Rintik melangkahkan kakinya dengan terburu-buru, memasuki ruang guru karena dipanggil oleh Pak Budi— pembimbing jurnalistik. Entah hal apa yang Pak Budi ingin bahas sampai membuat waktu istirahat Rintik menjadi terganggu, awas saja kalau tidak penting, sudah Rintik gantung Pak Budi di tiang bendera. Setelah memasuki ruangan dengan dinding berwarna putih bersih Rintik langsung mencari tempat duduk Pak Budi, tempat duduk yang sudah terlalu sering ia datangi, sampai hapal di luar kepala. "Ada apa, Pak? Kenapa bapak memanggil saya?" tanya Rintik tanpa basa-basi. Pak Budi yang sedang mengoreksi jawaban-jawaban muridnya langsung mendongak ke atas, melihat wajah sang ketua ekskul mading itu. "Duduk, Rintik. Ada yang ingin bapak bicarakan di sini." Sesuai perintah Pak Budi, Rintik pun duduk di hadapan Pak Budi, menunggu Pak Budi angkat bicara untuk membahas apa yang perlu dibahas. "Jadi begini, Teratai sudah bilang ke bapak kalau semua formulir sudah dikumpulkan, sudah diseleksi juga siapa yang lolos dan siapa yang tidak. Apakah kamu sudah yakin dengan keputusanmu itu? Jurnalistik merupakan ekstrakulikuler yang gampang-gampang susah, Rintik. Bukan seberapa hebat mereka dalam menjawab soal, membuat puisi, membuat cerpen, namun seberapa kuatnya mereka bisa diskusi tanpa emosi, seberapa kuatnya mereka bisa bekerja sama dengan tim, bisa menyelesaikan waktu sesuai deadline atau bahkan sebelum deadline." Rintik mendengar apa yang Pak Budi katakan, benar adanya seperti itu. Jurnalistik itu ekstrakurikuler yang melatih kesabaran, kedisiplinan, kerja sama, dan banyak lagi. Bukan hanya paham dialog tag saja, atau bahkan paham diksi saja. Jauh lebih rumit dari itu semua. "Saya sudah mengoreksi semua jawaban yang mereka kirimkan, Pak. Saya juga sudah mendiskusikan tentang anak-anak yang diterima dengan anak-anak mading yang lainnya, melihat bagaimana sikap mereka di sekolah, apakah mereka ada pengalaman buruk atau tidak. Saya sudah menyelesaikan semuanya, Pak." Pak Budi tersenyum lebar, menjadikan Rintik sebagai ketua ekskul memang hal yang paling tepat, Rintik pandai dalam segala hal yang berkaitan tentang sastra. Rintik juga paham bagaimana cara berdiskusi yang baik walaupun gadis itu kadang ingin menang sendiri dan merasa dirinya paling sempurna. Rintik juga anak yang aktif dan rajin. Selalu melakukan apapun jauh dari deadline. "Bagus, tapi tolong kamu koreksi lagi, ya. Bandingkan lagi juga sama anak-anak yang kamu tolak, siapa tau ada yang jauh lebih baik dan bisa masuk ke jurnalistik. Pokoknya jurnalistik kali ini harus lebih baik, harus lebih rajin, dan harus lebih produktif." "Baik, Pak. Saya permisi dulu." *** Rintik mengetukkan pulpennya ke dagu, memikirkan apa yang Pak Budi sampaikan tadi, sewaktu mereka berdiskusi. Rintik harus memikirkan bagaimana caranya menerima anggota jurnalistik yang baik, menimang-nimang lagi supaya mendapatkan hasil yang sempurna. Jarum jam saat ini menunjukkan pukul tujuh malam, namun Rintik masih diam di ruangan favoritnya, ruang jurnalistik. Rintik masih menghidupkan laptop, masih menatap ke arah lembar yang berserakan di hadapannya. Rintik juga masih harus mengedit beberapa naskah yang masuk ke penerbit miliknya. Satu hal yang saat ini menjadi pikiran terbesar Rintik yaitu Dava. Apakah Rintik harus menerima Dava? Apakah Rintik harus menerima pacar dari Naya tersebut? Rintik juga memikirkan apa yang Teratai ucapkan tadi, katanya Dava dan Naya adalah sepasang kekasih. Mereka tidak seharusnya dipertemukan dalam ekstrakulikuler yang sama. Mereka juga tidak seharusnya menjadi satu tim. Rintik paham betul bagaimana sikap dan sifat Naya. Naya yang senang bergonta-ganti cowok, lalu bermusuhan dengan mantan. Apakah jika nanti Naya dan Dava putus Naya akan membenci Dava? Bermusuhan dengan Dava dan meninggalkan tim jurnalistik? "Wey, Ibu! Bengong mulu lo." Seorang gadis dengan cengiran khasnya datang, membuat lamunan Rintik buyar. Gadis itu adalah Teratai. Memang hanya Rintik dan Teratai yang masih di sekolah, mereka masih harus diskusi untuk penerimaan besok. Menyeleksi lagi siapa yang pantas masuk tim jurnalistik. Karena waktu sudah malam dan mereka belum makan malam, makanya Teratai pergi untuk beli makan di dekat sekolah. Sebenarnya niat awal mereka go food, namun ongkos kirim yang mahal menjadi pertimbangan yang besar. Ongkos kirimnya lumayan buat beli bensin. "Lagi mikirin apa sih, Bu?" tanya Teratai sambil mengambil mangkuknya, mangkuk favorit yang selalu ada di laci meja kebanggaannya. Gadis itu menuangkan mie ayam yang ada di plastik ke dalam mangkuk, meracik berbagai macam bumbu yang ada juga. Ada saos, sambal, dan kecap. "Omongannya Pak Budi sama omongan lo masih terngiang-ngiang di benak gue, Anjir! Kita terima Dava enggak, ya? Kayak yang lo omongin tadi, takutnya Dava sama Naya putus dan salah satu dari mereka keluar, malapetakanya lagi mereka berdua keluar. Makin banyak beban gue." Rintik menceritakan keluh kesahnya, keluh kesah di mana pikiran-pikiran negatif terus bermunculan. Yang menjadi poin penting saat ini yaitu, mengapa hubungan Dava dan Naya malah dipikirkan oleh Rintik? Bukankah seharusnya Rintik tidak ikut campur? Tetapi hubungan mereka bisa menjadi pengaruh di tim jurnalistik. Entahlah, pusing kepala Rintik yang ada. "Terima ajalah, Rin. Toh kita semua udah sepakat, kan. Kita tinggal print aja nama-nama yang kepilih terus dipasang di mading supaya besok pagi mereka liat hasilnya. Selesai makan kita langsung pulang aja, semua yang kita putusin udah bener, kok. Mereka gak ada catatan buruk di BK, jadi gue yakin mereka bisa diajak kerja sama." Teratai itu ingin cepat pulang, ingin berendam di bathtub miliknya dan merasakan aroma strawberry yang menyegarkan. Setelah itu rebahan di kasur empuknya, sambil main ponsel dan menonton film di televisi. Uh, tidak sabar jadinya. "Oke, nanti gue print. Sekarang makan dulu aja, ya." Rintik menatap ke arah Teratai yang sudah memakan mie ayamnya, menggeleng dengan heran. Pasalnya semenjak tadi Rintik menghadap ke laptop terus-menerus sehingga tidak melihat apa aktivitas yang Teratai sedang lakukan. "Mie ayamnya Pak Kamso emang gak pernah salah, gila sih, enak banget." Teratai itu pecinta mie ayam garis keras. Semua jenis mie ayam pasti Teratai suka. "Yang salah kan lo, makanya mie ayam gak salah," cetus Rintik mengomentari omongan Teratai. "Dih, sirik bae lo! Udah sana lo makan biar kenyang, daripada sirik ke gue gak bakalan kenyang, yang ada gue yang tambah kenyang." "Bodo amat, gak denger gue pakai kacamata." Rintik mulai menuangkan mie ayam yang ada di plastik ke dalam mangkuk, gadis itu menyuapkan mie ayam ke dalam mulutnya, merasakan kenikmatan mie ayam yang sangat favorit. Mie ayam legendaris yang selalu terkenal di SMA Insan Muria. Mie ayam dekat gang dengan nama penjual Pak Kamso.