Ujian Hari Pertama

964 Words
Anisha POV on Pagi yang cerah, di hari pertama Ujian Kenaikan Kelas. Menambah semangat baru bagi ku. Setelah semalam mengulang kembali materi bahan ujian untuk hari ini. Pagi ini ku ayun langkah kembali. Dengan harapan baru. Semoga segalanya kan lebih baik dari hari ini hingga seterusnya. "Hei, jan ganggu dia, tu cewek gue tau". Terdengar obrolan yang entah apa tujuannya. Tapi aku tahu pasti siapa pemilik suara itu. Dia Alando. Laki- laki yang terang- terangan berlaku kurang ajar pada ku minggu lalu. "Sumpeh Lo Lan?" sahut lainnya. "Masa gue bohong. Kalo lu gak percaya, tanyain aja langsung ke orangnya gih". Tantang Alan. "Ck Jan Ngaku- ngaku Lo.." "Ga percaya..., tanya ja. Tu orangnya di depan lu" ujar Alan. "Iya kan Nis.. Nisa..." panggil Alan. Tak acuh, ku terus melanjutkan langkahku. Tak peduli ocehan Alan yang tepat di belakang ku. --- Dari jauh ku lihat Sri dan Mario tampak berbincang di teras kelas, ruang ujian kami sambil masing- masing nenteng sebuah buku. Entah apa yang mereka bicarakan. Mungkin sekitar materi ujian hari ini. Perlahan aku mendekat. "Dah siap tempur ni kayaknya.." Canda ku pada mereka. "I hope so.." jawab Sri. Sementara Mario hanya tersenyum. Beranjak mereka mengikuti ku masuk kelas. Mencari meja sesuai nomor di kartu peserta ujian ku. "Kamu dimana Sri?" Tanya ku "Ckk di kelas sebelah. Tapi gak papa Ma Yayu.." jawabnya. Ternyata ku duduk di sebelah Arman. Kakak Kelas yang ku tahu juga pengurus OSIS seperti Mario. Anisha POV end *** Mario POV on Hari pertama UKK, penuh ketegangan. Bukan karena ujiannya melainkan, aku takut ini adalah pekan terakhir aku di kelas yang sama dengan Anisha. Sejauh ini memang kami mulai bisa lebih sering komunikasi, meski aku yang selalu memulainya lebih dulu. Tak masalah. Setidaknya dia tidak merespon sedatar dulu. "Nis.., sini bentar" Tiba- tiba si asbun muncul dari pintu ruang ujian ini. Nisa beranjak. Entah dari mana dia tahu ruang ujian kami. Kerajinan banget tu orang sampe mo nyari. "Pacaran mulu. Ujian Woi..., Ujian..!" teriak si asbun. Yang ku tahu pasti tertuju padaku yang tengah duduk di depan Anisha. Tanpa berani si Asbun itu natap mata ku. Aku terkekeh, tampilkan smrik ke arahnya. Mengingat atas kebodohannya tempo hari, yang mengira aku adalah Alan. "Bis pulang ujian, kumpul bentar TCC ya. Da yang perlu dibahas". Tuturnya saat Nisa tiba di depannya. "Tapi ini..., minggu ini sesuai kesepakatan kita fokus ujian". Protes Nisa. "Ganggu mulu Lo Asbun..." Arman yang hendak keluar ruangan, menyempatkan mentung kepala Hendi. "Brisik Lo..." omel Hendi. "Cuma bentar, suer.., janji deh.." sahut si asbun, sok imut. Nisa berdecak sebal. Lantas kembali ke tempatnya. Tanpa hiraukan si Asbun yang belum selesai bicara. Ku mainkan angin dalam mulut menahan tawa. Menyaksikan kekecewaan si asbun yang dicuekin. "Kenapa Nis?" tanya ku, dapati raut kesal di wajahnya. "BT aku, di langgar lagi kesepakatan.." jawab Nisa. Sri mencibir.. "Untung ga jadi masuk. Apa itu namanya TTC? Kaya sabun aja.." Ejek Sri. Salah pula menyebutkan TCC. "Udah, hadir ja dulu bentar, sapa tau ada yang bener- bener penting, makanya sampe ada rapat dadakkan. Kan bentar lagi pelaksanaannya.." usul ku. Pasti aku tahu detail pelaksanaan Olimpiade itu. Toh memang program kerja semua organisasi ada draf-nya di ruang OSIS. Nisa mengangguk. Tak lama ujian pun berlangsung. "Bye Guys..." Sri kembali ke ruangannya. Mario POV end *** Anisha POV on Aku tak habis pikir kenapa dengan si absurd itu. Tak bosannya lemparkan kata- kata aneh terhadap ku dan Mario. Buat ku jengah lama- lama. Tapi ada bagusnya juga. Biar dia gak bertingkah seenaknya Tapi... Kenapa semua orang mengira ada hubungan lebih dari sekedar teman antara aku dan mario? Ah entahlah, padahal kami tak lebih dari sekedar teman. Walaupun tak bisa ku pungkiri dia mampu untuk buat ku merasa nyaman dan tak jarang merasa terlindungi. Lain halnya dengan si absurd itu. Terkadang berlaga lebay bersama teman- teman perempuannya, seakan- akan pancing ku untuk cemburu. Ah Bodo amat, gak ngaruh gak ngepek. Dan hari ini, seenak jidat ngasib tahu ada rapat dadakkan, padahal sesuai kesepakatan, gak ada rapat saat ujian. Entah prakarsa siapa. Ku tahu memang hari H pelaksanaan Olimkom tahunan sebentar lagi. Tapi itu pun tinggal pelaksanaannya saja. Karena 95% persiapan telah rampung. "Kenapa Nis?" tanya Mario, dapati raut kesal di wajah ku. "BT aku, di langgar lagi kesepakatan.." jawab ku. Sri mencibir.. "Untung ga jadi masuk. Apa itu namanya TTC? Kaya sabun aja.." Ejek Sri. Salah pula menyebutkan TCC. "Udah, hadir ja dulu bentar, sapa tau ada yang bener- bener penting, makanya sampe ada rapat dadakkan. Kan bentar lagi pelaksanaannya.." usul Mario. Pasti dia tahu detail pelaksanaan Olimpiade itu. Toh memang program kerja semua organisasi ada draf-nya di ruang OSIS. Au pun mengangguk. Tak lama ujian pun berlangsung. "Bye Guys..." Sri kembali ke ruangannya. Anisha POV end *** Prosedur pelaksanaannya jelas berbada dari pelaksanaan KBM. Dimana setiap kelas dipecah jadi 2. Tapi setiap meja tetap di isi dua murid, dengan formasi di buat selang seling antara kelas X dan XI. Kali ini Anisha duduk di sebelah Arman. Kakak kelasnya. Yang ia kenal sebagai anggota inti OSIS pula. "Cewek Lo ma gue Yo...". Goda Arman pada Mario. "Awas ja di macem- macemin.." Mario balas mengancam Arman. "Au.. Takuuuuttt...". Timpal Arman. Nisa mengerutkan kening. Tak faham arah obrolan mereka. 'Kenapa selalu saja ngira aku dan Mario... Ah sudahlah Nisa mungkin mereka hanya bercanda saja'. Batin Nisa. Proses Ujian Kenaikan Kelas berjalan kondusif, di awal waktu. Dan seperti biasa ribut di lima belas menit terakhir. "Waktunya 15 menit lagi...!". Ujar guru pengawas. Lantas keriuhapun dimulai. Ada yang menendang kursi kawan di depannya, ada yang saling melempar kertas, dan lainnya. Sungguh pemandangan khas ruang ujian. Tiba- tiba ada seorang anak yang berdiri, lalu mengumpulkan embar jawabannya. Kelas hening sesaat, seolah terkesima oleh anak tadi.. Lalu. "Huuuu..." Hampir semua anak menyorakinya. "Suttt sudah...! Fokus pada soal masing- masing..!" pengawas kembali memberikan peringatan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD