Hari Bahagia

932 Words

Hari itu akhirnya tiba. Pagi di Uluwatu terasa berbeda. Angin laut membawa aroma garam dan kamboja yang lebih pekat dari biasanya, seolah alam ikut merayakan. Langit biru tanpa awan satu pun, laut di bawah tebing berkilau seperti permata safir—warna yang sama dengan cincin di jari Ayla. Ayla bangun lebih awal dari yang direncanakan. Jam lima pagi ia sudah duduk di balkon kamar pengantin, memandangi horizon sambil memegang secangkir teh hangat. Gaun putihnya tergantung di lemari kaca, veil panjangnya melambai pelan ditiup angin. Ia tak gugup—hanya penuh perasaan yang sulit dijelaskan. Campuran antara tak percaya, bahagia yang hampir menyakitkan, dan rasa syukur yang membuat dadanya sesak. Teman-teman dekatnya mulai berdatangan jam tujuh. Dita, sahabat sejak kuliah, langsung memeluknya er

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD