💜16. GHSI 💜

1209 Words
"Terkadang, sebuah hubungan harus di korbankan. Bukan karena perasaan yang tak berbalas." ***** *** * **Yunki POV** . . . Aku sudah terbangun segera keluar kamar dan melihat Reya yang sedang berbicara dengan seorang laki-laki melalui panggilan video. Aku tau bahwa orang ini memiliki arti dalam hatinya. Mungkin ia laki-laki yang di ceritakan semalam? Seraya terus hanya menatap dari kejauhan. Sesaat kemudian aku mendengarnya meninggikan suara. Suasana hati Reya sedang tidak baik. Kemudian aku berjalan mendekat dan duduk berhadapan. "Sarapan?" tawar Reya padaku. Aku hanya membalas dengan anggukan. Pagi ini ia membuat nasi goreng juga Omelette. Ia berusaha membuat suasana baik. Namun, aku tau ia benar-benar tak baik. Aku menyantap sarapan tanpa mengatakan apapun. Reya bukan orang yang bisa di ajak berbicara ketika ia marah. Aku akan diam sampai ia mengatakan yang sebenarnya. Setelah makan aku kembalikan diam dan menunggunya berbicara. Aku menatap gadis itu yang kini sedang duduk di hadapanku mengerjakan pekerjaan, Melihatnya Sesekali menghela napas. Ada apa sebenarnya Reya? Aku mengecek ponsel, dan melihat beberapa pesan yang dikirimkan oleh Shin hyung. "Aku harus kembali ke dorm," Aku berdiri dan bersiap dengan memakai kembali topi dan masker hitam yang kukenakan semalam. Reya berdiri mematung menatap, sejujurnya aku tak ingin mengalami situasi canggung seperti ini. "Min Yunki." Aku menatapnya heran, mengapa ia tiba-tiba memanggiku dengan nada yang asing. "Aku harap, kau menghubungiku sebelum ke sini. Jangan ke sini jika aku melarangmu. Jangan terlalu sering ke sini. Karena, aku mungkin akan sibuk setelah ini. Aku juga akan ke Jepang untuk urusan kantor." Ia berucap datar dan serius. Aku mendesis kesal. "Ada apa sebenarnya? Apa aku melukaimu lagi?" Aku menekan nada bicara karena benar-benar kesal setelah mendengar caranya menyebut namaku. "Aku, sudah memutuskan bahwa akan memasang dinding pembatas untukmu dan aku, Yunki-ssi," Ia mengatakan dengan serius. "Berhenti memanggilku seperti itu!" aku meninggikan suaraku. Siapa yang suka mendadak dianggap menjadi orang asing? "Kau sedang tidak baik, kita akan berbicara setelah kau lebih baik." Ucapku masih menatap Reya berharap ini adalah omong kosongnya. Ia perlahan menatapku, tatapannya dingin. Ia biasanya akan menangis jika ia mengatakan hal semacam ini. Dan aku tau bahwa kali ini ia tak main-main. "Tidak ada yang perlu di bicarakan terlalu banyak." ucapnya. "Baiklah! Lakukan sekukamu! Kau! Aah, sudahlah!" Aku berjalan keluar apartemen dan yakin kau akan menangis setelah melakukan ini. Dia memang harus merasakan agar tau betapa pentingnya aku. Aku masuk ke dalam mobil dengan kesal. Aku memasang ke dua earphone. Aku memejamkan mata selama aku mendengarkan musik. Irama, lirik dan nada terlintas di pikiran, aku mengambil pena dan sebuah note yang berada di depanku.  Aku melangkahkan memasuki dorm melihat Jeonguk, dan Taehyung sedang asik membaca surat dari penggemar. Aku duduk diantara mereka dan merebahkan tubuh. "Hyeong, kau menginap di rumah nunna itu?" tanya Taehyung. Aku hanya mengangguk. "Apa yang terjadi?" tanya Jeonguk. "Kami hanya tidur," "Ti-dur ber-sa-ma?" Tanya keduanya terbata. "Yak! Bukan tidur seperti itu! Kami hanya tidur di sofa!" jawabku kesal. "Di-so-fa?" tanya Taehyung lagi dengan tatapan penasaran Aish! Dua bocah ini bagaimana bisa memikirkan hal seperti itu?! Aku memukul kepala mereka bergantian. "Sudah ku bilang bukan seperti itu!" Mereka terkekeh senang karena berhasil membuatku kesal. "Waeyo hyeong? Kau terlihat kesal? Wah, aku jadi penasaran dengan nunna itu." Tanya Taehyung. Aku tak ingin menjawab pertanyaan. Aku memilih pergi dan berjalan ke kamar. Aku akan tidur sampai malam nanti saat tiba waktu kami latihan.  Entah berapa kali aku membuat kesalahan dalam latihan pagi ini. Membuat pelatih dan Namjoon terus saja meneriakkan namaku atas kesalahan yang telah kubuat. Perasaanku terluka, tak bisa mengalihkan pikiran dari ucapan Reya semalam. "Min Yunki!" Teriak pelatih kami lagi. "Istirahat, aku akan kembali 20 menit lagi." Berjalan dengan bergegas aku bisa mendengar ia berdecak. "Ada apa Hyeong?" Tanya Namjoon. Aku berjalan keluar tak memperdulikan pertanyaan Namjoon berjalan menuju toilet. Membasuh wajah, dan berharap bisa membuat konsentrasiku meningkat. "Perasaan seperti ini membuatku kesal," Aku kembali membasuh wajah hingga kepala. Kemudian mengeringkan dengan handuk yang kubawa. Setelah membasuh wajah aku berjalan keluar menuju ruang manajer kami Manager yang mengatur segala perjanjian, kontrak dan tawaran untuk BTS. Mengetuk pintu hal yang segera kulakukan setelah sampai, dan segera dipersilahkan masuk. "Ada sesuatu?" Tanya manager Kim ia terlihat cukup santa duduk di kursinya seraya menatap layar laptop" "Aku menerima tawaran untuk kolaborasi waktu itu dengan Billion Market." "Apa tidak akan mengganggu kegiatan tour kalian jika dilakukan sekarang ini?" tanya Manager Kim ragu. "Tidak masalah, aku sudah menuliskan lagunya. Kita tinggal melakukan rekaman setelah aku kembali dari Jepang," "Baiklah," Aku telah menyiapkan lagunya aku harap akan cocok dengan Suran Nona. . . **Yunki POV end**  **Reya POV** . . . Aku baru saja selesai menjadi saksi dan korban di kepolisian. Untuk kasus penyusup yang ada di apartemenku beberapa waktu lalu. Yang aku ketahui adalah penyusup itu adalah Tuan Chan dia adalah tetangga apartemenku dari kamar no 4. Tuan Chan bangkrut dan tidak mampu memenuhi kebutuhannya. Saat malam sebelum malam kejadian, pemilik apartemen mendatanginya, untuk menagih tunggakkan apartemen selama enam bulan. Karena ia tidak mampu membayarnya, ia menyelinap keluar melalui lubang udara. Kamar Tuan Chan berada di nomer 103 dan kamarku berada di 101. Karena kamar yang bersebelahan makan lorong udara kami tersambung. Tuan Chan sebenarnya sudah beberapa kali masuk dan tak ketahuan. Namun kali ini ia terjebak lebih lama, karena aku datang di saat ia sedang menghindari penagih hutang. Selesai dari kantor polisi aku mampir ke Bank untuk mengirimkan sebagian gaji pertama yang ku terima untuk mama. Kemudian ia berjalan ke sebuah kedai kopi di sana berjanji bertemu dengan Via. Kupesan 2 gelas americano dingin dan,meminta 1 gelas yang lain disajikan nanti. Aku duduk di dekat jendela agar bisa mendapatkan view yang bagus. Tidak menunggu lama aku melihat Via yang memperhatikan sekeliling. Kulambaikan tangan Via tersenyum dan berjalan mendekat. "Lama kak?" tanya Via menjabat tangan yang kuulurkan "Nggak, aku juga baru dateng," Tak lama seorang pelayan mengantarkan pesanan yang sengaja aku pesan kan untuknya. "Gomawoyo eonni," "Nde," Kami terkekeh, membahas sedikit tentang keadaan Indonesia. Via adalah tetanggaku saat di Indonesia, kami tinggal tak terlalu jauh. Aku tau jika ia melanjutkan kuliah di sini dan aku sama sekali lupa tentang itu. "Kamu tinggal dimana Vi?" "Di studio gitu Kak di Bupyeong, sama temen." jawab Via sambil meminum kopi dinginnya. "Kalo dari Donggu, lebih deket mana ke kampus?" "Lebih deket dari Donggu Kak, kan kampus ku di Yeonsu," "Kamu kuliah di Universitas Incheon?" Mendengar Via kuliah di Incheon, aku rasa akan lebih baik jika ia tinggal bersamaku. Aku tak akan terlalu kesepian juga Via akan lebih menghemat pengeluaran. Aku tau melalui studi keluar negeri itu butuh biaya yang tak sedikit. Maka sepertinya ini akan jadi opsi yang bagus. Via mengangguk, "kakak kerja di mana?" "Daegu," "Jauhnya, kalo naik kereta bisa 2 jam kak," "Aku naik KTX," jawab Reya. "Kamu tinggal sama aku aja Vi," Via menatapku heran, "Kakak di sini sendiri?" Aku mengangguk sambil meminum kopi milikku. "Gimana kalau kamu tinggal sama aku aja, jadi biaya kuliah ngirit. Nggak kepangkas sama bayar bulanan studio. Soalnya juga aku tinggal di sana dibiayai kantor." "Wah, keren— nggak deh kak nanti ganggu kakak?" "Nggak lah, aku malah seneng.Ada temen." "Gimana ya kak?" Via menatap ke arah lain memikirkan penawaranku. "Pokoknya tinggal sama aku aja. Lagian jadi lebih deket kan ke kampus?" Ya aku memang memaksa, dan berharap Via akan setuju. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD