Seperti biasa waktu tak akan berhenti, terus merambat menuju arah yang pasti, sesuai kodratnya..
"Nis, tunggu.." Seru Mario didepan gerbang sekolah.
"Maaf kemarin aku nganter Kak Sofi. Jadi gak bisa pulang bareng deh.." setelah berhasil menyamai langkah Nisa. Merasa bersalah.
"Santai aja kali Yo.." ujar Nisa.
"Nis, Hei Nisa..!" panggil suara yang tentu sudah Nisa kenal. Menghentikan sejenak langkah mereka. Siapa lagi kalau bukan si absurd, Hendi. Kakak kelas, yang sejak kemarin mengganggu ketentramannya.
"Ck ck pagi- pagi dah pacaran.." begitu berdiri di depan Nisa dan Mario.
Nisa mendengus kesal, enggan menanggapinya.
"Nanti, sepulang sekolah, ada rapat TCC, tentang persiapan Olimpiade Computer tahunan". Jelas Hendi.
"Ok". Jawab Nisa singkat. Kembali lanjutkan langkah.
"Gitu... Aja..?! Bilang makasih kek, dah di kasih kabar. Huh.. Mentang- mentang lagi asyik pacaran". Gerutu Hendi. Masih bisa Nisa dengar.
Dari kejauhan nampak Sri tersenyum, dengan kerlingan menggoda sejoli itu.
"Nah gitu dong. Move on guys.. Coz life must go on..". Nisa mencibir, tak acuh menanggapinya.
"Eh Sri, kenapa kemaren gak jadi ikut pengukuhan?" tanya Nisa. Begitu Sri mendarat di kursinya.
"Gak diizinin bonyok.." jawabnya..
"O..."
"Nisa..." panggil Erika yang tiba- tiba nongol di pintu.
"Sini Ka.." Nisa melambai agar Erika mendekat.
"Dah tau pulang sekolah nanti da rapat?" tanya Erika. Nisa mengangguk.
"Nah ini dia orangnya yang kemarin kabur dari acara.." papar Nisa pada Erika, menuding ke arah Sri.
"Hehehe... Sorry guys.." Sri meringis.
"Eh eh, kenalin namaku Erika Kartika Candra Kirana Cahya Dimuka Harum Mewangi Sepanjang Hari..." mulai lagi deh keluar Lebaynya Erika.. Nisa menepuk jidat. Sementara Sri terbahak, karena ulah konyol itu. Pembicaraan mereka mengalir begitu saja.
Sejak saat itu juga mereka bersahabat, meski berbeda kelas, latar belakang dan karakter. Tapi itu justu membuat mereka saling melengkapi.
***
Anisha POV on
Selepas kelas terakhir, Aku bergegas mengemas buku dan lainnya dari atas meja. Berjalan mantap menuju best camp TCC.
"Nis aku di ruang OSIS ya.." tiba- tiba Mario mengintruksi saat aku hampir masuk best camp.
"Cie... Cie... Rapat dulu bentar Beib.." seperti biasa back sound grup rempong menggema. Aku pilih acuh.
"Loh, kenapa gak pulang aja duluan?" tanyaku heran.
"Ada acara OSIS" jawab Mario. Lantas berlalu pamit.
Kenapa tu anak?
Aneh..
Anisha POV end
***
Mario POV on
"Nis aku di ruang OSIS ya.." ujarku saat Nisa hampir masuk best camp.
"Cie... Cie... Rapat dulu bentar Beib.." seperti biasa back sound grup geje menggema.
"Loh, kenapa gak pulang aja duluan?" tanya Nisa heran.
"Ada acara OSIS" jawab ku, tak sepenuhnya bohong. Lantas berlalu pamit. Memberikan senyuman terbaikku yang sarat kode keras bahwa 'itu Anisha gue', kepada sepasang mata yang menatap tak suka interaksi ku dengan Nisa.
---
"Hei pangeran BUCIN.." sapa Andra saat kami berpapasan.
"Eh Ndra, sapa tu orang?" tunjuk ku dengan kerlingan.
"O..., tu si Asbun, da urusan pa lo ma dia?"
"Ga da. Ga penting juga" sahut ku.
"Namanya Hendi, tapi anak- anak panggil dia si Asbun.. Ya.. 'asal bunyi' maksudnya.." Papar Andra terkekeh. Mario berdecak.
"Beneran Lo ga ada masalah ma tu anak?" kejar Andra. Memang sulit nyembunyiin rahasia dari k*****t satu ini.
Aku menghela napas sejenak.
"Kayanya tu orang ngajak gue main- main. Sok tebar pesona depan Nisa, tepatnya ganggu ketenangan Nisa.." jelasku.
"Sabar Sob, Cinta gak kan salah alamat, pasti nemuin jalannya". Hibur Andra. Nepuk pundak ku. Lantas pamit.
Sementara ku lanjutkan langkah ke tujuan awal. Masih nampak Anton si KETOS bebenah mencari posisi nyaman di best camp baru OSIS.
"Lum pulang Yo?" sapanya.
"Bentar lagi.." jawabku ikut larut dalam aktivitasnya.
***
"Gimana rapatnya tadi?" Tanyaku begitu tiba sebelah Erika dan Nisa.
"Alhamdulillah Lancar, bentuk kepanitiaan dan nyusun proposal kegiatan". Jawab Nisa.
"Eh.. Nis, Rio, gue duluan ya.." ujar Rika paham situasi.
"Loh kok Rik--" protes Nisa terlambat, karena Erika telah melesat jauh.
Aku tahu Nisa canggung dengan situasi macam ini. Terlebih untuk duduk di atas motor berdua. Ku paham itu.
"Loh gak pake motor?" tanya Nisa saat sadar kami cukup jauh melewati area parkir.
"coba suasana baru, kayanya seru juga..." sahutku. Nisa hanya menggerakkan alisnya.
Mario POV end
***
Tak terasa waktu berlalu, pekan depan sudah mulai ujian kenaikan kelas (UKK). Tapi sebelum itu akan ada study tour untuk siswa kelas X dan XI.
"Hai Guys, Perhatian, buat yang gak ikutan study tour, segera menghadap Bu Sri di ruangannya!" teriak Hani. Yang baru saja masuk kelas.
Anisha yang sudah hapal kondisi, segera bangkit, melangkah menuju ruang guru. Begitu tiba, mengetuk pintu, hingga terdengar suara Bu Sri mempersilakan masuk.
Saat Bu Sri tengah menjelaskan beberapa poin tugas pengganti bagi yang tidak ikut kegiatan study tour, tiba- tiba terdengar suara pintu diketuk.
"Masuk" sambut Bu Sri.
"Ck Ck, bocah 2 ini memang selalu kompak. Gak di kelas, gak di luar. Sampai ga ikut study tour pun barengan. Janjian ya kalian...". Lanjut Bu Sri. Buat Nisa mengerutkan kening. Lantas melirik ke arah pintu.
"Mario.." Lirihnya..
Al hasil Bu Sri kembali mengulang pengarahan tentang tugas pengganti tadi.
***
Anisha POV on
Entah mengapa, semakin ku berusaha menjauh dari Mario, waktu selalu libatkan kami dalam satu aktivitas yang sama. Bukan ku tak peka dengan segala perhatiannya selama ini. Bukan ku tak tau..
Tapi...
Aku, hanya takut kembali sakit, seperti luka yang ditorehkan Anton dulu.
Aku hanya butuh sebuah "kepastian", untuk meyakinkan diriku saat itu, sebelum menjalin sebuah hubungan. Tapi nyatanya di saat ku hampir temukan apa yang ku cari, Anton seenak jidat pindah haluan begitu saja, hanya karena satu alasan 'aku tak bisa di sentuh'. Walaupun lawan mainnya saat itu menemuiku dan jelaskan bahwa semua itu hanya 'SANDIWARA'.
Hah, Apa tadi katanya? Sandiwara?
Apa maksudnya? Apa inginnya? Dia pikir apa aku ini?
Emosiku tersulut seketika.
Aku benar- benar terluka saat itu, saat ia berperan begitu luwes, dengan lawan mainnya. Kalian tahu, semua itu berlangsung live, semua itu terjadi di depan mataku.
Entah, mungkin untuk menunjukkan betapa populer dirinya, atau apalah. Hingga semudah itu ia dapat lawan main, seperti apa yang diinginkannya.
Dan caranya memancing emosiku saat itu adalah sebuah kesalahan besarnya. Karena aku tak akan pernah tolelir sebuah penghianatan. Dan aku tak akan pernah serahkan diriku, hanya karena aku cemburu.
Oke. Aku akui, aku lalai jaga hatiku saat itu, hingga aku jatuh hati terlalu dalam padanya, pada fisiknya, yang tak bisa dibilang jelek, pada prestasinya yang tak bisa dibilang IQ jongkok, pada popularitasnya, bakatnya yang bejibun dan lain hal yang ada pada dirinya saat itu.
Tapi prinsip ku lebih kuat, untuk tak serahkan diriku padanya, meski hanya seujung kuku. Sekeras apapun dia menuntut. Meskipun Aku sangat mencintainya, saat itu. Bahkan hingga saat ini. Karena ku tahu itu perbuatan amoral.
Tak pernah ku sangka pribadi yang mendekati kata 'ideal' itu, ternyata berotak kadal. Tepatnya 'b******k'.
Karena itulah aku tak pernah inginkan terlibat sebuah hubungan yang kian digaungkan sebaya ku. Aku muak dengan segala tuntutannya. Aku enggan jadikan diriku seperti halnya 'piala bergilir', sungguh bagiku itu bukan sebuah prestasi.
"Nis.., Hei Nisa..?" tanya Mario, melambaikan tangannya tepat di depan muka ku. Kembalikan ku ke alam nyata.
"Hah? Ya kenapa?"
"Ck kamu ni, dari tadi di tanya mau turun dimana? Malah asyik ngelamun.." Protesnya. Kesal.
Ya saat ini kami dalam perjalanan, melengkapi tugas pengganti study tour, dan ternyata ada beberapa buku yang harus kami cari. Aku dan Mario. Terjebak dalam permainan waktu. Hingga saat ini kami berada di sebuah angkutan umum menuju tempat yang dimaksud.
Ya, angkutan umum. Entah mengapa sejak kejadian tempo hari, saat Mario bilang 'ingin suasana baru', tak pernah lagi ku lihat dia bawa motornya.
"O.. Kita turun di depan sana. Mulai cari dari ruas jalan A. Yani. Biasanya banyak yang jual majalah trubus di sana". Sahutku.
Risih, tentu saja. Kami jalan berdua saja, dan ini dalam keadaan ku sadar, bukan seperti tempo hari, saat ku dikuasai rasa patah hati karena berita yang di bawa Teguh.
Satu hal. Mario tak pernah benar- benar berhasil mengajak ku pulang bersama selain saat ku patah hati itu. Karena aku punya ribuan cara dan alasan untuk menghindar. Bahkan saat Erika tiba- tiba pamit tempo hari.
Ini adalah kali pertama. Itu pun karena tugas ini. Selain itu.., Tidak! Karena aku tak ingin berinya harapan apapun.
Bukan naif atau bermaksud munafik, tak pernah sebelumnya ku pergi hanya berdua dengan lawan jenis selain keluarga ku. Tempo hari aku ikut menjenguk Melin pun karena ada Teguh di sana.
Gugup, hampir tak bisa ku tutupi, berapa kali sempat ku salah tingkah. Ku rasakan jantung ku berdetak lebih cepat.
Ku fokuskan pikiran ku pada pencarian kami. Sehingga hanyalah kebisuan yang mendominasi.
Ku lirik Mario yang berjarak beberapa langkah di belakang ku, pun sama, sibuk mencari apa yang kami buru.
Berharap semua ini segera berakhir. Ku percepat gerakan ku. Tak hiraukan Mario yang tertinggal makin jauh.
"Hei tunggu Nis, Nisa, Anisha...!" panik Mario yang sadar sengaja ku tinggalkan.
"Apa?" Sahutku singkat. Mau tak mau terpaksa hentikan langkah.
"Kayaknya gak ada deh sebelah sini, coba kita cari di sana.." tunjuk Mario ke ruas sebrang kami. Aku mengangguk.
Tak lama, satu buku yang kami cari dapat. Tapi misi belumlah usai. Karena kami masih harus mencari 1 buku lagi. Pilihan jatuh pada buku Genetikologi.
Setelah semua lengkap, kami bergegas kembali ke sekolah, karena harus membuat resensi buku yang harus diserahkan segera.
Perpustakaan, itu tujuan kami. Berbagi tugas, aku merangkum materi, dan Mario pindahkan pada kertas polio.
"Terus gimanain ni buku?" tanya ku begitu misi selesai.
"Simpan di Perpus ja" sahutnya.
"Ok" jawab ku singkat, beranjak hendak tempatkan buku- buku tadi.
"Eit tunggu.." Mario menyambar apa yang ku pegang. Menuliskan tanggal dan nama kami disana. Dan entah apa lagi, karena ada kalimat setelahnya. Aku tak tertarik membacanya.
"Perlu ya kaya gitu?". Protesku. Meninggalkan Mario yang tersenyum penuh arti. Kembali ketujuan awal. Serahkan buku itu pada pengelola perpustakaan sekolah.
Sementara Mario menuju ruangan Bu Sri. Menyerahkan tugas kami.
Misi selesai, aku duduk di bangku depan perpus, karena ingat ada uang kembalian buku yang harus ku serahkan pada Mario.
Tak lama Alando mendekat, duduk di sampingku.
"Dah mo pulang Nis?" tanya Alan. Aku mengangguk, sembari menebar pandangan mencari sosok Mario.
Tanpa ku sadari Alan mengikis jarak kami, tangan isengnya mendarat di pinggang ku. Aku tersentak kaget, dan refleks mengangkat tangan, hampir menampar wajahnya. Beruntung aku segara sadar ini tempat umum.
"Maaf..." lirih Alan menyesal. Hanya Ku balas tatapan tak suka.
Ku hembuskan napas kesar dan bangkit tinggalkan Alando yang mematung, mungkin kaget dengan reaksiku.
Tak lama Mario muncul.
"Yuk pulang.." ajaknya. Kami pun berlalu. Tinggalkan Alan yang masih mematung di posisinya.
"Bro duluan.." pamit Mario pada alan.
Mereka saling kenal?
Tentu saja. Mereka sama- sama pengurus inti OSIS.
"Kenapa?" tanya Mario.
"Ga papa" jawab ku. Ingat tujuan awal nunggu Mario.
"Kamu simpan saja". Elak Mario saat ku ulurkan sejumlah uang.
"No. Thanks" jawab ku. Masukkan uang itu di saku seragamnya. Dengan isyarat pamit. Melangkah tinggalkan Mario dengan tatapan anehnya tertuju padaku.
Anisha POV end
***
Mario POV on
Hari ini ku tahu Anisha tak ikut study tour, bergegas ku susul langkahnya ke ruang Bu Sri. Akupun mengetuk pintu.
"Masuk" sambut Bu Sri.
"Ck Ck, bocah 2 ini memang selalu kompak. Gak di kelas, gak di luar. Sampai ga ikut study tour pun barengan. Janjian ya kalian...". Lanjut Bu Sri. Buat Nisa mengerutkan kening. Lantas melirik ke arah pintu.
"Mario.." dengan gerakan bibir.
Pengarahan Bu Sri pun berakhir saat kami mengangguk paham. Sungguh ini adalah sangsi yang paling sangat ku syukuri selama hidupku. Hukuman yang terindah. Dan sumpah demi apapun aku akan terima dengan senang hati, jika ini harus sering terjadi. Bagaimana tidak. Anisha, yang selalu berusaha jaga jarak dan menolak halus semua ajakan ku. Kini tanpa bisa berkutik, berjalan di sampingku.
"Nis.., Hei Nisa..?". Ku melambaikan tangannya tepat di depan wajah Anisha yang nampak sedang asyik dengan lamunannya.
"Hah? Ya kenapa?"
"Ck kamu ni, dari tadi di tanya mau turun dimana? Malah asyik ngelamun.." Protesku. Tentu saja kesal.
Ya saat ini kami dalam perjalanan, melengkapi tugas pengganti study tour, dan ternyata ada beberapa buku yang harus kami cari. Aku dan Nisa. Terjebak dalam permainan waktu. Hingga saat ini kami berada di sebuah angkutan umum menuju tempat yang dimaksud.
Ya, angkutan umum. Ku putuskan tak lagi bawa si zein. Karena ku lihat Nisa yang tak nyaman, tempo hari saat ku beralasan untuk antar pulang. Karena tragedi yang disebabkan Teguh.
"O.. Kita turun di depan sana. Mulai cari dari ruas jalan A. Yani. Biasanya banyak yang jual majalah trubus di sana". Sahut Nisa.
Dia tampak risih, tentu saja. Karena kami jalan berdua saja, dan ini dalam keadaan sadar, bukan seperti tempo hari, saat dia dikuasai rasa patah hati.
Ku beri dia ruang, biarkan dia berjalan di depan ku dengan sedikit jarak, karena dugaan ku ini adalah kali pertama dia ada di kondisi seperti ini. Begitupun dengan ku.
Gugup, hampir tak bisa ku tutupi, berapa kali sempat ku salah tingkah. Tapi ku bisa lebih tenang dari Nisa. Ku rasakan jantung ku berdebar, berdetak lebih cepat.
Sesekali ku lihat Nisa melirik ke arah ku, mungkin hanya untuk memastikan aku masih ada. Aku menggeleng kepala. Menertawakan pikiran konyolku sendiri.
"Hei tunggu Nis, Nisa, Anisha...!" panik ku, begitu sadar Anisha sengaja tinggalkan ku cukup jauh.
"Apa?" Sahutnya singkat. Mau tak mau terpaksa hentikan langkahnya.
"Kayaknya gak ada deh sebelah sini, coba kita cari di sana.." tunjuk ku ke ruas sebrang kami. Dia mengangguk.
Tak lama, satu buku yang kami cari dapat. Tapi misi belumlah usai. Karena kami masih harus mencari 1 buku lagi. Pilihan jatuh pada buku Genetikologi.
Setelah semua lengkap, kami bergegas kembali ke sekolah, karena harus membuat resensi buku yang harus diserahkan segera.
Perpustakaan, itu tujuan kami. Berbagi tugas, Nisa merangkum materi, dan aku pindahkan pada kertas polio.
"Terus gimanain ni buku?" tanya Nisa begitu misi selesai.
"Simpan di Perpus ja" sahutku.
"Ok" jawabnya singkat seperti biasa, beranjak hendak tempatkan buku- buku tadi.
"Eit tunggu.." ku sambar apa yang Nisa pegang. Menuliskan tanggal dan nama kami disana. Dan sebuah kalimat setelahnya. Yang akan menjadi kenangan kami suatu saat. Jika mengingat momen ini. Tapi dia nampak tak tertarik membacanya.
"Perlu ya kaya gitu?". Protes si gadis lurus tanpa ekspresi. Tapi sayangnya, sekaligus ku cintai itu.
Meninggalkan ku yang tersenyum penuh arti. Kembali ketujuan awalnya. Serahkan buku itu pada pengelola perpustakaan sekolah.
Sementara aku menuju ruangan Bu Sri. Menyerahkan tugas kami.
Misi selesai, ku lihat dia duduk di bangku depan perpus, mungkin menungguku. Bolehkan GR sedikit. Sepanjang jalan menuju ruangan Bu Sri aku terus tersenyum girang. Ku percepat langkah ku karena tak ingin tinggalkan Nisa terlalu lama.
Dari kejauhan kulihat Nisa beranjak, saat Alan duduk di sebelahnya.
"Bagus Nisa. Good girl.." bisik ku, yang memang tak rela jika Alan duduk dekat Nisa.
"Yuk pulang.." ajakku. Saat tiba di depan Nisa. Kami pun berlalu. Tinggalkan Alan yang nampak mematung di posisinya. Entah karena apa. I don't care.
"Bro duluan.." pamit ku pada alan.
Kami saling kenal?
Tentu saja. Kami sama- sama pengurus inti OSIS. Dan tentang Alan yang mencoba dekati Nisa. Aku pun tahu itu. Karena saat perkemahan OSIS tempo hari aku pernah mendengar dari mulut si Asbun Hendi, yang mengira aku yang baru masuk tenda saat itu adalah Alan.
Karena situasi gelap tanpa penerangan. Aku pun tak bergeming. Pilih diam dengarkan curahan hati si Asbun itu. Meski emosiku meluap- luap. Tak rela dengan segala kalimat kotornya tentang Nisa. Ah tapi biar itu hanya jadi rahasia ku saja.
"Kenapa?" tanya ku. Saat hanya kebisuan warnai langkah kami.
"Ga papa" jawab Nisa.
"Kamu simpan saja". Elak ku saat Nisa ulurkan sejumlah uang.
"No. Thanks" jawab Nisa, keras kepala seperti biasa. Memasukkan uang itu di saku seragamku. Dengan isyarat pamit. Melangkah tinggalkan ku dengan tatapan kecewa. Ku pikir dia menunggu untuk pulang bersama ku, tapi ternyata hanya untuk uang ini.
Padahal setelah hari ini aku berharap hubungan kami mengarah ke tahap yang lebih serius lagi. Tapi Anisha, tetaplah Anisha. Si datar, minim ekspresi dan tidak peka.
Awalnya ku sempat menilai dia gadis yang sombong, tapi setelah berinteraksi dengannya. Ku tahu itu hanya caranya lindungi diri.
"Ah sudahlah Mario. Sabar. Pelan- pelan". Bisik ku pada diri ku sendiri.
Semoga ku kuat tak bertemu dengannya hingga pekan depan. Tentunya saat Ujian Kenaikan Kelas nanti.
Mario POV end
***