Tidak Bebas

1061 Words
"Put, kalo mau jajan minta aja sama Om, ya?" "Iya, Om." Kudengar percakapan Puput dan Wira yang tengah duduk di sofa. Aku berdiri memperhatikan mereka dari partisi dinding. Puput sedang menikmati es krim. Aku tidak memberinya uang dan Puput tidak minta. Tidak salah, pasti dari Wira. Dia bahkan menawarinya untuk jangan segan meminta. Akhir-akhir ini, aku jarang memberi Puput uang. Wira diam memperhatikan Puput yang sesekali matanya tertuju pada televisi, lalu kembali mencolek es krim di wadah yang tengah dipegang. Dia tersenyum kecil, dielusnya rambut pendek Puput. Tatapannya begitu mendamba, sarat akan cinta kasih. Apa karena dia yang tidak punya anak? Jadi bersikap begitu? Dia memanjakan Puput anakku. "Puput belum sekolah, ya?" "Belum." "Kapan mau sekolahnya?" "Kata Bunda nanti setelah semester." "Masuk TK atau SD?" "Kata Bunda masuk sekolah TK dulu." "Umurnya berapa sekarang?" "Lima tahun." Wira manggut-manggut. "Mau Om ajarin nulis, gak?" Puput menoleh. "Puput juga sering diajarin nulis sama Bunda." "Oh, ya?" "Iya. Diajarin nulis huruf." "Berarti udah bisa nulis, ya?" "Bisa sedikit-sedikit. Puput juga udah bisa bikin nama sendiri." "Wah, hebat. Coba Om mau liat?" "Bentar, ya, Om." Puput turun dari sofa meraih Drawing board mainan papan tulis magnet kotak dari bawah rak TV, dia membawanya dan duduk kembali di dekat Wira. Kotak mainan itu yang biasa digunakan untuk corat-coret. Ada bolpoinnya. "Coba bikin nama Puput," perintah Wira. Puput menulis sesuatu di layar kotak itu. Wira begitu antusias memperhatikannya. "Dah, jadi. Ini nama Puput." Wira melihat pada hasil tulisan Puput dengan sedikit mengangkat kotak papan tulis itu ke hadapan wajahnya. "Puput Utari." Wira membacakan hasil tulisan Puput. Puput menulis lengkap namanya sendiri. "Ini nama panjang kamu, Put?" Puput mengangguk. "Wah, pinter kamu, Put." Wira tampak kagum terhadap Puput. Dia tersenyum lebar padanya. Lalu memperhatikan lagi hasil tulisan Puput. Diam-diam aku ikut tersenyum. Tidak sia-sia aku mengajarinya. Sering, sebelum tidur atau sesudah magrib aku mengajari Puput baca tulis sedikit-sedikit. Terkadang siang hari jika anak itu mau. "Kata Bunda, biar pas masuk sekolah Puput udah bisa nulis sendiri." Pandangan Wira dari kotak papan tulis dialihkan melihat padanya lagi. Aku masih anteng menyimak dari sini. "Nulis huruf lain bisa, gak?" "Bisa." "Coba." "Siniin." Wira memberikan kotak itu lagi pada Puput. Anak kecil itu menulis lagi. Wira kembali fokus memperhatikannya. "Ini." "Ayah, Bunda." Wira membacakan kalimat yang ditulis Puput. "Hebat kamu, Put." Puput hanya tersenyum. "Sekarang, Om yang nulis. Nanti kamu sebutin hurufnya, ya." Puput mengangguk. Wira menulis sesuatu di kotak itu. Aku penasaran, mau nulis apa dia? "Ini hurup apa?" Puput memperhatikan yang ditulis Wira dan yang ditunjukannya. "Hurup O." Anak itu menjawab cepat. "Kalau ini?" tanya Wira seraya menunjuk lagi pada kotak. "Hurup M." "Hurup O dan M, dibaca jadi?" Puput terdiam tampak berpikir. Aku menanti kata yang akan diucapkannya dengan gemas. Kedua tanganku dikepal di depan d**a. "Om!" seru Puput kencang. "Betul sekali!" Wira berseru juga. Dia dan Puput tertawa riang. "Pinter banget sih, kamu, Put." Wira merangkul Puput dan mengacak gemas rambutnya. Sangat akrab seperti Ayah dan anak saja. Aku ikutan tersenyum lebar melihat mereka. Wira tiba-tiba menoleh ke arahku. Aku gelagapan dan tidak tersenyum lagi. Aku ketahuan kepergok mengamati mereka. Aku malu. Lalu pergi. "Anaknya pinter juga, ya." Tidak kusangka Wira mengikuti. Aku baru memulai mencuci piring di westafel. "Iyalah, anak aku harus pinter." "Kamu Ibu yang baik." Aku menolehnya sekilas. Tapi, tidak menimpali. "Beruntung ya, Mas Aris punya istri seperti kamu." "Udah deh, jangan ganggu aku. Pergi sana." Aku tidak nyaman dia ada di dekatku. Tidak kuhiraukan ucapannya. "Mau aku bantu, gak?" "Apaan, sih. Gak usah, Wir. Sana." Lelaki itu tidak langsung pergi malah diam. Memperhatikan gerak-gerik tanganku. Aku semakin risih jadinya. "Tadi, aku sama Puput cocok, ya?" "Cocok apaan?" "Keliatan seperti Ayah dan anak, ya, kan?" Apa pula pertanyaannya itu? "Gak, ah." "Jujur aja jawab. Kamu bahkan tadi memperhatikanku." "Aku cuma liat Puput." Ge'er sekali dia. "Aku pantas jadi seorang ayah, ya kan?" Aku berbalik menghadapnya. "Kamu mau anak?" Wira mengangguk. Sudah kuduga. Dari cara dia perhatian terhadap Puput terlihat jelas, sosok laki-laki ini merindukan kehadiran seorang anak. "Nikah!" Hanya satu kalimat itu yang kuucapkan tegas. Dengan menikah dia bisa memperoleh keturunan. Aku benar kan? Wira tidak menjawab. Buru-buru kubilas piring terakhir, dan mematikan keran. Mengelap tangan dengan serbet bersih yang ada lalu berbalik pergi. *** Aku dan Mas Aris tengah menonton TV bersama. Kami duduk berdekatan. Mas Aris tampak fokus pada acara bola. Aku tidak begitu memperhatikan itu. Aku meraih jemari Mas Aris dan bergelendot manja padanya. Mas Aris melihatku seraya tersenyum kecil, lalu tertuju lagi pada TV. Aku memperhatikan lekat-lekat wajahnya dari samping. Wajah tampan dalam pandanganku. Aku mengecup pipinya. Mas Aris langsung menoleh lagi. Aku hendak menciumnya lagi, tapi ditahan. Telunjuknya ditempelkan di bibirku. "Jangan di sini, Bun." Aku mundur, kecewa karena dia sudah melarangku. "Emang kenapa si?" "Malu. Ada Wira. Dia liat tadi. Tuh." Dengan matanya Mas Aris menunjuk ke arah dispenser. Di sana, Wira tengah meneguk minum. Jadi, lelaki itu melihatnya? Melihat aksiku terhadap Mas Aris barusan? Melihat aku yang agresif? Duh! Aku tidak tahu ada dia. Dia seperti tahu bulat, munculnya suka dadakan. Wira menaruh gelas bekasnya minum, lalu berjalan melewati kami ke luar rumah. Aku menunduk. "Di kamar aja, yuk," ajak Mas Aris. "Bosen di kamar terus. Duuh, kenapa jadi gak bebas gini sih?" gerutuku kesal. "Udah, Bun. Udah. Jangan bilang gitu. Nanti Wira denger dan kesinggung." "Bodo!" Aku langsung pergi meninggalkan Mas Aris. Tak kupedulikan panggilannya. Jengkel aku. Aku kesal tidak bisa bermesraan sembarangan lagi dalam rumah. Sebelumnya hal seperti ini biasa. Puput sudah tidur di kamarnya. Kami bisa bermesraan kapan saja dan di mana saja. Sekarang tidak bisa. Mas Aris tidak mau aku sentuh sembarangan demi menjaga perasaan Wira. Menyebalkan! Mas Aris menyusulku ke kamar. Aku tidur miring di kasur memunggunginya. Menaikkan selimut sampai leher. "Lan, jangan ngambek dong." Mas Aris berusaha membujuk. Dia menyentuhku. "Pergi saja sana! Temani tuh orang asing itu." Aku jadi menggerutu. "Jangan gitu dong sayang, katanya mau bermesraan." "Gak jadi!" "Mau aku pijitin?" Suamiku masih belum menyerah. "Gak usah!" Duh, padahal enak nih dipijitin. Terdengar helaan napas panjang Mas Aris. Tangannya yang belum lama menyentuh betis dihentikan. "Yasudah kalo gak mau. Tidur duluan aja, ya, aku mau keluar." Mas Aris benar-benar meninggalkan aku menutup pintu kamar membiarkan aku sendiri. Aku beranjak duduk menyingkap selimut. "Kok malah pergi sih?" Pada akhirnya aku menggerutu lagi. Padahal sebenarnya aku ingin ditemani. Ughh ... Kesal, kesaaal. Kujejak selimut dan menyingkirkan bantal. Dasar tidak peka! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD