Jangan-jangan dia ada niat jahat setelah melihat tubuh seksiku tadi pagi? Aku mendekap kencang lutut. Takut.
Terdengar lagi ketukan pintu lebih keras. Kamu membuatku takut, Wir!
"Lani, bangun. Buka dulu pintunya. Kamu sudah tidur?"
"Mau apa?!" tanyaku lantang dari dalam. Tidak langsung membuka masih diam di kasur.
"Puput nangis. Gak bisa keluar dari kamarnya. Nanyain kamu. Pintunya kamu kunci, ya?"
Puput anakku, oh, ya ampun. Iya, aku mengunci kamarnya dari luar. Kukira dia gak bakal bangun.
"Nangis dari tadi. Coba dengerin."
Aku terdiam. Telingaku mencoba fokus. menangkap suara-suara di luar.
"Huuu. Bundaa ...." Samar-samar aku mendengar suara itu. Puput? Itu suaranya di kamar paling depan. Terdengar kecil dari kamarku. Aku lekas bangun, memakai jilbab langsung yang kuambil dari gantungan di dinding, meraih kunci di nakas, dan membuka pintu. Terdengar semakin jelas tangisan Puput setelah di luar.
"Kamu mengunci pintu kamarnya?" tanya Wira setelah melihatku keluar.
"Iya."
"Kenapa? Kasian."
Aku tidak menjawabnya langsung menuju kamar depan. Memutar kuncinya. Pintu dibuka.
"Bundaa ...."
Langsung memeluknya erat. 'Maafin bunda, Nak.' aku berucap maaf dalam hati. Takut kalau-kalau Wira itu seorang p*****l. Dari itu aku menguncinya.
Kenapa aku tidak menemani Puput tidur dari tadi? Kenapa kami tidak tidur bersama saja? Sehingga aku hanya cukup mengunci satu pintu kamar ini dari dalam. Ah, bodohnya aku. Sudah memperumit diri sendiri.
Wira pergi setelah melihat Puput tenang dalam pelukanku. Sempat kutangkap gelengan kecil di kepalanya. Mungkin dia berpikir aku ini berlebihan. Ah, biarlah, mau dianggap bagaimanapun juga. Aku harus waspada!
***
"Stt! Bu Dewi!" Aku memanggil seseorang dengan pelan seraya mencolek lengannya. Dia menoleh. Kegiatannya membaca solawatan di buku terhenti. Kami sedang ada di majlis ta'lim. Suara jama'ah Ibu-ibu riuh terdengar.
"Kenapa, Lani?"
"Kontrakan Bu Dewi ada yang kosong, gak?"
"Cari kontrakan buat siapa? Kamu kan udah ada rumah."
"But temen Mas Aris. Ada gak?"
"Wah, sayang sekali sekarang tidak ada. Baru aja dua minggu lalu kontrakan yang kosong terisi. Kamu telat."
"Yahh .... " Aku tidak puas mendengar jawabannya.
Bu Dewi memiliki lebih dari sepuluh pintu kontrakan di kampung kami. Tanahnya juga luas. Tidak heran pakaiannya sedikit berbeda dari jama'ah Ibu-Ibu lainnya. Gelang, cincin, menempel cukup banyak di tangannya. Sayang sekali kontrakannya tidak ada yang kosong.
"Kalo gitu bisa gak, kabari kalo Bu Dewi tau ada kontrakan kosong? Kontrakan siapa kek gitu, Bu."
"Iya, nanti saya kabari ke kamu kalo ada."
Aku tidak bertanya lagi. Bu Dewi melanjutkan kegiatan membaca solawatan aku juga.
"Ada, gak, Bu RT kontrakan kosong sekitar sini?"
Selain pada Bu Dewi, aku juga bertanya sama Bu RT saat belanja sayur di depan perempatan. Kebetulan bertemu dengannya.
"Tumben nanyain kontrakan?" Bu RT malah balik nanya bukannya langsung menjawab.
"Buat temen suami."
"Buat si Wira, ya?"
"Nah, itu tau."
"Taulah. Dari suamimu si Aris. Dia juga nanya-nanyain kontrakan sama aku, Lan."
"Terus?"
"Ya, belum ada. Nanti kalo ada tak kabari."
"Hmm. Gitu, ya, Bu Rt."
Duh, tumben-tumbenan kontrakan kosong gak ada di kampung sini? Kupikir mas Aris bohong, ternyata dia benar sudah mencarinya juga. Gak tau di RT lainnya yang lebih jauh, mungkin ada? Aku harus menanyakannya pada Ibuku yang tinggal di kampung sebelah.
Setelah beres memasak dan mencuci piring, aku memutuskan pergi ke rumah Ibu. Puput aku ajak juga. Kami berangkat mengendarai angkot. Rumah Ibu di tepi jalan seperti rumahku. Kami turun begitu sampai. Angkot kembali melaju setelah membayar ongkos.
"Assalamualaikum. Ibu!" Ibu tengah mengangkat jemuran, aku menghampirinya.
"Waalaikumsalam. Eh, Lani, Puput, sini."
Kami cium tangan padanya. Ibu lalu masuk dalam rumah. Aku dan puput mengikutinya. Ibu langsung melipat pakaian kering sembari dudui di sofa. Aku membantunya.
"Sudah makan belum, Put?"
"Udah."
Anak itu langsung menyalakan televisi. Dia menonton serial kartun di salah satu chanel.
"Tumben kamu siang-siang datang kemari, Lan?"
"Aku lagi gak betah di rumah."
"Kenapa?"
"Sebal sama Mas Aris."
"Kalian ribut?"
"Aku kesal sama temannya, Bu. Sudah seminggu nginep di rumah."
"Temennya laki atau perempuan?"
"Laki."
"Harusnya emang gak boleh orang asing tinggal di rumah. Dia kan bukan mahram kamu."
"Justru itu. Aku jadi gak bebas. Mesti pake hijab terus mesti rapi dalam rumah. Kagok mau ngapa-ngapain. Ribet."
"Namanya siapa?"
"Wira."
"Dia kerja?"
"Kerja."
"Kenapa gak disuruh ngontrak aja?"
"Rencananya gitu. Nah, di sekitar sini ada gak kontrakan kosong? Buat si Wira. Di sekitar rumahku gak ada. Aku udah tanya-tanya."
"Nanti Ibu coba tanya-tanya deh."
"Iya, Bu. Bantu carikan, ya."
"Iya."
[Mas, aku mau nginep di rumah Ibu.]
Kukirim pesan w******p ke nomor Mas Aris. Sudah malam, aku tengah rebahan di kamar masih di rumah Ibu. Malas pulang.
[Iya, tidak apa-apa.]
Aku taruh handphone di sisiku setelah menerima balasannya. Ibu masuk bersama Puput.
"Bunda mau nginep?" Anak itu langsung tiduran di sisiku.
"Iya."
"Horee! Nginep di sini." Anak itu senang. Aku tersenyum melihat ekspresinya.
"Kamu sudah ijin?" tanya Ibu.
"Udah, Bu."
"Berarti tadi gak ada yang nyiapin Aris makan."
"Aku udah masak sebelum ke sini. Dia bisa makan sendiri kok, Bu. Bukan bayi. Lagian, ada temennya ini."
"Yasudah, kalian tidur yang nyenyak. Abah juga udah tidur di kamar." Abah adalah sebutan untuk Bapakku.
"Sifa sama Deni udah pulang kerja, Bu?" Mereka adalah adikku yang masih lajang. Aku adalah anak pertama. Mereka bekerja sama-sama sif dua di pabrik yang berbeda. Berangkat dari jam tiga siang sekarang belum pulang.
"Belum. Nanti jam sebelas-san."
"Ohh."
"Yasudah, Ibu keluar dulu."
Ibu keluar kamar meninggalkan kami. Tubuhku menyamping menghadap Puput yang tengkurap. Dia sudah mengantuk dan hendak tidur. Aku mengelus-elus rambutnya. Mata Puput pun memejam. Aku pun mulai mengantuk. Di sini aku nyaman dan tidur dengan tenang.
***
Ketika pulang keadaan rumah masih bersih. Di dapur tidak ada barang kotor di westafel. Di tempat makan tersedia satu piring nasi goreng.
"Buat kamu, Lan," kata Mas Aris menghampiriku. Dia ke luar dari dalam kamar memegang jaket.
"Kamu yang buat Mas?"
"Bukan. Bikinan Wira. Sebelum berangkat kerja dia buat sarapan sendiri. Aku sama dia udah makan. Bekas piringnya juga udah dicuciin bersih sama dia. Termasuk bekas kemaren. Tinggal buat kamu itu nasi gorengnya. Makan, Lan. Rasanya enak."
"Oh, ya?"
"Cobain aja. Makan bareng sekalian sama Puput. Belum makan kan?"
Aku menggeleng. Di rumah Ibu hanya memakan goreng pisang saja. Itu pun hanya dua potong. Karena Ibu lekas menuruhku pulang ke sini. Kasian sama Mas Aris katanya.
"Put, Sini, makan dulu." Puput menghampiriku setelah dipanggil Ayahnya. Dia duduk di kursi, aku juga.
"Makan dulu sama Bunda," kata Mas Aris lagi menyuruh anak itu untuk makan.
"Aku berangkat ngojek dulu, ya."
"Iya, Mas."
Mas Aris pergi setelah memakai jaket berwarna hijau berlogo nama pekerjaanya. Suara motor berlalu.
Aku memakan sesendok nasi goreng buatan Wira. Eum, rasanya ternyata beneran enak. Pintar juga dia bikin ginian. Dihiasi beberapa potongan timun, daun salada, sosis, nasi goreng ini membuatku berselera.
Tidak hanya memasak, Wira juga membersihkan rumah ini. Pantas di dapur bersih. Piring kotor bekas kemarin dan piring kotor bekas sarapan tadi, dia sudah mencucinya. Lumayan meringankan pekerjaanku. Kukira suamiku akan kelaparan karena tidak ada yang membuat sarapan, ternyata tidak. Dia tidak menderita aku tinggalkan semalaman.
Puput ikut menyendok nasi goreng dan memakannya. "Enak, Bun."
"Iya, nasi gorengnya enak," jawabku seraya memasukkan lagi nasi goreng itu ke mulut. Kami makan dengan lahap.
"Eh, Om Wira," seru Puput menghentikan kegiatan makanku. Nasi yang hendak disuapkan ke mulut tertunda begitu aku melihat sosok Wira.
"Mau ngambil handphone, ketinggalan." Wira masuk dalam kamar tengah. Persis di hadapan kami.
Aku malu. Ketahuan sedang memakan lahap nasi goreng buatannya. Kapan dia datang? Aku tidak menyadari suara motornya. Tiba-tiba saja masuk dan Puput yang pertama melihat.
"Nasi gorengnya enak kata Bunda, Om. Makasiih."
Aku melotot mendengar Puput bicara seperti itu saat Wira sudah kembali keluar. Ish! Dasar anak kecil.
"Sama-sama, Put. Abisin, ya."
"Iya, Om."
Wira kembali lagi keluar.
Kusentil pelan kuping Puput.
"Aw! Sakit Bunda."
"Kenapa bilang seperti itu sama Om Wira? Puput diem aja."
"Kan Bunda sendiri yang bilang kalau dikasih sesuatu atau dibuatin sesuatu harus bilang terimakasih."
"Iya, cukup bilang terimakasih aja. Gak usah bilang 'kata Bunda makanannya enak!" Anak itu terlalu jujur. Dengan polosnya dia menyampaikan langsung pada Wira ucapanku.
Puput tidak menjawabku lagi. Dia sedikit cemberut dan kembali melanjutkan makan.
Maafkan Bunda sudah menyentil kupingmu. Itu pelan, kok. Tapi masih sakit ya, untuk anak kecil? Aku menyesal sesudahnya. Sudah kepalang gemas.