Angkasa dan Diva duduk di depan Sandra dan Rama. Di sebelah mereka Ada Bintang yang terus diletakkan di sebelah. Rama menghembuskan nafas kasarnya.
"Jadi kalian berdua ngapain aja?" Rama entah berapa kali ia memberi pertanyaan yang sama.
"Pi, Angkasa sama Diva nggak ngapa-ngapain!" seru Angkasa kesal, ia juga sudah beberapa kali menjawab dengan jawaban yang sama.
"Kata Bintang kalian mau 'itu' ucap Rama menatap Bintang.
Angkasa menatap Bintang malas." Bang Bintang itu salah paham! Angkasa nggak ngapa-ngapain. Kita cuma ngobrol biasa kok. "Bantah Angkasa sebal.
Sandra Hanya memijat keningnya yang terasa pening." Kayaknya kalian harus di tunangin deh. "Perkataan sepontan Dari Sandra ITU MEMBUAT Angkasa Dan Diva melebarkan penggunaan.
" Enggak! " keduanya membantah
"Tapi kalian bener nggak ngapa-ngapain, kan?" tanya
Sandra sekali lagi.
"Mami nggak percaya sama Angkasa? Enggak percaya sama anak sendiri?" ucap Angkasa lirih.
Sandra menghembuskan nafasnya kasar
" Oke Mami percaya. Awas aja kalau Kalian beneran ngelakuin yang aneh-Aneh Mami nggak segan-segan buat nikahin kalian." ucap Sandra dengan nada mengancam.
"Tapi, Papi rasa bener kata Mami kalian harus di tunangin," putus Rama menatap kedua anak remaja di depannya.
Angkasa dann Diva bertukar pandang. Diva Memberi kode kapada Angkasa. Sementara lelaki itu Hanya Mengangkat bahunya.
"Pi, Kitakan Masih baru pacaran, masa Langsung tunangan," ucap Angkasa.
"Iya Pi, kita masih terlalu kecil." tambah diva untuk mendukung perkataan Angkasa, Angkasa pun,menganggukan kepalanya.
"Kan , kalian hanya tunangan bukan nikah. " balas Rama santai, Sandra mengangguk.
" Ya udah deh terserah Papi," ucap Angkasa, Diva yang berada di samping Angkasa pun mencubit lengan Angkasa.
Angkasa meringis, sembari melihat hal kearah Diva. Diva memberi kode kapada Angkasa. Angkasa yang tidak tau apa maksud dari Diva pun memberi Kode dengan sedikit mengerakan bibirnya.
"Kalian kenapa sih?" tanya Sandra yang melihat hal-hal aneh dari kedua remaja itu.
"Ini Mi, kita tuh s...sebenarnya - "
" Sebenarnya Diva tuh setuju kalau kita mau tunangan. Iya, kan sayang! “ potong Angkasa cepat, seraya merangkul bahu Diva. Diva melebarkan matanya.
” Pasangan aneh. Tadi nggak mau di tunangin, sekarang berubah pikiran." cibir Bintang yang sedari tadi memperhatikan mereka.
"Baiklah kalau Kalian setuju, Diva Papi minta nomor orang tua kamu." ucap Rama sembari memberikan ponselnya.
Diva menerima ponsel milik Rama. Lalu mengetik beberapa digit nomor di ponsel tersebut. Setelah itu Diva memberikan kembali ponselnya kepada Rama.
"Maaf tuan, nyoanya, makan malam sudah siap." kata pembantu rumah tangga di rumah Angkasa.
Sandra mengangguk. "Diva makan malam dulu yuk! Sebelum pulang. " ajak Sandra, Diva hanya mengagguk.
*****
Diva hanya menyadarkan kembali di kaca mobil Angkasa. Angkasa yang sedang menyetir pun melirik kearah Diva." Lo masih marah sama gue? " tanya Angkasa masih fokus dengan jalanan di depan.
Diva melirik Angkasa malas. Ia pun tidak menjawab pertanyaan Angkasa." Div, jawab dong," ucap Angkasa
"Tanpa gue jawab, lo tau pasti! " seru Diva
"Orang nikah aja bisa cerai, apa lagi yang cuma tunangan. " ucap Angkasa, Diva menatap Angkasa.
"Terus menurut lo? Selamanya kita akan pura-pura kayak gini? " tanya Diva, Angkasa menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
" Sa, kita pacaran karna taruhan! Bahkan tafi siang lo sendiri yang bilang kalau lo suka sama seseorang, " ungkap Diva menatap Angkasa.
" Terus sekarang kita tunangan atas dasar apa, paksaan? Lengkap sudah, pacaran karna taruhan dan tunangan pun atas dasar Paksaan. Lo tay?! Siapa yang ngerasa di permainan disini? Gue Sa, " tambah Diva meluapkan emosinya.
" Gue nggak tau, gimana kedepannya. Kalau nyatanya kita malah terjebak sama permainan konyol ini." ucap Diva menatap lurus kearah jalan.
" bahkan, gue udah kejebak sama permainan koyol ini. 'batin Diva.
Angkasa memijat keningnya, semua terasa sangat memusingkan. "Div, gimana kalau kita mulai dari awal." Angkasa memengang tangan kanan Diva. Diva terdiam ia terpaku saat itu.
"Maksud lo?" tanya Diva tak paham.
"Kita batalin bertaruh. Dan belajar buat menjalin cinta." ucap Angkasa serius, Angkasa juga tampak lembut Diva. Diva terhipnotis dengan tatapan mata Angkasa.
"Maksud lo, kita pacaran beneran dan menjalin tunangan? Layaknya pasangan yang saling mencintai gitu?" tanya Diva.
Angkasa menganggukan dibuka. Mengiyakan pertanyaan Diva.
"Terus masalah cewek yang tadi siang lo ceritain gimana? Gue nggak mau kalau gue cuma jadi batu loncatan lo aja. Gue perempuan yang bisa baper sama kayak perempuan lain. Jadi gue nggak mau sakit hati, kalau lo lebih milih tuh cewek." ucap Diva jujur.
"Enggak! Gue nggak akan nyakitin lo," ucap Angkasa tegas.
Mereka berdua saling tatap, Angkasa mengambil tangan Diva lalu mencium tangan tersebut. "Kita mencoba membuat cinta sama-sama." lirih Angkasa, Diva terkesimah dengan ucapan dari Angkasa.
Angkasa pun melanjutkan kembali perjalanannya. Satu tangan Angkasa masih mengengam tangan Diva. Sementara menentukan yang lain mengendalikan aduk mobilnya. Diva mataputasi yang masih di gengam oleh Angkasa. Bibir tipis miliknya membuat lengkungan tipis, yang tak di sadari oleh Angkasa.
Mobil Angkasa menepi di depan gerbang rumah Diva. Angkasa menarik tangan Diva, saat perempuan itu akan turun dari mobil. Jarak wajah mereka hanya beberapa centi. "Selamat malam, jangan tidur malam-malam. Besok pagi gue jemput." ucap Angkasa lalu mencium kening Diva.
Pipi Diva memanas, jantungnya berdetak lebih kencang, saat Angkasa memperlakukannya begitu manis.
"Gue pulang dulu, babay Mama Diva." Angkasa mengacak rambut Diva sebelum perempuan turun dari mobilnya.
Diva masih berdiri di depan gerbang rumahnya, tangan kanan memengang d**a bagian kirinya. Ia merasakan dentuman keras dari jantungnya.
"Semoga lo bisa tepatin janji lo Sa.." lirih Diva sebelum masuk kedalam Rumahnya.
****