Diva mengerutu sebal, pasalnya sekarang ia harus berjalan dan bergandengan tangan dengan Angakasa. Menurut Diva Angkasa sudah benar-benar gila. Lelaki itu mengancam Diva jika tidak mau berhandengan tangan di koridor, Angkasa akan menciumnya di koridor sekolah yang ramai. Meski sudah Diva Hadiahi tendangan di tulang keringnya, tetapi Angkasa tidak juga kapok.
"Sayang senyum dong! Oh mau gue cium di sini?" bisik Angkasa membuat Diva tersenyum paksa.
"Nah gitu, kan cantik." puji Angkasa sembari tersenyum.
Diva hanya diam, dengan perasaan yang ingin muntah. Di koridor ini, banyak sekali murid yang berbisik-bisik membicarakan mereka. Keduanya terkenal, murid-murid SMA Galaksi pun tahu jika Diva dan Angkasa bermusuhan sejak SMP. Dan sekarang, mereka bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih. Menebar senyum dan, penuh kasih sayang.
Di ujung koridor, perempuan berambut coklat dengan dandanan menor serta kedua temannya pun berdiri di depan Angkasa dan juga Diva. Diva tahu siapa perempuan itu! Perempuan itu yang selalu melanggar peraturan sekolah. "Dita kipasin gue, sumpah ini panas banget!" kata perempuan itu dengan wajah yang merah padam.
"Angkasa! Kenapa lo jadian sama cewek ini sih! Gue, kan jadi panas liatnya." rengek perempuan itu menghentak-hentakan kakinya.
Angkasa tidak menjawab, Lelaki itu malah menarik tangan Diva yang ada di gengaman nya dan mencium tangan itu. Diva melebarkan matanya begitu juga dengan murid-murid yang melihatnya. Angkasa pun merengkuh pinggang Diva possesif. Sementara perempuan di depan Angkasa dan Diva makin kesal.
"Jeni, gue tegasin sama lo. Mulai sekarang dan seterusnya. Diva Queenessa pacar gue. Dan lo! Jangan harap bisa ngerusak hubungan gue." ucap Angkasa dengan beberapa kata yang di tekan.
"Ihhh bebeb kok gitu sih. Jangan tinggalin Jeni!" rengek perempuan bernama Jeni itu dengan sikapnya yang sok imut, membuat Diva membuang mukanya melihat tingkah Jeni, sungguh sangat menjijikan.
Jeni pun merengkuh lengan kiri Angkasa. Membuat Lelaki itu menghempas Jeni.
"Ihh, Jeni sebel deh sama Bebeb!" ucap Jeni alay.
"Sa, hari ini gue piket kelas! Jadi kalau lo mau nemenin dia." kata Diva melirik malas Jeni, "Terserah! Gue mau kekelas." lanjut Diva sembari melepas tangannya dari tangan Angkasa dan pergi meninggalkan Angkasa.
"Jeni! Pokoknya lo jangan ganggu hubungan gue." kata Angkasa kepada Jeni lalu menyusul Diva.
Jeni tampak sebal, kedua dayangnya pun mengkipasi Jeni lebih keras. Jeni menatap sekelilingnya, banyak yang melihat kearahnya.
"Apa lo! Liat-liat, bubar sana!" teriak Jeni geram kepada murid-murid yang melihat nya.
Mereka semua mencibir Jeni lalu meninggalkan Jeni bersama kedua dayang-dayangnya.
****
Bel istirahat sudah berbunyi, seluruh murid kelas Angkasa dan juga Diva pun sudah pergi ke kantin. Angkasa melirik Diva, perempuan itu sedang mencatat materi di papan tulis. Satu hal yang sangat di sukai oleh Angkasa. Lelaki itu sangat senang jika melihat raut wajah serius Diva.
Diva yang merasakan Angkasa yang memperhatikannya pun menatap kearah Lelaki itu. "Apa lo liat-liat! Naksir baru tau rasa lo." ketus Diva membuat Angkasa terkekeh.
"Nggak usah ke-Ge'eran deh, gue liat pipi lo bukan lonya!" kilah Angkasa, Diva memasukan buku-bukunya kedalam tas.
"Udah selsai, yuk kekantin." ajak Angkasa kepada Diva. Diva menaikan satu alisnya keatas.
"Dari tadi lo nungguin gue?" tanya Diva.
"Ya iya lah! Menurut lo!" kata Angkasa lalu menarik tangan Diva.
Kantin SMA Galaksi sudah ramai, suara dari unjung kantin ke ujung kantin pun terdengar. Ada yang ribut soal bakso, ada yang ribut soal Mie ayam dan masih banyak lagi.
"Lo duduk di sana aja. Nanti gue pesenin makanan." kata Angkasa Diva pun hanya menurut dengan apa yang di katakan oleh Angkasa.
Tak berapa lama, Angkasa membawa semangkuk mie ayam dengan 2 es teh manis. "Nih lo makan!" ucap Angkasa memberikan semangkuk Mie ayam.
Diva menatap Angkasa yang berada di depannya, lelaki itu hanya menyedot es tehnya. "Lo nggak makan?" tanya Diva.
Angkasa mengeleng sembari tersenyum. "Enggak lo aja yang makan." jawab Angkasa Diva mulai menyendokan mie ayam kedalam mulutnya.
"Lo nggk jadi beli mie ayam?" tanya seorang siswa di belakang Diva.
"Enggak mie ayamnya udah abis." jawab sesorang yang di tanyainya.
'Entar dulu deh, apa jangan-jangan Angkasa nggak makan karna mie ayamnya abis. End then diakan nggak suka bakso.'batin Diva.
Tangan Diva terulur untuk mengambil sendok lagi. Ia menodorong mangkuk mie ayamnya. "Kita makan bareng-bareng!" ujar Diva kepada Angkasa
"Eh gue ngg--"
Sebelum menjawab perkataan Diva, Diva sudah menjejali mulut Angkasa dengan Mie Ayamnya. Setelah itu Diva menyuapi mie ayam kedalam mulutnya. Begitu seterusnya, Diva menyuapi Angkasa baru menyuapi dirinya. Hal itu membuat murid-murid di sekeliling mereka menatap kearah Diva dan Angkasa.
****