Bab 4. ARTIS, SELEBRITIS ATAU JURNALIS?

1625 Words
Belum lima menit Sassy tiba di kantor, desas desus sudah terendus. Jarinya belum sempat menyentuh mesin fingerprint, tiba-tiba Rini sudah mencolek pundaknya. Terpaksa tunda lagi urusan absensi, padahal waktu Sassy tinggal lima menit lagi sebelum gajinya disunat gara-gara telat. “Saaas.. Ada artis mau masuk, Saaass…” Rini berteriak sepuluh sentimeter dari telinga kanan Sassy. Bulu kuduk Sassy meremang, telinganya berdenging. “Rin, kalo sampe aku budeg, kamu mau nanggung biaya rumah sakit?” “Sori.. sori.. abis aku semangat banget. Hayuk Sas, ke ruangannya bu Wati yuuk.. Artisnya ada di situ.. ntar keburu yang lain pada ngintip, kita nggak kebagian lapak.” teriak Rini. Lagi. “Tapi, Rin..” “Nanti aja tapinya.. udah buruaaan” Rini menarik tangan Sassy. “Rin!” “Apaan sih, kalo nggak penting banget tunda dulu, Sas. Aku penasaran niii…” “Riniiii! Aku belum absen!” Terlambat. Sudah lewat tiga menit dari jam tujuh tepat. Dan bisa dipastikan, gaji Sassy bulan depan bakal disunat. “Sori, Sas.. Abis penasaran banget aku.” Kilah Rini menanggapi tatapan kesal Sassy. Rini memang punya julukan tersendiri di kantor. Julukannya Ringgo, Rini Tukang Gosip. Si Rini ini kompetitif sekali dalam hal menyebarkan berita baru. Tidak mau kalah cepat dengan orang lain. Entah itu berita baik, berita buruk, apalagi berita yang berupa aib orang lain. Dia berguna sekali pada saat orang ingin membuat pengumuman dengan cepat. Rini akan dengan senang hati menyebarkannya. Tak perlu susah payah membuat broadcast message, cukup panggil Rini, dan.. voila! berita langsung tersebar kemana-mana. Praktis bukan? Celakanya, Rini juga tak kenal yang namanya cek dan ricek, telaah, apalagi tabayyun. Pokoknya sebarkan dulu, urusan benar atau tidaknya, belakangan. Kalau salah gampang, tinggal timpali dengan berita selanjutnya yang berupa fakta. Kalau kata Rini, itulah guna klarifikasi, meluruskan hal-hal yang tidak benar. Untung si Rini bukan jurnalis, kalau tidak, tamatlah sudah dunia warta mewarta di Indonesia. Bisa-bisa yang tersebar berita salah semua. Kalau diprotes, jawabannya sudah bisa diterka ; gampaaaang… Klarifikasi sajaa... Benar-benar gawat si Rini! Seperti sekarang, belum apa-apa Rini sudah salah. Sassy sudah menebak-nebak, siapa gerangan artis yang datang. Penyanyi? Atau Aktris film? Atau sinetron? Sassy bukan penggemar sinetron dan infotainment, Sassy menimbang beberapa nama yang pernah dia dengar tersandung kasus beberapa bulan ini. Apa ada yang sudah dipindahkan ke sini? Sampai di depan ruangan bu Wati dan melihat langsung sang artis yang dimaksud, Sassy langsung melirik Rini dengan tatapan sinis. Katanya Artis? Dasar si Rini! “Itu orangnya?” tanya Sassy sambil duduk di bangku kayu persis depan ruangan bu Wati. Rini cepat sekali geraknya. Langsung menguasai tempat itu. Hampir saja b****g Sassy beradu dengan Fitri, yang juga mengincar posisi yang sama demi leluasa melihat apa yang terjadi di ruangan Bu Wati. Kalau tadi berbenturan, bisa gawat, terbayang berapa meter Sassy terpental mengingat bobot Fitri yang dua kali lipat dirinya. “Iyaaaa… Aslinya lebih cakep ya? Padahal no make up, tapi kinclong banget mukanya. Artis memang perawatan cyiiin.. Emangnya kita, pakenya krim gocengan.” Seloroh Rini sambal tertawa getir. “Kita? Kamu doang kali!” timpal Fitri yang terpaksa berdiri di sebelah Sassy, lantaran tadi kalah gesit berebut tempat duduk. Rini mencibir kesal. “Rin.. Itu artisnya?” ulang Sassy dengan nada jengkel. “Iyaa Sas, masa kamu nggak tau? Tiap hari kita nontonin dia. Eh, jangan-jangan kamu pangling ya? Aku nggak tuuh.. menurutku dia sama aja di TV ama asl...” “Rin… Kamu tau artis itu apa?” potong Sassy ketus. “Lah? Pertanyaan macam apa itu? Si Lila juga tau artis itu apaan.” Rini kesal dengan pertanyaan Sassy. Merasa diremehkan pengetahuannya. Itu sebabnya dia mencetus nama Lila, anak bu Wati yang berusia lima tahun. Lila yang masih piyik pun pasti tau artis itu apa. “Memangnya artis itu apa Rin?” “Ya artis lah Sas. Selebritis. Orang terkenal, orang yang seliweran di TV laaah..” “Riniii… Dia itu news anchor, penyiar berita. Dia jurnalis, bukan artis.” “Laah? Sama ajaaa” “Beda! Artis itu asal katanya art, seni. Artis itu seniman. Emang dia seniman?” “Yaelaaaah.. Beda tipis aja, ribet bener ah! Iyaaa iyaaa bu guru..” Rini mengerucutkan bibir jengkel. “Lagian itu nggak penting Sas. Yang penting, tragis nasibnya itu looh.. Kita semua tau kan, dia setiap jam setengah sembilan malam selalu nongol di TV, penyiar berita kriminal, dan sekarang, orangnya yang punya kasus kriminal terus diberitakan di TV. Malunya dari Sabang sampe Merauke sodara-sodaraaa.. Kalau aku, sudah mati saja mendingan. Ih, amit-amit!” Rini berceloteh panjang lebar dengan gaya khasnya. Sassy melirik ke arah Airin yang sedang berdiri tenang tanpa ekspresi di depan meja Bu Wati. Akhirnya dia bertemu dengan orang ini. Ya, Sassy memang sudah lama menunggu Airin datang. Sejak kasus besar Airin terendus media dan tersiar kemana-mana, Sassy terus memantau. Istilah mereka di oper, semacam proses pemindahan dari tahanan polisi atau KPK, ke Lapas. Sassy sudah tau sejak dua bulan yang lalu kalau Airin tersandung kasus korupsi, dia hapal betul seluk beluk kasusnya, bahkan tiap detailnya dengan sangat rinci. Sebab itulah, tadi dia kesal sekali ketika Rini menyebut artis. Sassy tau betul Airin bukan artis. Dan dia sama sekali tidak menduga kalau Airin akan dioper ke sini kemarin. Sassy mengamati Airin lebih detail. Cantik, proporsional, lumayan tinggi, dengan kulit putih bersih. Benar kata Rini, wajahnya terlihat cantik meski tanpa make up. Usianya dua puluh lima tahun, tapi saat tanpa make up begini, masih cocok menyanding predikat mahasiswi. Tak jauh berbeda dari enam tahun yang lalu. Yang Sassy ingat, sosok Airin yang ramah, ceria, cantik dan modis, bukan yang diam, ekspresinya datar, dan mengenakan baju tahanan berwarna biru ini. Sassy memperhatikan sekeliling. Dari mulai atasannya, rekan sesama sipir, para tamping, bahkan napi yang sedang bersih-bersih, semuanya menatap Airin penasaran. Sebagian diantaranya berlagak tak peduli namun masih mencuri-curi pandang. Sebagian lainnya berbisik-bisik, bahkan ada yang terang-terangan menatap sinis sambil tertawa-tawa merendahkan. “Heh! Ganja! Dari tadi nyapu muter-muter nggak pindah-pindah! Mau nyapu apa mau nontonin artis?” teriak Fitri. Sutinah, narapidana kasus narkoba yang biasa disapa Tina Ganja itu terkesiap dan langsung lari tunggang langgang. “Bubar sana! Ini artisnya sudah nggak nongol di TV lagi! Sudah pensiun dini! Sekarang bukan artis lagi tapi koruptor!” teriak Fitri lagi. Pedas dan keras. Sassy melirik Airin. Suara Fitri cukup keras untuk sampai ke ruangan Bu Wati dan pasti terdengar di telinga Airin, tapi dia tetap tenang tanpa ekspresi. Sassy masih memperhatikan Airin waktu Bu Wati tiba-tiba keluar ruangan dengan wajah kesal. “Ini ruangan saya, bukan TV. Ngapain ditontonin? BUBAR!!” Suara Bu Wati menggelegar. Puluhan napi lari tunggang langgang. Pegawai pun perlahan-lahan kembali ke tugas masing-masing, meski masih banyak yang menoleh penasaran ke arah ruangan Bu Wati. Sassy kembali ke ruang jaga. Bersiap-siap mengawal napi olahraga pagi. Sementara Amel, komandan jaga Sassy sedang berbicara santai dengan para sipir lainnya. Semakin lama, yang bergabung dengan obrolan Amel semakin banyak. Astri yang baru selesai tugas jaga malam dan bersiap pulang, masih sempat-sempatnya ikut ngobrol. Fitri, yang hari ini tugas pagi, belum juga beranjak menuju ruang KPLP. Bu Rusma, kepala Binadik yang kebetulan lewat juga ikut-ikutan berhenti sebentar dan menyimak. Sassy meletakkan tasnya dan mengambil handy talkie, bersiap memanggil tamping untuk memulai olahraga pagi. Tapi, mendadak Sassy menunda niatnya saat melihat kerumunan penggosip yang semakin banyak memenuhi ruangan jaga. Tak hanya pegawai, beberapa tamping juga ikut menyimak. “Dipecat dong dia dari TVfirst?” tanya Astri setengah berbisik, takut ketahuan Bu Wati. “Ya pasti lah, As. Kasusnya besar begitu, mencoreng citra TVfirst pasti. Sayang banget, padahal dia salah satu nominator news anchor terbaik loh, tahun ini katanya bisa dapat awards.” Amel menjawab. “Iya, bener Kak Mel. Pihak TVfirst udah klarifikasi. Katanya itu murni kejahatan pribadi, tidak ada hubungan sama TVfirst. Entah emang beneran, atau TVfirst yang cuci tangan.” Kali ini Fitri menimpali. Sassy menghela nafas. Popularitas memang bisa mendatangkan manfaat sekaligus mudharat. Tergantung situasinya. Seperti belati bermata tajam. Bisa sangat bermanfaat untuk mendapatkan atensi dari banyak orang. Namun, harus siap dengan resikonya, jika citra negatif tersiar, maka popularitas itu juga bisa menjatuhkan dalam sekejap. Semakin banyak orang yang mengenal kita, semakin banyak pula yang membicarakan hal buruk tentang kita. “Jangan-jangan dia itu peliharaannya N yang ketua OSSI itu? Kan duit Pak N itu ada bukti transfernya masuk ke rekening dia tiap bulan.” Bisik Bu Rusma. “OSSI apa, Bu?” “Organisasi Sepakbola Seluruh Indonesia!” jawab Bu Rusma cepat karena merasa diinterupsi. “Bisa jadi, Bu. Kan berapa kali ada gosip di Lambe Tumpah, kalo N sering kepergok ena ena sama artis katanya. Dia tuh pasti artisnya.” Tukas Fitri, follower loyal akun gosip lambe tumpah. “Bener tu, Fit. Dulu kan dia penyiar olahraga sepakbola. Pasti di situ tuh, radar hidung belang N ngasih sinyal kalo ada mangsa. Pasti disitu awal PDKTnya” “Dia pasti nggak nolak ya kan? Secara, N itu tajir melintir. Bisa ikut kaya tujuh turunan dia.” “N itu siapa, Bu?” “Nugroho! Dari tadi nanya melulu!” Bu Rusma kesal obrolan serunya terdistraksi dengan pertanyaan-pertanyaan remeh. “Heh! Kamu ngapain di sini? Ikut-ikutan aja! Pergi sana!” Bentak Bu Rusma yang baru sadar kalau grup gosipnya dikelilingi napi yang ikut menyimak karena penasaran. Sungatin, napi kasus narkoba yang bisa disapa Pingpong yang sedari tadi bertanya itu terbirit-b***t menjauhi kerumunan gosip. Beberapa teman-temannya yang tadi juga ikut menyimak langsung bubar jalan tanpa dikomando. Sassy menghela nafas lagi. Kali ini lebih panjang. Mereka salah. Sepenuhnya salah. Pertama, Airin bukan artis. Yang kedua, mereka tidak tau siapa Airin sebenarnya. Sassy tau, sangat tau bagaimana Airin. Dia tak pernah berubah, Sassy yakin itu. Sejak enam tahun yang lalu, Sassy yakin Airin orang baik, dan sekarangpun Sassy masih sangat yakin. Tapi, sudah enam tahun berlalu. Apa dia masih ingat aku?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD