Jika Anitya mengajarkan bahwa segala yang berbentuk akan hancur, maka Pralaya adalah saat di mana kehancuran itu sendiri menjadi sebuah tarian penciptaan kembali. Di era di mana Hutan Apung pun mulai menguap menjadi partikel cahaya, dan kemanusiaan telah berevolusi menjadi kesadaran kolektif tanpa raga, ruang lantai dua belas itu muncul kembali—bukan sebagai bangunan, bukan sebagai memori, melainkan sebagai titik koordinat nol dari seluruh emosi yang pernah ada di alam semesta. Kaya, yang kini telah melampaui usia manusia dan menjadi Sang Penjaga Frekuensi, berdiri di sebuah ruang hampa yang berpijar. Di tangannya, tidak ada lagi kuas atau gagang payung. Ia hanya memiliki niat. Di hadapannya, pusaran energi yang dulu dikenal sebagai Ayla dan Reza kini mulai meredup, bukan karena mereka m

