Jatuh Cinta di Tengah Hujan

665 Words
Dua minggu berlalu sejak pertemuan di kafe Kopi Kenangan, tapi Ayla masih sering teringat pria berpayung hitam itu. Wajahnya yang tenang, suaranya yang pelan, dan cara ia mendengarkan seolah-olah tidak ada hal lain di dunia ini yang lebih penting daripada cerita Ayla tentang deadline proyek yang gila-gilaan. Ayla mengira itu hanya akan jadi kenangan manis biasa. Jakarta besar, orang datang dan pergi. Tapi ternyata tidak. Pagi itu, ia sedang buru-buru mengejar kopi di kafe yang sama—kebiasaan baru yang ia buat sendiri tanpa sadar—ketika seseorang menepuk pundaknya pelan. “Ayla?” Ia menoleh. Reza berdiri di sana, kali ini tanpa jas, hanya kemeja biru tua lengan digulung sampai siku, membawa aroma sabun pagi yang segar. Senyumnya masih sama, tipis tapi hangat. “Reza… hai,” jawab Ayla, merasa wajahnya memanas tiba-tiba. “Kebetulan banget.” “Atau mungkin bukan kebetulan,” kata Reza sambil tertawa kecil. “Aku sudah tiga kali ke sini seminggu terakhir, berharap ketemu kamu lagi.” Ayla terdiam sesaat, lalu ikut tertawa. “Serius? Aku juga… ya ampun, kok kita sama-sama nggak ngaku aja sih.” Mereka akhirnya duduk di meja yang sama seperti dulu, dekat jendela yang menghadap ke jalanan Sudirman yang mulai macet. Hujan belum turun, tapi langit mendung seperti menjanjikan akan segera basah lagi. Obrolan kali ini lebih dalam. Reza bercerita tentang pekerjaannya yang sering membuatnya terjebak di rapat berjam-jam, tentang ibunya yang suka memaksanya pulang ke rumah tiap akhir pekan, tentang lagu-lagu Coldplay yang selalu diputarnya di mobil saat hujan. Ayla membagi cerita tentang proyek desain yang baru saja selesai, tentang teman sekantor yang suka gosip, tentang mimpi kecilnya membuka studio sendiri suatu hari nanti. “Kalau kamu punya studio sendiri, aku jadi klien pertamamu,” kata Reza tiba-tiba, serius. “Serius. Aku suka cara kamu cerita tentang desain. Matamu berbinar.” Ayla tersipu. “Kamu gombal ya?” “Bukan gombal. Aku cuma bilang apa yang aku lihat.” Sejak hari itu, pertemuan mereka jadi rutin. Kadang di kafe yang sama, kadang Reza menjemput Ayla sepulang kerja dengan alasan “kebetulan lewat”. Mereka jalan kaki di trotoar Thamrin sambil makan batagor pinggir jalan, atau duduk di bangku taman Suropati saat malam minggu, mendengarkan pengamen menyanyi lagu-lagu Peterpan. Hujan selalu jadi saksi. Suatu malam, saat hujan deras lagi-lagi mengguyur tanpa ampun, Reza mengantar Ayla sampai ke kontrakannya di Tebet. Mereka berteduh di teras kecil, payung hitam yang sama melindungi keduanya. Jarak mereka hanya beberapa senti, napas terasa hangat di udara dingin. “Aku suka sama kamu, Ayla,” kata Reza tiba-tiba, suaranya pelan tapi tegas. “Bukan karena kita sering ketemu di hujan atau karena kopi tubruk di kafe itu. Tapi karena… kamu bikin aku merasa tenang. Dan itu jarang banget aku rasain.” Ayla menatapnya lama. Jantungnya berdegup kencang, tapi ia tidak takut. “Aku juga suka sama kamu, Reza. Dari hari pertama kamu nawarin payung itu, aku udah tahu kok.” Reza tersenyum lebar—kali ini bukan senyum tipis biasanya, tapi yang bikin matanya ikut menyipit bahagia. Ia mendekat perlahan, memberikan Ayla waktu untuk mundur kalau mau. Tapi Ayla tidak mundur. Ciuman pertama mereka terjadi di bawah hujan yang masih deras, di teras kecil yang remang-remang. Lembut, ragu-ragu pada awalnya, lalu semakin dalam seolah semua kata yang belum terucap melebur jadi satu. Saat akhirnya mereka berpisah, napas sama-sama tersengal, Reza menyandarkan dahinya ke dahi Ayla. “Jadi… kita pacaran ya?” tanyanya, suaranya agak gemetar karena dingin—atau mungkin karena yang lain. Ayla tertawa pelan, mencubit pipi Reza. “Ya Tuhan, Reza. Kamu baru nanya sekarang?” Mereka tertawa bersama, suara mereka bercampur dengan deru hujan yang tak kunjung reda. Malam itu, Ayla tidur dengan senyum yang tak hilang dari bibirnya. Ia belum tahu bahwa cinta yang baru saja dimulai di tengah hujan ini akan membawanya ke malam pertama yang kelak tak akan pernah ia lupakan. Tapi saat itu, di awal-awal segalanya, dunia terasa sempurna hanya karena ada Reza yang memegang tangannya erat-erat, seolah tak ingin pernah melepaskan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD