"Nai, bangun! Nai!"Marsya mendecakan lidahnya. Semenjak tadi membangunkan Nayla, namun sahabatnya itu tidak membuka kelopak matanya."Ini anak, udah kerja masih aja susah di bangunin. Kayak gak tahu aja siapa bosnya. Dapat hukuman baru tahu rasa!"
Marsya memikirkan sejenak bagaimana cara membangunkan Naila. Sedetik kemudian, ide jahil pun melintas dalam benak otaknya."aha! Gue tahu!"
"Nai, bangun! Ada Miko diluar nyariin lo!"
Benar saja, mengatas nama Miko tubuh Naila terperanjak dari tempat tidur. Dengan raut wajah tegang, dan jantung berdebar kencang, Naila langsung duduk dari tidurnya."Serius lo? Dia nyamperin gue ke sini?"
Manik mata Naila melebar pada Marsya. Rambut semburat bahkan air iler di sudut bibirnya pun masih menempel. Darahnya berdesir hebat.
Suasana diam beberapa detik. Dengan seksama, Marsya mematri wajah tegang Naila. Belum sempat Marsya menjawab, karena menahan tawa, Naila berdiri langsung menuju jendela. Iris matanya menelisik sekitarnya di balik tirai yang tersingkap sedikit. Naila persis seperti orang sedang di kejar pemburu.
"Mana? Kok gak ada? Lo bohongin gue ya?" sembur Naila, jari telunjuknya mengarah pada Marsya.
"Iya gue bohongin lo! Tuh lihat," Marsya mengarahkan dagunya pada jam dinding."Lo niat kerja gak sih?"
Tanpa di perjelas lagi, Naila tersentak dari kebodohannya."Astaga! Lo kok gak bangunin gue sih? Akkkhhh!!"
Nayla membentakan kakinya sebelum melangkah ke kamar mandi, dia pun meraih handuk. Sedangkan Marsya melongoh mendengar umpatan sahabatnya.
"Dari tadi gue bangunin lo ya! Lo aja yang tidur udah kayak orang mati. Udah di bangunin juga malah nyalahin gue lagi. Syukur-syukur lo gak terlambat lagi Naila!" seru Marsya, seiring tubuh Naila memasuki kamar mandi. Marsya berkacak pinggang, bahunya pun ikut melorot.
***
Naila berdiri di depan spion kaca motor rekan kerjanya. Lagi-lagi rambutnya berantakkan karena menaiki ojol. Kalau tidak, ia akan terlambat lagi. Efek di kejar waktu, ojol jadi jalan pintas dari pada menaiki angkot--yang tidak bisa nyelip.
Merasa rambutnya sudah rapi lagi, Naila mengangkat pergelangan tangannya."Huuufff masih ada 10 menit lagi. Syukurlah kalau gue gak terlambat hari ini. Kalau tidak, tamatlah riwayat gue."
Dia pun melangkah memasuki kantor. Saat ini semua karyawan juga telah berdatangan.
"Naila," seru Ardian, seketika sang pemilik nama membalikkan tubuhnya.
"Pak Ardian," balas Naila, mengembangkan senyumnya menyapa lelaki dengan jabatan HRD di kantor ini. Lelaki yang berjasa memasukan dia sebagai sekretaris di sini.
"Hai ..." sapa Ardian, menelusupkan tangannya dalam saku celana bahan hitam legamnya."Aku pikir kamu akan terlambat lagi hari ini
Naila tertawa kecil. Mengingat keterlambatannya di hari pertama kerja dan Ardian lah yang menunggu di depan kantor."Tadi alarm saya lebih kencang pak bunyinya. Jadinya saya lebih cepat bangun dari pada hari kemaren."
Alarm yang di maksud Naila tak lain adalah suara bariton Marsya yang udah memecahkan gendang telinganya dan memenuhi seantero kos-annya. Apa lagi sahabatnya membawa nama Miko--lelaki yang menjadi atasannya di kantor ini.
"Oh pantas saja tidak terlambat. Syukurlah! lain kali jangan lupa lagi stel alarmnya. Biar gak terlambat lagi,"
"I-iya pak, siap!" timpal Naila.
"Ah ya, Nai ... Kalau di luar jam kantor, panggil nama aja ya. Formal bangat panggilannya," ujar Ardian.
"Baik pak, eh ... Maksud aku, Ardian," Naila setuju dengan permintaan lelaki itu. Sebenarnya Ardian sepupu Marsya. Mereka baru kenal lima bulan yang lalu. Tepatnya saat ulang tahun Marsya. Dia mengenalkan Naila pada Ardian.
Dalam pembicaraan singkat mereka, tidak sengaja membahas pekerjaan. Naila ketika itu baru saja menyelesaikan studinya, ingin mencari pekerjaan. Hal itu disampaikan Marsya pada Ardian yang saat itu menanyai Naila sudah bekerja atau belum. Dari sana lah, Ardian pun melowongkan Naila di perusahaan tempat dia bekerja.
"Ekheemm ..." deheman Miko menarik perhatian Naila dan Ardian.
"Selamat pagi, Pak," sapa Ardian, sedangkan Naila terpaksa menampakkan senyumnya menyapa Miko.
Meski pada akhirnya, Miko memilih memalingkan wajahnya. Manik matanya yang hitam berputar penuh.
"Silahkan keruangan masing-masing. Sudah waktunya kerja," Miko dengan wajah angkuhnya meninggalkan Naila dan Ardian.
"Baik pak," terdengar patuh dari Ardian. Tidak dengan Naila, ia memandang Miko dengan tatapan tak terbaca.
***
"Apa cuma gue doang yang ngerasa mantan gue ini angkuh? Mentang-mentang bos di sini, gaya selangit!"
"Siapa yang gaya selangit?" sela Miko berdiri di belakang Naila.
Manik mata Naila membola penuh. Seperti hendak keluar dari kerangkang matanya mendengar suara Miko tiba-tiba menyambar--menyahuti ucapannya.
Sedetik kemudian, manik mata Naila memicing. Menggigit bibir bawahnya. Menyesali ucapannya yang baru saja terlontarkan. Tanpa mewaspadai orang yang dia sindir dimana keberadaannya.
"Adduuuhhh mati gue!" Naila membatin.
Perlahan kepalanya menoleh kebelakang. Sorotan tajam Miko menghunus Naila. Terlihat tenang, namun mematikan. Membuat Naila kesulitan meneguk saliva.
Naila cengingiran. Ia tertawa kecil pada lelaki itu untuk meleburkan perasaan menegangkan dalam hatinya."Gak ada pak. Itu tadi pelayan toko dekat kos-an saya. Orangnya gayanya selangit."
"Kamu itu sedang di kantor. Masalah diluar tolong dikesampingkan dong, Naila. Kamu itu harus profesional," sembur Miko, berhasil membuat Naila mendongkol dalam hati.
"I-iya pak. Maaf," ucap Naila, tidak ingin berdebat terlalu lama dengan Miko.
Mendengar permintaan maaf Naila, Miko pun pergi keruangannya. Naila menggeram seiring tubuh lelaki itu menjauh dari ruangannya.
Hembusan napas kasar mengudara dari rongga hidung Naila."Benar-benar ya, orang bibir tipis itu mulutnya pedes. Kapan sih, dia ada di belakang gue? Suara langkah kakinya aja gak kedengaran." Nail menjinjitkan bibirnya.
Di dalam ruangan, Miko mengusap dagunya. Sorotan matanya yang tajam dibawah alis yang hitam pekat, mematri Naila dibalik kaca. Dari ruangannya, wajah Naila sangat jelas terlihat. Sedangkan Naila, tidak dapat melihat jelas Miko.
"Enaknya hari ini gue kerjaan dia apa ya? Gue yakin, kalau lama-lama dikerjain dia gak bakalan betah kerja di sini. Kalau gue yang pecat, kan gak lucu. Lagian siapa suruh bilang gue angkuh? Sudah syukur gue terima kerja di sini. Apa ya?" Miko berpikir sesaat.
"Aha! Gue tahu!" Ide cemerlang begitu saja melintas dibenak otaknya saat melihat Hani mengantarkan segelas kopi panas. Asapnya masih mengudara.
"Pagi, Pak," sapa Hani sambil membawa nampan berisi kopi pesanan Miko."Ini pak kopinya."
Hani meletakkan segelas kopi di atas meja Miko. Pipinya merona, ketika sudut matanya menangkap bayangan wajah Miko dengan sangat yakin Hani menduga lelaki itu meliriknya. Sudut bibir lelaki itu juga membentuk sebuah senyuman manis.
""Aduuhh pak Miko. Tolong jangan tatap saya seperti itu. Tuh kan jantung Hani jadi melompat-lompat. Kalau copot gimana? Gak bisa lagi merasakan cinta dari pak Miko nanti," Hani dengan percaya dirinya bahwa Miko mempunyai perasaan padanya.