"Itu! Sebelah sana, Wir!"
Mas Aris berteriak menunjuk pohon rambutan yang dinaiki Wira. Dia hanya berteriak-teriak saja tanpa memanjat membantu Wira mengambil buah rambutan. Jadi, di samping rumahku ini ada pohon rambutan berbuah banyak. Sedang musim buah rambutan.
"Ini, Mas!" seru Wira dari atas bersiap melemparkan rambutan yang berhasil dipetiknya.
"Lemparin aja gak apa-apa."
Wira pun melemparkan rambutan tersebut. Dia memetik lagi rambutan dari dahan lain yang tidak jauh dari jangkawannya.
Mas Aris dan Puput terus mengumpulkan rambutan-rambutan itu. Sampai cukup banyak.
"Put, ambilin plastik di dalam."
"Buat apa?"
"Buat wadah rambutan."
"Iya, Yah. Sebentar." Puput masuk dalam rumah mencari plastik. Aku membiarkannya. Kulihat Mas Aris memakan buah rambuatan itu.
"Cobain, Lan. Manis."
Aku hanya menggeleng kecil dan tetap diam saja. Bosan sudah terlalu sering memakan rambutan. "Buat dikemanain, Mas, rambutan sebanyak itu?"
"Buat dimakan dan dibagikan ke tetangga. Kenapa? Gak boleh?"
"Gak apa-apa, kok."
"Nih, Yah." Puput datang seraya membawa dua plastik hitam.
"Ini mah kecil Put. Yang besar plastiknya."
"Gak ada. Cari aja sendiri."
"Idih, malah nyuruh balik."
Puput tak peduli dan kembali memunguti rambutan yang dijatuhkan Wira. Aku tersenyum kecil melihat tingkahnya.
"Harus pake karung, Mas. Biar bisa muat banyak," kataku memberi tahu Mas Aris.
"Oh, iya, ya. Sebentar deh kucari dulu."
Mas Aris pun pergi. Dia hendak mencari karung kosong di belakang rumah.
Aku menopang dagu di tepi teras, sedari tadi aku tak beranjak kemana-mana selain duduk di sini. Memperhatikan Puput yang berjongkok membelakangiku tengah asik memunguti rambutan. Memasukkannya dalam plastik kecil yang diambilnya tadi.
Bruk! Buah rambutan dijatuhkan tepat di hadapanku. Membuatku terlonjak kecil karena terkejut. Aku mendongak. Wira tertawa kecil dari atas sana. Dia sengaja membuatku kaget.
Aku menatapnya sinis. Tapi Wira tak peduli. Dia memakan satu buah rambutan dan cangkangnya dilemparkan di hadapanku kembali. Aku berdecak. Rese juga itu orang. Dia tahu aku yang tengah duduk melamun dan mengejutkanku.
Mas Aris tidak ada. Pantas dia berani begitu padaku. Dia sengaja menjailiku. Apa karena balas dendam? Karena aku selalu jutek kepadanya? Awas kau, kalau berani melempar lagi, akan kulempar balik! Aku mengambil dua buah rambutan jaga-jaga sebagai senjata untuk melemparinya.
"Udah dapet nih, karungnya." Mas Aris datang membawa karung putih berukuran sedang.
Dua rambutan di kepalan tanganku aku taruh lagi. Mas Aris memasukkan buah rambutan yang tercecer di bawah ke dalam karung tersebut. Sementara Wira langsung memetik rambutan lagi begitu tahu Mas Aris datang. Dia lekas berpaling dariku. Dih, pura-pura tidak terjadi apapun.
"Ngunduh, Mas?" seorang Bapak-bapak menghampiri kami.
"Sini, Pak. Makan rambutan." Mas Aris menawarinya. Bapak itu menghampiri.
Aku berdiri dan masuk meninggalkan semuanya.
Malam-malam aku menyetrika pakaian. Sudah dua tumpuk baju aku rapikan. Tinggal sisa sedikit lagi. Paling banyak baju Puput karena sering gonta-ganti. Tapi, tidak apa. Baju anak kecil mudah di setrikanya. Tidak seperti punyaku. Satu baju aja lama yang long dres lebar.
"Bisa pinjam dulu sebentar gak? Mau nyetrika baju buat besok dipake kerja." Wira menghampiriku. Di tangannya terdapat beberapa pakaian miliknya.
"Kamu setrikain aja sekalian, Lan. Biar lebih rapi." Mas Aris menimpali dari depan TV. Posisiku tidak jauh darinya.
"Gak usah, Mas. Aku bisa menyetrika sendiri kok," sergah Wira merasa tidak enak terhadapku.
"Yaelah, sekalian itu si Lani lagi nyetrika. Udah kasih. Biar sama dia aja. Masa laki-laki nyetrika." Mas Aris berkata enteng sambil memencet-mencet remote TV.
"Yaudah sini. Biar sama aku aja."
"Gak apa-apa, Lan?" Wira bertanya dengan sorot mata berbinar.
"Iyaa. Sini."
Dia lalu memberikan pakaiannya padaku. Terdiri dari kemeja panjang dan pendek, celana bahan dua, dan kaos lengan panjang biasa. Entah ada angin apa, aku sedang malas berdebat dengannya. Sudah terlalu lelah dan gerah. Aku tidak ingin banyak bicara.
Kupikir tidak pantas juga laki-laki menyetrika, benar kata Mas Aris. Kasian kamu Wir, serba mandiri. Coba punya istri, akan ada yang mengurusi.
"Makasih, ya, Lan. Maaf ngerepotin."
"Hmm."
Kubiarkan Wira dan Mas Aris menonton TV, sedangkan aku menyetrika baju-baju ini. Kulihat mereka seperti adik-kakak jika duduk bersama seperti itu.
***
Setelah mencicipi sayur dari panci, kompor dimatikan. Sup-nya sudah matang. Aku tutup panci tersebut.
Wira datang menaruh minyak kemasan dan gula pasir dalam plastik putih di rak. Dia baru pulang kerja dan membawa kebutuhan sembako yang di belinya di perjalanan.
"Beras masih ada, gak? Kalau gak ada aku beli."
"Gak usah."
"Terigu?"
"Gak usaah. Buat apaan emang?" Aku bertanya jengkel. Macam Ibu-ibu saja dia. Belum lama dia membeli telur dan masih ada di kulkas.
"Siapa tau butuh buat bikin sesuatu, nanti aku belikan."
"Gak usah." Kata ketus itu lagi yang keluar.
Wira tampak mengehela napas. Apa aku keterlaluan? Mengabaikan tawaran baiknya? Pura-pura gak butuh padahal butuh.
Aku menunduk. Sebenarnya aku tak tega berkata seperti itu. Tapi, keluar begitu saja dari mulutku dengan ekspresi wajah yang tak ramah. Itu karena dia orang asing. Aku tak suka orang asing! Apalagi sudah berlama-lama di kediamanku ini. Berbeda jika yang bersamaku saudaraku, meski laki-laki aku akan bersikap biasa saja.
Hhh! Aku tidak nyaman jika beradius dekat dengan orang asing non mahram. Ditambah Mas Aris sedang tidak ada, aku otomatis selalu siaga.
"Kamu tuh, cantik-cantik tapi galak."
"Apa?"
"Enggak. Cuma bilang rumah ini bagus." Wira melihat ke atas seolah sedang memperhatikan rumah.
Aku mendecih dalam hati. Kamu kira aku tuli? Aku denger, kamu memujiku sekaligus mengataiku. Pake berbohong segala. Pertanyaanku hanya spontan bukan karena gak tau.
Aku meraih bumbu penyedap rasa yang terbuka sisa membuat sayur, melipat ujungnya dan dikasih karet. Supaya tidak keras atau meleleh isinya. Wira tak kunjung pergi. Mau apa lagi sih dia? Kulihat dari bawah kakinya melangkah pelan mendekatiku.
"Kenapa? Apa liat-liat?" tanyaku memergokinya tengah menatapku.
Dia tidak menjawab dan terus mendekat. Aku was-was, mau apa dia ini? Pandangannya tak lepas dariku seperti sedang mengamati sesuatu. Saat sudah dekat, tangannya terulur hendak menyentuh kepalaku.
"Mau apa kamu? Jangan macam-macam!" Kutepis keras tangannya itu. Kurang ajar sekali dia, coba-coba menyentuhku.
"Ada ulat di kepala kamu. Mau diambilin, gak?"
"Hah! Ulat?Ah, tidaak! Di manaaa?!"
Aku langsung menjerit ketakutan mendengar kata 'ulat'. Seperti cacing kepanasan tidak bisa diam. Jilbab aku tepis-tepis, kulepas, dilempar ke sembarang arah. Aku juga menepis-nepis rambut. Aku tampak kesetanan karena sebuah ulat yang belum aku ketahui keberadaannya.
"Dimana ulatnyaaa! Hiiiyyy!"
Aku sudah diserang panik. Tidak mau bentol-bentol nantinya. Kulihat Wira diam saja. Menatapku tak berkedip.
Sejurus kemudian, aku tersadar, tanganku menangkup kepala. Mataku membeliak. Aku langsung ngibrit dalam kamar. Tidaaak. Aku sudah menampakkan auratku lagi di hadapannyaa.
***