Sejak mendengar obrolan Teguh dan Aldiano tempo hari, Nisa sudah bertekad memupus harapannya tentang jawaban istikharohnya tempo hari.
Anisha tak ingin semakin jauh berharap, tentunya pada sesuatu hal yang tidak pasti.
Namun tanpa Anisha sadari, Mario kian mendekat, kehadirannya mulai perlahan mampu menerbitkan sedikit demi sedikit senyuman yang sempat hilang itu. Meski Anisha kian mencoba menyangkalnya.
Mario mampu buat hari Anisha makin berwarna, tak hanya ekspresi datar saja kali ini. Tak jarang candaan Mario buatnya tersenyum, kesal, marah bahkan tertawa serta ekspresi lainnya.
Segala hal tentang dirinya, Mario bagi pada Nisa, tanpa diminta. Membuat Anisha terkadang merasa aneh dengan maksud di balik sikap Mario itu. Apa Mario se-oven bar ini pada semua orang. Tapi biarlah, kali ini Nisa jadi pendengar yang baik saja.
"Nis..., masih ingat Anton?" teguh tiba- tiba mengintrupsi aktivitas Nisa dan Mario.
Seolah baru saja terkena tembak peluru nyasar. Anisha serta merta mematung, menghentikan aktivitasnya, fokusnya tiba- tiba hilang, dadanya begitu sakit, emosi yang biasa datar kini terasa menyeruak dari lapisan paling dalam pertahanan dirinya. Berputar- putar membentuk pusara p****g beliung yang kian nampak. Kilasan itu kembali berputar di benaknya.
"Nis..., Anton titip salam buat Lo.. Kemarin kita ketemu gak sengaja waktu jum'atan di mesjid agung.." papar Teguh dengan wajah tanpa dosanya...
Mario menyadari perubahan iklim tersebut memilih undur diri perlahan kembali ke mejanya. Sembari menajamkan pendengarannya. Seperti biasa. Terlebih setelah perubahan raut Nisa. Mario tak ingin apapun itu menyakiti Anisha-nya. Tapi bukan wilayahnya ikut campur dalam hal ini. Mungkin belum saatnya. Fikir Mario.
Sementara Teguh menempati posisi yang Mario tinggalkan.
"Menurut kabar yang pernah gue denger, kalian sempat jadian ya...?" tanya Teguh sungguh sangat tidak peka..
Anisha hanya memaksakan senyum tipis, nyaris tak terlihat. Menekan d**a yang sesak. Tanpa ingin menjawab pertanyaan tersebut.
"Tapi gue denger juga dia cowoknya Putri..? Yang mana yang bener sih?.." lanjut Teguh, si cowok tak peka itu.
Rasanya magma yang selama ini Nisa pendam nyaris meledak..
Untung saja Teguh segera menyingkir, karena ada yang berteriak, Pak Yusuf tengah menuju kelas.
Braaakkkk..
Anisha menyalurkan emosinya pada meja di depannya. Hingga Sri yang hampir saja duduk tersentak kaget..
"Hei what happened guys? I don't care who is he.. Anton, Arnold.. Atau siapa pun, Gue lebih seneng kalo liat Lo sama Mario.. Lo bisa senyum kalo sama Mario, gak kaya Lo yang sekarang ini, bahkan cuma karena denger namanya di sebut aja. Sampe lukain diri sendiri.. Dah lupain si b******k itu, meski gue ga tau apa yang terjadi, tapi gue lebih setuju Lo ama Mario" cerocos Sri. Yang tak sengaja mengamati sejak Teguh membawa kabar tadi.
Diam- diam Mario merasakan hatinya begitu sakit menyaksikan pemandangan tersebut. Sampalah ia pada kesimpulan awal tentang Anisha.
***
Anisha POV on
"Nis..., masih ingat Anton?" teguh tiba- tiba mengintrupsi aktivitas ku dan Mario.
Seolah baru saja terkena tembak peluru nyasar. Aku serta merta mematung, menghentikan aktivitas, fokusku tiba- tiba hilang, dadaku begitu sakit, emosi ku yang biasa datar kini terasa menyeruak dari lapisan paling dalam pertahanan diriku. Kilasan itu kembali berputar di benakku.
"Nis..., Anton titip salam buat Lo.. Kemarin kita ketemu gak sengaja waktu jum'atan di mesjid agung.." papar Teguh dengan wajah tanpa dosanya...
Mario sepertinya menyadari perubahan iklim memilih undur diri perlahan kembali ke mejanya.
Sementara Teguh menempati posisi yang Mario tinggalkan.
"Menurut kabar yang pernah gue denger, kalian sempat jadian ya...?" tanya Teguh sungguh sangat tidak peka..
Ku paksakan senyum tipis. Menekan d**a yang sesak. Tanpa ingin menjawab pertanyaan tersebut.
"Tapi gue denger juga dia cowoknya Putri..? Yang mana yang bener sih?.." lanjut Teguh, si cowok tak peka itu.
Rasanya magma yang selama ini ku pendam nyaris meledak..
Untung saja Teguh segera menyingkir, karena ada yang berteriak, Pak Yusuf tengah menuju kelas.
Braaakkkk..
Ku salurkan emosi yang selama ini ku pendam pada meja di depanku. Hingga Sri yang hampir saja duduk tersentak kaget..
"Hei what happened guys? I don't care who is he.. Anton, Arnold atau siapapun.. Gue lebih seneng kalo liat Lo sama Mario.. Lo bisa senyum kalo sama Mario, gak kaya Lo yang sekarang ini, bahkan cuma karena denger namanya di sebut aja. Sampe lukain diri sendiri.. Dah lupain si b******k itu, meski gue ga tau apa yang terjadi, tapi gue lebih setuju Lo ama Mario" Cerocos Sri. Tiba- tiba. Sepertinya dia mengikuti pembicaraan Teguh baru saja..
Aku hanya membisu. Mendengar penuturan Sri.
Ku lirik sekilas ke arah Mario. Dia nampak termenung. Entah apa yang dia pikirkan, berusaha tampilkan senyum khasnya saat tatapan kami bersibobrok.
Ku tarik tatapan ku, meratapi ke tidak mampuanku menguasai emosi, hingga akibatkan layar jam di pergelangan tanganku remuk redam. Namun tak cukup gambarkan betapa sakit dan hancurnya hatiku karena Anton.
Benar apa yang Sri katakan. Tapi rasa kecewa dan sakit yang ditorehkannya itu masih terasa begitu nyata di dadaku. Dan setiap kali aku berusaha untuk ikhlas, hingga aku memilih jalan sendiri, melangkah ke arah yang berlawanan dengannya, seenak jidat dia hadir tanpa di undang. Apa maksudnya? Apa maunya? Kemana saja dia dari dulu?
Dan tentang Mario, entahlah apa maksud Sri. Kami hanya teman, aku hanya merasa nyaman. Karena dia sopan. Menghargai ku, tak seperti kebanyakan pria yang selama ini berusaha dekat dengan ku.
Anisha POV end
***
Mario POV on...
"Nis..., masih ingat Anton?" teguh tiba- tiba mengintrupsi aktivitas ku dan Nisa.
Seolah baru saja terkena tembak peluru nyasar. Nisa serta merta mematung, menghentikan aktivitas, fokusnya tiba- tiba hilang, pena yang semenjak tadi di pegangnya tiba- tiba terjatuh begitu saja. dadaku begitu sakit mendapati hal itu.
Anisha ku yang mulai bisa lebih sering tersenyum, tiba- tiba menjadi patung hidup lagi. Tanpa ekspresi... Wajahnya merah padam, namun kali ini bukan tersipu karena kalimat candaan recehku, melainkan karena kemarahan yang sepertinya memuncak.
"Nis..., Anton titip salam buat Lo.. Kemarin kita ketemu gak sengaja waktu jum'atan di mesjid agung.." lanjut Teguh dengan wajah tanpa dosanya...
Aku menyadari sepenuhnya perubahan iklim tersebut memilih undur diri perlahan kembali ke mejaku. Memberikan ruang dan waktu untuk mereka. Sembari menajamkan pendengarannya. Seperti biasa. Mempelajari dan mencari sekian banyak jawaban atas pertanyaan- pertanyaannya tentang Anisha Sanum. Terlebih setelah perubahan raut Nisa. Hati kecilku tak tega, namun Aku tak bisa hentikan itu. Belum saatnya aku terlibat.
Sementara Teguh menempati posisi yang ku tinggalkan.
"Menurut kabar yang pernah gue denger, kalian sempat jadian ya...?" tanya Teguh sungguh sangat tidak peka..
Nisa hanya memaksakan senyum tipis, nyaris tak terlihat. Menekan d**a yang yang sepertinya terasa sesak. Tanpa menjawab pertanyaan tersebut.
"Tapi gue denger juga dia cowoknya Putri..? Yang mana yang bener sih?.." lanjut Teguh, si cowok tak peka itu.
Rasanya ingin sekali ku tarik dan hajar si cowok tak peka itu. Yang menyebabkan Anisha seperti ini. Untung saja Teguh segera menyingkir, karena ada yang berteriak, Pak Yusuf tengah menuju kelas.
Braaakkkk..
Anisha menyalurkan emosinya pada meja di depannya. Hingga Sri yang hampir saja duduk tersentak kaget, begitupun dengan ku.
"Hei what happened guys? I don't care who is he.. Anton, Arnold.. Atau siapa pun, Gue lebih seneng kalo liat Lo sama Mario.. Lo bisa senyum kalo sama Mario, gak kaya Lo yang sekarang ini, bahkan cuma karena denger namanya di sebut aja. Sampe lukain diri sendiri.. Dah lupain si b******k itu, meski gue ga tau apa yang terjadi, tapi gue lebih setuju Lo ama Mario" cerocos Sri. Yang sepertinya mengamati sejak Teguh membawa kabar tadi.
Sungguh hati ku sakit menyaksikan pemandangan tersebut. Dan menerka- nerka.
'Apa ini sebabnya, Anisha begitu menutup diri?'
'Apa yang dilakukan Anton hingga Nisa seperti ini?'
'Seperti apa tampang pria b******k itu hingga Nisa nampak begitu sakit, dan itu cukup beriku gambaran betapa dalam cinta Anisha pada pria berengsek itu?'
'Aahk... Whatever.. Semoga aja aku jadi takdir sembuhkan lukanya...'
Tak ku pungkiri, hatiku memanas mendapati fakta Anisha memang masih memiliki perasaan yang dalam pada pria b******k bernama Anton itu. Dan itu nampak sangat jelas dari rautnya, tergambar rasa sakit yang mendalam.
Jujur aku iri sekaligus marah dengan si b******k Anton itu. Iri karena dia cukup beruntung bisa mendapatkan hati Anisha, sekaligus marah karena si b******k itu tak pandai menjaga dan hargai hati yang begitu rapuh milik Anisha.
Bahkan Anisha masih nampak murung hingga jam pelajaran usai hari ini.
"Nis pulang bareng?" tanyaku beranikan diri. Sungguh aku takut terjadi hal buruk dengan kondisinya yang kalut seperti ini.
"Nis.., ehm.. Sekalian mo minta anter sih, ada yang mo gue beli di toko buku.." bohongku, karena hanyalah kebisuan yang ku dapat dari Nisa.
"Ya bener Nis, kamu ikut Mario ja. Sejalur kan sama toko buku itu..?" tutur Sri.
Anggukan kecil pun nampak. Meski tanpa kata, namun cukup buat ku lega. Setidaknya bisa ku pastikan Nisa aman bersama ku hingga tiba di rumahnya.
Keheningan sepanjang perjalanan kami, hingga aku berinisiatif hentikan si zein di salah satu food counter.
"Nis, kita makan dulu.." ajak ku. Tak ingin dibantah. Berharap dengan makan bisa sedikit perbaiki mood-nya.
Masih keheningan yang menemani kami. Ku lihat Nisa sedikit mempercepat makannya, lantas beranjak, aku paham itu.
"No.. Gue yang bayar". Cekal ku di lengan baju Anisha, yang hampir beranjak itu.
Nisa hanya hembuskan napas yang nampak berat, lantas kembali duduk.
"Anggap ja, ucapan terima kasih, karena dah mau anter" lanjut ku. Mengerlingkan mata sedikit menggodanya.
Lagi- lagi hanya anggukan pelan, namun kali ini dengan senyuman tipisnya.
Mario POV end
***