Persiapan yang Penuh Tawa dan Air Mata

1019 Words

Lamaran di bawah bintang Bali itu seperti membuka gerbang baru yang penuh warna. Begitu mereka pulang ke Jakarta, hidup langsung berubah jadi pusaran manis yang sibuk. Cincin safir biru di jari Ayla jadi pusat perhatian—teman kantor langsung heboh, grup w******p keluarga ramai, dan ibu Ayla di Bandung menelepon hampir setiap hari hanya untuk bilang, “Mama nggak nyangka anak Mama bakal nikah duluan.” Reza, yang biasanya pendiam, kini jadi lebih cerewet soal rencana. Malam-malam mereka sering duduk di kontrakan Ayla sambil buka laptop, scrolling Pinterest dan website wedding organizer. “Aku mau yang intimate aja,” kata Ayla tegas sejak awal. “Maksimal seratus undangan, nggak usah megah-megah.” Reza mengangguk setuju. “Aku juga nggak suka rame-rame. Yang penting kita nyaman, keluarga dekat

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD