Bab 5. MENCURI DI RUMAH SENDIRI

1852 Words
November 2006 “Sudah! Laporkan saja ke polisi!” “Tapi bukan salah saya, Bu..” “Jelas jelas kamu mencuri, masih dibilang bukan salah kamu? Bukan salah kamu gimana? Buktinya CCTV, barusan tas kamu digeledah juga ada barangnya! Masih nggak ngaku kamu?” “Tapi saya bukan mencuri, Bu. Saya disuruh Meirin.. “ “Apa? Anak kurang ajar kamu ya! Kamu itu mencuri di butik ibunya Meirin! Malah bilang disuruh sama Meirin? Nggak masuk akal! Mana mungkin Meirin nyuruh kamu mencuri di butiknya sendiri! Memang anak kurang ajar! Sudah mencuri, berani memfitnah Meirin! Kamu itu kurang didikan! Punya orang tua apa nggak sih kamu? Apa nggak diajarin orang tua kamu ya?” Suara Mami Meirin melengking tinggi. Sassy menangis tersedu-sedu. Sementara Meirin, berdiri di sudut dengan muka ketakutan. Di sebelah Meirin, ada Vera, teman Sassy yang lain, membisikkan sesuatu ke telinga Meirin. Raut wajah Meirin yang semula ketakutan, berubah seketika. Mami Meirin menarik paksa tas Sassy dan menumpahkan isinya ke lantai. Buku-buku, alat tulis, dompet, ponsel, dan akhirnya, apa yang mereka sebut barang bukti tercecer ke lantai. Sebuah dompet kecil berisi gelang dan kalung emas dan amplop tebal berisi beberapa lembar uang pecahan seratus ribu. “Ini buktinya! Ada rekaman CCTV juga, kamu yang ambil uang dan dompet emasnya! Malah bilang disuruh Meirin? Heh! Meirin, sini! Kamu benar suruh dia curi ini?” “Nggak, Mi. Mei nggak tau apa-apa. Iya kan Ver?” “Iya tante, kami juga jarang main sama dia. Tadi dia maksa ikut-ikutan kami. Dia juga baru sekali ini kami ajak, sebelumnya belum pernah, tante.” Vera membela Meirin. “Iya, Mi. Mana mungkin Mei suruh teman mencuri, apalagi baru main hari ini. Iya kan, Ver?” “Iya tante. Berani sumpah!” “Tapi tadi…” “Heh! Sudah! Jangan banyak alasan kamu! Sekarang, panggil orang tua kamu ke sini. Kalau tidak, saya laporkan kamu ke polisi. Biar polisi jemput di rumah kamu. Biar orang tua kamu malu punya anak maling!” Mami Meirin, memotret barang bukti itu, lalu memasukkannya ke dalam plastik dengan menggunakan sapu tangan. “Nih. Biar polisi lihat, sidik jari kamu masih ada di barang bukti ini. Kalau sampai sore ini orang tua kamu tidak datang ke sini, saya laporkan kamu ke polisi! Nih, orang-orang ini semua jadi saksi, kalau anak ini memang maling! Masih SMP sudah berani maling! Mau jadi apa kamu?” Sassy melihat berkeliling, dia baru menyadari kalau puluhan pasang mata menatapnya sinis. Entah sejak kapan orang-orang ini berkerumun. Mungkin suara melengking Mami Meirin yang membuat mereka tertarik. Terlebih lagi, ini di pusat perbelanjaan, sudah pasti banyak sekali orang yang lalu lalang. Sassy makin ketakutan dan tidak tau harus berbuat apa. Yang bisa dilakukannya saat ini adalah menjauh dari tempat ini dan memikirkan jalan keluarnya nanti. Yang penting tidak dijadikan bulan-bulanan Mami Meirin. “Heh! Maling! Balik ke sini lagi kamu ya! Awas kalau kamu kabur! Saya panggil polisi kamu!” Sassy tidak menjawab teriakan Mami Meirin. Hatinya tersayat-sayat. Malu dan terhina. Dia terus menyeret langkah menjauhi kerumunan. Menyeka air mata dengan punggung tangan, dan terus berjalan sambil benaknya berpikir bagaimana mencari jalan keluar secepatnya. Masih sempat dilihatnya wajah Vera dan Meirin. Mereka berdua berbisik-bisik sambil menatapnya dengan tatapan tak suka. Sassy menyesal sekali. Menyesal ikut mereka, menyesal menuruti kata mereka, bahkan dia menyesal pernah bertemu mereka. Aku harus bagaimana? Menelepon Papa? Apa papa nanti percaya kalau aku bukan pencuri? Bagaimana dengan barang bukti? Bagaimana dengan CCTV? Jelas aku mengambil barangnya. Lalu kalau kujelaskan kalau aku hanya disuruh? Apa papa percaya? Batin Sassy getir. Tapi tak urung, jemarinya tetap menekan serangkaian tombol di ponsel, mencoba menghubungi papa. “Halo, kenapa Sas?” “Mmm.. Papa dimana?” “Di pasar induk. Besok salak sama alpukat mau dianterin. Kenapa? Buruan papa sibuk.” Suara itu begitu tegas, cepat, dan terkesan buru-buru. Sassy ragu antara mau bicara atau tidak. “Pa.. anu.. Sassy sekarang di..” “Dua peti aja, pak. Buah naga sama alpukat sekalian.” Papa terdengar berbicara dengan seseorang didekatnya. Omongan Sassy terpotong. “Halo, Sas. Kamu telepon lagi nanti ya, papa mau urus buah dulu. Atau SMS aja. Nanti papa baca.” “Iya, Pa…” Sassy menghela nafas. Memutuskan sambungan telepon dengan perasaan berkecamuk. Lalu aku harus bagaimana? Telepon tante Rara? Atau nenek? Sassy bergidik ketakutan. Membayangkan wajah tante Rara dan nenek saja sudah membuat jantung berdegup kencang. Terbayang mereka dengan wajah marah menyeretnya pulang dan memarahinya habis-habisan. Meminta pembelaan? Mengatakan kalau dirinya hanya korban? Hah, nenek dan tante Rara tidak akan percaya, bahkan bisa dipastikan, mereka justru akan ikut memarahinya di depan banyak orang. Mengatakan kalau dirinya mencoreng nama baik keluarga. Aaah seandainya saja aku tidak memaksa ikut mereka! Gara-gara tugas Biologi sialan itu! Kalau bukan karena itu, pasti aku sekarang sedang dirumah, baik-baik saja. Sassy merutuki nasibnya sendiri sambil menggaruk belakang kepalanya. Membayangkan penyesalannya tadi pagi. 4 jam yang lalu “Sassy Lia Rinintha, Meirina Hazelia Wijaya, Verayanti Puspita.” Hah?! Sassy nyaris tidak memercayai pendengarannya. Kenapa dirinya terpental jauh masuk ke grup duet maut itu? Sassy menepuk kening. Tamatlah sudah. Selamat tinggal beasiswa. Bisa dipastikan, duet pesolek itu sulit di ajak bekerja sama. Boro-boro mau serius belajar kelompok, isi tas mereka saja dipenuhi poster Daniel Radcliff dan Duo Ratu. Vera mengklaim dirinya adalah kembaran Mulan Kwok yang seksi, sementara Meirin menganggap dirinya cantik dan berbakat sekelas Maia Ahmad. Di saat Sassy dan yang lain sibuk belajar saat ujian hampir tiba, mereka malah seenaknya memutar lagu Samsons, kenangan terindah, dengan volume maksimal di kelas. Lantaran Meirin yang katanya baru putus dengan pacarnya, masih belum bisa move on juga. Sassy masih ingat, seminggu setelah musim Samsons, muncul pula Musim Zigas, Lagu Zigas sahabat jadi cinta yang kemudian diputar berulang-ulang. Ternyata, hanya hitungan minggu, Meirin jatuh cinta lagi dengan sahabatnya sendiri. Dengan perilaku seperti itu, Sassy pesimis mereka bisa diajak bekerjasama untuk tugas biologi. Sassy menghela nafas. Berusaha menyemangati dirinya sendiri. Kemungkinan terburuk, dia harus mengerjakan sendiri semuanya. Biarlah, daripada nilainya jeblok. Sassy bertekad ingin mempertahankan beasiswanya. Go Sassy Go! Kamu bisa Sassy! Sassy membalik lembar demi lembar tugas yang diberikan guru biologinya. Dia yakin bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Masalahnya, waktu yang diberikan terlalu singkat. Sassy harus mencari bahan sendiri, mengejakan tiap step yang harus dilakukan sendiri, membuat laporan sendiri, mencetak laporan itu dan membuat PPT, lalu mempresentasikannya di depan kelas. Mereka cukup berdiri saja disampingnya. Sassy tak masalah mereka menumpang nilai padanya, asalkan nilainya sendiri tetap bagus. Sampai kemudian mata Sassy terpaku pada point nomor 9. Semua anggota kelompok diharuskan menjawab pertanyaan secara bergiliran, untuk menunjukkan kerjasama yang baik pada saat pembuatan tugas kelompok. Sassy menutup wajahnya dengan telapak tangan. Ini yang namanya mission impossible. Menyuruh mereka menjawab pertanyaan berarti meminta mereka menghapal materi. Kecuali ada keajaiban, itu semua mustahil dilakukan, lantaran isi otak mereka hanya lirik lagu duo ratu dan dialog film Harry Potter. Setelah menimbang beberapa saat, Sassy memutuskan untuk bicara pada mereka dan membujuk mereka, setidaknya untuk menghapal materi saja. Toh, masih ada waktu dua hari. “Mei, Ver..” “Kenapa?” tanya Meirin tanpa menoleh ke arah Sassy. Matanya tetap tertuju pada majalah yang tengah dibacanya. Vera malah terang-terangan mengabaikan, sibuk menempel sticker pada buku catatannya. Bukan buku catatan pelajaran, melainkan buku kumpulan lirik lagu Ratu. “Tugas kelompok biologi, kita bertiga satu kelompok.” jawab Sassy. “Terus?” tanya Meirin. Masih tetap tidak menoleh dan fokus membolak balik majalahnya. “Ya kita harus kerjain tugasnya. Kapan kalian bisa?” tanya Sassy sambil menahan kesal. “Harus ya?” Vera balik bertanya dengan ekspresi datar. Sassy terus mencoba menahan emosi. Dia paling benci konflik dan pertengkaran. Sejak kecil, Sassy lebih memilih diam atau pergi daripada harus bertengkar. “Nilai kita nol kalau tidak mengerjakan.” “Ya aku sih nggak masalah, biologi kan bukan cuma tugas ini doang, masih ada ujian, kehadiran, tugas-tugas lain, yaah.. banyak lah... Nggak masalah dong kalo jeblok di satu tugas ini doang. Sepele banget.” jawab Vera santai. Sepele katamu? Dasar otak udang! Sassy memaki. Sayangnya hanya dalam hati. “Gini deh gini deh… Kamu kerjain sendiri aja tugasnya. Yang gila belajar dan mau nilai kan kamu. Kita sih nggak nggak. Jadi nggak masalah kalau dapat nol.” Meirin menimpali dengan santai. Sassy benar-benar ingin sekali melempar majalah itu ke mukanya. “Oke, soal tugasnya aku bisa kerjain sendiri. Kalian mau bantu atau nggak terserah. Tapi masalahnya ada sesi tanya jawab. Kalian harus bisa jawab pertanyaannya. Karena nanti jawabnya harus bergantian. Bisa?” “Nggak.” “Terus gimana dong?” tanya Sassy mulai marah. “Ya gimana dong, orang nggak bisa dipaksa. Coba kamu, maksain cincin yg kekecilan di jari. Nggak bisa kan? Makanya jangan maksa dong.” Balas Vera tak kalah ketus. Analogi yang bodoh! Dasar dungu, menang tajir sama dandan doaaang! Sassy berteriak dalam hati. “Kamu jawab sendiri aja deh. Kamu kan juara umum. Siswi teladan. Anak paling pinter. Bisa doooong.” Sindir Vera lagi. Sassy hampir menyerah. “Nggak bisa. Kalo kalian nggak jawab, kita dianggap nggak bekerjasama dan tugasnya nggak akan dinilai. Tetap akan dapat nol!” Suara Sassy bergetar. Vera dan Meirin angkat bahu. “Aku harus apa sih biar kalian mau sedikit menghapal supaya bisa jawab pertanyaan?” Air mata Sassy mulai mengambang. Vera dan Meirin lagi-lagi angkat bahu seolah tak peduli. Akhirnya, Sassy kembali ke tempat duduknya tanpa hasil sambil menahan tangis. Bukan tanpa alasan Sassy seperti ini. Tugas biologi ini sangat penting untuknya. Bulan lalu, Sassy harus dirawat karena demam berdarah dan melewatkan tugas penting yang memengaruhi nilai. Beberapa bulan sebelumnya, nilai ujian biologinya jeblok karena buku dan catatannya tertinggal di angkot dan hilang. Beberapa soal tak mampu dia jawab karena Sassy sama sekali belum belajar pada saat itu. Sekarang inilah saat yang tepat untuk memperbaiki nilai. Sassy sudah bertekad ingin mendapat nilai tertinggi dalam tugas ini. Tapi harapannya harus kandas karena teman kelompoknya sulit diajak bekerjasama. Apa boleh buat, kerjakan sendiri saja, lalu jujur dengan guru. Semoga beliau mengerti. Sassy membatin sambil berdoa. *** “Gimana kalau kita bikin kesepakatan?” tiba-tiba Meirin menghampiri Sassy. Antara senang, terkejut dan bingung, Sassy langsung mengiyakan. “Oke, kita bisa bantu kamu menghapal tugas biologi. Tapi ada syaratnya. Tadi kamu bilang mau melakukan apa saja supaya kami berdua mau ikut membantu tugas kan?” kali ini Vera yang bertanya. Sebenarnya Sassy tidak merasa pernah berkata langsung hal seperti itu. Tapi, dari pada mereka berdua berubah pikiran, Sassy langsung mengiyakan. “Oke sip. Kalau begitu, siang ini juga, ikut kami ke butik Maminya Meirin di plaza tujuh. Nanti, di sana kamu harus bantu Meirin ngurus barang maminya. Itu doang. Setelah itu selesai, kamu bisa kasih bahan presentasinya, nanti kami usahakan hapalin. Gimana?” tanya Vera dengan gaya bossy nya. Syukurlah, syarat mereka cuma ngurus barang di butik Meirin. Ah, itu sih gampang. Seberat apapun aku bantu. Bantu di butik sih sudah biasa. Jangankan cuma ngurus barang di butik, mengatur buah-buahan dengan berat satu kuintal pun pernah dikerjakan Sassy. “Oke, deal.” “Sip, kalau begitu, pulang sekolah ikut kami ya.” Seandainya waktu bisa diputar ulang, Sassy ingin sekali membatalkan kesepakatan sialan itu. Kesepakatan bodoh yang membuatnya dengan sukarela menjadi boneka Meirin, si pencuri dirumah sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD