"Lani keberatan, ya, Mas, aku tinggal di sini?"
"Enggak. Kenapa ngomong gitu?"
"Dia seperti tidak suka aku tinggal di sini, Mas. Lani sepertinya membenciku."
"Lani gak benci kok. Biarin aja dia mah. Jangan ditanggapin sikapnya, emang gitu orangnya."
"Aku bisa pindah dari sini kok, Mas."
"Jangan pindah. Udah tinggal di sini aja. Kalau kamu pindah aku jadi sedikit kehilangan mata pencaharian, Wir. Kehadiran kamu di sini sangat membantu."
"Tapi, Lani gak suka kan? Dia keberatan? Lani terganggu dengan kehadiranku di sini."
"Biarin aja si Lani mah gak usah dipikirin. Toh, uang yang kamu kasih buat dia-dia juga. Buat keperluannya. Tidak dipakai untukku pribadi."
"Lagian, ini rumah punyaku, Wir. Dibeli dari uang warisan orangtuaku senilai tiga ratus juta lima tahun yang lalu. Aku pemiliknya, bukan punya Lani. Terserah aku mau bagaimanapun juga."
"Tapi ...."
"Udah. Tenang aja. Jangan sungkan untuk tinggal di sini."
Antara sedih, kesal, marah, kecewa, mendengar percakapan mereka di kursi luar. Aku mematung di belakang pintu yang terbuka sedikit mendengarkan keduanya. Dikira mereka aku sudah tidur, padahal belum.
Sombong kamu, Mas. Mentang-mentang ini rumahmu jadi perasaanku tidak perlu didengarkan? Aku tidak nyaman kamu tidak peduli dan lebih mempertahankan keberadaan laki-laki itu?
Aku kesal sama kalian berdua. Menyebalkan. Kutinggalkan mereka dan masuk dalam kamarku kembali. Mencoba tidur walau susah. Seenaknya Mas Aris bicara seperti itu.
***
"Bawa apa kamu?"
"Cucian kotor."
"Punya siapa? Banyak amat."
"Punya Bu Dewi dan Bu Rt."
"Mau diapain?"
"Dicucilah biar bersih."
"Tunggu-tunggu, kamu jadi buruh cuci?" Mas Aris mencegat langkahku yang hendak naik ke teras. Aku yang baru saja akan mencopot sandalku, tidak jadi.
"Iya. Kenapa?"
"Buat apa, Lan?"
"Buat dapat duitlah. Sehari dua puluh ribu. Sebulan enam ratus. Lumayan."
"Gak, gak. Aku gak ijinin. Kerja cepe, duit gak seberapa, tangan jadi kasar kena sabun melulu. Aku tidak setuju kamu jadi buruh cuci."
"Kenapa? Terpenting halal."
"Aku tetap tidak suka. Kamu ini, sudah enak tinggal menerima uang dari Wira perbulannya tanpa harus capek-capek, malah mau nguli kayak gini?"
"Aku tidak mau menadah uang pada orang, Mas. Dari itu aku kerja buat membantu kebutuhan kita. Dengan aku kerja kayak gini, Wira tidak perlu lagi tinggal di rumah. Dia bisa pindah."
"Gak, Lani. Kamu tidak boleh bekerja seperti ini. Aku tidak ridho. Kamu harus nurut dan Wira akan tetap tinggal bersama kita."
"Kamu egois, Mas!"
"Aku hanya tidak ingin kamu capek."
Aku tidak mau melihat Mas Aris lagi, pagi-pagi aku sudah dibuat kecewa olehnya. Menyebalkan sekali dia.
Aku hendak meninggalkannya masuk dalam rumah. Seketika langkahku tercekat saat kulihat Wira tengah berdiri di palang pintu. Dia melihat pada kami. Berarti dia juga mendengar percakapan kami?
"Eh, Wir." Mas Aris tampak tidak enak padanya. Aku hanya diam menunduk.
"Aku berangkat dulu, Mas."
"Iya, Wir. Hati-hati."
Wira melewati kami menuruni teras, memakai sepatu, dan memakai helem. lalu pergi mengendarai motornya. Mas Aris menatapku.
"Kenapa?" Aku bertanya menantang tatapannya.
"Wira pasti tersinggung sama ucapan kamu."
"Biarin aja. Gak usah dipikirin," kataku sambil berlalu, tapi Mas Aris mencekal lenganku yang membawa baskom besar berisi baju kotornya Bu Dewi dan Bu Rt.
"Apa si, Mas?"
"Mau aku bakar ini baju-bajunya? Balikin!"
"I-Iya, Mas. Jangan dibakar. Aku akan balikin." Terpaksa aku putar arah untuk mengembalikan cucian kotor ini pada pemiliknya. Dari pada dibakar. Mati, aku!
Gagal deh mau dapat duit dari hasil keringat sendiri.
"Rajinnya Pak Ojol bersihin motor."
Kudengar suara Pak Soleh tetangga sebelah rumah berbicara pada Mas Aris yang sedang mencuci motor di luar. Dari jendela kamar depan aku melihatnya.
"Eh, Pak Soleh. Iya, nih, Pak. Udah kotor."
"Rame di jalan?"
"Ya rame, penumpangnya yang sepi."
Kedua-duanya tertawa kecil. Aku memperhatikan mereka.
"Namanya usaha, adakalanya rame ada kalanya sepi. Kita dituntut harus sabar disetiap kondisi."
"Iya, Pak."
"Teman kamu masih di sini, Ris?"
"Masih, Pak."
"Ooh. Gak cemburu? Gak takut istrinya digondol itu orang?"
Mas Aris malah tertawa. Emang lucu sih, kedengarannya. Digondol apaan? Emangnya ikan pake digondol segala. Aku bukan Ikan, ya, yang bisa digondol kucing. Bapak itu ada-ada aja.
"Mana ada yang mau sama istriku yang galak dan judes seperti itu. Hahaa."
Menyebalkan! Mas Aris malah mengataiku pada Pak Soleh tetua Masjid di dekat sini. Jengkel aku mendengarnya. Mulutmu, Mas. Rasanya aku pengen meremasnya. Sembarangan!
"Istrimu bukan galak, Ris. Tapi, tegas. Berprinsif, berpendirian teguh. Dia tidak nyaman ada laki-laki bukan mahram di rumahnya, itu mengapa sikapnya demikian. Dan memang seharusnya itu tidak boleh."
Aku setuju dengan Pak Tua di kampung kami ini. Dia mengerti tidak seperti Mas Aris. Oh, andaikan suamiku mempunyai pikiran seperti ini, alamat tenang hidupku tanpa perlu was-was ada orang lain di rumah.
Sayangnya, suamiku tidak begitu. Mengabaikan rasa keberatan istrinya ini terhadap Wira yang tinggal bersama kami.
"Meski orang itu baik. Yang namanya bukan mahram tapi sehari-hari tinggal bersama bisa menimbulkan fitnah. Betapa dahsyatnya godaan syaitan. Sekarang satu sama lain bisa saling menjaga jarak. Lama-lama bukan tidak mungkin akan timbul percikan-percikan rasa yang terlarang. Lalu menuntut untuk diwujudkan."
Merinding aku mendengar petuah pak tua itu. Dia benar. Aku jadi takut dan menunduk gelisah. Aku harus mempertahankan marwah diri. Insya'allah aku bisa. Harus bisa, sampai lelaki itu tidak ada. Aku melirik lagi pada keduanya.
"Nak Aris harus lebih hati-hati. Lani masih muda, dia istri yang cantik. Harus pandai-pandai menjaganya."
Mas Aris terdiam dengan ekspresi wajah yang entah aku tidak dapat menebaknya. Dia hanya menghela napas. Dalam hati aku merasa tersanjung dengan ucapan Pak Tua. Aku memang masih muda baru usia kepala dua. Aku merasa cantik karena aku adalah wanita.
"Kamu harus bisa melindungi bahtera rumah tangga yang tengah dijalani. Itu sekedar saran saya. Boleh didengar dan gak usah dipedulikan kalau tidak suka."
"Terimakasih, Pak Soleh. Terimakasih sudah mengingatkan."
Pak Soleh tersenyum dan mengangguk. Aku menutup tirai yang sedikit kusingkirkan lalu berlalu ke luar kamar.
Melakukan kegiatan di dapur untuk memasak. Mencuci beras, dimasukkan rice cooker setelah bersih dan menekan tombol merah.
Memetik daun kangkung pada wadah. Kemudian membuka kulkas hendak mengambil bumbu cabai. Tertegun saat melihat banyak telur di pojok pintu paling atas. Aku tidak membeli itu. Tidak punya stok telur. Kemarin masih kosong.
Aku bergegas keluar menemui Mas Aris. Dia sudah selesai mencuci motor. Pak Soleh yang tadi menemani mengobrol tidak ada. Belum lama pergi ada diujung jalan kulihat.
"Mas! Siapa yang beli telur? Ada banyak di kulkas."
Mas Aris membereskan selang panjang bekas mencuci motor. "Oh, itu. Wira yang beli. Kenapa?"
Wira? Aku juga sudah curiga padanya. "Nggak apa-apa, tapi buat apa banyak-banyak?"
"Dia cuma beli sekilo. Ya buat kitalah, buat bersama. Kamu pake masak aja."
Aku kembali ke dapur. Telur-telur itu kupandangi lagi dalam kulkas. Baiklah, aku akan memasaknya untuk Wira. Si lelaki asing meresahkan di rumahku.
***