Bab 8. WEEKEND

1348 Words
“Lemper, cakwe, onde-onde, pastel, bakwan, ada lontong juga ini, kue cucur ada. Aaah! Liat sendiri lah! Kering tenggorokan nyebutin satu-satu. Pilih aja buruan udah. Hutang minggu lalu bayar, Nyet. Jangan pura-pura amnesia. Tabok nih!” “Yaelah, Jamileeeh Jamidun Jamiuuun.. Galak banget dah! Dibayar ntar, tunggu duit masuk lagi. Belom pada bayar. Yang kemaren udah kutitipin ama Bu Wati buat si Romlah. Jadi udah abis. Si Romlah pas ditelepon kemaren ngakunya butuh duit, ya udah, ngasih dia dulu dah. Eh, ini ngutang dulu ya.” Sisil mencomot sepotong tahu isi sambil cengengesan. Si penjaja aneka panganan yang tadi disapa Jamilah, cuma melotot sewot. “Ngutang mulu! Tajir padahal. Ngomong-ngomong tumben, Sil. Si Romlah nggak kemari. Udah sebulan kan ya? Lagi ada masalah apaan emang?” tanya Jamilah. “Nggak lah. Cuma memang dia nggak sempat kemari. Banyak kerjaan. Padahal aku udah lebihin kiriman kemarin buat dia masak sambel teri, kirimin kemari. Tapi dia bilang kemaren sakit abis lembur di pabrik. Makanya nggak jadi kemari.” Jawab Sisil, kali ini sepotong onde-onde masuk ke mulutnya. “Laah, lembur? Berarti banyak duitnya dong. Kenapa malah minta duit?” “Berisik ah! Jualan aja sono! Nyinyir banget jadi orang.” tepis Sisil kesal. Jamilah hanya terkekeh sambil angkat bahu. “Teteeeeh! Banguooon! Mentang-mentang minggu molor sampe jam segini. Ada oncom ini teh. Mau nggak?” tawar Jamilah dengan suara keras, membuat Yuni yang tengah bergelung di dalam selimut jadi terbangun. “Mau deh. Ada apaan lagi, Mil? Gemblong ada? Lagi pengen yang manis.” Ujar Yuni sambil berjalan ke arah Jamilah dan mulai melihat-lihat dagangannya. “Yang manis sih yang jualan Teeeh..” Jamilah mengedipkan mata dengan gaya centilnya. Membuat Sisil melakukan gerakan pura-pura muntah. “Untung pintu dikunci, Mil. Kalau nggak udah kujambak!” sergah Sisil ditingkahi tawa Yuni. “Eeeh.. Sampe lupaaa.. Nona Penyiar mau juga nggak? Doyan nggak makanan kaum kasta rendah? Takutnya kaum bangsawan makanannya beda gituuh. Ini banyak Non, ada combro apa segala. Nggak kalah sedap dari makanan istana.” Seloroh Jamilah tertuju pada Airin. “Mbak Mil bisa aja, ah. Saya makanannya sama aja mbak ama yang lain. Apalagi combro doyan bangeeeet.” Jawab Airin sambil memasang senyum ramah dan mengambil beberapa kudapan dari kotak dagangan Jamilah, lalu mulai mengunyah. Padahal ini baru hari ke tiga Airin di sini, dan kali pertama dia melihat Jamilah. Tapi Airin pelan-pelan mencoba menjalin keakraban dengan sesama rekannya. Airin bahkan belum tau siapa nama si manis penjual kudapan itu. Tapi mendengar Yuni memanggilnya Mil, Airin ikut ikutan. “Teh Yuni sama Kak Sisil ambil aja, ntar biar aku yang bayar.” Ujar Airin pelan tanpa melepaskan pandangannya dari TV yang masih menyala. Sisil, Yuni, dan Jamilah saling berpandangan. Lalu Jamilah cepat mengeluarkan plastik dari menyuruh Sisil dan Yuni memborong dagangannya. “Dek..” panggil Sisil. Airin menoleh. “Aku satu aja dek kuenya. Tapi boleh nggak, sebagai gantinya, aku minta bayarin utangku sama si Jamidun ini aja?” tanya Sisil dengan wajah innocent. “Heh! Nggak tau diri banget ini anak! Dikasih hati minta jantung!” tukas Jamilah sambil melotot ke arah Sisil. Sisil tersipu. “Tapi iya sih, Non, kasian ini anak, ngutang melulu. Lagian nggak banyak, Non. Cuma dua puluh dua ribu hutangnya.” sambung Jamilah lagi. “Iya Mbak, Mil. Sekalian aja hutangnya kak Sisil saya bayarin. Kak Sisil kalo mau ambil aja lagi, nggak apa-apa kok..” tawar Airin lagi. “Okeeeh. Terimakasssiiihhh!” Sisil langsung menyerbu tumpukan pisang goreng di depannya. Sementara Airin hanya tersenyum melihat tingkah Sisil. Airin hanya ingin berbuat baik selama ia di sini. Mungkin dengan berbuat kebaikan, dosa-dosanya bisa berguguran. Tapi satu hal yang Airin lupa. Bahwa ini adalah penjara. Dimana kebaikan bisa menjadi boomerang untuk mereka yang melakukannya. *** Sisil sedang memotong kuku kakinya waktu salah seorang petugas membuka pintu kamar mereka. Sisil yang sudah rapi pun keluar. Kalau biasanya Sisil bertugas mulai dari habis subuh, tapi kalau hari minggu sedikit lebih siang. Hari minggu memang hari liburnya pada narapidana dan saat yang tepat untuk bermalas-malasan. Ini adalah hari minggu pertama Airin di sini. Tadi subuh ia sudah ditertawakan Yuni. Selepas shalat, Airin langsung bersiap menggulung alas tidurnya, karena hari-hari sebelumnya, mereka selalu beraktivitas sejak pagi. Rutinitas yang mulai Airin pahami. Habis subuh, mulai membereskan alas tidur, lalu bergegas mandi, dan bersiap senam pagi. Karena pintu kamar mereka lah yang paling cepat di buka, maka Airin bisa membuang sampah lebih cepat. Lalu mulai menyapu lantai, setengah terburu-buru, mereka langsung bersiap senam pagi. Kalau di hari biasa, kasur harus segera di gulung sebelum apel pagi dimulai. Lalu listrik juga dimatikan tepat jam tujuh pagi, dan baru dinyalakan kembali sore hari setelah mereka kembali dari aktivitas siang. Tapi hari ini hari minggu, pintu tidak dibuka kecuali untuk aktivitas menjemur pakaian di lapangan. Setelah itu, mereka boleh bermalas-malasan di kamar, dan listrik tidak dimatikan. Mereka pun bisa menonton TV seharian. Airin yang belum mengetahui tentang hari libur, terbirit-b***t merapikan segala sesuatu setelah sholat subuh. Berakhir dengan tawa Yuni yang membuat Airin tersipu. “Kak Sisil minggu nggak libur, teh?” tanya Airin sambil menyeruput teh hangat. Tadi Jamilah, si toserba keliling, juga menjual air panas seharga dua ribu rupiah per termos kecil. Kalau termos besar, harganya beragam, tergantung dari ukuran termos. Biasanya mulai dari lima ribu sampai sepuluh ribu rupiah. “Nggak lah. Hari minggu kan tetap harus buka tutup pintu. Misalnya tamping dapur, tetap masak. Tamping kebersihan, tetap buang sampah juga. Tamping air, tetap ngurusin ember-ember. Dan biasanya kalau minggu banyak yang luluran atau pijat. Jadi si Timbul bolak balik kesana kemari ngelulur orang. Harus di buka tutup pintunya. Tapi kalau minggu, Sisil santai, tetap di luar, tapi banyak nganggur juga. Biasanya dia malah ikutan nonton TV di ruang komandan, sambil ngobrol.” “Ooooh gituuu.. Eh, tapi teh? Ada luluran juga disini? Maksudnya dilulurin ama dipijat gitu?” tanya Airin takjub. Yuni mengangguk. “Iya. Yang suka ngurut itu Timbul, tapi banyak yang lain juga sekarang, soalnya Timbul laris banget, mau booking dia harus jauh-jauh hari. Susah kalau nggak buat janji. Aku aja udah bilang dari minggu lalu, tapi belum kelar ni antrian.” Jawab Yuni. Canggiiih. Ada penguasa industri perluluran. Dan untuk menggunakan jasanya, ada sistem reservasi, karena si therapist sibuk sekali. Kalau tidak buat janji, jangan harap kebagian slot. Hebat betul di penjara ini. Batin Airin. “Timbul itu siapa, Teh?” tanya Airin. “Sayaaaaaa!” “Astaghfirullahaladziiim...!” Airin terlonjak kaget saat sosok perempuan mungil berambut panjang yang dicat pirang, mendadak muncul dan mengagetkan. Posisi duduk Airin persis di samping pintu, dan kemunculan tiba-tiba Timbul membuat jantungnya seolah melompat. “Eeeh. Nona penyiar kaget yaaa? Maaaf.. Oh iya kenalin, saya Sutinah binti Sarwono. Biasa dipanggil Tinah rambut bule. Disingkat jadi Timbul.” Ia menyodorkan tangannya pada Airin. Airin tersenyum dan menerima uluran tangannya. “Halo, mbak Tinah, saya Airin.” “Aiish, Non nggak usah manggil saya Mbak. Panggil Timbul aja. Di sini tua muda manggil saya Timbul.” Selorohnya. Airin tertawa kecil. “Oke.. Timbul.. Canggung ih.. hehe..” “Santaaaaii.. Eh ngomong-ngomong, Nona kapan mau luluran sama saya? Sore ini mau?” “Heh! Aku udah booking dari bulan lalu, enak aja sekarang Airin duluan? Profesional dooong!” protes Yuni sambil melempar gulungan tissue ke arah Timbul, membuatnya tertawa. “Iyaaa teeeh... Iyaaa... Ntar kit...” “APEL!” teriakan keras berpadu dengan hentakan sepatu boots milik penjaga membuyarkan obrolan pagi mereka. Timbul terbirit-b***t kabur menuju kamarnya sendiri, kamar enam, yang letaknya persis di samping kamar Airin. Airin dan Yuni buru-buru berdiri dan bersiap berhitung. “HITUNG, MULAI!” “Satu” teriak Sisil “Dua” giliran Airin. “Tiga. Lengkap.” tambah Yuni. Dua orang sipir itupun berlalu setelah mencatat sesuatu pada kertas laporannya. Satu orang petugas malam, dan seorang lagi petugas pagi. Seseorang yang baru dilihatnya hari ini. Wajahnya tampak sangat familiar. Tanpa sadar Airin terus memandanginya sambil mengingat-ingat, siapa sipir itu dan dimana mereka pernah bertemu sebelumnya? Airin coba mencari tau namanya lewat papan nama kecil yang biasa tersemat di baju seragam pegawai. Tapi posisi sang sipir yang langsung membalik badan membuat Airin tak sempat melihat namanya. Siapa dia?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD