Hani melirik Miko dengan sudut matanya setelah bermonolog dengan dirinya sendiri.
"Ada apa kamu melihat aku seperti itu?" Miko menangkap gerak-gerik mata Hani. Mendapat tatapan tajam dari Miko, Hani gelagapan.
"Eh, humm ... gak kok pak. Cu-cuma ingin nanya, kopinya gak asin kan?" tanya Hani, sebelah alis mata Miko terangkat.
"Asin?" Miko nyaris tidak mempercayai apa yang dia dengar.
"Iya pak. Soalnya tadi Hani hampir salah masukin garam ke gelasnya. Untung Hani sadar cepat. Gak jadi deh kasih garam, akhirnya gula. Manis kan, pak? Semanis Hani?" Hani mengedipkan matanya pada Miko. Bibirnya membentuk senyuman lebar.
Miko melihat ke arah kopi yang terhidang di meja kerjanya. Lalu, dia kembali mengangkat sorot matanya pada Hani."Kalau sampai kopi ini asin rasanya, siap-siap telingamu akan berpindah tempat ke belakang. Ngerti!"
Tubuh Hani terjingkrak."waduh! Ka-kalau begitu saya pamit dulu keluar pak. Permisi!"
Langkah Hani terbirit-b***t meninggalkan ruangan Miko saat mendengar ultimatum sang atasan. Setelah kepergian Hani, Miko penasaran mencoba kopi di hadapannya. Apa benar-benar Hani salah kasih garam atau tidak.
Lidah Miko ternyata mengecap rasa manis dibalik rasa pahit kopi hitamnya. Sangat pas di lidahnya. Hani memang bisa membuat kopi sesuai selera, tetapi bukan berarti Hani dapat meluluhkan hatinya. Bagi Miko, Hani tetaplah bawahan di kantornya ini.
Setelah dua jam di sibukkan dengan berkas-berkas di meja, suara ketukan pintu menyentakan Miko."Silahkan masuk."
Tidak ada tatapan manis dari Miko untuk Naila. Sampai kapan dia bersikap manis lagi melihat wanita itu. Pada hal kisah mereka sudah lama usai dan seharusnya mereka bisa menjadi teman baik. Kecuali, perasaan cinta masih ada.
"Maaf pak cuma mau mengingatkan nanti habis makan siang, bapak di tunggu oleh dengan direksi," ucap Naila, Miko membuang wajah dari tatapan Naila.
"Gak diingetin juga gue udah tahu," gumamnya pelan. Sedetik kemudian, lelaki itu mengangguk.
Naila meninggalkan Miko. Sesampai diluar, Naila menggeram."Lebih baik gue diam aja kali ya? Nyesel juga gue ingatin. Itu kan tugas gue."
***
Jam makan siang pun tiba. Seluruh karyawan memanfaat untuk segera mengisi perut mereka yang lapar. Termasuk Miko dan Naila, mereka berada di satu tempat yang sama, tetapi belum menyadari keberadaan masing-masing.
"Pak Ardian, sini!" Naila melambaikan tangannya ke udara, mengisyaratkan pada lelaki itu untuk bergabung dengannya. Ardian membalasnya dengan senyuman serta anggukan. Langkahnya mendekati Naila yang hanya duduk seorang diri.
"Sendirian?" tanya Ardian sambil mendarat duduk di depan Naila.
Naila mengangguk."Hmmm ... iya."
"Boleh aku temani?" Ardian menawarkan diri.
"Kenapa tidak?" Naila tersenyum.
"Tunggu sebentar," Ardian memanggilkan pramusaji. Lelaki itu memberi isyarat untuk mendekatinya. Tidak lama pramusaji datang, Ardian dan Naila memesan makanan.
"Huumm ... Nai, gimana kerjaan kamu? Ada kendala selama jadi sekretaris disini?" Ardian membuka suara."Kalau kamu ada kendala, kata kan saja padaku."
"Gak banyak sih. Kalau boleh minta, gue pengen direkturnya diganti. Siapa kek gitu? Pokoknya selain Miko. Mungkin akan lebih menyenangkan kalau bukan dia direktur disini." Batin Naila.
"Sejauh ini gak ada sih. Semua aman terkendali," balas Naila, meski hatinya gundukan pada Miko, Naila rasa cukup dia saja yang tahu. Hanya dia dan Miko yang memiliki masa lalu. Bukan berarti dia harus menjelek-jelekkan lelaki itu juga pada karyawan kantor. Termasuk Miko.
"Tapi, aku gak sengaja lihat kamu pulang malam. Apa kamu di hari pertama kerja sudah lembur?" Saat awal Naila kerja, Ardian melihat wanita itu menaiki ojek. Dia sengaja menunggu Naila bermaksud ingin mengantarkan wanita itu pulang.Ternyata sampai malam, Naila baru keluar dari kantor. Pada hal jam kantor berakhir disore hari. Saat Naila keluar, dia juga melihat perdebatan antara Miko dan Naila. Itu sebabnya, kenapa Ardian bertanya, berharap Naila terbuka dengannya. Sepertinya tidak sesuai harapannya. Naila mengelak untuk bicara terbuka mengenai itu.
"Kamu tahu dari mana?" Hampir saja Naila memanggil Ardian dengan sebutan Lo. Naila merasa dia dan Ardian tidak begitu dekat. Sedikit sopan untuk lelaki dihadapannya saat ini.
"A-aku nggak sengaja lewat kantor ini sih. Aku pikir kamu sudah pulang sore. Tapi kamu masih ada disini sampai malam. Aku pikir kamu lembur," killah Ardian.
"Iya aku memang lembur. Tapi aku rasa itu wajar sih. Sebagai sekretaris baru menggantikan sekretaris lama. Mungkin sudah banyak pekerjaan selama sekretaris lama tidak bekerja lagi di kantor ini," balas Naila, dia sudah memiliki prinsip. Bagaimana pun Ardian memancingnya untuk terbuka, tetap dia ada batasan dengan Ardian.
Ardian termanggut."Kalau misalnya kamu pulang malam lagi, kan rawan untuk seorang wanita, aku siap untuk mengantarkan kamu pulang."
"Oh, tidak usah! Tidak perlu repot-repot," Naila menyela."Maksud aku, aku gak enak meminta kamu di antar pulang. Seharian kerja itu capek loh. Lagian rumah kita tidak sejalan."
Pembicaraan mereka terjeda, kala pramusaji datang membawa pesanan mereka. Menurunkan satu persatu makanan dan minuman itu di atas meja. Kemudian pramusaji pamit undur diri.
"Tidak apa, Naila. Lagian kalau kamu pulang malam, kasihan. Kamu itu wanita, gak baik pulang menaiki angkot atau ojol sekalipun. Jaman sekarang ini sudah rawan, Nai. Banyak khasus kriminal yang terjadi dan banyak menyangkut wanita. Sekalian aku juga bertemu Marsya, sahabat kamu itu.
"Duh, jadi gak enak kalau gue terus ngelak. Nekad amat nih orang pengen antar gue pulang. Gue kan gak ingin punya hutang budi," gerutu Naila dalam hati.
"Benar juga sih. Tapi ... Apa aku gak akan ngerepotin kamu? Kan lumayan jarak rumah aku sama kamu. Bensinnya malah habis," Naila to the point.
Ardian tertawa kecil. Tangannya spontan menggusar rambut Naila. Wanita bersungut kesal ketika rambutnya diacak-acak lelaki itu.
"Yah, tuh kan, rambut aku berantakkan," sembur Naila, dia merapikan kembali rambutnya yang telah diacak-acak Ardian. Naila memang senang kalau bercanda, tetapi entah kemana dia tidak suka dengan sikap Ardian yang telah menggusar rambutnya yang telah bersusah payah, Naila menjaga kerapian semenjak dirumah tadi.
"Maaf, maaf, habisnya kamu itu lucu sih Nai," hati Ardian menghangat seketika. Entah dari mana cinta menyentuh hatinya begitu lembut pada Naila. Yang pasti setelah diperkenalkan Marsya kala itu, kenangan Ardian terganggu. Bayangan wajah Naila menyapu indah dalam tidurnya. Darahnya berdesir akan kecantikan wanita itu. Ardian dimabukkan oleh perasaan yang sampai saat ini belum terbalaskan.
"Gak harus ngacak-ngacak rambut gue juga kali," umpat Naila.
Dibalik dinding, seorang lelaki tampan semenjak tadi menguping pembicaraan Naila dan Ardian. Bukannya senang dengan Naila, karena telah menutupi apa yang telah dia lakukan pada wanita itu. Lelaki itu malah membenci kedekatan mereka.