Rintik memasuki ruang jurnalistik sebelum memasuki ruang kelasnya. Ruang jurnalistik adalah ruangan pertama di sekolah yang akan Rintik kunjungi, melihat berapa persen lagi semua bisa dipasang di dinding sekolah. Kurang apa saja yang harus dipublikasikan di web sekolah, dan banyak lagi lainnya.
Rintik selalu berangkat pukul enam pagi, dan satu jam berada di ruang jurnalistik untuk melihat perkembangan, mengedit beberapa artikel, cerbung, cerpen, puisi, dan lainnya yang belum diedit juga. Setelah itu jika sudah pukul tujuh pagi ia kembali ke kelasnya, lima belas menit ia membuka buku untuk mempelajari apa yang akan dibahas, walaupun malamnya Rintik sudah mereview semuanya.
"Rin, semenjak kapan lo buka pendaftaran tim jurnalistik? Tadi pagi banyak banget yang minta ke gue formulirnya, bahkan seorang Dava Danaraja mau daftar juga, loh." Teratai itu teman satu angkatan Rintik, wakil ketua jurnalistik. Tangan kanan Rintik juga.
Tera adalah nama singkat gadis itu. Ra adalah panggilan yang Rintik selalu gunakan untuk gadis itu.
"Kemarin Naya bilang ke gue katanya Dava berkompeten di bidang dokumentasi, dan setidaknya gue bisa lebih ringan tugasnya, kan? Terus juga kelas dua belas udah mundur, kan? Mereka udah pensiun, makanya gue pikir kita harus open pendaftaran lagi, Ra. Sorry ya gue belum sempat ngomong ke lo." Rintik menjawab, merasa tidak enak hati dengan Teratai. Seharusnya Rintik membicarakan hal tersebut dengan Teratai terlebih dahulu.
"Tapi gak gini caranya, Rin. Lo tau kan kalau Dava sama Naya itu jadian, mereka bisa pacaran dan gak serius di ekskul ini. Gue cuma gak mau di saat nanti mereka putus, mereka bubar, mereka keluar dari sini, dan kita semua hancur. It's okay lo ketuanya, lo yang berhak mutusin apapun, lo yang berhak membuat peraturan dan lainnya, tapi gue harus ikut campur, Rin."
Rintik mengerti mengapa Teratai seperti ini, Teratai itu tipikal orang yang tidak bisa diam, ia harus turut andil dalam hal apapun. Teratai tidak mau dan tidak suka jika dianggap santai dan tidak bertanggung jawab. Teratai adalah gadis yang disiplin dan bertanggung jawab, tidak suka dipandang sebelah mata.
Rintik juga mengerti apa yang dikatakan oleh Teratai, awalnya juga Rintik memikirkan hal yang sama, hal demikian. Namun, setelah melihat hasil dokumentasi dari Dava, Rintik menjadi paham. Dava itu memang berkompeten, Dava itu memang mempunyai pengalaman di dokumentasi.
"Gue paham sama apa yang lo omongin. Gue juga sebelum pendaftaran udah bicara sama Pak Budi. Pak Budi setuju, supaya tim kita gak cuma itu-itu aja. Tim kita terlalu sedikit, makanya kita sering telat terbit. Terus juga yang masalah mereka pacaran, gue juga mikirin hal demikian, tapi setelah melihat hasil dokumentasi dia, gue percaya dia emang mampu dan gak akan main-main." Rintik memberitahu.
Teratai mengangguk, setuju dengan apa yang dikatakan Rintik. Tidak usah meragukan kemampuan Dava di bidang dokumentasi, pasalnya Dava pernah menjabat sebagai ketua ekskul film di SMP. Dava juga sempat ditawari menjadi ketua di ekskul film SMA Insan Muria, namun entah mengapa dan apa sebabnya, Dava menolak mentah-mentah tawaran tersebut.
Teratai maju sejenak, menyalakan laptop miliknya sambil berkata, "Gue gak meragukan kemampuan Dava di bidang dokumentasi, Rin. Tapi lo tau sendiri sama Naya, kan? Masalahnya ada di Naya. Naya itu udah bolak-balik ganti cowok, dan kemungkinan dia bakalan resign kalau putus sama Dava. Gue bukannya ngedoain mereka putus. Tapi gue berbicara tentang fakta yang ada, lo sahabat Naya, gue yakin lo paham gimana sifatnya dia."
Rintik manggut-manggut, merasa benar atas apa yang dikatakan Teratai. Naya itu sering sekali gonta-ganti pacar. Dan satu kemungkinan yang memang mungkin terjadi kalau Naya putus dengan Dava adalah resign dari jurnalistik. Mengapa Rintik dan Teratai bisa berpikir demikian? Karena itu adalah prinsip seorang Nayara Senja Ranatasya, mantan itu tidak pantas diajak berteman.
"Kita lihat aja nanti, kalau Naya resign ya udahlah, biar gue aja yang gantiin dia," sahut Rintik menggampangkan. Semua kesulitan yang dihadapi oleh tim jurnalistik memang selalu ditangani dengan baik oleh Rintik.
Teratai sampai heran, apa di hidup Rintik tidak ada yang namanya kebingungan? Apa di hidup Rintik tidak ada yang namanya pusing? Semua masalah selalu saja digampangkan.
***
Dava sudah mengisi semua pertanyaan yang ada di formulir, pria itu berjalan memasuki ruang jurnalistik dan mengetuk pintu ruangan itu dengan hati-hati. Dapat dipastikan semua tim sedang rapat di sana, terbukti dengan adanya sepatu-sepatu yang berjejeran di rak.
"Masuk!" Itu suara Rintik yang menginterupsi. Suara yang tegas dan selalu berwibawa, tanpa berlama-lama Dava pun langsung membuka pintu dan memasuki ruangan itu.
Ruangan yang cukup luas itu ramai orang, mungkin ada sepuluh orang, ada Naya yang sedang tersenyum manis kepadanya juga.
Dava mendekati Rintik, memberikan formulir yang sudah ia isi dengan baik. "Gue udah isi ini semua. Kemarin kata lo, gue harus nemuin lo."
Rintik diam, tak membalas hal tidak penting itu, gadis itu membaca formulir dan langsung menutupnya, alasan basi. Entah mengapa Rintik tidak suka dengan alasan basi, katanya menjalankan hobi, ada yang bilang mengisi waktu luang, dan banyak lagi alasan basi lainnya.
Mengapa anak muda jaman sekarang tidak ada inisiatif untuk memberikan alasan yang lebih modern? Seperti ingin menjelajahi dunia sastra, memajukan sastra di Indonesia, turut mengembangkan sastra di era digital seperti ini. Atau mungkin turut menyumbang sesuatu yang bisa dibaca dan membuat minat baca Indonesia meningkat.
Rintik menarik napas dalam-dalam, memberikan formulir itu kepada Teratai yang duduk di bangku sebelahnya. Teratai pun sadar, jika seperti itu bisa dipastikan jawabannya tidak menarik.
Teratai menerima, tertawa kecil sejenak setelah membaca apa yang Dava tuliskan. Seratus persen dugaan Teratai benar, alasan klasik.
"Gimana menurut lo, Ra?" tanya Rintik dengan santainya. Di hadapan Rintik ada Naya yang melayangkan puppy eyes. Berharap Dava bisa diterima.
"Sabi gue, sih. Lagian Dava oke di bagian yang dia ambil, mungkin nanti bisa berbaur dengan tim, ya. Terus harus siap kejar target aja," balas Teratai dengan singkat, membuat senyum di bibir Naya langsung terbit. "Menurut lo sendiri gimana, Rin?" imbuhnya yang meminta saran Rintik.
Rintik menimang-nimang, memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan, tadi baru saja mereka selesai rapat, mencari sepuluh orang dari lima puluh orang yang bisa diterima di tim jurnalistik.
"Oke, gue terima lo jadi bagian tim jurnalistik. Jangan main-main sama kerjaan kita, ya. Santai boleh, tapi jangan terlalu santai, kita selalu dikejar tanggal terbit. Congrats jadi bagian dari satelit." Rintik menerima Dava, memberikan kesempatan untuk Dava memasuki tim jurnalistik.
Satelit—santun, tepat, literasi. Nama yang selalu menjadi kebanggaan anak jurnalistik. Memakai jas almamater berwarna biru dengan logo satelit menambah mereka semua lebih berwibawa.