Crazy 12 : Makiel Menyeberang

2439 Words
Entah tepatnya kapan, namun jika tidak salah, Makiel pernah membayangkan hal ini. Membayangkan tentang sebuah adegan perselisihan di antara hubungan orang lain. Yang Makiel bayangkan saat hal ini terjadi padanya bukanlah mengejar sang wanita, melainkan membiarkan saja wanita itu pergi tanpa memikirkan apapun lagi. Kenapa harus mengejar? Kenapa harus susah payah? Dia yang pergi, tapi kenapa harus orang lain yang bersusah payah? Kalah berargumen, mereka akan marah dan pergi. Namun dalam hati mereka, mereka meminta dikejar. Kalau begitu, kenapa juga mereka harus lari? Sungguh, wanita adalah makhluk yang sangat sok dan sangat menyusahkan. Di hadapan teman-temannya, Makiel bersumpah bahwa dia tidak akan seperti pria-pria dalam film percintaan yang akan mengejar wanita yang pergi setelah kalah berdebat. Namun... Kenapa nasib Makiel begini, sekarang? Setelah terdiam beberapa lama, yang Makiel pikirkan adalah tentang Sharena yang masih diincar oleh seseorang yang belum mereka ketahui identitasnya. Dasar wanita keras kepala yang ceroboh. Bagaimana bisa wanita itu pergi tanpa pengawalan Makiel? Menyusahkan saja. Bagaimana jika terjadi sesuatu dalam perjalanan? Bukannya Makiel khawatir. Hanya saja, sumber kehidupan kejantanannya adalah Sharena untuk saat ini. Sharena boleh pergi hanya jika Makiel sudah benar-benar kembali normal. Benar... kan? Sharena... boleh pergi, kan? Makiel menggelengkan kepalanya dengan kuat. Kenapa dia harus memikirkan banyak hal tentang jalang satu ini? "Sharena!" Kata itu keluar begitu saja dari mulut Makiel tanpa Makiel menginginkannya. Saat Makiel sudah menginjakkan kakinya di luar kantor, dan banyak orang yang menundukkan kepalanya saat melihat kedatangan Makiel. Namun Sharena tidak bisa ditemukan oleh penglihatannya. Makiel melirik ke kanan dan ke kiri. Dia bingung sendiri ke arah mana Sharena pergi. Akhirnya, Makiel memilih berjalan cepat ke arah kanan. "Sharena!" Panggilnya sambil berlari cepat, berharap dari banyaknya orang-orang di sana, yang menengok ke arah Makiel adalah Sharena. "Sharena!!" Kali ini Makiel berteriak, namun tetap tidak mendapati Sharena di mana-mana. "Sialan!" Wanita memang merepotkan. Makiel jadi harus berlari entah ke mana. Mencari wanita yang entah ada di mana. Menyebalkan sekali. Makiel menghentikan langkahnya di jalan raya. Matanya menatap ke seberang, di mana Sharena sedang asyik makan permen di halte penantian bus. "Wanita itu," desisnya kesal. "SHARENA!" teriaknya. Yang dipanggil satu orang, tapi yang menengok pada Makiel malah semua orang yang ada di halte juga. Beberapa orang terkejut melihat Makiel yang terlihat marah itu ada di depannya. Refleks, orang-orang di sana memotret Makiel dengan antusias. Melihat bos besar itu berdiri dengan bebasnya di hadapan mereka. Sharena hanya dapat mengedip di tempatnya, merasa heran kenapa orang-orang bereaksi berlebihan seperti itu. "TUNGGU DI SANA! KAU DENGAR?!" Teriak Makiel di seberang sana tanpa malu. Sharena melotot. "Dia akan ke sini? Saat orang-orang sibuk memotretnya? Apa dia gila?!" Bisik Sharena sepelan mungkin. "Sial, aku kan tidak bisa menyeberang," desis Makiel kesal. "Masa bodoh." Akhirnya, Makiel melakukannya. Seumur hidupnya, Makiel tidak pernah menyeberang sama sekali. Ini pertama kalinya dia menyeberangi jalan. Dan sialnya, untuk mengejar seorang wanita. Sedangkan di sana, Sharena melihatnya dengan ngeri. Apalagi orang-orang di sini makin bertambah banyak yang memotret Makiel. "Ish, dasar gila!" Ejeknya pada Makiel beserta fansnya. Sharena segera menutupi wajahnya dengan rambut, dia berdiri dan berjalan menjauh dari halte. "Kenapa dia malah menjauh?!" Pekik Makiel saat Sharena malah berlari kecil menjauhi halte. Padahal Makiel sudah menyuruhnya untuk menunggu. "Oii! Sharena!! Aish, wanita memang merepotkan." Makiel berlari kecil ke arah Sharena. "Oii! Tunggu!! Kenapa kau—" BRAK!! "AH!" "MR. MCKENNEDY!!" "MAKIEL!!" Teriakan dari orang-orang yang berada di halte sukses membuat Sharena berjengit dan menengok dengan cepat. Mata Sharena membulat melihat Makiel yang sudah tergeletak di tanah dengan mobil yang berhenti di sampingnya. "MAKIEL!!" Sharena berteriak, refleks berlari mendekati Makiel yang tidak bergerak di tempatnya. Orang-orang sudah mulai berkerumun, ikut berlari ke arah Makiel yang barusan tertabrak mobil. "Menyingkir dari jalanku!! Hey!!" Sialan. Fans-fans Makiel membuat Sharena bahkan tidak bisa melihat Makiel sedikitpun. "MENYINGKIR KUBILANG!!" Teriaknya kuat, namun malah mendapatkan pelototan dari orang-orang di sana. "Kau yang menyingkir! Dasar fanatik!" Ujar salah satu orang di sana. Sharena melotot. Jika seperti ini, Sharena tidak ada pilihan lain selain meladeni orang-orang ini. "Aku bukan fansnya dan akulah yang dipanggil oleh Makiel! Aku, yang bernama Sharena!" Katanya dengan tangan yang menyentuh d**a kirinya. "Hey! Kau mengaku-aku saja! Aku, yang bernama Sharena!" "Hah? Sharena yang dipanggil Makiel adalah aku!" "Berhentilah bermimpi! Sharena di sini adalah aku!!" "Aku!!" "Aku Sharena!!" "Aku!!" Sharena menepuk keningnya dengan kesal. Situasi di sini malah menjadi ribut dan mereka malah mengaku-aku jadi Sharena di hadapan Sharena yang sebenarnya. "Situasi macam apa ini?!" Desahnya kesal. *** "Wanita benar-benar merepotkan. Dasar jalang." Suara itu datang dari Makiel yang sedang tidur di atas ranjang rumah sakit. Tepatnya, Makiel tidak sadarkan diri setelah terserempet mobil. Ya, terserempet. Makiel nyatanya masih baik-baik saja. Hanya belakang kepala bodohnya itu yang terbentur tanah dan membuatnya pingsan. "Apa dia sedang mengigau?" Tanya Sharena pada pria yang sedang duduk sambil bermain ponsel di sebelahnya. "Hm." Jawab Darren datar tanpa menoleh pada Sharena sama sekali. Sharena mengangguk dan menyenderkan punggungnya di sofa. Helaan napas lega keluar darinya. "Hah, untung saja tadi ada Tuan Reinhard yang lewat. Kalau tidak, mungkin saja aku sudah mati kerepotan oleh para fans Makiel. Enak saja mereka mengaku sebagai diriku." "Hm." Sharena mengalihkan pandangannya pada Makiel yang sedang bergerak-gerak sambil mengigau. Mungkin itu terjadi karena efek bius yang sudah hampir habis. "Apakah dia tidak bisa menyeberang? Kenapa bisa sampai tertabrak? Seperti anak kecil saja." "Makiel menyeberang?" Tanya Darren kemudian, pertama kalinya setelah menanyakan keadaan Makiel pada Sharena. Sharena mengangguk. "Kami berdebat sejenak. Tapi biasanya aku tidak melarikan diri tapi berdebat sampai akhir. Masalahnya..." Makiel sedang b*******h. Dan aku terlalu takut. "Masalahnya?" Tanya Darren kemudian, karena Sharena tidak melanjutkan ucapannya. Sharena terdiam sejenak, menatap Darren yang juga sedang menatapnya. Mencari jawaban lain yang mungkin bisa dipercaya oleh Darren. Namun Sharena makin bingung mau menjawab apa. Bug! "Aw." Suara mengaduh yang datar itu membuat Sharena berjengit saat melihat wajah Darren dilempari bantal oleh seseorang. Sharena kembali mengedip dan menatap si pelempar, yaitu Makiel yang sudah tersadar. "Makiel," panggil Sharena dengan mata membulat antusias. Senyum Sharena tersungging lebar. Dia berdiri, mendekati Makiel. "Kau sudah sadar?" Makiel menatap Sharena dengan kesal, melihat senyum lebar itu membuat Makiel harus memalingkan wajahnya dari Sharena. "Sedang apa kau dengan Darren?" Tanyanya tanpa menatap Sharena. "Hm?" Heran Sharena sambil menatap Darren, kemudian Makiel. "Oya, Makiel. Darren yang menolongmu saat kecelakaan tadi. Dia kebetulan lewat di depan kantormu." "Kebetulan lewat?" Ulang Makiel, tatapannya kemudian terarah pada Darren yang terlihat santai-santai saja. "Setahuku kantor Alarick dan kantorku itu dari ujung ke ujung." Darren membuang napas samar. Dia mengangkat ponselnya kembali. "Kalau tidak percaya ya sudah." Makiel menyipitkan matanya. Dia masih tidak percaya dengan ucapan Darren. Apalagi akhir-akhir ini pria itu benar-benar mengusik Makiel dengan beberapa perubahan sifatnya. Sungguh, bagaimana bisa pria kulkas seperti Darren membuat grup w******p? Dan lagi, pria itu benar-benar pelopornya tanpa ba-bi-bu. "Makiel," Sharena memanggil, tangannya melambai di depan wajah Makiel, membuat Makiel terpaksa menatapnya. Untung saja Sharena tidak sedang tersenyum. Jadi Makiel bisa mempertahankan wajah ngambeknya. "Bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah sakit?" "Hm?" Heran Makiel. Sedetik kemudian, rasa sakit yang tadinya tidak terasa jadi makin terasa. Tubuhnya serasa remuk seketika. "ARGH!! SAKIT! SAKIT! SAKIT SEKALI! SAKIT!!" Sharena mengedip melihat Makiel yang tiba-tiba berteriak kesakitan. Kepanikannya datang seketika. "Darren!! Bagaimana ini?! Ada apa dengan Makiel?! Darren!!" Darren mendelik. "Dia memang selalu berlebihan. Tenang saja. Percaya saja padaku. Aku adalah dokter sekaligus sahabatnya. Dia memang selalu seperti itu." "Hah?" Sharena menggigit kuku jarinya dengan panik. Dia menatap Darren, lalu menatap Makiel yang masih mengejang kesakitan. "Dilihat dari manapun, Makiel seperti sangat kesakitan!" "Ck, mana ada orang sakit yang guling-guling seperti itu." Kata Darren, membuat Sharena kembali menatap Makiel. Dan benar saja. Yang Makiel lakukan hanya berguling-guling di atas kasur besar sambil berteriak-teriak, "SAKIT!! SAKIT!!" Membuat Sharena keheranan dan hanya dapat menggaruk belakang kepalanya. Pintu ruangan yang digeser terbuka membuat Sharena menolehkan kepalanya dan mendapati Felix serta Alarick masuk dengan wajah tegang. Saat melihat kondisi Makiel yang guling-guling sambil berteriak-teriak, mereka saling tatap dengan wajah lega dan berucap, "Dia baik-baik saja." Setelah itu, mereka saling sapa dengan Darren. Melihatnya, membuat Sharena merasa gerah sendiri. Apa mereka tidak peduli pada Makiel? "Hey, kalian ini sahabatnya, bukan?! Apa kalian tidak prihatin dengan kondisi sahabat kalian?!" Felix tersenyum dan mengibaskan tangannya dengan tidak peduli. "Selagi dia gila, dia baik-baik saja. Kalau dia tidak gila lagi, berarti dia tidak baik-baik saja. Itu prinsip kami dalam menilai Makiel." "Hah?" Heran Sharena yang malah diabaikan oleh teman-temannya Makiel. Mereka malah membicarakan hal lain mengenai pekerjaan. Helaan napas kesal keluar dari mulut Sharena. "Tidak ada yang normal di sini, sungguh." Sret!! "Aku sudah datang!!" Keributan Makiel terhenti seketika. Makiel kali ini mendudukkan tubuhnya, matanya membulat lebar melihat seorang wanita yang baru saja datang. "Angel!!" "Angel?" Mendengar nama itu, Sharena segera menoleh dan mendapati Annabelle, istri dari Darren. "Eh?!!! ANGEL?!!" Pekik Sharena tanpa sadar. Sharena menelan ludahnya susah payah. Dia menatap Makiel yang tersenyum cerah, Annabelle lalu Darren yang menatap lurus-lurus pada Makiel. Tubuhnya merinding seketika. "Persahabatan mereka sungguh mengerikan." "Angel-ku~" panggil Makiel dengan manja. Tangannya melambai-lambai pada Annabelle, menyuruh wanita itu mendekat. Dan tanpa menoleh pada Darren, Annabelle menghampiri Makiel. Seketika keributan Makiel berubah dari yang ribut karena kesakitan jadi ribut karena kemanjaannya pada Annabelle. Sharena memundurkan langkahnya. Dia kembali lagi ke sofa yang agak jauh darinya. Matanya terus menerus menatap 3 orang yang menurutnya punya hubungan takdir yang rumit. Menyadari hal itu, Darren menatap Sharena dengan pandangan datarnya, membuat Sharena membuang pandangannya dari Darren. Darren mendengus. "Kenapa? Makiel pernah bercerita tentang Annabelle? Mengatakan bahwa Annabelle mengkhianatinya karena sudah mencintaiku? Atau mengatakan kalau dia menunggu aku mati dulu dan menyebut Annabelle calon istrinya?!" Sharena tidak menjawab. Hanya melotot dengan syok. Felix terkekeh. "Si Bodoh itu tidak pernah berubah. Padahal sudah bertahun-tahun lamanya." "Kalian tahu? Dan kalian tetap berteman?" Tanya Sharena dengan nada suara yang cukup keras namun dia yakin Makiel tidak akan bisa mendengar dari jarak yang lumayan jauh ini. "Dan kau, tidak marah?" Tanya Sharena pada Darren. Felix tertawa. "Tentu saja dia marah." "Jika cara kita menilai Kiel adalah dengan kebodohannya," tambah Alarick. Dagunya mengedik pada Darren. "Cara kita menilai Darren adalah dengan kalimat yang dikeluarkannya. Kalau lebih dari 10 kalimat, kau mati. Darren berarti sedang marah besar." Sharena membulatkan mulutnya seolah mengerti. "Lalu, bagaimana cara kalian menilai diri kalian sendiri?" "Hm..., Kalau aku adalah orang yang paling sabar di dunia ini." Kata Alarick kemudian. "Hah? Kau bercanda?! Siapapun tahu kalau kau yang paling sering marah-marah," kata Felix menambahkan. "Makanya, cara kami melihat Alarick, kalau dia tidak marah-marah, dia berarti sedang sedih atau marah. Dan jika dipikir-pikir, akulah yang paling sabar di antara kalian." "Haha. Jangan melucu!" Balas Alarick setelah sebelumnya tertawa dengan datar. "Dia ini, yang paling suka menguji orang-orang. Kalau dia bodoh, berarti ada masalah besar." "Hey!! Kapan aku pernah bodoh?!" "Kau lupa?! Kau kan kembarannya Makiel!" "Cih, orang-orang berkata bahwa kita bertiga yang kembar siam!" "Jangan begitulah. Darren juga kembaran kita." "Aku tidak sudi disamakan dengan orang-orang i***t seperti kalian." Balas Darren. "Bodoh!! Berani-beraninya mengatai bosmu i***t!!" "Haha! Darren memang pintar! Dia mengataimu i***t!" "Hey!! Yang dikatai adalah The Devils!! Kau juga termasuk!" "Oh ya? Kenapa aku dimasukkan dalam kategori i***t?! Kau saja yang i***t!" "Kau!!" "Kau!!! Pokoknya kau!! i***t!!" "Sialan!!" Sharena mendengus geli. "Mereka ini, tidak tahu umur sekali." Bisiknya pelan, namun masih bisa terdengar oleh Darren. "Hanya aku yang normal." Kata Darren dengan tatapan tajam pada Sharena. Sharena tersenyum. "Kau pikir, sifat dinginmu ini normal?" "Tentu saja," kata Darren singkat, tatapannya menajam saat melihat ranjang rawat Makiel. "Si sialan itu!! Berani-beraninya dia mencuri kesempatan dalam kesempitan!" Sharena melihat arah pandang Darren, dan mendapati Annabelle yang sedang menyuapi Makiel dengan buah. Makiel tersenyum senang pada Annabelle, sedangkan Annabelle menepuk kepala Makiel dengan lembut. Dan Sharena bisa melihatnya. Melihat tatapan mata Makiel yang menghangat pada Annabelle. "Jangan cemburu... Jangan cemburu... Jangan cemburu... Tahan emosi... Tahan emosi... Tahan emosi..." Sharena kembali beralih menatap Darren, dan mendapati pria itu sedang melotot lurus-lurus dengan tangan terkepal kuat. Sharena mendengus geli kembali. "Hubungan kalian ini, benar-benar mengerikan." Darren memejamkan matanya erat-erat, dan membuang napasnya dengan kuat. "Jika kau berpikir Makiel benar-benar mencintai istriku, kau salah besar." "Hm?" Tanya Sharena heran. Apakah Darren sedang marah, sekarang? Apakah Sharena akan mendapatkan ucapan 10 kalimat dari Darren? "Dari mana kau tahu?" Tanya Sharena kemudian. "Karena kalau Makiel benar-benar mencintai wanitaku, dia tidak akan membuat kami bersatu," kata Darren kemudian. Matanya kembali terbuka, menatap Makiel. "Pria itu, dia melihat Annabelle sebagai seseorang yang dia pikir sangat sama seperti ibunya." Sharena mengedip beberapa kali. Dia tidak menjawab ucapan Darren. "Apa kau tahu kalau Makiel tidak punya ibu?" Darren bertanya, beralih menatap Sharena. Sharena mengangguk. "Aku mengumpulkan datanya sebelum menjadikannya klien." "Ya begitulah," ucap Darren. "Makiel melihat Annabelle seperti ibunya. Ibunya Makiel meninggal saat sedang mengandung. Dan kebetulan, Makiel bertemu dengan Annabelle saat Annabelle sedang mengandung anakku. Dan lagi, sifat Annabelle sangat hangat dan penyabar. Sama seperti ibunya Makiel." Sharena mengangguk-angguk. "Kau mengerti?" Tanya Darren kemudian. Sharena malah nyengir. "Maaf, aku sedang menghitung berapa kalimat yang kau keluarkan. Kebetulan, kau mengeluarkan 13 kalimat. Apa saat ini kau sedang marah? Cemburu karena kedekatan mereka? Ini luar biasa. Aku bisa mendengar seorang Darren marah." Darren melotot, terkejut mendengar ucapan Sharena yang sangat konyol menurutnya. Tidak pernah ada yang mengatakan hal sekonyol itu pada Darren. Teman-temannya selalu bercanda tentang hal itu tapi mereka tidak pernah benar-benar menghitungnya. Tanpa bisa Darren cegah, dia tertawa pelan karena kekonyolan Sharena. "Darren tertawa?!" "Sungguh?!" "Coba kau tampar aku. Apa aku bermimpi?!" "Tidak, bodoh! Sial!! Harusnya tadi kita merekamnya!" Keributan itu tidak lepas dari Makiel. Tatapan Makiel juga sesekali mengawasi Sharena dan Darren. Mereka mengobrol dan tertawa bersama, membuat Makiel sangat tidak nyaman. Makiel menelan buah di dalam mulutnya dengan pahit. Dia kembali mencoba tersenyum pada Annabelle. "Angel, aku sudah kenyang dan sangat lelah saat ini. Sebenarnya, aku baru terbangun dan sepertinya benar-benar tidak fit. Apa boleh, aku istirahat dan minta tolong untuk mengusir mereka?" Annabelle mengangkat alisnya dengan heran. "Dengan wanita itu juga?" Makiel menggelengkan kepalanya. "Tidak, tinggalkan wanita itu di sini." Mendengarnya, Annabelle tersenyum lebar. "Siap! Laksanakan!!" Ujarnya antusias, dia berdiri, merapikan peralatan makan dan pergi menghampiri Darren. "Darren, ayo kita pulang! Kalian juga pulang. Makiel ingin istirahat. Dan kau," Annabelle beralih pada Sharena. Senyumnya berubah hangat. "Aku percayakan Makiel padamu, ya?" Darren segera berdiri, meraih pinggang Annabelle dan memeluk pinggangnya erat. "Ayo. Jangan menengok ke belakang lagi." "Ke belakang? Memangnya di belakang ada apa?" "Hih! Sudah kubilang jangan menengok ke belakang!" "Aku penasaran ada apa di sana." "Ada setan, tentu saja." "Kau juga setan, kalau lupa." "Hm." "Darren..." "Hm." "Marah ya?" "Hm." Sharena tersenyum melihat punggung 4 orang yang menjauh darinya itu. Apalagi melihat hubungan Darren dan Annabelle yang membuatnya iri karena ke-uwuan mereka. "Sharena." Panggilan itu membuat Sharena menoleh dan mendapati Makiel menatapnya lurus-lurus. Helaan napas panjang keluar dari Sharena. Dia benar-benar lelah menghadapi Makiel.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD