Hari-Hari yang Manis

973 Words
Enam bulan pertama pacaran mereka terasa seperti mimpi yang tak ingin Ayla bangun darinya. Setiap pagi dimulai dengan pesan sederhana dari Reza: “Selamat pagi, cantik. Semoga hari ini lebih ringan dari kemarin.” Kadang disertai foto kopi yang sedang ia minum di mobil, atau foto langit Jakarta yang jarang biru. Ayla membalas dengan emoji hati atau selfie buram karena baru bangun. Teman sekantor sudah hafal, setiap ada notifikasi di ponsel Ayla, pasti Reza. “Pacaran kok kayak ABG,” goda Dita sambil nyengir. Ayla cuma balas tertawa. Memang benar. Ia merasa seperti remaja lagi—jantung berdegup lebih cepat saat mendengar suara Reza di telepon malam hari, pipi memanas saat Reza tiba-tiba muncul di depan kantor membawa es teh manis dingin di tengah hari panas. Reza punya kebiasaan kecil yang membuat Ayla jatuh lebih dalam setiap harinya. Ia selalu ingat hal-hal kecil yang Ayla sebut sekilas. Misalnya, saat Ayla pernah bilang suka sekali sama roti sobek cokelat dari toko roti tua di Senen, minggu berikutnya Reza muncul membawa sekantong penuh, masih hangat. “Aku lewat sana pagi-pagi, antre panjang banget,” katanya santai, padahal Ayla tahu toko itu buka jam lima pagi dan Reza pasti sengaja bangun lebih awal. Mereka juga mulai punya “tempat kita”. Selain kafe Kopi Kenangan yang jadi saksi pertemuan pertama, ada taman kecil di belakang masjid dekat kantor Ayla. Setelah jam kerja, kalau Reza tak terlalu sibuk, mereka duduk di bangku kayu sambil makan gorengan atau es kelapa muda. Kadang hanya diam, mendengar suara adzan maghrib, tangan saling genggam. Suatu sore, langit mendung lagi—seperti biasa. Mereka berteduh di bawah pohon beringin besar di taman itu. Hujan mulai turun pelan, tapi mereka tak bergerak. “Aku suka hujan bareng kamu,” kata Ayla tiba-tiba. Reza menoleh. “Kenapa?” “Soalnya dari dulu, setiap hujan datang, aku selalu ngerasa sendiri. Sekarang… nggak lagi.” Reza tak langsung jawab. Ia hanya tarik Ayla lebih dekat, pelukannya hangat di tengah udara yang mulai dingin. “Aku janji, selama aku ada, kamu nggak akan pernah kehujanan sendirian lagi.” Dan Ayla percaya sepenuhnya. Tapi tak semua hari selalu cerah. Konflik kecil pertama datang di akhir bulan keenam, saat ulang tahun Ayla. Ia tak terlalu suka dirayakan besar-besaran, hanya ingin makan malam berdua di tempat favorit mereka—warung sate kecil di Melawai yang selalu ramai. Ayla sudah bilang berkali-kali ke Reza: “Pokoknya sederhana aja, ya. Nggak usah kado mahal atau surprise party.” Reza mengangguk setuju, bahkan bilang, “Oke, sesuai permintaan ratu kecilku.” Hari H-nya, Ayla pulang kantor lebih awal, mandi, pakai baju favoritnya yang warna biru muda—baju yang pernah dipuji Reza. Ia menunggu di kontrakan sambil sesekali cek ponsel. Jam tujuh lewat, Reza belum datang. Biasanya paling lambat jam tujuh ia sudah di depan pagar. Pesan masuk: “Maaf ya sayang, meeting molor banget. Masih di kantor, mungkin telat satu jam.” Ayla menghela napas panjang. Ia mengerti, pekerjaan Reza memang sering tak terduga. Tapi hari ini ulang tahunnya. Ia membalas singkat: “Gpp, aku tunggu.” Jam delapan, Reza belum muncul. Pesan kedua: “Bentar lagi kok, lagi di jalan. Macet parah.” Jam sembilan lewat, Ayla sudah duduk di teras kontrakan sambil memeluk lutut. Perutnya keroncongan, tapi ia tak mau makan dulu. Ia mulai kesal—bukan karena lapar, tapi karena merasa diabaikan di hari yang seharusnya spesial. Akhirnya jam hampir sepuluh malam, mobil silver Reza berhenti di depan. Ia turun buru-buru, membawa sekotak kue tart kecil dan buket mawar merah. “Sayang, maaf banget telatnya,” katanya langsung sambil memeluk Ayla. “Meeting tadi beneran chaos, klien dari Singapura mendadak minta revisi besar.” Ayla diam sebentar, lalu mundur dari pelukan. “Aku udah bilang kan, aku nggak suka dirayain besar. Tapi paling nggak… datang tepat waktu dong, Za. Aku nunggu dari jam tujuh.” Reza terdiam. Ia tahu nada Ayla yang ini—bukan marah besar, tapi kecewa yang dalam. “Aku tahu aku salah,” katanya pelan. “Aku janji besok aku ambil cuti setengah hari, kita makan malam ulang tahun yang beneran, sesuai keinginan kamu.” Ayla menggeleng. Matanya mulai panas. “Bukan besok yang aku mau. Hari ini. Aku cuma pengen kita berdua makan sate biasa, ngobrol, pulang, terus pelukan kayak biasa. Tapi kamu telat tiga jam.” Reza mendekat lagi, kali ini memegang kedua tangan Ayla. “Aku bodoh banget. Maaf. Aku terlalu mikirin kerjaan sampe lupa yang paling penting.” Mereka diam cukup lama di teras itu. Hujan gerimis mulai turun lagi. Akhirnya Ayla menghela napas panjang. “Aku nggak marah karena telatnya doang. Aku takut… kalau nanti kita nikah, kamu juga gini terus. Kerjaannya selalu nomor satu.” Reza menatap Ayla dalam-dalam. “Nggak akan. Aku janji, Ayla. Kamu selalu nomor satu. Hari ini aku buktinya salah, tapi aku akan belajar.” Ia menarik Ayla ke pelukannya lagi. Kali ini Ayla tak menolak. Air matanya jatuh pelan di bahu Reza. Mereka akhirnya makan tart itu berdua di kontrakan—dingin karena sudah lama, tapi tetap dimakan sambil tertawa kecil saat krimnya belepotan di hidung Ayla. Malam itu berakhir dengan Reza tidur di sofa kecil kontrakan Ayla—karena Ayla bilang “masih ngambek sedikit”—tapi pagi-pagi ia bangun lebih dulu, membuatkan telur mata sapi dan kopi tubruk untuk Ayla. Konflik kecil itu tak menghancurkan apa pun. Malah membuat mereka lebih mengerti satu sama lain. Ayla belajar bahwa Reza bukan orang yang sempurna, tapi selalu berusaha. Reza belajar bahwa janji kecil seperti tepat waktu bisa berarti sangat besar bagi orang yang dicintai. Enam bulan itu tetap manis—dengan sedikit garam yang membuat rasanya justru lebih nyata. Dan setiap malam sebelum tidur, Ayla memandangi gelang payung kecil di tangannya, tersenyum sendiri. “Terima kasih, hujan,” bisiknya. “Kamu bawa dia, dan kadang juga bawa pelajaran kecil buat kami.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD