Mau Mengontrak

1086 Words
"Wira mau ngontrak di rumah kita." "Apa?" Aku terkejut mendengar Mas Aris mengatakan itu. "Mau ngontrak." Mas Aris menegaskan seolah perkataan sebelumnya belum jelas. Aku jelas mendengar, Mas. Hanya masih belum percaya. "Gak, gak! Aku gak setuju." "Aku sudah mengijinkannya." Aku tatap wajah suamiku yang tampak lelah itu dengan tak habis pikir. "Wira itu orang lain, Mas. Aku keberatan. Gak pantes juga. Aku gak mau ada lelaki non mahram tinggal di rumah ini yang gak tahu kapan perginya." "Aku tahu itu. Tapi, kita juga butuh uang. Wira akan membayar lima ratus ribu perbulannya." "Mau bayar mau enggak, aku tetap gak setuju, Mas." "Setuju tidak setuju kamu harus setuju!" Mas Aris berkata tegas lagi. Aku terdiam setelah mendengar bicaranya yang tinggi. Serasa dibentak. Dia mengeluarkan uang dari saku jaket ojol yang masih dikenakannya. Waktu istirahatnya diisi dengan persoalan Wira. Satu lembar dua puluh ribu dan satu lembar sepuluh ribu dia letakkan di sisiku. "Pendapatanku hari ini cuma dapat tiga puluh ribu. Sepi. Kamu suka menggerutu kalo aku dapat sedikit, bahkan ngomel-ngomel bilang gak cukup. Aku pusing. Dengan Wira mengontrak di sini akan sangat membantu. Perbulan lima ratus ribu. Lumayan, Lan. Buat nambah-nambah kebutuhan kita. Buat kamu juga." Jadi, Mas Aris memutuskan mengijinkan Wira mengontrak karena sikapku? Karena aku yang cerewet? Mengeluh saat pendapatan suami sedikit? Maafkan aku Mas jika itu membuatmu tertekan dan menjadi beban. Aku tahu mencari uang tidak mudah, aku tak sabar saat diberi rejeki sedikit. Dua tahun Mas Aris bekerja sebagai ojek online. Pendapatannya tidak tetap. Kadang dapat banyak, lebih sering dapat sedikit. Sebelumnya, dia bekerja di kantor pemasaran. Setelah kantor perusahaan tutup Mas Aris jadi kehilangan pekerjaan. Sudah berusaha melamar kesana-kemari belum ada hasilnya. Dipabrik-pabrik tidak masuk kriteria. Pernah nyoba nguli Mas Aris sakit-sakitan gak kuat kerja berat. Bekerja sebagai ojek online menjadi pilihan terakhir. Mau buka usaha kami tidak punya banyak modal, juga tidak mau resiko rugi. Awalnya aku selalu bersabar, kesini-kesini berasa semakin kurang karena biaya kebutuhan semakin mahal. Apa karena aku tidak pandai bersyukur? "Rumah kita ini cukup besar. Ada tiga kamar. Satu kamar ditempati Puput, satu kamar lagi ditempati kita. Sisa satu kamar biar menjadi tempat tidur Wira. Dari pada kosong." Terdengar Mas Aris bicara kembali setelah kami sama-sama terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. "Kamu gak perlu khawatir. Wira akan membeli sendiri kebutuhannya. Beli beras, minyak, dan lain-lain. Kamu hanya perlu memasak menyiapkan makannya saja." Aku masih diam tidak menimpali ucapan Mas Aris. Jadi aku hanya perlu melayaninya makan begitu? Apa bedanya dengan babu? "Semenjak datang ke sini. Wira selalu membelikanku rokok sehari satu bungkus asal kamu tahu, Lan. Mengurangi uang saku. Saat aku menunggu penumpang aku tak perlu beli-beli rokok. Satu bungkus dari Wira cukup. Aku berusaha menghematnya. Jadi uang hasil ngojek aman hanya dipotong bensin." Mendengar itu aku langsung melihat pada Mas Aris. Pantas saja dia baik padanya, setiap hari dia diberi suap rokok. Sekarang ditambah Wira mau membayar lima ratus ribu perbulan plus sembako. Mas Aris tidak ingin kehilangan keuntungan tersebut. Dia terlalu sayang untuk mengabaikannya. Mas Aris merasa ke'enakan. "Aku bukan ke'enakan." Dia menyangkal ucapanku dalam hati. Dia bisa menerka isi pikiranku? "Setidaknya beban kebutuhan kita menjadi lebih ringan dengan bantuan Wira. Kamu harus pertimbangkan itu. Mau sodara atau bukan tidak masalah. Sepanjang kita bisa menjaga diri masing-masing tak perlu khawatir." Begitu yakin Mas Aris mengucapkan itu. Aku tahu dia sangat menyayangiku, dia tidak mau melihatku kekurangan. Dia mau mengupayakan apapun, termasuk mengijinkan Wira tinggal di sini. Dia iklas asalkan ada imbalan. "Sampai kapan?" "Semoga aku bisa mendapat pekerjaan lebih baik, lebih mapan, sehingga tidak perlu menahan Wira di sini." Mas Aris hanya menjawab seperti itu. Aku ternganga mendengarnya. *** Wangi menyengat menyeruak di hidungku begitu aku melewati kamar Wira. Pintunya terbuka. Dia sedang menyemprotkan parfum di bajunya. Aku menutup hidung sambil mngibas-ngibas tangan. Wira melihat aksiku. "Kenapa?" "Bau!" jawabku sinis ke arahnya. Sudah sembarangan menyemprotkan parfum di rumahku tanpa menutup pintu. "Pake parfum apa si, wanginya gak enak!" "Pake ini." Wira menunjukkan botol kaleng panjang kecil warna hitam. Aku tahu merek parfum tersebut. Memang parfum untuk laki. Tapi, aku tidak suka wanginya. Terlalu menyengat. Aku bisa pusing bila mencium aromanya. "Jangan pake parfum itu napa? Terlalu menyengat. Aku bisa pusing nyium aroma itu." "Maaf kalo gak suka. Besok gak akan dipake lagi kalo bikin kamu pusing." "Iya. Jangan dipake lagi. Banyak-banyak pula makenya. Buat apa coba?" Hari ini aku begitu culas padanya. Berani ngatur-ngatur, bersikap arogan. Tidak ada ramah-ramahnya, tidak mencerminkan penampilanku yang tampak alim sebagai muslimah. Aku sangat ketus. Entah, apa dia akan sakit hati? Aku tak peduli. Aku hanya tidak suka wangi seperti itu di rumah. Menyengat, bikin mual, aku jadi emosi. "Namanya juga duren, duda keren. Harus selalu tampil oke. Harus rapi dan wangi. Apalagi di tempat kerja, ya, kan, Wir?" "Ah, Mas Aris bisa aja." Wira tampak tersipu dibegitukan Mas Aris. Dia tiba-tiba datang menghampiri kami. "Pamit, Mas." Wira lalu bergegas keluar, berangkat kerja. Mas Aris menyusul memperhatikan kepergiannya dari palang pintu. "Jadi, dia duda?" tanyaku seraya menghampiri Mas Aris. Baru tahu status laki-laki itu. Suamiku berbalik menghadapku. "Iya." "Dia cerai sama istrinya atau gimana?" "Kepo kamu." "Ish. Maas, nyebelin kamu." "Hehe." "Kenapa?" cecarku sekali lagi. Dia pasti tahu banyak soal temannya itu. Kan aku jadi penasaran. "Iya, dia cerai. Ditinggalin sama istrinya." "Kenapa?" "Bukan jodohnya lagi." "Terus, anaknya sama siapa?" "Belum punya anak. Rumah tangganya berakhir setelah tiga tahun menikah." "Mungkin dia mandul kali Mas, mangkannya istrinya minta cerai." "Hus! Jangan sembarangan kamu. Jaga kata-kata kamu, Lan." "Siapa tau gitu, atau, barangkali ada kekurangan lainnya yang tidak kita tahu dari Wira yang membuat istrinya pergi." "Istrinya aja edan. Gak bersyukur itu." "Terus, kenapa gak nikah lagi?" "Belum ada jodohnya lagi." "Begitu rupanya." "Padahal Wira baik, pekerjaanya bagus, orangnya juga cakep, ya, kan?" Aku harus menjawab apa? Mengiyakannya? Jika iya itu berarti aku mengakui laki-laki itu ganteng? Aku tidak mau mengatakannya. Ada hati yang harus aku jaga. Ish, apaan aku ini. Jelas-jelas Mas Aris sendiri yang menanyakannya. Dia sudah mengakui Wira baik dan cakep. Tentu tidak apa-apa jika aku mengiyakannya juga. Tetapi, aku tetap tidak mau bilang 'iya' di mulut. Kalau di hati 'Iya, Mas. Wira baik juga tampan.' Dasar aku. Tadi marah-marah sekarang dalam hati memujinya. "Malah diam lagi." "Ya, terus?" "Iya, aku heran aja. Laki-laki sebaik itu mesti ditinggalkan. Gimana kalo aku coba? Wajah biasa aja. Pekerjaan gak mapan. Untung kamu mau bertahan sama aku, Lan." Aku tersenyum mendengar dibagian terakhir ucapan Mas Aris. "Selama kamu baik sama aku. Aku tidak akan meninggalkanmu, Mas." "Terimakasih, Lan. Sudah bertahan menjadi istriku sampai detik ini." "Sama-sama." Mas Aris mengecup keningku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD