Crazy 14 : Makiel Menyedihkan

2833 Words
Kalau ada kesalahan kasih tau yaa Sharena keluar dari kamar mandi beberapa menit kemudian, dengan setelan yang kemarin yang masih digunakannya. Saat keluar, Sharena mendapati Makiel yang kini tiduran sambil bermain ponsel. "Makiel, berhentilah bergerak. Jika kau terus seperti ini, lukamu akan lama sembuhnya." Makiel tidak menuruti ucapan Sharena. Dia tetap memainkan ponselnya. "Sebentar. Level-ku kalah dari Matthew. Aku harus mengejarnya dulu. Si Sialan ini curang sekali. Dia pasti menyuruh Emilie menaikkan rank-nya." Sharena membuang napas kesal. "Kau bisa memainkannya nanti saat sembuh. Sekarang istirahat dulu. Makiel!" Ujarnya, dan kali ini diabaikan Makiel. "Makiel!!" "Berisik!! Kau ini seperti ibu-ibu sekali. Memangnya kalau aku main game kenapa? Kalau aku tambah sakit kenapa? Ini kan tubuhku, bukan tubuhmu." Si Sialan ini, batin Sharena dalam hati dengan kesal. Dia membuang handuk yang berada di tangannya lalu naik ke atas kasur. Sharena menghampiri Makiel, menyentuh d**a bidang pria itu dan mendekatkan wajahnya pada telinga Makiel. "Siapa bilang tubuh ini milikmu?" Sharena berbisik dengan gerakan menggoda. Tangannya turun ke perut Makiel dan bibirnya turun ke leher Makiel. "Tubuhmu adalah milikku." "Ish! Ganggu!" Makiel malah mendorong Sharena jauh-jauh, membuat wanita itu melotot. "Nanti aku kalah!" Sharena cemberut. Kenapa bisa godaan kali ini tidak mempan terhadap Makiel? BRAK! "ANAKKU!!" Gebrakan pintu dan teriakan yang menggema itu berlangsung dengan cepat. Sharena bahkan hanya berjengit dan melongo saat melihat seorang pria tampan yang gila itu masuk ke dalam kamar rawat Makiel dengan wajah sedih yang berlebihan. "HANAKKU!!" Teriaknya lagi, kali ini melompat pada Makiel dan memeluknya erat. "ANAKKU!! AKU MENDENGAR KAU KECELAKAAN DAN LANGSUNG KE SINI!" "WOY BERENGSEK!! KAU MEMBUATKU KALAH!!" Pekik Makiel. Dia mencoba mendorong wajah pria yang saat ini sedang memeluknya. Namun pelukan pria itu sangat kuat hingga Makiel mengeluarkan semua tenaganya. "SIALAN KAU MEMBUATKU MAKIN SAKIT DASAR AYAH GILA!!" Sharena melotot mendengarnya. "Ayah?!" Ujarnya terkejut. Serius? Dengan wajah semuda itu?! Orang yang merupakan ayah Makiel itu segera melepaskan pelukannya. Wajahnya saat ini dipenuhi oleh air mata. Tangannya menangkup wajah Makiel dengan erat hingga wajah Makiel tertarik ke depan. "Kau tidak apa-apa kan nak? Kau baik-baik saja kan? Maafkan ayahmu yang bodoh ini karena datang terlambat. Apakah tubuhmu sakit? Ya Tuhan lihat wajahmu yang kurusan ini!! ANAKKU YANG MALANG!" Tiba-tiba ayahnya Makiel menangis kencang dan memeluk Makiel dengan erat. "TUHAN KENAPA KAU MEMBUAT ANAKKU MENDERITA SEPERTI INI?! KENAPA?! KENAPA?!!!!" "Ish!! AYAH!!" Makiel mendorong ayahnya menjauh. Dia juga ikut menjauh. Takut-takut diserang oleh ayahnya. "KAU MALAH MEMBUATKU MAKIN SAKIT!! AYAH BERENGSEK!!" Ayah Makiel tersentak. Tangannya terulur dengan lemah seolah ingin menggapai Makiel sedangkan tangannya yang satu lagi memegang dadanya sendiri. "A-aku? M-menyakitimu?" Mata Ayah Makiel sudah berkaca-kaca kembali. Tangannya sudah membekap mulutnya sendiri, lalu pandangannya beralih ke arah Sharena. Dan seperti adegan dalam sebuah anime, ayahnya terlihat terkejut sejenak. Wajah sedihnya tiba-tiba berganti menjadi wajah antusias seolah sedang memenangkan lotre. "Huwau!! Fantastic beibih!" Sharena mengerjap, terlalu kaget dengan perubahan yang tiba-tiba itu hingga tidak sadar kalau Ayah Makiel sudah berada di hadapannya dengan senyum yang sangat lebar. "Siapa wanita cantik mempesona dengan tubuh seksi yang indah ini?" Tanya Ayah Makiel dengan senyum lebar. "Apa kau pacarnya Makiel? Bukan? Kalau begitu mau jadi pacarku saja? Mau ya? Mau??" Sharena tersenyum kaku. Dia padahal diam sedari tadi. Sekarang, dia tahu sifat Makiel menurun dari mana. "Ayah, yang satu ini tidak boleh direbut!" Kesal Makiel. "Itu terserah pada wanita cantik mulus menggoda ini. Kalau dia mau padaku, ya bukan salahku." Om-om m***m, kah? Beda umurnya mungkin 30 tahun dengan Makiel, tapi pria ini sepertinya melakukan operasi plastik. Hih menakutkan, batin Sharena. Dia refleks mundur dan berdiri di belakang Makiel yang kebetulan ada di sampingnya. "Hm? Kenapa dia mundur?" "Tentu saja takut dengan orang gila yang tiba-tiba muncul sepertimu." "Ah, begitu rupanya. Sepertinya aku akan mendapatkan menantu dan cucu." "Jangan bermimpi, Ayah Bodoh!" "Ayolah..." Ucap Ayah Makiel dengan cemberut. Dia beralih menatap Sharena. "Ya? Buatkan aku cucu?" Sharena hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ayah Makiel malah tertawa. "Dia menolakmu! Tadi dia geleng-geleng kepala!" "Ayah!! Siapa juga yang mau menikah dengan jalang sepertinya?!" "Makiel," Sharena mencubit pinggang Makiel kuat-kuat. "Mulutmu itu tidak bisa dijaga?" "Sakit!" Kesal Makiel dan menjauh dari Sharena. Namun Sharena mengikuti langkahnya dengan menarik pakaian rumah sakit Makiel. "Hih! Lama-lama aku stress, tahu tidak?!" Sharena hanya melotot kesal pada Makiel. Sedangkan ayahnya Makiel malah senyum-senyum sendiri. "Tuan McKennedy?" Suara yang berasal dari pintu yang masih terbuka lebar itu membuat Makiel mengalihkan pandangannya dan menemukan seorang dokter wanita di sana. Makiel kemudian menatap Sharena. "Kau pergilah dengan dokter itu." Sharena mengedip heran. "Kenapa?" "Kau bilang kau hilang ingatan kan? Aku sudah mendaftarkanmu ke rumah sakit ini. Kau akan diperiksa di sini." Sharena menatap Makiel, Ayah Makiel, lalu dokter itu. Matanya kemudian kembali menatap Makiel. "Kau tidak ikut?" "Tidak. Aku ada urusan dengan si tua bangka ini." Sharena mengangguk-angguk. Dia memberikan anggukan hormat pada Ayah Makiel, lalu pergi dari hadapan kedua pria itu. Bisa Sharena dengar percakapan mereka. "Ada apa ayah ke sini?" "Tentang money laundry itu. Kau mau meminta bantuanku tidak?" "Tidak. Aku bisa menanganinya." "Ah, begitu. Apa kau mau mendirikan perusahaan baru lagi?" "Aku lihat dulu bagaimana perkembangannya sekarang. Paling kalau gagal ya tinggal bubarkan saja dan mendirikan yang baru." "Untung hanya perusahaan cabangmu yang rugi." Sharena mendelik mendengar percakapan dua orang itu. Sungguh, kini dia tahu dari mana sifat gila Makiel itu muncul. *** Beberapa lama kemudian, obrolan Makiel dengan ayahnya tentang pekerjaan sudah berakhir. Mereka kemudian membicarakan tentang hal-hal random mengenai teman-teman Makiel dan menasihati banyak hal pada Makiel. "Apa kau sungguh baik-baik saja, anakku?" Tanya ayahnya kemudian. Makiel mendelik. "Kau bertanya seperti itu setelah membuatku makin parah?! Tentu saja aku kesakitan!" Ayahnya malah tertawa terbahak-bahak. Dia menepuk bahu Makiel yang sedang tertidur di kasur. "Setidaknya, ada wanita yang merawatmu di sampingmu." "Ck, kau berkata-kata seolah kekurangan wanita. Padahal banyak jalang yang tinggal di rumahmu. Dan lagi, Sharena tidak akan selalu di sampingku. Dia hanya jalang." Mendengar ucapan anaknya yang berkata seperti itu mengenai wanita, membuat ayahnya sukses menatap Makiel dengan sendu. "Maafkan aku." Makiel yang sedang mengipasi lengannya yang lecet, segera menatap ayahnya kembali. Melihat wajah sendu itu membuat Makiel mendesis kesal. "Kenapa kau minta maaf?! Sudah kubilang aku tidak apa-apa!!" "Ini semua salahku," mata Ayahnya Makiel kembali berkaca-kaca. "OH ANAKKU YANG MALANG!! HIKS!!" Makiel mendelik kesal. "Dia mulai lagi," gumamnya. "Sudahlah!! Pergi dari sini dasar ayah berengsek!!" "AKU MEMANG BERENGSEK!! AKU AYAH TIDAK BERGUNA!! TUHAN KENAPA KAU MEMBIARKAN ANAK MALANG INI MENJADI KETURUNANKU?!!" "AYAH BODOH!! BERISIK!!" "AKU MEMANG BODOH!! BODOH!!" "SIALAN!!" "A-AKU AYAH SIALAN!!" "BERHENTILAH MERENGEK AYAH!! KAU BERISIK!!" "AKU MEMANG HANYA BISA MERENGEK SAJA! AKU AYAH TIDAK BERGUNA!!" "AYAH!!!" "AKU TIDAK PANTAS DIPANGGIL AYAH!!" Makiel menjambak rambutnya dengan kesal. Bahkan hanya satu kata saja bisa membuat ayahnya menangis makin kencang. Dasar ayah sialan satu ini. "Ayah, kau membawa jalang-jalangmu tidak?" Ayahnya masih sesegukan. Dia mengusap air mata di ujung matanya. "Bawa. Kenapa?" Makiel tersenyum miring. Sebuah rencana tiba-tiba terbentuk di otaknya. "Bawa mereka kemari," katanya dan mencoba untuk duduk. "Apa? Kenapa? Kenapa juga kau harus duduk begitu?" "Sudahlah, bawa saja mereka ke dalam," kata Makiel saat sudah duduk sempurna. "Kemarin sangat mengesalkan. Dia membuatku sangat marah. Kali ini, dia yang harus marah." "Dia?" Tanya Ayahnya setelah mengirimkan pesan pada salah satu anak buahnya. "Sharena? Kenapa kau marah padanya?" "Ada, pokoknya. Sangat mengesalkan." "Lalu apa yang ingin kau lakukan sekarang?" "Hanya membiarkanku dikerumuni perempuan dan membuat dia sadar bahwa aku ini sangat-sangat diinginkan. Dan dia tidak boleh menyia-nyiakan pria yang sangat diinginkan sepertiku." Ayahnya tersenyum miring. "Ouh, ternyata anakku ini kemarin cemburu buta." "Berisik! Aku tidak cemburu! Hanya muak dengan tingkah jalangnya!" Ayahnya mendengus geli melihat kelakukan Makiel. "Kiel, aku senang sekali bisa melihatmu jatuh cinta." "BERISIK, KUBILANG!!" Kesal Makiel. "DAN AKU TIDAK JATUH CINTA!!" Ayahnya kembali tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan anaknya yang sedang dimabuk asmara. "Lalu, kapan kau akan menikahinya?" "AYAH BODOH! DIAM!" "Teman-temanmu sudah memiliki anak, Kiel. Aku juga ingin menggendong cucu." "BERISIK!!" "Ayolah, Kiel..." "KYA!! MAKIEL!!" Teriakan itu datang bersamaan dengan sebuah pelukan erat dari berbagai sisi di tubuh Makiel. Dan yang Makiel lakukan hanya tertawa kaku dan membalas pelukan wanita-wanita ayahnya dengan enggan. "Makiel! Bagaimana bisa kau masuk rumah sakit ini?" "Bagaimana keadaanmu? Makin parah?! Tidak kan?" "Lalu bagaimana dengan kejantananmu? Bisa berdiri?" "Hey, hey, kalian keterlaluan," kata Ayahnya Makiel melihat anaknya sudah dikerumuni seperti itu. Satu orang jalangnya bahkan ada yang duduk di pangkuan Makiel. "Kalian sebegitunya pada Makiel, padaku tidak sampai sebegitunya." Wanita-wanita itu malah tertawa dan memeluk Makiel makin erat. "Kita kan temu kangen, Tuan." "Iya, kita bertemu Tuan setiap hari. Sedangkan Makiel tidak." "Hari ini saja, biarkan kami bermanja dengan Tuan Makiel." "Hey—" "Ayah," potong Makiel. "Biarkan dulu mereka seperti ini. Ayah tahu kan tujuanku?" Ayahnya hanya mendelik dan mendesah kesal. "Tujuan? Tujuan apa?" Tanya wanita yang ada di pangkuannya. Sora. Wanita favorit ayahnya. "Bukan urusanmu." "Ih, Kiel..." Rengek Sora. Dia mengalungkan tangannya di leher Makiel dengan wajah merajuk kesal. "Kenapa kau begitu? Apa kau lupa bagaimana dulu kau selalu menggodaku? Hm?" "Tentu saja lupa," judes Makiel, lalu tiba-tiba tersenyum lebar. "Tapi, jika kau mau aku ingat, kau harus menyuapiku. Bagaimana?" Sora tersenyum malu-malu. Dia memukul bahu Makiel dengan genit. "Kiel, kau bisa saja!" "Kiel, aku juga mau menyuapimu." "Aku juga, Kiel!" Makiel tertawa. "Ya, ya, kalian semua bisa menyuapiku satu persatu." "YEAY!!" "Ayah, bawakan bingkisan buah yang kemarin." "Yang mana? Yang ini?" "Iya, itu." "Kau membelinya?" "Tidak. Teman-teman iblisku yang memberikannya." "Ah, The Devils?" "KYA!! THE DEVILS?!" Teriak wanita-wanita itu. "Kiel, apa mereka akan datang lagi?" "Tidak." "Yah..." "Ck, kalian ini," menjijikkan sekali, batin Makiel melanjutkan. Makiel memberikan keranjang buah itu pada Sora. "Tugas kalian sekarang adalah menyuapiku. Oke? Aku tidak suka kalian memikirkan pria lain selain diriku." Wanita-wanita itu malah kembali tertawa, membuat Makiel semakin jijik. Kalau saja Makiel tidak memiliki rencana ini, Makiel pasti akan mendorong wanita-wanita ini menjauh atau bahkan menendang mereka dulu sebelum mengusir mereka. Wanita-wanita yang saat ini tinggal bersama ayahnya ini, adalah wanita-wanita yang pernah tidur dengan Makiel dan Makiel buang. Tapi ayahnya malah menampung mereka dan mereka selalu bersikap seperti ini setiap bertemu Makiel. Ini yang membuat Makiel malas pulang ke rumah ayahnya. Mereka bahkan pernah menyentuh Makiel lebih jauh. Namun Makiel menahannya dengan motto kalau dia tidak akan tidur dengan wanita bekasnya lebih dari sekali. Lebih dari sekali... ya? Makiel mengerjap saat sesuatu yang dingin terasa di bibirnya. Sora menyodorkan sebuah potongan apel padanya. Makiel membuka mulutnya, menerima apel tersebut dan kembali melamun. Jika tidak salah, berarti Makiel sudah tidur dengan Sharena sebanyak 3 kali. Saat SMA dulu, saat kembali bertemu, dan juga kemarin. Namun itu hanya cara agar kejantanannya kembali berdiri. Ya... kan? Tapi Makiel bisa saja menolak. Sharena juga pernah menyarankan Makiel ke dokter. Tapi, kenapa Makiel tetap melakukannya lagi dengan Sharena? Dan, 3 kali? Sesuatu yang dingin kembali terasa di bibir Makiel. Makiel mengerjap. Kali ini adalah bibir Sora yang tiba-tiba menyosornya, melumatnya dengan kasar dan bernafsu. Dan Makiel hanya diam tanpa membalas ataupun menolak. Srett Pintu ruangannya digeser terbuka. Mata Makiel yang tetap terbuka itu menatap ke arah pintu dan mendapati Sharena di sana. Sedang berdiri terpaku dengan wajah terkejut. Namun di sana, Makiel entah kenapa bisa melihatnya. Melihat raut wajah dan pandangan kecewa dari Sharena. Dan sungguh, bukan maksud Makiel saat dia entah kenapa tiba-tiba mendorong kasar Sora dan tetap menatap Sharena yang diam terpaku di depan pintu. Sharena menelan salivanya dengan susah payah. "A-ah maaf. Aku tadi—" ucapan Sharena terhenti saat dia menatap wanita yang tadi mencium Makiel dengan bernafsu. Sora sama terkejutnya dengan Sharena. Dia melotot. "Kau kan—" Sora tiba-tiba berdiri dan mencoba berlari keluar. Namun Sharena cepat-cepat menutup pintu dan menjadi tameng di depan pintu. "Kenapa kau di sini?" Desis Sharena kesal. Dia merenggut kerah tanktop milik Sora. "APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI BERENGSEK?!" Semua orang di sana terkejut, terutama Makiel. Makiel tidak pernah melihat Sharena semarah ini. Apa karena tadi wanita itu mencium Makiel makanya Sharena marah? "Sharena—" "KAU SUDAH MENIKAH!!" Teriak Sharena kembali. "Apa yang kau lakukan? Hah?" Sora menghempaskan tangan Sharena di tanktopnya. "Bukan urusanmu!" "Bukan urusanku?! Tentu saja urusan—" "Kenapa?! Kenapa menjadi urusanmu?!" Potong Sora. Matanya menatap kesal pada Sharena. "Dia sekarang sudah bukan suamimu! Tapi suamiku!" Diberi gambaran besar seperti itu, sukses membuat Makiel tersadar apa yang membuat Sharena marah. Suami. Mantan suami Sharena. Dan... Sora adalah istri mantan suaminya Sharena yang sekarang? "Karena kalau kau begitu, artinya sama saja!! Kau dan aku tidak ada bedanya!!" "Sharena, kau salah paham," kata Ayahnya Makiel, menengahi mereka. Membuat Sharena harus menatap ayahnya Makiel. "Sora hanya tinggal di rumahku, tapi aku tidak pernah melakukan hal di luar batas dengannya." Sharena menatap Sora dengan sorot yang makin marah. "Kau bahkan tinggal dengan pria lain?! Bagaimana dengan suamimu?! Dan kenapa kau harus mencium pria lain?!" Rahang Sora mengeras. Matanya makin tajam menatap Sharena. "Kau dan dia sama saja!! Kalau memang masih saling suka, kenapa harus berpisah hah?!" "Apa maksud—?" "BERHENTI BERPURA-PURA!" Sora berteriak, mengeluarkan emosi yang sudah ditahannya sejak lama. Tanpa dapat dia cegah, air matanya mengalir perlahan. "Kau sama saja dengan dia. Dia menikahiku, hanya untuk memperlihatkan padamu kalau dia sudah tidak menginginkanmu." Sharena tertegun melihat tatapan terluka dan berkaca-kaca dari Sora. "Sora, aku—" "Dan dalam skenario yang kalian buat, kalian juga melibatkan orang banyak. Membuat mereka tersiksa di dalam lingkaran neraka yang kalian sebut cinta," lirih Sora. Matanya menyorot makin sendu, sedangkan tubuhnya sudah gemetar hebat. Tangannya mengusap pipinya yang basah. "Kau pikir aku selingkuh? Kau pikir aku bermain di belakangnya? Ya, lalu kenapa? Bahkan saat aku baik-baik padanya, menyayanginya sepenuh hati, melayaninya tanpa jeda, yang dia berikan hanya asumsi-asumsi bahwa aku bermain dengan pria lain. Dan aku merealisasikan ucapannya. Aku, memutuskan untuk mewujudkan ucapannya yang dulunya hanya sebuah asumsi. Kau puas, sekarang?" Tangan Sharena gemetar, seolah bisa merasakan apa yang Sora rasakan. Namun, kepalanya kemudian menggeleng. Tangannya mengepal, mencoba menguatkan diri untuk mencari argumentasi lain yang masuk akal. "Kau harus mengerti, Sora. Dia hanya trauma saat menjalin rumah tangga denganku." Sora mendengus sinis. Tatapannya berubah menjadi menatap Sharena dengan pandangan tidak percaya. "Lalu kenapa kau tidak bisa mengerti aku? Padahal, kita sama-sama wanita, kan, Sharena?" Dan kali ini Sharena tidak dapat menjawab ucapan Sora. Dia hanya terdiam dan tetap terdiam bahkan saat Sora berjalan melewati dirinya, keluar dari ruang rawat Makiel. Namun lagi-lagi, Sharena mengepalkan tangannya. Mencoba sekali lagi dengan peruntungannya dengan argumentasi yang menurutnya masuk akal. Dia ikut berbalik, mencoba mengejar Sora. "Mau ke mana kau?" Tanya Makiel, membuat langkah Sharena terhenti. Namun Sharena tetap membelakangi Makiel. Tidak menatap pria itu. "Aku hanya ingin menjelaskan sesuatu." "Untuk apa?" "Ada yang harus—" "UNTUK APA?! UNTUK SIAPA?!" Sharena berjengit kaget. Teriakan Makiel menggema di dalam ruangan. Sharena sampai harus mengeratkan genggamannya pada gagang pintu saking terkejutnya. "Makiel." "Berbalik. Sekarang juga." Sharena tetap diam. Tangannya makin mengerat di gagang pintu. "BERBALIK KUBILANG!!" Teriak Makiel, lagi-lagi membuat Sharena berjengit kaget. "Oi, oi, Kiel. Kau tenanglah." Ucap Ayah Makiel, menengahi. "Mau bagaimana pun kau beralibi, ucapan Sora sangat benar, Sharena," kata Makiel. "Kau, tidak bisa ikut campur dengan urusan rumah tangga mereka." Sharena memejamkan matanya erat. Dia mengembuskan napasnya dengan perlahan, menenangkan diri. "Ada satu hal yang tidak bisa kau atur, Makiel," Sharena membuka matanya, berbalik menatap Makiel. "Yaitu perasaanku." Rahang Makiel mengeras. Sungguh, seumur hidupnya, Makiel tidak pernah semarah ini. Dia tidak pernah semurka ini pada hal yang mengganggunya. Namun, Makiel sudah melewati batas kesabarannya. Sharena sudah melewati batas kewajarannya. "Kalau begitu, jangan mencintainya." "Apa?" "Kubilang, jangan mencintainya!!" "Kiel." Panggil ayahnya, merasa kasihan melihat anaknya yang seolah mengemis cinta dari Sharena. Sharena menggelengkan kepalanya dengan tatapan bingung. "Perilakumu sudah mulai tidak masuk akal, Makiel," katanya. "Aku akan kembali lagi, nanti." "SHARENA!!" Dan dengan itu, Sharena membuka pintu ruang rawat Makiel, berlari menjauh. Mencoba mengejar Sora. "JANGAN MENCINTAINYA BERENGSEK!! DASAR JALANG SIALAN!!" Makiel mencoba turun dari ranjangnya, namun sialnya kakinya masih terasa lemas dan dia jatuh tersungkur di lantai. Makiel menggertakkan giginya. "Sial!" Umpatnya sambil memukul lantai. "Kiel," ayah Makiel berdiri di depannya, membuat Makiel harus mendongakkan kepalanya. "Ayah tidak pernah, mengajarkanmu untuk semenyedihkan ini." "Ayah..." Ayahnya malah berpaling pada wanita-wanita yang dibawanya. "Ayo kita pergi sekarang." Perintahnya tanpa menunggu Makiel untuk bangkit lebih dulu. Wanita-wanita yang dibawa ayahnya tentu saja menurut dan keluar dari ruangan Makiel dengan tatapan prihatin yang mereka lontarkan. Ayahnya Makiel masih berdiri di ambang pintu saat menengokkan kepalanya sedikit pada Makiel. "Ayah, tidak pernah mengajarimu untuk menjadi sepengecut ini dan sulit menyatakan perasaanmu yang sesungguhnya pada orang lain." Dan pintu pun tertutup saat ayahnya pergi. Makiel kembali memukuli lantai dengan kesal. "Sial! Memangnya, kapan si tua bangka itu mengajariku tentang ini?!" Tapi, ayahnya memang benar. Makiel pengecut dan menyedihkan. "Dan lagi, kenapa dia tidak menolongku sih?!" Sebal Makiel sambil berdiri dengan tegap dan memikirkan apa akan mengejar Sharena atau tidak. Iya, Makiel pura-pura jatuh. Dia berharap ayahnya berteriak AH KIEL TIDAK dan Sharena mendengarnya lalu kembali pada Makiel. Namun ayahnya itu memang berengsek. Sifat lebaynya itu kadang tidak berguna di situasi seperti sekarang. Makiel berdecak kesal. Akhirnya dia memutuskan kembali ke kasur dan mulai memikirkan skenario lain untuk membawa Sharena kembali. Dan akan Makiel cari tahu siapa si berengsek yang sangat dicintai Sharena itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD