Crazy 15 : Terima Kasih, Felix

2904 Words
Setelah memakan 3 es krim vanilla, Sharena akhirnya bisa meredakan emosinya. Dia kehilangan Sora. Wanita itu pergi entah ke mana dan Sharena memutuskan untuk langsung saja ke kantor di mana mantan suaminya itu bekerja. Setelah menyimpan note di resepsionis, kemungkinan terbesar mantan suaminya itu akan menemuinya saat jam makan siang. Makiel menyebalkan. Kenapa dia harus marah-marah seperti itu? Dan kenapa juga Sharena disuruh untuk tidak mencintai mantan suaminya? Dasar manusia aneh. Sharena membuang napas panjang. Dia akhirnya berdiri, kembali memasuki supermarket dan membeli cup mie untuk dimakan sekarang. Baru makan sesuap, panggilan dari suara yang sangat dikenalnya itu membuat Sharena menoleh. Dapat dilihat mantan suaminya itu tersenyum lembut pada Sharena. "Hai." Sapa mantan suaminya itu dengan bisikan lembut. Sharena balas tersenyum. "Hai, Stev." Panggilnya. Stevan Joetive. Pria yang telah menjadi mantan suaminya Sharena itu duduk di hadapan Sharena dengan senyum yang masih tersungging di wajahnya. "Apa kabar? Tumben sekali mengajak bertemu?" "Um. Ini sangat penting." "Tentang apa?" "Bagaimana hubunganmu dengan Sora?" Stevan membulatkan matanya dengan samar. Jika saja Sharena tidak memperhatikan gerak gerik Stevan, Sharena mungkin tidak tahu ekspresi terkejut pria itu yang sekilas. "Seperti kebiasaanmu yang suka makan mie instan, kebiasaanmu yang langsung pada topik pembicaraan tidak pernah berubah juga." Sharena menundukkan kepalanya, melihat pada tangannya yang masih menyentuh garpu. Dia melepaskan garpunya, dan tersenyum pada Stevan. "Kau juga. Kebiasaanmu yang menjawab hal lain juga tidak berubah. Kebiasaan jika kau sedang menyembunyikan masalah." Stevan hanya membalas dengan senyum miring. "Jadi?" Tanya Sharena kemudian. "Sudah kubilang berkali-kali, pernikahan tanpa cinta itu bukan berarti kau tidak akan mencintai pasangan hidupmu. Kau hanya belum menemukan cara untuk mencintainya." "Kau tahu, Rene? Sebenarnya, kau tidak berhak berkata seperti itu," balas Stevan sambil melebarkan senyum miringnya. "Karena walaupun saat itu kita menikah atas nama cinta, kau masih bisa berselingkuh." Sharena tersentak. Tidak menyangka ucapan itu akan keluar dari mulut mantan terindahnya itu. Sharena menelan ludahnya susah payah. Dia menurunkan tangannya, menyimpannya di balik meja. Di atas pangkuannya. "Aku bertemu dengan Sora." "Lalu? Apa hubungannya dengan pertemuan kita?" "Apa kau memperlakukannya dengan baik?" "Tentu saja. Memangnya aku lelaki seperti apa?" Ucap Stevan sambil tertawa kecil. Sedetik kemudian, tawanya berubah menjadi senyum. Sedangkan matanya menerawang. "Sora itu, perempuan yang baik. Sangat baik. Dia juga penyabar. Bisa dibilang, kalaupun ada wanita lain yang ingin menjadi istriku, hanya Sora yang aku inginkan untuk tetap berada di sisiku seterusnya." Melihat wajah Stevan yang terlihat senang saat membicarakan Sora, sukses membuat Sharena juga ikut tersenyum. Namun, perasaan mengganjal tentang tangisan Sora tadi siang, sukses membuat Sharena galau sendiri. Dia ingin memperbaiki hubungan Stevan - Sora. Dan ingin mengatakan, walaupun Stevan baik-baik saja dengan keberadaan Sora, nyatanya Sora tersiksa dalam pernikahan mereka. Tapi, Sharena juga tidak bisa membicarakan tentang keburukan Sora tadi siang pada Stevan. Karena kalau Sharena mengatakannya, akan terjadi kerusakan dalam rumah tangga mereka. Sial. Kalau begini caranya, bagaimana cara Sharena memperbaiki hubungan mantan suaminya ini? "Jadi? Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?" Tanya Stevan kemudian. Sharena menggeleng. "Hanya ingin menanyakan kabar pernikahanmu saja. Aku ikut senang kalau kalian bahagia." Stevan menggaruk kepalanya dengan senyuman canggung. "Yah begitulah. Walaupun kami tidak tidur sekamar, Sora tetap—" "Apa katamu?" Potong Sharena. Kali ini menampakkan wajah terkejutnya pada Stevan. "Kalian tidak tidur sekamar?! Kau gila?! Kalian sudah hidup bersama selama setahun lebih!!" Stevan malah tersenyum malu. "Sudah hampir dua tahun, tahu! Tapi, walaupun begitu, kita tetap baik-baik saja." Ah. Begitu rupanya. Sora. Ternyata dia memang wanita yang benar-benar baik. Sharena gila karena pernah mengatakan kalau Sora sama saja dengannya. Nyatanya, Sora benar-benar lebih baik daripada Sharena. Bahkan mungkin tidak ada wanita yang sesabar Sora. Menangis di balik senyum. Masih terbayang-bayang dengan pernikahan suaminya dengan wanita lain. Namun tetap diam. Tidak komentar. Tetap tersenyum. Tetap tertawa. Tidak menunjukkan tanda-tanda tersiksa dalam pernikahan itu. Sharena mengepalkan tangannya yang berada di balik meja. Dia tersenyum tipis pada Stevan. Dan Stevan pasti mengetahui maksud di balik tatapan Sharena karena pria itu sangat mengenalnya. "Kau tahu Stev? Mungkin, kau tidak melihatnya karena dia menyembunyikan semuanya. Tapi nyatanya, yang menurutmu kelihatan baik-baik saja, belum tentu itu yang sebenarnya. Kau belum mengenalnya. Kau belum melihat arti di balik senyumannya. Dan itulah tugasmu sekarang. Jika kau memang benar-benar menginginkan Sora selamanya tetap di sampingmu, yang harus kau lakukan sekarang adalah melihat arti sebenarnya di balik senyumannya. Jika kau masih belum bisa melihatnya, maka kau harus bersiap untuk kemungkinan terburuk." Selama Sharena mengatakan rentetan kata tersebut, Stevan hanya diam. Matanya menatap lurus pada Sharena. Dan mengetahui arti di balik kata-kata Sharena, sukses membuat d**a kirinya terasa diremas kuat. Stevan segera berdiri. Dan tanpa salam, dia meninggalkan Sharena di sana. Sharena sendiri hanya tersenyum. Kebiasaan Stevan benar-benar tidak pernah berubah. Pria itu, tidak ingin membuang-buang waktu untuk sesuatu hal yang penting. *** Demi apapun, Darren amat sangat membenci Makiel dari dulu hingga sekarang. Manusia yang satu itu, sangat tahu bagaimana cara memanfaatkan orang lain dengan baik dan benar. Pasalnya, siang ini Darren disuruh oleh Annabelle untuk menemui Makiel di rumah sakit karena Makiel katanya sedang sangat menginginkan sesuatu tapi tidak ada yang menemaninya di rumah sakit. Darren tadinya menolak. Namun saat Annabelle berkata, “Lalu, apa harus aku saja yang berangkat?! Sendirian?!” Maka Darren memutuskan dengan berat hati untuk pergi menjenguk sahabat sialannya itu. Darren bahkan tidak sudi menganggap Makiel sebagai sahabatnya. Darren membuka pintu ruang rawat Makiel, dan yang didapati adalah Makiel sedang duduk di atas ranjang sambil menatapi ponselnya dengan lamat-lamat. Darren hanya membuang napas kesal, menyimpan bir yang diminta oleh Makiel, dan buru-buru akan pergi. Dia tidak peduli pada siapapun kecuali anak-anaknya dan Annabelle. “Kau tidak mau menanyakan keadaanku? Tidak lihat kondisiku yang menyedihkan ini?” “Tidak peduli.” Balas Darren sambil berjalan kembali menuju pintu. “Sudah kuduga. Lebih baik aku menyuruh Angel-ku saja ke sini.” Darren berbalik, dia segera duduk di samping Makiel dan meremas bahu Makiel dengan kencang. “Ada apa denganmu? Ada masalah? Kau baik-baik saja?” tanyanya datar. Makiel nyengir lebar. “Senang sekali ada yang peduli padaku,” katanya, dan tidak dibalas oleh Darren. “Kau tidak mengkhawatirkanku karena meminta dibawakan bir saat sedang sakit? Apa aku harus menghubungi Angel—” “Makiel, sudah kubilang bir itu sangat tidak bagus untuk tubuh, apalagi dengan kondisimu saat ini. Bisa-bisa kau mati, walaupun aku memang berharap kau mati. Dengarkan aku. Aku adalah dokter. Jadi, minum saja bir itu dan pergilah ke neraka.” “Kau perhatian sekali, kawanku,” kata Makiel sambil mengambil salah satu kaleng bir yang dibelikan Darren. “Tapi, aku sedang butuh mabuk dan bercerita. Kau mau mendengarkanku, kan?” “Tentu saja,” balas Darren dengan seringai mengerikan dengan tatapan tajamnya yang menghunus Makiel. “Aku akan selalu mendengarkanmu.” A FEW MOMMENT LATER Level kebencian Darren melonjak tajam saat Makiel sedang mabuk hanya karena 5 kaleng bir. Pria itu bahkan sedang meracau tidak jelas pada Darren. Pandangan Makiel terarah pada ponsel yang dipegangnya. “Kenapa dia tidak menghubungiku? Kenapa? Apa harus aku yang menghubunginya duluan? Tapi aku pria. Sangat tidak etis jika aku menghubungi duluan.” “Justru karena kau pria, kau harusnya menghubunginya lebih dulu kalau jantan.” Bisik Darren pada diri sendiri. Makiel menatap Darren. Pandangannya sudah sangat tidak fokus. “Kenapa, Darren? Kau berbicara padaku?” “Untuk apa aku berbicara dengan orang tidak waras sepertimu?” “Haha Darren, leluconmu lucu sekali.” “Dan aku sedang tidak melucu di sini.” “Haha, kau benar, Darren. Leluconmu memang lucu,” tawa Makiel sambil menangkup kedua pipinya dengan sok imut. “Darren ternyata bisa melucu.” Darren hanya membuang napasnya dengan lelah. “Sharena ke mana? Bukannya tadi di sini?” racau Makiel kemudian. Makiel tiba-tiba senyum-senyum pada Darren. “Kau menyembunyikannya, ya?” Darren hanya menatap datar. Makiel menatap Darren dengan curiga, namun senyumnya masih bermain di bibirnya. “Ah, Darren. Kamu suka begitu deh. Jangan disembunyikan dong, Sharenanya.” Darren diam. “Darreeeeen.” Darren tetap diam. “Darreeeeeen.” Ucap Makiel dengan manja. Dia bahkan memukuli d**a Darren dengan lemah lembut. “Darreeeeenn—” BUGH! Dan Makiel pingsan seketika saat Darren memukul kepala belakangnya. Darren membuang napasnya dengan kesal. “Felix, cepatlah datang. Aku tidak yakin akan membiarkan setan satu ini hidup lebih lama lagi.” *** Felix bersin di tempatnya. Dia mengorek lubang telinganya dengan santai. “Sepertinya, ada yang membicarakanku.” Katanya dan kembali berjalan santai dan senang. Senang karena tidak ada di sisi Makiel saat sahabatnya itu sedang kesusahan dan mabuk. Makiel bisa mengancam Darren, tapi tidak untuk Felix. Felly dan Makiel sama sekali tidak seromantis Annabelle yang memiliki hutang budi pada Makiel. Yang bisa mengancam Felix dengan menggunakan Felly hanyalah Samuel dan Galaxy, Justin, lalu si berengsek David. Felix bahkan saat ini berjoget dengan santainya ketika memasuki pelataran rumah Makiel. Baru saja Felix akan membuka pintu rumah Makiel, pintu ini tiba-tiba terbuka dari dalam. Felix melotot saat melihat Sharena di sana. “Kau?! Kenapa bisa di sini?!” Sharena yang memakai pakaian santainya hanya melipat tangannya di depan d**a dan menyenderkan tubuh bagian sampingnya ke pintu. “Aku? Aku mau mencari camilan. Aku baru pulang dari suatu tempat.” “Bukan itu maksudku!” pekik Felix. Dia mendesah takjub. “Woah, kau dan Makiel memang sangat cocok. Sama-sama tidak punya malu.” Sharena mengedikkan bahunya sekilas. “Aku memang kesal pada Makiel. Tapi bukan berarti aku sudah berani untuk pulang.” “Kau bisa menginap di hotel, kan?” “Selagi ada yang gratis, kenapa tidak?” Felix menggeleng takjub mendengarnya. “Ya sudah kalau begitu. Kau bantulah aku menyiapkan barang-barang keperluan Makiel.” “Kenapa aku harus melakukannya? Bukannya kau yang disuruh?” “Woah, cara kalian menjawab dengan nada yang menyebalkan itu membuatku tahu kalau kalian memang sangat amat cocok.” “Kesamaan sifat, bukan berarti sebuah kecocokan. Memangnya, sifatmu dan teman-temanmu sama? Sifatmu dan istri anakmu juga sama? Tidak kan?” “Iya juga. Kau benar juga. Woah, memang kata-kata bijak yang sudah dipastikan akan keluar dari mulut seorang Sharena.” Mendengar itu, Sharena terdiam. Dia kembali teringat pada mimpi yang mendatanginya. Dan walaupun Sharena ingin melupakannya, mimpi itu memang tercipta dari ingatannya. Maka dari itu, Sharena tidak bisa untuk benar-benar melupakannya. Dan entah kenapa, Sharena tidak ingin melupakannya. “Felix, bisakah kita mengobrol sebentar?” “Tentang?” “Aku dan…” Sharena terdiam sejenak. “… Makiel?” Felix mengangguk. “Oke. Kita mengobrol di dalam—” “Tidak. Di luar saja,” Sharena akhirnya keluar dari rumah sepenuhnya. Dia buru-buru menutup pintu. “Kalau di dalam hanya kita berdua saja, akan menimbulkan kesalahpahaman. Aku tidak mau itu terjadi.” Felix tersenyum jahil. “Kau takut tergoda olehku, ya?” Sharena mendengus sinis. “Aku yang takut kau tergoda olehku. Dan lagi…” Sharena menatap Felix dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan. “… Memangnya kau se-oke itu?” “Hey! Kau—” “Dan aku tidak percaya geng setan kalian. Bisa-bisa, kau ternyata sudah tergoda olehku dari lama.” “Ck, jalang satu ini!! Aku sudah punya Felly, tahu!” “Itu yang utama. Aku tidak ingin wanitamu sakit hati hanya karena kesalahpahaman yang tidak kita lakukan.” “Kau—” “Diamlah. Dan ikuti aku.” “Aish! Wanita ini ternyata tidak mirip sama sekali dengan Kiel! Kau lebih menyebalkan! Kau dengar itu?!” “Hm.” “Jangan bertingkah seperti Darren!” “Dasar Pak Tua berisik.” Sharena sudah sampai di halaman rumah. Dia duduk di lantai, sedangkan kakinya terjulur melalui tangga teras Makiel. Felix menyusul di sampingnya setelah menggelar sapu tangannya di lantai. “Jadi? Apa yang ingin kau bicarakan?” “Aku sepertinya hilang ingatan.” Kata Sharena to the point. “Apa?!” pekik Felix dengan mata melotot lebar. “Kau tidak salah dengar.” Felix terdiam sejenak, mengedip, dan mengalihkan pandangannya dari Sharena, menatap lurus-lurus pada halaman luas di depannya. “Begitu rupanya. Pantas saja kau tidak ingat kami.” “Dan aku belum memiliki ijasah SHS.” Felix mengangguk mengerti. “Jadi, kau pikir hilangnya ingatanmu berhubungan dengan kami?” “Hm,” kata Sharena sambil mengangguk mengiyakan. “Kau tahu sesuatu mengenai kami, Felix?” Felix menggelengkan kepalanya pelan. “Yang kutahu, kau menyukai Makiel diam-diam. Aku dan teman-temanku menjadikanmu bahan taruhan, dan kau tidak terlihat lagi setelahnya.” “Taruhan?!” pekik Sharena dengan mulut menganga lebar. “Woah, kalian ternyata sudah berengsek sedari kecil.” “Hm. Tapi kau tidak tahu tentang itu. Jadi tidak mungkin kau hilang ingatan gara-gara itu. Dan dari reaksimu juga biasa saja.” Sharena mendelik. “Tentu saja. Tapi, tetap saja hatiku sakit mendengarnya.” “Maaf, maaf. Lagipula, itu sudah puluhan tahun yang lalu. Kita semua masih kecil.” “Dimaafkan, kalau begitu. Tapi, jika begitu, apa yang membuatku hilang ingatan?” “Aku tidak tahu,” kata Felix sambil mengedikkan bahunya sekilas. “Satu-satunya cara adalah dengan mengingatnya kembali.” “Kalau itu, aku juga tahu,” kesal Sharena sambil mendelik kesal. “Aku membaca di internet, Felix. Ada banyak kategori dari amnesiaku ini. Dan amnesia yang kualami ini hanya kalian saja yang dihapus dari ingatanku. Pertanyaannya… kenapa hanya kalian saja?” “Kenapa tidak tanyakan pada Darren saja?” “Darren?” “Hm. Karena kau wanitanya—temannya Makiel,” koreksi Felix cepat. “Kau bisa minta tolong pada istrinya Darren. Annabelle pasti membantumu.” “Hm, begitu.” “Bagaimana jika kau ikut saja dalam perayaan ulang tahun Xavier?” Sharena melotot. “Owner?! Kau gila?!” “Kenapa memangnya?” “A-aku…” Sharena menunduk. “Aku takut pada istrinya Owner. Apalagi, aku pernah membuat mereka bertikai dulu.” “Kau menggoda Xavier di depan Emilie?!” “Kau gila?! Jika aku tahu ada wanita lain di rumah itu, aku pasti tidak akan menghampiri Owner. Mana mungkin aku mau. Itu hanya skenario Owner dengan menjadikanku cameo dalam ceritanya.” Felix mengangguk mengerti dengan mulut yang membentuk O. “Dan aku belum minta maaf dengan benar pada istrinya Owner.” “Kalau begitu, kesempatan yang bagus. Kau bisa ke sana saat ulang tahun Xavier. Dan meminta maaf pada Emilie.” “Tapi—” “Tenang saja. Xavier tidak bisa macam-macam di LA. Lagipula, Makiel memiliki kuasa terbesar di negeri ini. Dan Xavier adalah sepupuku. Jadi kau bisa tenang.” Mendengar ucapan Felix membuat Sharena yang tadinya menatap lurus-lurus, kali ini menatap Felix dengan pandangan penasarannya. “Makiel…” ucapnya, membuat Felix menoleh. “… dia seberkuasa itu?” Felix membuang napas panjang. Dia menatap langit kembali. “Bisa dibilang, dia lahir dengan sebuah keberuntungan yang kuat. Feelingnya dalam berbisnis sangat luar biasa. Jika dia menarik investasi di suatu perusahaan, maka bisa dipastikan perusahaan itu akan bangkrut karena para investor lain akan ikut menarik uangnya. Termasuk aku dan teman-temanku. Jika kami sedang dalam masalah mengenai berbisnis, kita tinggal lari pada Makiel. Walaupun, tanpa kita melakukannya, Makiel akan selalu menjadi orang terdepan yang membantu kita.” Sharena mengangguk mengerti. “Akan kucatat. Suatu saat, jika aku berbisnis, aku akan meminta bantuan Makiel.” Felix mendengus geli. “Pemahaman yang bagus.” Dan hening setelahnya. Kali ini, Sharena tidak tahu harus bercerita pada Felix atau tidak. Dia merasa ragu untuk menceritakan mengenai hal ini. “Jadi? Ada apa?” tanya Felix kemudian, membuat Sharena tersentak. “Aku tahu kau masih ingin menceritakan tentang hal lain.” Sharena yang tadinya melotot, perlahan-lahan menenangkan dirinya. Dia memeluk kedua kakinya di depan d**a. Pandangannya menerawang, memikirkan soal masalah tadi pagi. “Aku… tidak tahu.” “Hah?” “Ya, aku tidak tahu apa yang kurasakan,” ucap Sharena dengan senyum tipis yang bermain di bibirnya. “Aku tidak suka, saat Makiel mencium wanita lain di hadapanku.” Felix tersenyum lebar, merasa senang dengan apa yang Sharena rasakan. “Begitu rupanya.” “Kau mengerti apa yang kurasakan?” “Kurang lebih,” kata Felix sambil mengangguk. “Yah, begitulah. Cinta pertama memang sangat sulit dilupakan.” Sharena menunduk. “Aku juga mulai berpikir begitu.” “Sharena,” panggil Felix, tersenyum menenangkan pada Sharena. “Kau tahu? Di antara kami, yang belum pernah jatuh cinta adalah Makiel. Aku jatuh cinta pada usia yang sangat muda. Felly adalah cinta pertama dan terakhirku. Begitu pula dengan Alarick dan Darren. Istri mereka adalah cinta pertama mereka. Tapi Makiel…” Felix menjeda. Dia membuang napasnya pelan. Wajahnya berubah menjadi prihatin. “Makiel hidup dengan seorang ibu yang memaksakan dirinya untuk hamil. Dia hidup dengan seorang ibu yang terus menangis karena ayahnya membawa seorang p*****r. Bukan berarti ayahnya selingkuh. Ayah Makiel bukan orang yang seperti itu. Hanya saja, manipulasi yang dilakukan wanita itu tidak pernah kelihatan. Dan Makiel menjadi saksi di mana terdapat fitnahan yang dilakukan ibunya dan juga p*****r itu. Maka dari itu, pikiran Makiel tentang wanita masih sangat dangkal.” Sharena mengangguk-angguk saja mendengarnya. “Apa Makiel sering berkata kasar padamu?” Sharena tersenyum. “Dia hanya mengatakan apa yang orang-orang sering katakan. Tapi, walaupun begitu, dia orang terdepan yang selalu melindungiku. Dan buktinya adalah dengan aku yang tinggal di sini sekarang.” Felix mendengus geli. “Jadi, sekarang apa yang akan kau lakukan?” “Sepertinya… aku ingin meredakan dulu,” Sharena menyentuh dadanya, seolah mengatakan jika dia ingin meredakan dulu rasa resah di dadanya. Felix mengangguk mengerti. Dia segera berdiri. “Kalau begitu, aku harus melaksanakan tugasku dulu sekarang. Jika tidak, Darren mungkin akan membunuh Kiel sekarang.” Sharena mendengus. Dia mengangguk. “Aku akan membeli camilan.” “Jangan lama-lama marahnya.” “Baiklah. Terima kasih, Felix.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD