Bab 7. SENJATA AIRIN, PENYELAMAT SASSY

2090 Words
“Kamu paham kan? Sekarang kamu ikutin aja semua yang aku suruh, oke?” tanya Airin pada Sassy. Sassy mengangguk cepat. Masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Airin. Tiba-tiba rasa takut dan sedihnya lenyap. Perkataan Airin barusan meningkatkan kepercayaan diri Sassy. Dan saat ini, mereka berdua melangkah mantap menuju butik milik Maminya Meirin. Di sana, Mami Meirin menunggu dengan wajah marah. Sementara Vera dan Meirin terlihat berbisik-bisik di belakangnya. Mereka terlihat sangat terkejut dan panik melihat Sassy datang dengan Airin. “Sore, saya Airin, tantenya Sassy. Tadi Sassy telepon saya, katanya anda menuduhnya mencuri?” tanya Airin dengan raut wajah angkuh. “Oh. Jadi kamu tantenya maling ini? Ini anak harus kamu ajarin baik-baik, ya! Saya bukannya nuduh, tadi dia terbukti maling di butik saya! Dia ambil perhiasan emas saya, sama duit sejuta ini! Buktinya semua ini ada di tasnya dia, dan kejadiannya terekam di CCTV. Barusan kami semua lihat langsung dengan mata kepala sendiri!” Mami Meirin berteriak-teriak sambil menunjuk-nunjuk wajah Airin. Airin tersenyum sinis sambil bersedekap. Matanya menatap dua anak di belakang punggung Mami Meirin yang sekarang sedang menunduk tak berani menatap mata Airin. Persis tikus yang terpojok di sarang kucing garong. “Ibu kalau bicara hati-hati. Rekaman CCTV justru bisa jadi bukti kalau keponakan saya bukan pencuri. Dan barang-barang yang ada di tasnya bukan berarti barang curian. Mau saya buktikan?” tantang Airin mengundang kerutan alis Mami Meirin. “Tolong perlihatkan pada saya rekaman CCTV nya!” perintah Airin cepat. Tanpa pikir panjang, Mami Meirin langsung memperlihatkan rekaman CCTV. Terlihat Sassy seorang diri memasuki pintu butik. Dia berjalan lurus tanpa menoleh, langsung ke arah vas bunga di samping meja kasir, merogoh isinya, mengambil kunci di dalam sana, dan dengan tenang langsung berjalan ke meja kasih. Ia terlihat membuka laci dengan kunci yang diambil dari dalam Vas bunga. Dan masih tetap dengan sikap tenangnya, Sassy mengeluarkan dompet kecil dari dalam laci berikut sebuah amplop. Lalu ia memasukkan kedua benda itu ke dalam tasnya. Setelah menutup laci, menguncinya kembali dan mengembalikan kunci itu ke tempatnya semula, Sassy melenggang keluar dari butik dengan santai dan sama sekali tidak terlihat seperti pencuri. “Nah! Mau ngomong apa kamu? Sudah jelas keponakan kamu ini maling! Dia yang ambil uang dan emasnya! Masih mau belain dia? Tante sama keponakan sama aja!” lagi-lagi Mami Meirin berteriak kesal. Tanpa menanggapi reaksi Mami Meirin yang berapi-api, dengan tenang Airin menatap kedua anak yang terlihat sangat terpojok di ujung sana. “Vera, Meirin, ini pertama kali Sassy ke sini kan? Kalian sama sekali belum pernah main dengan Sassy sebelum ini kan? Apalagi mengajak Sassy ke sini?” Sejenak Meirin dan Vera saling menoleh tapi terdiam. Bingung dengan pertanyaan Airin. Mereka takut kalau jawaban mereka salah dan berbalik menjadi bumerang untuk diri mereka sendiri. “Iya! Aku baru sekali ini ke sini! Tadi tante juga dengar sendiri kan mereka bilang gitu sama tante?” kali ini Sassy berteriak lantang. Bahkan berani bertanya pada Mami Meirin. Ketiganya terdiam. Airin kemudian dengan tenang memutar ulang rekaman CCTV dan memutar layarnya ke arah Mami Meirin. “Ibu lihat baik-baik. Sassy langsung masuk ke ruangan ini dan menuju ke arah vas bunga di sudut sana, seolah sudah tau kalau kunci itu ada di dalam sana. Dia ini baru pertama kali ke sini. Apakah normal untuk orang yang pertama kali datang langsung tau dimana letak kunci laci? Dan tanpa menoleh atau menunjukkan gesture takut ketauan, Sassy bahkan langsung membuka laci, mengambil dompet perhiasan dan amplop tanpa melihat dulu isinya apa, lalu memasukkan benda itu ke dalam tasnya dengan sangat tenang. Anda menuduh dia apa tadi? Maling kan? Maling loh ya, bukan cenayang. Maling biasa memangnya langsung tau kalau kunci itu ada di sana, laci itu isinya apa? Lagian, maling mana yang habis nyolong malah mengembalikan lagi kuncinya dan jalannya santai begitu?” Mami Meirin masih terdiam mendengar semua penjelasan Airin. Tapi kali ini sudut matanya terarah pada putri tunggalnya yang masih meringkuk di sudut. Terlihat Mami Meirin mulai menyadari perubahan sikap anak semata wayangnya itu. “Dan tolong anda jawab dengan jujur, selain dompet dan uang di amplop, apakah ada lagi isi laci itu?” tanya Airin yang membuat Mami Meirin mendadak gugup. “Ada kan? Apa isinya? Uang tunai? Ponsel?” tanya Airin lagi, kali ini dengan nada mendesak. Mami Meirin mengangguk dengan enggan. “Nah. Apa masuk akal kalau Sassy hanya mencuri sesuatu dalam amplop dan dompet yang bahkan dia tidak tau isinya apa, sementara di laci itu juga berceceran uang tunai dan ponsel yang sudah jelas barang berharga? Apa anda masih menuduhnya pencuri?” tanya Airin tajam. Ketiganya terdiam. “Satu lagi. Mereka datang ke sini bertiga. Sama-sama menuju ke sini pulang sekolah tadi. Tapi kenapa di CCTV hanya ada Sassy? Kemana Meirin dan Vera?” tanya Airin sambil menatap keduanya tajam. “Lagipula, saya punya satu bukti yang bisa mematahkan tuduhan anda, Bu! Dan maaf, saya akan membawa bukti ini ke kantor polisi dan melapokan balik anda yang sudah menuduh keponakan saya!” tukas Airin sambil mengeluarkan benda kecil dari saku blazenya. Sebuah alat perekam. Vera dan Meirin pucat pasi. “Meirin, Vera, tante merekam semua pembicaraan kalian tadi. Sebelum masuk ke butik ini, tante menemui Sassy di food court dan menceritakan semuanya. Lalu kami tante mengikuti kalian berdua sampai ke kamar mandi dan merekam semua pembicaraan kalian tadi. Kalian mau bicara sendiri, atau tante kasih rekaman ini ke mami kamu?” tanya Airin tajam. Meirin mulai menangis ketakutan. “Mamiiiii... Maaf Mamiiii... Mei salah. Mei yang suruh Sassy ngambil uang di laci. Maafin Mei Mamiii...” Meirin bersimpuh di depan Maminya yang terlihat membelalak tidak percaya. Sementara Vera yang juga menangis, memilih berdiri di sudut dan tidak melakukan apapun. Mata Sassy membola, ia tidak percaya semudah itu Airin membuat Meirin mengakui kejahatannya di depan Maminya sendiri. Jadi ini senjata yang Airin maksud tadi. Sassy sendiri penasaran apa isi rekamannya. *** Beberapa saat yang lalu... “Kamu kok bego banget sih! Emangnya kamu nggak tau kalau di butik Mami kamu ada CCTV?” Vera bersandar pada wastafel dengan nafas memburu. Di sampingnya, Meirin menyeka keringat di dahinya. “Aku nggak nyangka kalau Mami secepat itu sadar amplop uang dan dompet kalungnya hilang dari laci. Mami aku kan bego, gampang banget dibohongin. Makanya aku nekat nyuruh Si Sassy nyolong. Soalnya amplop itu sudah semingguan di situ, dan nggak pernah diotak atik Mami. Biasanya tiap sore Mami cuma ngambil uang penjualan hari ini, terus lacinya di kunci lagi. Apes banget hari ini Mami ngecek lacinya, terus nyari tau siapa yang ngambil lewat CCTV. Jadi ketauan deh kalau si Sassy yang ngambil.” jawab Meirin kesal. “Mana tadi Mami kamu langsung curiga dan mendadak telepon kamu lagi. Pasti gara-gara si Sassy pake rok seragam. Jadi Mami kamu langsung curiga kalau dia temen kita. Lagian, ide kamu gila banget. Nyuruh si Sassy nyolong perhiasan sama duit Mami kamu. Untung nggak ketauan.” rutuk Vera. “Gara-gara kamu juga sih. Kalau bukan karena ajakan kamu ntraktir anak-anak basket pake uang SPP, aku kan nggak harus nyolong untuk bayar SPP ku yang nunggak dua bulan.” jawab Meirin marah. “Ya tapi kan abis itu kamu jadian sama Rendy. Kamu sih nangis melulu pas putus sama Edwin, aku kan kasihan. Makanya aku jodohin kamu sama Rendy, trus nyuruh kamu ntaktir anak-anak basket buat narik perhatian dia.” Sergah Vera. “Aaah udah-udah! Sekarang gimana nih?” “Tenang aja deh. Aku yakin si Sassy nggak bakalan bawa orangtuanya ke sini. Dia kan ibunya udah mati. Bapaknya miskin, cuma tukang buah di pasar. Palingan nanti kalau Bapaknya ke sini, dimaki-maki ama Mami kamu, terus dia minta maaf, trus udah, selesai. Ntar kita cari cara aja buat ganti uang SPP kamu. Kita jual aja HP kamu, bilang sama Mami kamu, kalau kamu di hipnotis orang di jalan. Trus HP kamu diambil. Gitu aja kan?” usul Vera. “Naah iyaaa... Siiip. Ya udah, ayok kita balik lagi ke butik, sebelum si Sassy bego itu balik lagi.” Ajak Meirin. Tepat pada saat itu, Airin keluar dari salah satu bilik di toilet sambil menatap mereka berdua dari atas ke bawah dengan tatapan sinis. Sejenak Meirin dan Vera terkejut. Tapi melihat Airin bukan orang yang mereka kenal, mereka melenggang santai keluar dari toilet. Sementara Airin geleng-geleng kepala dan mengurut d**a melihat fakta bahwa remaja jaman sekarang sudah tingkat kenakalannya sudah di luar batas. *** “Maaf ya Meirin, Vera, saya bukannya nggak mau memutar rekaman ini di sini, saya cuma mau menjaga barang bukti ini supaya sampai dengan aman di tangan polisi. Walaupun sekarang kalian sudah mengakui kejahatan kalian, tapi maaf, saya tetap tidak terima perlakuan kalian pada Sassy.” ancam Airin. Mami Meirin mendadak berdiri dengan mata membola. Tidak percaya dengan apa yang dikatakan Airin. Padahal tadi dia cuma sekedar menebar ancaman kosong pada Sassy supaya ada efek jera. Toh, dia tidak dirugikan karena barang-barangnya masih utuh, belum sempat dicuri. Tapi sekarang, mendengar Airin mau melaporkan dia dan putrinya, Mami Meirin mendadak ketakutan. Terbayang sudah bagaimana marahnya Papi Meirin mengetahui ulah mereka. “Tolong jangan dilaporkan, Mbak. Saya benar-benar tidak tau kalau Sassy tidak bersalah dan hanya disuruh oleh anak saya.” Mami Meirin berbalik memohon pada Airin. “Maaf ya, Bu. Tapi apa tadi ibu sempat berpikiran begini saat membentak keponakan saya di depan umum? Apa ibu nggak kepikiran gimana kondisi psikis dia? Ibu sudah melecehkan dia, melukai perasaan dan harga dirinya di depan umum. Saya harus melaporkan Ibu dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan, dan melaporkan Meirin juga.” jawab Airin tegas. “Tolong jangan dilaporkan, Mbak.. Saya benar-benar minta maaf. Saya bersedia mengganti kerugian apa saja asalkan jangan dilaporkan. Tolonglah, Mbak.. Saya benar-benar minta maaf.. Apapun akan saya lakukan asalkan Mbak dan Sassy tidak melaporkan saya dan anak saya..” kali ini Mami Meirin sampai berlutut. Airin buru-buru memintanya berdiri. “Baik. Kalau begitu, kita buat perjanjian hitam di atas putih ya. Anda dan Putri anda harus mematuhinya, kalau tidak, akan saya laporkan anda ke polisi. Dan, perlu anda ketahui, saya adalah seorang jurnalis. Saya bekerja di First TV. Kalau anda melanggar perjanjian, tidak hanya melaporkan anda ke polisi, saya juga akan memberitakan kejadian hari ini biar masyarakat tau bagaimana buruknya perilaku anak anda!” tukas Airin tegas sambil memperlihatkan name tag nya sekilas. Name tag dengan foto dirinya, namanya, dan logo First TV di bagian atas. “Baik, Mbak.. Saya sekali lagi minta maaf, dan saya janji, apapun yang anda tulis di perjanjian itu akan saya dan anak saya lakukan.” jawab Mami Meirin nyaris terbata-bata. Airinpun menatap Sassy dengan pandangan penuh Arti. *** Sassy menatap HP barunya dengan perasaan campur aduk. Antara takut, takjub, senang, sekaligus bingung. Dia tidak percaya barusan dirinya lolos dari maut, bahkan mendapat durian runtuh berupa HP baru. “Ini nggak apa-apa, Kak? Apa boleh aku nerima ini?” “Ya bolehlah! Itu uang ganti rugi karena kamu udah dihina dengan sangat kurang ajar di depan umum! Biar tau rasa! Jangan mentang-mentang orang kaya bisa berbuat seenaknya! Lagipula, uang itu nggak berarti apa-apa buat mereka, Sas. Paling-paling Cuma dianggap uang sial aja. Ya kamu ambil aja, ganti HP lama kamu. Anggap aja ini rezeki kamu, Sassy.” jawab Airin santai sambil menyeruput jus alpukatnya. “Makasih ya, Kak, udah nolongin aku. Berkat kakak, Meirin dan Vera mau bantuin bikin tugas biologi nanti. Eh, iya ngomong-ngomong, kakak udah kerja di First TV ya?” “Hahahahaa... Belooom, aku masih kuliah. Ini aja aku masih ikut audisi di First TV. Bukan buat kerja jadi jurnalis di sana, tapi cuma sebagai news anchor tamu untuk program First TV goes to campus. Tadi Cuma gertak sambal doang Sas.” Airin tergelak tapi sambil berbisik dan melihat sekeliling. Mata Sassy membola dengan mulut yang nyaris terbuka karena keterkejutannya dengan akal-akalan Airin. “Terus, soal rekamannya? Apa kakak beneran merekam pembicaraan mereka?” “Nggak! Tapi kalau dengar obrolan mereka di toilet memang beneran. Makanya aku tau kamu nggak salah dan aku dapat ide untuk menyeret mereka supaya mau ngaku. Kamu lihat kan, gimana tadi mereka ketakutan pas liat aku datang ke butik sama kamu?” “Iyaa.. Kakaaaak.. Kak Airin nih bener-bener cerdas, aku tadi sam...” Airina Siddiqa Amanah, nomor urut 112 silahkan naik ke atas panggung. “Sas.. Sorry.. Aku udah dipanggil. Dadaaaah...” Airin buru-buru menghilang ke balik panggung, meninggalkan Sassy seorang diri. Sassy sempat menunggunya, tapi karena sudah hampir gelap dan Sassy harus pulang, Sassy terpaksa pulang tanpa sempat pamit pada Airin. Sejak itu mereka tidak pernah bertemu lagi. Tapi Sassy terus mengingat wajah nama Airin dalam benaknya. Sampai enam tahun kemudian, mereka dipertemukan dengan peristiwa tak terduga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD