11||GARA-GARA SEBLAK

771 Words
Sudah seminggu, Diva dan Angkasa menjalin hubungan atas dasar taruhan. Angkasa nampak menikmati perannya menjadi pacar dari Diva. Meski pun begitu, Angkasa tetaplah Angkasa Lelaki itu masih saja jahil kepada Diva. Seperti saat ini Dengan jahilnya Angkasa meletakan sepatu Diva di atas ventilasi pintu kelas. "ANGKASA! BALIKIN SEPATU GUE!" seru Diva mengelurkan suara emasnya Angkasa tertawa, ia puas melihat wajah Diva yang sedang memerah karna memahan amarah. "Ambil sendiri, gue nggak lagi bawa sepatu lo." kata Angkasa santai. Diva mencibir Angkasa. "Katanya pacar tapi apa? Masih aja jahil!" "Utuk utuk utuk...Mama Diva makin cantik deh, nih Papa balikin  sepatunya." ucap Angkasa mengambil sepatu itu. Diva tak menghiraukan Angkasa ia melangkah duduk  di kursinya, Diva hanya memakai 1 sepatu di kaki sebelah kiri. Ia duduk dan enggan melihat Angkasa. "Sayang, jangan marah dong, kan bercanda." bujuk Angkasa selembut mungkin. Diva tak menghiraukan Angkasa, ia duduk dan berdiam diri. Angkasa berinisiatif untuk mengambil kaki kanan Diva dan mulai memakaikan sepatu tersebut, Diva hanya menatap Angkasa dalam diam. Di balik kaca jendela, semua murid yang sedari tadi menonton mereka pun bersorak histeris. Angkasa selsai memangsakan sepatu Diva, ia berdiri mengelus puncak kepala Diva lalu menciumnya, hal itu membuat Diva melebarkan matanya. "Jangan marah lagi ya sayang." ujar Angkasa dengan senyuman manisnya Diva masih diam atas perlakuaan Angkasa terhadapnya. Sedetik kemudian, Diva kembali menormal kan raut wajahnya. Perempuan berbando pita hitam itu menatap Angkasa. "Gue bakal maafin lo tapi nanti pulang sekolah lo ikut gue." pinta Diva kepada Angkasa, Angkasa mengkerutkan keningnya bingung. "Kemana?" tanya Angkasa. "Nanti juga lo tahu," sahut Diva mengalihkan pandangannya. "Oke deh kalau gitu." kata Angkasa pasrah. Lalu duduk di kursinya. *** Senyum Diva mengambang ketika mereka sampai di sebuah rumah makan yang cukup sederhana. Angkasa terkesimah dengan senyuman yang terukir di bibir Diva. Diva mengangkat tangannya, tak berapa lama seorang pelayan datang. "Saya mau Yang biasa 2 level 5, minumnya s**u hangat dua." pesan Diva kepada Pelayan tersebut. Pelayan tersebut mengangguk dan pergi meninggalkan Angkasa juga Diva. Diva mengalihkan pandangannya untuk melihat kearah Angkasa. "Heh, ngapain lo liatin gue. Naksir baru tau rasa lo." kata Diva, Angkasa tersadar pun menyibakan bibirnya, sebal. "Lo ngapain ajak gue ketempat ini?" tanya Angkasa. "Mau makan lah. Menurut lo kita mau ngapain? Berenang?" ciibir Diva menarik ujung bibirnya. Angkasa tertawa, lalu mengacak lembut rambut Diva. Tak berapa lama pelayan datang, membawa pesanan yang Diva pesan. Mata Diva berbinar, melihat mangkuk dengan kuah yang sangat merah. Berbeda dengan Diva yang berbinar, Angkasa malah menelan silvahnya kasar. "Diva, lo kok pesennya banyak banget sih." keluah Angkasa, Diva yang sedang mengambil sendok pun menengok kearah Angkasa. "Yang satu buat lo." tunjuk Diva ia mulai menyendokkan Makanan itu kedalam mulut nya. Diva sudah mulai memakan Seblak super pedas yang ia pesan. Angkasa pun menyendokan Seblak itu kedalam mulu nya. Jika Diva sangat menikmatinya berbeda dengan Angkasa lelaki itu nampak kepedasan. Hal itu membuat Diva menoleh ke arah nya, "Sa lo kenapa?" tanya Diva. "Pedess!" keluh Angkasa, dengan sigap Diva memberikan minuman kepada Angkasa. Muka Angkasa masih memerah, Lelaki itu juga tengah mengusap lembut Perutnya. "Sa masih pedes?" tanya Diva. "Perut gue Sakit Div," ungkap Angkasa. "Kita pulang!" seru Diva membayar makanan lalu memapah Angkasa untuk masuk kedalam mobil. Untung saja, hari ini Angkasa membawa mobil. Diva menyetir dengan Angkasa di sampingnya, Angkasa terlihat sangat lemah. Padahal Lelaki itu baru memakan satu sendok seblaknya, dan itu baru kuahnya! "Lagian kenapa sih Sa, lo nggak bilang kalau lo nggak bisa makan pedas!" omel Diva. "Gue nggak mau ngecewain lo." sahut Angkasa dengan nada lemahnya. Diva terdiam, meresapai ucapan Angkasa. "Div, siniin tangan kiri lo." pinta Angkasa, Diva pun memberikan tangannya kepada Angkasa. Angkasa mengenggam erat tangan Diva. Diva merasakan tangan Angkasa yang dingin. "Setidaknya gue bisa kuat! Karna ngenggam tangan lo." kata Angkasa sembari tersenyum. Diva tak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Angkasa. Ia masih fokus menyetir, meski ia penasaran maksud dari ucapan Angkasa. Mereka sudah sampai di rumah Angkasa. Diva memapah Angkasa, dari ambang pintu, Sandra yang sudah rapih dengan pakaiannya menatap kedua remaja itu. "Loh Angkasa kenapa Div?" tanya Sandra. "Ini Mi, tadi Angkasa nggak sengaja makan-makanan pedes." jawab Diva membuat Sandra menutup mulut nya. "Ya allah, Angkasa nggak bisa makan pedes." panik Sandra lalu ikut memapah putranya. "Sebentar Mami, telpon dokter dulu." kata Sandra setelah mereka sampai di kamar Angkasa. Diva akan beranjak, namun Angkasa menahannya."Jangan pergi," pinta Angkasa memeluk Diva dari belakang. Diva terdiam, Jantungnya bedetak lebih kencang. Diva berbalik ia duduk di sebelah Angkasa, kepala Angkasa bersandar di d**a Diva. Diva merengkuh tubuh Angkasa mengusap bahunya. Angkasa melingkarkan tangannya dia pinggang Diva. Usapan dia bahu Angkasa membuat Lelaki itu tertidur dengan nyaman. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD