Cahaya Pertama

850 Words

Suara ombak yang menghantam dinding tebing Uluwatu menjadi alarm alami bagi Ayla pagi itu. Sinar matahari menerobos masuk melalui celah gorden sutra yang sengaja dibiarkan sedikit terbuka, menciptakan garis-garis emas di atas lantai kayu villa. ​Ayla mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah beban hangat di pinggangnya—lengan kokoh Reza yang memeluknya posesif bahkan dalam tidur. Aroma maskulin bercampur sabun hotel yang mewah menyeruak, mengingatkan Ayla pada kejadian semalam. Bukan lagi mimpi, bukan lagi rencana di atas kertas; laki-laki yang napasnya beraturan di tengkuknya ini adalah suaminya. ​Ia berbalik pelan, berusaha tidak membangunkan Reza. Wajah Reza saat tidur terlihat jauh lebih muda dan tenang. Tidak ada kerutan serius yang biasanya muncul saat ia sedang bekerja

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD