Grup Geje

1537 Words
Waktu terus bergulir, membawa langkah- langkah kecil itu merajut cita. Meninggalkan goresan- goresan luka, dan memang harus segera ditinggalkan. Tak ada gunanya ratapi semua itu. Karena hidup harus terus berjalan maju, waktu pun enggan bernegosiasi untuk diajak berjalan mundur walaupun hanya sepersekian detik. *** Mereka mulai menyibukkan diri dengan beberapa organisasi ektrakulikuler di sekolah. Menyibukan diri dengan segala aktivitas. Mempersempit ruang pikir untuk diisi hal konyol yang tak ada gunanya. Menutup lembaran kelabu, dan mengukir sejarah yang baru. "Kamu pilih organisasi pa Sri?" "Kayanya yang komputer itu aja deh. Biar bisa selalu deket sama Kak Dean.." jawab Sri Lebay. "Cckk.. Kamu ini.." Nisa berdecak "Kalo kamu?" "Kayanya PMR, PASKIBRA, dan komputer club" "Banyak bangeeeettt..." "Ya lihat- lihat ja dulu. Nanti di sesuaikan mana yang lebih baik". "kalo kamu Rio?" tanya Sri pada Mario yang tiba- tiba mendekati meja Nisa, seperti biasa. "Ada deh.., mo tau aja ato mo tau banget?" Candaan receh Mario. Buat kedua gadis itu mendengus kesal. "Up to you...! Ga penting juga. Siapa elo...!?" balas Sri jengah. Itulah cara mereka menjalin komunikasi. Nampak sangat menyebalkan. Terlebih ke konyolan banyolan- banyolan Mario. Disadari atau tidak, sedikit banyak, itu jadi hiburan tersendiri bagi Anisha. Hingga perlahan mulai mencair. *** Ternyata Mario pun ada hampir di setiap eksklul yang Anisha pilih. Begitu pula dengan Ferdi, sahabat Mario. Berbeda dengan Aldiano, ia hanya ambil satu ekskul saja. Dan itu PMR. Di sinilah Anisha bertemu dengan lebih banyak teman yang tentunya lebih fokus dalam hal keorganisasian. Dan itu lebih membuatnya nyaman. Ketimbang obrolan ngalor ngidul seputar masa remaja yang tidak pernah dinikmatinya. "O..., dari kelas yang sama toh...?" goda salah satu dari mereka, saat mendapati interaksi antara Mario dan Nisa. Mereka tak percaya bila tak ada apa- apa di antara dua anak manusia ini. Kemistri yang mereka bilang, dan entah apa lagi. Namun seperti biasa Anisha Shanum hanya mengacuhkan semua itu. Ferdinand pun tak ketinggalan menggoda sahabatnya itu. Di sinilah mereka sekarang dalam wadah organisasi yang sama, PMR. Tentu Aldiano ada di sana, tapi Nisa pun sudah tak peduli dengan pencarian konyolnya itu. Senja menjelang, mengantar mereka menuju rumah masing- masing. *** Cukup padat jadwal organisasi Nisa. Setelah PMR kemarin, hari ini Anisha tak pulang. Ia bersama teman- teman computer club-nya akan mengikuti pengukuhan anggota baru, tentu saja itu untuk Anisha beserta teman- teman satu tingkatnya. Di tempat ini ia bertemu dengan Erika, teman barunya. Karena Sri lebih memilih mundur, entah karena apa. "Ke kantin yuk Ka.." ajak Nisa pada Erika "Yuk, aku juga laper nih.." Mereka berjalan beriringan. Terdengar siulan siulan yang memekakan telinga, yang tertuju pada ciri- ciri khas yang ada pada diri Anisha. Saat ia memasuki kantin sekolah. Namun tak dihiraukannnya. "Ke kamu itu Nis.." bisik Erika. "Cckk.. Kamu ini.." Nisa berdecak kesal. Erika terkekeh. Memilih tempat duduk agak jauh dari grup rempong. Berharap bisa mengganjal perut sedikit tenang. Walaupun pada kenyataannya, tidak. "Pulang bareng Nis?" tanya Mario yang tiba- tiba, membuat Anisha terlonjak. "Yaaaaa..., penonton kecewa deeeeehh...dah ada gandengannya Brooo...." terdengar suara riuh di belakang mereka. Sekali lagi Anisha tak hiraukan itu. "Don't worry guys, sebelum janur kuning melengkung. Kesempatan masih terbuka lebar... Ya gak... Ya gak..." sahut yang lainnya. "Ehmm... Aku ada acara TCC.." ujar Anisha. "O..., pulang jam berapa? aku pun ada kegiatan OSIS..." Kejar Mario. "Kayanya... besok deh, soalnya hari ini pengukuhan anggota baru, and acaranya sampai malam". Jelas Anisha. Di angguki Erika pula. Nampak raut kecewa di wajah Mario. Tapi tak lama, lantas tersenyum. "Ya udah, aku ke sana dulu ya.." Lanjut Mario, menunjuk ke arah Kakak kelas yang melambaikan tangan ke arahnya. Nisa mengangguk. "Siapa Nis...?" Tanya Erika "Temen sekelas" jawab Nisa singkat. "Temen apa Demen...?" goda Erika. "Temen thok.." jawab Nisa. "Dih dari tatapannya ja beda. Menyiratkan perasaan ke kamu banget Nis, apalagi perhatiannya itu. Sampai mo nungguin selesai kegiatan cuma karena mo pulang bareng. Uhh so sweet bangeeeettt tau ga sih...". "Apaan sih kamu ni Ka..." elak Anisha. "Tu kan..., Tu kan..., mukanya aja langsung merah gitu" belum puas mengoda Anisha.. "Udah ah, kita ke mushola, sholat asar dulu.." Nisa ngeloyor duluan, coba sembunyikan wajahnya yang memerah. Walaupun sebenarnya percuma. Erika terkekeh mengekor di belakang, mengejar Nisa. Sepertinya grup rempong yang tadi dikantin pun mengikuti. Karena back sound tetap nyaring terdengar. Namun Anisha tetap tak terpengaruh. "Ngikutin kamu tuh Nis..." begitu Erika mensejajarkan langkahnya dengan Nisa. "Dah ah. Kita sholat dulu, bentar lagi kegiatannya mulai loh.." Jawab Nisa jengah. "Dasar gak peka..." Erika menggerutu. Nisa hanya geleng kepala.. Ada Mario di sana di shaf terdepan, yang sempat tertangkap sudut mata Anisha saat memasuki pintu mushola. Tapi lagi- lagi Anisha mengelak. Tak beri ruang untuk bisikan apapun itu. *** Mario POV on Risih?! Jelas, mendengar cowok- cowok sss rese menggoda Anisha. Bukanya tak tahu jadwal kegiatan Anisha. Aku hanya ingin beri mereka peringatan. Menarik sedikit garis, agar sedikit jaga sopan santunnya. Ku putuskan menghapiri Anisha dan temannya.. "Pulang bareng Nis?" tanya ku yang tiba- tiba, yang membuat Anisha terlonjak. "Yaaaaa..., penonton kecewa deeeeehh...dah ada gandengannya Brooo...." terdengar suara riuh di belakang mereka. Sekali lagi Anisha tak hiraukan itu. "Don't worry guys, sebelum janur kuning melengkung. Kesempatan masih terbuka lebar... Ya gak... Ya gak..." sahut yang lainnya. "Ehmm... Aku ada acara TCC.." ujar Anisha. "O..., pulang jam berapa? aku pun ada kegiatan OSIS..." Kejar ku. "Kayanya... besok deh, soalnya hari ini pengukuhan anggota baru, and acaranya sampai malam". Jelas Anisha. Di angguki Erika pula. "Ya udah, aku ke sana dulu ya.." Lanjut ku, menunjuk ke arah Kakak kelas yang melambaikan tangan ke arahnya. Nisa mengangguk. Mario POV end *** Menjelang Magrib, kegiatan rehat sejenak. Anisha dan Erika kembali menuju Mushola, melepas penat di teras, sembari melepaskan alas kaki. Dari jauh tampak Mario yang keluar dari ruang OSIS. Di lengannya tampak memangku beberapa barang, tersenyum dan mengangguk ke arah Anisha saat beradu tatap. Nisa pun lakukan hal serupa. "OMG. sampe segitunya si Cinta.." desis Erika yang ternyata tak luput menangkap penomena kecil tadi. Anisha hanya mendengus kesal dengan ke kepo-an Erika. "Sekre OSIS mo di pindahin ke ruang itu.." Ujar Mario yang tiba- tiba. Buat Nisa terlonjak. "Astagfirullah Rio, kamu tu ya mirip jailangkung tau ga, suka banget datang tiba- tiba..". Sembur Nisa. Sementara Erika sudah asyik terkekeh disamping Nisa. "Sorry..." cicit Mario. Menggaruk tengkuk. Sambil terkekeh. Di sisi lain grup rempong baru saja tiba. "Dilarang PACARAN DI MESJID!!!" Ujar salah satu dari mereka. Sambil membawa selembar kertas karton bertuliskan 'Dilarang PACARAN DI MESJID'. "Mushola, gehu..!" ujar lainnya, noyor kepala yang ngomong barusan. "Bodo, yang penting pesannya sampe. 'Dilarang PACARAN'" sambarnya tak mau kalah. "Ah bilang aja Lu jealous, gitu aja ribet.." Sekilas Mario melirik ke arah grup rempong absurd itu. Nisa memberikan isyarat pada Mario melalui matanya, seolah bilang. "Ga usah di hiraukan grup absurd itu". Lantas beranjak menuju toilet. Mario mengangguk. *** Anisha POV on Selepas isya kegiatan kembali berlanjut. Sesekali aku melirik ke arah ruang OSIS, memang nampak masih sibuk, lampu pun masih benderang. Sekilas memang ku lihat Mario masih beraktivitas di sana. 'kenapa Mario belum pulang?' "Gue pilih Neng Nisa patnernya.." Ujar salah satu grup rempong, yang tadi berkoar 'Dilarang Pacaran' itu. Secepat kilat menclok di sebelah ku. Membuat Erika terlonjak dari posisinya, dan mendengus sebal. Karena harus pindah tempat. Ya ini saatnya game, selingan sebelum materi keorganisasian di lanjut oleh pembina Club. Yang belum datang. Sambil nunggu Pembina Club hadir digelarlah game Geje ini. "Mau ya, mau ya..." tanya si absurd pada ku. Di sahut sorak peserta yang lain. Ku hela napas, jengah, lagi- lagi bertemu dengan macam pria seperti ini. Mau tak mau permainan berlanjut, bahkan tanpa persetujuan ku. Si absurd itu berlagak menyampaikan cinta pada ku. Tepukan dan sorakan, serta teriakan yang menuntut ku "terima" menggema penuhi ruangan. Ku coba mencari jalan untuk menyelamatkan diri, tanpa sengaja netraku menatap Mario yang melintas di depan ruangan itu. Tatapan kami sempat bertemu. Dan sepertinya arah pandangan ku tertangkap si absurd. "Loh memangnya OSIS ada acara ya?" tanyanya ke teman di belakangnya. Yang ditanya hanya gedikkan bahu. Beruntungnya aku, karena moderator, mengakhiri season game geje ini. Karena Pembina Club telah hadir. "Huuhhff..." ku hembuskan nafas lega. Erika pun kembali ke sebelah ku. Karena si absurd pun dah kembali ke alamnya. "Saraf tu orang" bisik Erika pada ku. "Banget.." sahut ku. *** Semua acara telah selesai. Erika, Nisa dan lainnya tengah bersiap pulang saat ini. Tapi tak Nampak Mario. Akhirnya mereka membubarkan diri menuju rumah masing- masing. *** Hari minggu... Nampak begitu ramai pengunjung di rumah yang Nisa tempati. Tentu saja... Bapak Nisa sebagai salah satu penata rambut ternama di kotanya. Mengelola sebuah salon. Pasti di hari minggu jadi sasarannya para sosialita. Pemandangan itulah yang menyambut Nisa begitu tiba dirumahnya. Mengangguk sopan pada mereka yang sedang beraktivitas, lantas berlalu menuju lantai dua bangunan itu. Meninggalkan sementara hiruk pikuk para sosialita, menuju kamarnya, merebahkan diri melepas lelahnya. *** "Nis, bantu Bapak jaga kassa ya.." pinta Bapak, begitu Nisa keluar dari kamar mandi. Nisa Mengangguk, lantas bersiap untuk turun. Begitulah rutinitas Nisa di luar jam sekolahnya. *** Dilain tempat Mario bergegas kembali ke sekolah, berharap Nisa masih ada disana, setelah tadi pergi karana harus membeli sesuatu keperluan ruangan OSIS baru, dan mengantar seorang kakak kelasnya yang tidak membawa kendaraan. Namun kecewa yang di dapat, sekolah sepi. Tak ada aktivitas apapun. Ia pun segera memacu si zein, tentu untuk pulang. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD