14||TUNANGAN

831 Words
Tadi sepulang sekolah, Diva di introgasi oleh kedua orang tuanya. Pasalnya Mami dan Papinya pulang karna mendapat kabar bahwa putri bungsunya akan melangsungkan pertunangan. Bukan hanya orang tuanya yang kaget, tapi ketiga kakaknya pun sama. Diva menatap pantulan dia di cermin. Malam ini ia akan bertunangan dengan Angkasa. Diva mengunakan gaun berwarna putih dengan sedikit sentuhan bungga di pinggir pinggangnya. Rambutnya di tata sedemikian rupa, wajahnya di hiasi dengan make up yang tidak terlalu tebal. Sepatu hak tinggi. Yang tidak terlalu tinggi mungkin hanya 6 cm. Bunga, kakak Diva masuk ke kamar Adiknya. "Va udah belum? Mami sama Papi udah nungguin, tuh." kata Bunga. Diva pun ikut berjalan di belakang Bunga. Di bawah sudah ada Mami Diva, Papi Diva dan kedua kakaknya. Caca dan Adel. "Dek udah siap?" tanya Elvan melihat putri bungsunya. "Udah kok Pi," balas Diva tersenyum. "Aduh anak Mami cantik banget sih!" seru Fania lalu memeluk Diva. "Kan, Maminya cantik." balas Diva. Sembari memeluk Fania. "Udah yuk kita berangkat." ajak Elvan mereka pun masuk ke mobil. Bunga dan Caca duduk di kursi paling belakang. Di tengah Adel dan Diva di depan Fania dan Elvan. Elvan melaju mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak berapa lama mereka sampai di parkiran Restourant tempat mereka mengelar pertunangan. Turun, dari mobil mereka masuk ke Restourant. Pertunagan Diva dan Angkasa langsung di atap Restourant. Rooftop tersebut sudah di hiasi dengan lampu-lampu yang sangat cantik. Disana, sudah ada keluarga Angkasa yang sudah datang. Sandra kaget begitu tau siapa yang datang. Begitu juga dengan Elvan ia tak menyangka kalau calon besannya adalah Sandra. "Loh kak Elvan?" tanya Sandra sembari tersenyum. "Hay, Sandra. Lama sekali kita tidak bertemu," balas Elvan sembari berjabat tangan dengan Sandra. "Jadi, Diva anak kak Elvan? Kenapa dunia sempit banget." ujar Sandra antusias. "Iya nih, dunia sempit banget ya." balas Elvan sembari tersenyum. Rama yang ada di samping Sandra pun memeluk tubuh Sandra posesif. Sandra melirik kearah mengalihkan, ia tau Rama itu sedang cemburu. "Mas kenalkan ini kak Elvan teman aku waktu kuliah di Roma." kata Sandra, Rama berjabat tangan dengan Elvan. "Rama suami Sandra dan Papinya Angkasa." kata Rama memperkanalkan dirinya, Elvan mengangguk. "Elvan Papinya Diva," balas Elvan, sembari tersenyum. Pemandangan Sandra jatuh ke wanita yang seumuran dengannya. Sandra mengingat wanita itu, wanita yang pernah diajak oleh Elvan di ajara wisudanya. Dulu, Elvan dan Sandra sangat dekat. Elvan sama seperti Sandra, ia siswa beasiswa dari Surabaya. Kisah cinta Elvan dan Sandra hampir sama, Jika Rama hilang ingatan. Berbeda dengan Elvandan Fania. Waktu itu, Fania sudah di tuangkan oleh orang tuanya. "Kak ini Fania?" tanya Sandra sembari berjabat tangan dengan Fania. "Iya ternyata ingatan kamu masih kuat yah," kata Elvan sembari tersenyum. "Fania kamu ingat nggak? Waktu itu kamu pernah salah paham sama Sandra." ucap Elvan ingatkan Fania. "Iya-iya aku inget! Maaf ya San, waktu itu udah salah paham." kata Fania sembari cipika-cipiki dengan Sandra. "Iya Fan, nggak pa-pa kok." balas Sandra. Mereka menyudahi aksi nostalgianya. Angkasa duduk di depan Diva. Sedari tadi pandangannya tak pernah lepas dari wajah Diva. Perempuan itu sangat cantik malam ini. Bintang yang berada di sebelah Angkasa pun menyikut lengan adiknya. "Jangan diliatin mulu! Gue tahu lo nggak tahankan pingin lanjutin yang kemarin." bisik Bintang ke Angkasa, Angkasa menatap tajam Bintang ia mengeser septu pantofelnya, dan menginjak kaki Bintang, Bintang meringis di buatnya. "Jadi kita akan melakukan pertunangan dulu, jika untuk menikah menurut saya, mereka terlalu kecil." kata Rama membuka percakapan. "Iya saya dan istri saya setuju untuk saja. Kami serahkan semuanya kepada Diva." balas Elvan. Rama memberi kode untuk Angkasa memulai acara. "Diva Queenessa, maukah kamu bertunangan dengan ku?" tanya Angkasa sembari menatap mata Diva. Diva menggigit bibir bawahnya, perasannya sangat gugup. Diva menatap Angkasa, dengan tatapan yang sulit untuk di artikan. Sedetik kemudian, perempuan cantik itu menganggukan kapalanya. Membuat semua orang yang ada di sana tersenyum dan berucap syukur. Angkasa mengambil kotak cincin yang ada di saku jasnya. Cincin itu sangat indah dengan ukiran berlian di seklilingnya. Angkasa menyematkan cincin itu di jari manis Diva. Setelah itu Diva menyematkan cincin di jari manis Angkasa. Angkasa tersenyum manatap Diva begitu juga dengan Diva. Mereka kembali mengobrol bernostalgia dengan masa lalu. Sementara kedua keluarga itu sedang mengobrol, Angkasa menarik tangan Diva sedikit menjauh dari kedua keluarga yang sedang berbincang. Angkasa membawa Diva ke bangku panjang, yang ada di rooftop tersebut. Keduanya duduk bersebelahan. Angkasa menyibakan rambut Diva, yang sedikit menjuntai kebawah.  "Terimakasih untuk malam ini." ungkap Angkasa tersenyum manis. Tangan Angkasa melingkar di pinggang Diva membuat perempuan lebih dekat dengan Angkasa. Diva menyandarkan di bahu Angkasa. "Sa, semua ini tuh apa sih? Kita masih bertaruh atau udah selsai?" tanya Diva menatap bintang di langit yang sedikit gelap.  "Kita? Adalah kekasih memulai malam ini." tegas Angkasa. "Jadi? Kita sudah menjadi kekasih mulai malam ini?" tanya Diva tak percaya. "Iya Diva Queenessa musuh bebuyutan Angkasa Radja Semesta, Malam ini detik ini. Resmi menjadi kekasih Angkasa." jelas Angkasa bergerak semakin erat memeluk tubuh Diva. "Sa!" panggil Diva di samping telinga Angkasa. "Jangan pernah tinggalin gue..." lirih Diva berbisik di telinga Angkasa. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD