin terasa dan rasa ngilunya juga makin terasa. Namun kali ini bukan karena kesakitan tapi karena gairah yang mulai muncul akibat rasa geli di kejantanannya. "Sialan, kau benar-benar jalang." Umpat Makiel tanpa sadar, merasa sangat b*******h melihat posisi Sharena yang terlihat seksi di matanya. Sharena menjauhkan wajahnya, kembali tersenyum menawan pada Makiel. "Sudah baikan?" Makiel kembali menelan ludahnya. "Maaf, Tuan, Nona," sebuah suara kembali terdengar. James terlihat kaku di tempatnya berdiri. "Sekiranya kalian lupa, di sini masih ada aku." "Ck, kau ini karyawan macam apa sih?!" Sentak Makiel tiba-tiba. "Kau ini CEO macam apa hah?! Kau tidak bisa membaca situasi?! Kalau melihat orang yang sedang dalam posisi seperti ini seharusnya kau sadar diri dan pergi dari sini!!" "Tapi ini ruanganku—" "MANA ADA RUANGANMU?! KANTOR INI ADALAH BANGUNANKU!!" Sentak Makiel, membuat karyawan sekaligus sahabatnya itu berjengit kaget. Makiel kembali berdecak kesal. Tangannya mengibas, menyuruh CEO perusahaannya pergi. James hanya menunduk sekilas dan pergi dari hadapan Makiel dan Sharena. "Sekarang tinggal kita berdua," kata Makiel sambil mencoba berdiri. Dia berjalan terseok menuju ke meja milik James. "Apa kau sungguh tidak kenapa-kenapa?" Tanya Sharena sambil mengikuti Makiel dari belakang. "Tentu saja aku kenapa-kenapa. Aku sangat butuh bantuanmu," Makiel berujar. Saat sudah sampai di depan meja, Makiel mendorong semua barang dan kertas-kertas menumpuk yang ada di sana. "Hey! Apa yang kau lakukan?" Kaget Sharena sambil menutup mulutnya dengan salah satu tangannya. Makiel ini gila apa ya? Kemungkinan kertas-kertas itu adalah dokumen-dokumen penting yang sudah diatur sedemikian rupa. "Jangan khawatir. Ini hanya sekumpulan kertas. Jika mereka tidak memiliki file cadangannya, akan kupecat mereka semua." Mulut Sharena sukses membulat setengah melihat kelakuan Makiel yang seenaknya. Lantai kantor yang tadinya bersih menjadi kotor. PRAK!! Sharena berjengit. Matanya sukses melotot dan bibirnya terbuka lebar. "Ah, aku menjatuhkannya," kata Makiel santai dan kembali menjatuhkan barang-barang di atas meja. Sedangkan Sharena tetap berdiri dengan mulut terbuka. Laptop itu. Laptop yang bersinar bak emas batangan itu seolah menjerit-jerit dan membuat Sharena tidak tega melihatnya. Laptop yang harganya terpampang jelas di toko-toko laptop. Laptop yang harganya bisa memenuhi kebutuhan Sharena selama 1 tahun. Ya Tuhan, Sharena ingin menangis sekarang juga. Dengan geram dan gigi yang bergemeletuk, Sharena menatap kesal pada Makiel. "Kau ini sebenarnya mau apa sih?! Kenapa menjatuhkan barang-barang di atas meja?! Apa kau tidak tahu harganya berapa?!" "Laptop itu? Itu produksi perusahaan Felix. Aku tinggal memintanya lagi." Sharena membuka mulutnya, menutupnya kembali, membukanya, dan terakhir membungkam mulutnya dengan terpaksa. Dia benar-benar takjub dengan kelakuan barbar Makiel. "Kau ini sebenarnya mau melakukan apa?!" "s*x, tentu saja," kata Makiel dengan napas tersenggal kelelahan. Sedangkan lantai sudah sangat acak-acakan. "Sini, duduklah di atas meja." Sharena meraup wajahnya dengan frustrasi. "Aku mau pulang!" "Apa?" Tanya Makiel sambil mengerutkan alisnya dengan kesal. "Setelah aku memenuhi permintaanmu dan susah payah membuang sampah-sampah ini, kau malah meminta pulang?" "Sampah?! Kau bilang sampah?!" Kekesalan Sharena sudah tidak dapat terbendung lagi. Dia sudah menahan diri untuk tidak berdebat dengan Makiel sedari kemarin, tapi sifat Makiel memang dikhususkan untuk kritisi seperti Sharena ini. "Kau tahu ada berapa banyak yang mengusahakan tenaganya untuk membuat barang yang kau sebut sampah-sampah ini, Kiel?" "Kenapa aku harus memikirkannya? Aku tidak kenal dengan mereka semua." "Itulah masalahmu! Kau menyebalkan!!" "Apa?! Menyebalkan?!" "Ya! Kau menyebalkan! Tidak menghargai orang, dan hanya bisa menghina orang saja! Mengataiku jalang, mengatai Owner psikopat!" Makiel mengernyit tidak suka saat Sharena tiba-tiba membahas Xavier. "Oh jadi karena ini kau mulai mendebatku?! Kau tidak suka aku mengancam Xavier untuk pergi dari LA?! Memangnya, apa yang salah dari ucapanku? Kau memang jalang, dan Xavier memang psikopat!" "Tidak bisakah kau menilai dirimu sendiri sebelum menilai orang lain?!" Kesal Sharena. "Kau pikir bagaimana kau bisa mendapatkan apa yang kau mau?! Kau pikir itu semua karena siapa hah?! Jika tidak ada orang lain yang membantumu, kau bukan apa-apa, Tuan Makiel Yang Terhormat!" "Kenapa kau jadi marah-marah begini? Aku—" "Kau tidak pernah bekerja dan uang tetap mengalir, tidakkah kau berterima kasih pada mereka semua? Mereka semua yang jerih payahnya hanya kau anggap sebagai sampah!! Sedangkan kau yang sampah sesungguhnya hanya menikmati kehidupan di atas jerih payah orang lain!!" "SHARENA!!" "APA?!" Dua teriakan yang menggema di dalam ruangan itu menimbulkan hening secara tiba-tiba. Napas Sharena maupun Makiel sama-sama terengah karena argumentasi yang berbeda namun sama-sama mereka percayai. Rahang Makiel mengeras. Giginya bergemeletuk dan napasnya terengah kasar. Gairah maupun rasa marah membuat Makiel tidak dapat mengontrol emosinya dengan benar. Dan entah kenapa, Sharena hobi sekali menaikkan aliran darah Makiel. "Sudah kubilang; Aku. Tidak. Suka. Berdebat. Denganmu." Sharena tetap diam. Tangannya mengepal dengan erat. "Tapi aku tidak suka dengan sifatmu yang satu ini, Kiel," bisik Sharena pelan, dengan amarah yang sebisa mungkin dia tekan. Yang malah menimbulkan rasa kecewa di hatinya. "Aku tidak suka, orang yang dulu menyelamatkanku malah semenyebalkan ini." Tanpa pamit, Sharena berbalik dan pergi dari hadapan Makiel. Meninggalkan Makiel sendiri dengan perasaan bingung. Bingung, mengapa Makiel bisa seterpengaruh ini oleh Sharena. Sampah sesungguhnya, katanya? Baru kali ini, ada yang menghinanya seperti ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD