Ibu kembali

1224 Words
Waktu terus berjalan. Memenuhi janji yang ditorehkannya. Hingga tibalah saat yang selama ini Anisha tunggu bersama keluarganya. Yakni kepulangan Ibu tercinta. Namun sayangnya Ujian belumlah usai sehingga Anisha tak bisa ikut serta menjemput sang pelipur lara. "Pak, sepertinya Nisa gak bisa ikut jemput Ibu. Nisa masih ujian..." Ujar Anisha. "Ya sudah, tak apa. Kamu fokus saja dengan ujian. Toh nanti juga pasti Ibu kesini kan?.." Timpal Bramantyo. mengelus sayang puncak kepala sang putri, Anisha. Anisha mengangguk.. "Biar bapak, adik- adik mu dan Emak saja yang jemput. Lagian Bobby pun ikut..." Jelas Bramantyo. "Ya Pak.." Sahut Anisha. Kembali fokus pada buku pelajarannya. Abaikan sejenak kekecewaan dalam hatinya, karena tak bisa menebus kerinduan pada sang Bunda. *** Tak ada yang tahu bagian terdalam kehidupan Anisha. Kehidupan yang dilalui seorang Anisha sebenarnya . Baik sahabat- sahabatnya, bahkan Mario. "Nanti malam Bapak berangkat dari desa jemput Ibu mu Nis... Benar kamu gak ikut?". Tanya Bramantyo meyakinkan kembali. "Iya Pak. Maaf..." Anisha nampak sendu.. "Ya sudah tak apa. Bapak cuma yakinkan saja. Siapa tahu kamu berubah fikiran..." "Ayo habiskan sarapan mu, nanti telat loh ujiannya..." Anisha mengangguk. "Kamu tak apa Bapak tinggal?" Anisha menggeleng kepala ringan. "Baik kalo gitu, kamu hati- hati selama Bapak pergi.." Pungkas Bramantyo. Mengakhiri percakapan pagi itu. Anisha pun beranjak pamit. Berangkat ke sekolah. Hatinya diliputi rasa haru tak terkira. Bayangkan keluarganya akan kembali berkumpul. Setelah sekian lama berjuang bersama, meski berbeda tempat, bahkan teramat sangat jauh. Setelah sekian lama saling memendam kerinduan. Setelah sekian lama pula mencoba jalani garis takdir yang di tetapkan-Nya. Satu hal yang selalu mereka yakini. Bahwa pelajaran hidup ini sangat berarti. Dan pasti mengandung banyak sekali hikmah di dalamnya. Tentang bagaimana menghargai kebersamaan, yang sungguh dirasakan sangat besar artinya ketika berjauhan. Tentang pentingnya peranan Seorang Ibu dalam keluarga dan perkembangan mental anak- anaknya. Bukan Bramantyo tak menyadari perubahan dalam diri anak- anaknya. Rasa sakit, dan segala apa yang telah mereka lalui. Namun ia berkeyakinan ini akan membuat anak- anaknya tumbuh menjadi tangguh. Bahkan tak jarang pula air matanya meleleh disaat ia menghadap kepada Rabb-nya. Memohon perlindungan untuk seluruh keluarganya. Istri dan anak- anaknya. Sama halnya dengan Anisha. Sang Bapak, Bramantyo tak pernah ingin mengumbar sisi lemahnya di hadapan siapa pun. Dan kini semua perjuangan panjang mereka terbayar sudah, dengan kepulangan Ibunda tercinta. *** "Kenapa Nis?" Rena bertanya. "Hah..? Emm.. Nggak apa- apa. Memang kenapa?" Anisha yang sedari tadi hanyut dengan lamunannya. Berusaha bersikap sewajar mungkin. Tak ada yang tahu, Apa yang sebenarnya Anisha fikirkan. Hidup seperti apa yang ia jalani. Bukan berarti malu dan sembunyikan semuanya. Namun seperti selama ini Nisa fikir, bahwa tak akan ada yang benar- benar mengerti apa yang ia rasakan. Lagi pula ia sudah terbiasa pendam segala macam bentuk emosinya. Jadi, biarkan saja ia pendam saja semuanya sendiri. Hingga waktu yang akan biarkan semuanya terbuka dengan sendirinya. *** Anisha POV on Jika ada sebuah kata yang dapat gambarkan perasaan ku saat ini, tolong beri tahu aku. Karena sungguh aku bingung denga apa yang ku rasa. Yang jelas semuanya terasa begitu membuncah di hatiku. Senang? Tentu. Karena Ibu akan segera hadir di tengah- tengah kami. Rindu? Sudah pasti. Hampir selama dua tahun kami tak saling bertatap wajah. Haru? Itu pun benar. Namun tanpa air mata. Dan itu buat ku tersiksa. Takut? Pasti kalian tak menduganya bukan. Ya aku takut jika konflik yang selama ini terjadi, karena puluhan Mak Iroh- Mak Iroh itu, akan berlanjut. Sungguh aku tak rela. Jika kembali ada yang mengusik kebahagiaan keluarga ku. Terlebih saat seseorang dari mereka berkata "Enak saja, kalau dia pulang nanti mau ambil anak- anaknya.. Siapa yang besarin? Main ambil saja. Gak akan ku serahkan anak ini!". Apa itu?! Seorang wanita macam apa dia? Yang tega berniat pisahkan wanita lain dari anaknya. Terlebih wanita lain itu lahir dari rahimnya sendiri. Begitulah penomena hidup yang ku jalani. Hingga ku rasa tak ada gunanya ku bagi dengan siapapun. Karena ini penuh dengan intrik yang membuka aib keluarga ku sendiri. Biarkan ini berlalu dengan sendirinya. Hingga semua kenangan buruk ini memudar dari benakku. Perlahan tapi pasti.. Andai bisa. Aku ingin melupakan semua ini seketika. Karena aku tak ingin membenci siapa pun.Aku ingin hidup tenang. Sewajarnya. Namun sungguh aku hanya manusia biasa. Dan hidup telah bukakan tabir yang menutupi sifat asli mereka. Lantas bagaimana caranya agar aku bisa bersikap seolah tak pernah terjadi apa pun? Tolong beri tahu aku caranya.. Beri tahu caranya agar bisa bersikap seolah semua baik- baik saja. --- Tak seperti kemarin, ujian hari ini diselingi dengan kilasan dari ujian hidup ku. Buat konsentrasi ku terpecah. Bahkan sahabat- sahabat ku merasa heran dengan tingkah ku hari ini. Padahal aku sudah berusaha untuk bersikap biasa- biasa saja. Anisha POV end *** Mario POV on Hari ini ku perhatikan Anisha berbeda dari biasanya. Meskipun dia memang cenderung tak banyak bicara, tapi hari ini dia begitu pendiam. Seperti menanggung beban berat yang tak dapat di ungkapkannya. Seperti begitu tertekan dengan sesuatu yang sangat mengganggu fikirannya. Apa mungkin ada yang sedang berulah lagi? Bahkan sudah ku tanyakan pada semua teman dekat kami. Dan jawaban mereka sama. Tak ada yang tahu apa yang sedang terjadi dengan Anisha. Apa yang sedang terjadi padanya? Bahkan saat mengisi soal ujian, tak ayal ku dapati ia asyik dengan fikirannya sendiri. Ujung- ujungnya aku pun tak fokus dengan soal di depan mata ku. Ah.. Biar ku tanyakan nanti secara langsung padanya. . Mario POV end *** Anisha POV on Huhff... Selesai sudah segalanya hari ini. Rombongan Bapak pun sepertinya sudah tiba di desa. Mungkin Besok atau lusa aku baru bisa bertemu Ibu. Mudah- mudahan semuanya akan baik- baik saja. "Ada apa Nis?" Tanya Mario. Begitu tiba di mejaku. "Apanya yang 'ada apa?'" "Kamu kenapa?" "Gak apa- apa, memangnya kenapa?" aku coba menghindari pertanyaan Mario. "Ck... Gak jawab juga. Ku kurung sampai besok pagi juga di sini!" Geretaknya. Sukses buat mataku terbelalak selebar- lebarnya. "Apaan sih kamu tuh Rio.." Aku masih berkelit. "Aku punya salah?..." "... Atau ada yang ganggu fikiran kamu? Ayo cerita.. Kalo gak..." jedanya. Aku yang telah selesai berkemas refleks segera berlari kearah pintu, hindari terperangkap dengan ke isengan Mario. Tak kuasa menahan tawa. Apa aku baru saja tertawa? Setelah sekian lama. Aku baru lagi merasakan tertawa lepas. Dan itu, luar biasa. Beban ku serasa lenyap begitu saja. "Ngapain masih diam di situ? Mo nginep?". Tegurku pada Mario yang malah mematung di meja ku. Masih dengan sisa tawa. Lega karena berhasil lari dari ancaman Mario? Anisha POV end *** Mario POV on "Ada apa Nis?" Tanya ku. Begitu tiba di mejanya. "Apanya yang 'ada apa?'" "Kamu kenapa?" "Gak apa- apa, memangnya kenapa?" Nisa coba menghindari pertanyaanku. "Ck... Gak jawab juga. Ku kurung sampai besok pagi juga di sini!" Geretak ku. Sukses buat matanya terbelalak selebar- lebarnya. "Apaan sih kamu tuh Rio.." dia masih berkelit. "Aku punya salah?..." "... Atau ada yang ganggu fikiran kamu? Ayo cerita.. Kalo gak..." jeda ku. Anisha yang telah selesai berkemas refleks segera berlari kearah pintu, menghindar terperangkap dengan ancaman ku. Padahal kalimat ku belum lagi tuntas. Lantas tertawa lepas. Merasa menang, bisa kabur dariku. Apa dia baru saja tertawa? Setelah sekian lama aku mengenalnya. Aku baru melihat seorang Anisha tertawa lepas. Aku mematung menikmati tawa ranyahnya. Manis.. Sejenak aku terpana. "Ngapain masih diam di situ? Mo nginep?". Tegur Nisa pada ku yang malah mematung tak beranjak. Setidaknya aku sedikit lega menyaksikan tawanya. Itu berarti tak ada hal serius yang terjadi. Mario POV end ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD