Pertemuan Tak Terduga

578 Words
Hujan deras mengguyur Jakarta sore itu, mengubah jalanan Sudirman menjadi sungai kecil yang berkilauan di bawah lampu kendaraan. Ayla berlari kecil sambil memayungi kepalanya dengan tas laptop, sepatu hak tingginya sudah basah kuyup. Ia mengumpat dalam hati karena lupa membawa payung—lagi. “Cepat banget sih hujannya datang,” gumamnya sambil menghindari genangan air. Tiba-tiba, dari arah berlawanan, seorang pria tinggi berjas abu-abu berlari juga, memegang payung hitam besar. Mereka hampir bertabrakan di depan pintu masuk sebuah kafe kecil yang tersembunyi di antara gedung-gedung tinggi. “Maaf!” seru Ayla hampir bersamaan dengan pria itu. Mereka saling menatap sebentar. Ayla langsung tersadar bahwa pria di depannya itu sedang menawarkan payungnya, memayungi dirinya yang sudah basah setengah badan. “Silakan masuk dulu,” kata pria itu ramah, suaranya dalam dan tenang, seperti orang yang tidak pernah terburu-buru meski dunia sedang kacau. “Anda kelihatan… butuh tempat berteduh.” Ayla ragu sesaat, tapi hujan semakin deras dan tasnya mulai meneteskan air ke lantai. Akhirnya ia mengangguk kecil. “Terima kasih.” Mereka masuk ke kafe yang bernama Kopi Kenangan. Tempatnya kecil, hangat, penuh aroma kopi tubruk dan kayu manis. Hanya ada beberapa meja kayu, dindingnya dipenuhi buku-buku bekas dan tanaman gantung. Hampir semua kursi kosong karena kebanyakan orang memilih berteduh di mal terdekat. Pria itu menutup payungnya, lalu tanpa banyak bicara memesan dua gelas kopi panas untuk mereka berdua. Ayla ingin protes—ia tidak suka merepotkan orang lain—tapi entah kenapa kata-kata itu tertahan di tenggorokan. “Nama saya Reza,” katanya sambil duduk di seberang Ayla, meletakkan salah satu gelas di depannya. “Reza Aditya.” “Ayla,” jawab Ayla singkat, meniup kopinya pelan. “Ayla Prameswari. Terima kasih untuk payung… dan kopinya.” Reza tersenyum tipis. Senyumnya tidak lebar, tapi ada sesuatu yang membuat orang merasa tenang. “Saya juga baru saja keluar meeting, lalu hujan ini datang tiba-tiba. Sepertinya kita sama-sama sial hari ini.” Ayla tertawa kecil. “Sial banget. Sepatu saya baru dibeli minggu lalu.” Mereka mulai mengobrol ringan. Ayla bercerita bahwa ia bekerja sebagai graphic designer di sebuah agensi periklanan, sering lembur sampai larut. Reza bilang ia konsultan bisnis, sering keliling kota untuk bertemu klien. Obrolan mengalir begitu saja—tentang hujan Jakarta yang selalu tak terduga, tentang kopi tubruk yang terlalu pahit kalau tidak ditambah gula, tentang lagu-lagu lawas yang diputar pelan di kafe itu. Ayla tidak sadar sudah hampir satu jam mereka duduk di sana. Hujan masih belum reda, tapi ia sama sekali tidak merasa terganggu. “Sepertinya saya harus pulang sebelum banjir semakin parah,” kata Ayla akhirnya, melirik jam tangannya. Reza mengangguk. “Saya antar sampai halte TransJakarta ya? Payung saya cukup besar untuk berdua.” Ayla ingin menolak, tapi lagi-lagi ia hanya mengangguk. Ada sesuatu pada Reza yang membuatnya merasa… aman. Bukan karena payungnya, tapi karena cara ia mendengarkan saat Ayla bicara, cara ia tertawa pelan tanpa memotong, cara ia memperhatikan hal-hal kecil seperti menarik kursi atau membukakan pintu. Di bawah payung hitam yang sama, mereka berjalan berdampingan menuju halte. Hujan masih deras, tapi Ayla tidak lagi merasa kedinginan. Saat bus datang, Ayla naik dan melambaikan tangan dari jendela. Reza berdiri di trotoar, tersenyum sambil mengangkat tangannya sedikit. Bus berangkat. Ayla duduk di kursi dekat jendela, menatap payung hitam yang kini semakin mengecil di kejauhan. Ia tidak tahu saat itu, bahwa pertemuan tak terduga di bawah hujan deras itu adalah awal dari segalanya. Awal dari malam pertama yang kelak tak akan pernah ia lupakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD