Dicari Janda

1116 Words
"Mas Wiraa. Maas?" Aku menengok ke sumber suara yang terdengar manja dan centil itu. Siapa sih yang sudah memanggil Wira pagi-pagi dengan begitunya? "Ada apa?" tanyaku pada sosok berambut lurus direbonding dan dandanan menor tidak jauh dariku. Rupanya dia Si Mae, janda anak dua adiknya si Endang. "Eh, teh Lani ... Mas Wiranya ada, gak?" "Mau apa emang?" tanyaku tak suka berbasa-basi dengannya. "Jangan galak-galak atuh Teh. Kan cuma nanya." "Iya, mau apa?" "Ada deh. Kepoh." Idih, muak sekali aku dengan sikapnya itu. Tidak aku jawab memilih melanjutkan menjemur pakaian. "Yee, Teteh malah diem. Ada gak Mas Wira nya?" "Te nyaho!" "Ish! Masa gak tau." Si jahe—sebutan janda herang—itu berdecak kesal. Bodo amat, ah. Pagi-pagi udah gatel datang nanya-nyain cowok di rumah orang. Apa-apaan? Orang yang dia cari keluar. Wira sudah rapi. Mau ke mana dia? Apa mau jalan sama si Jahe itu? Apa sudah janjian? "Eh, Mas Wira ternyata ada. Udah keren ih, tau aja kalo Mae mau ke sini." Mae tersenyum malu-malu memandang Wira. Sudut bibirku berkedut menahan tawa. Lebay sekali dia. Dari gelagatnya aku tahu, dia naksir si Wira. Wira hanya tersenyum kecil. Aku jadi kepo, apa dia beneran mau jalan sama si Jahe itu? Gak banget deh. Dua sifat mereka berlawanan. "Mas." Mae mendekati si Wira. "Mas Wira libur kerja kan hari ini?" "Iya." Mae tampak berbinar mendengarnya. "Mau gak temenin Mae? Kita jalan, yuk, Mas?" Idih, ganjen banget sih jadi cewek, mentang-mentang janda. Menantang banget. Aku geli liatnya. "Gak bisa. Aku harus pergi." "Pergi ke mana?" Kecewa Mae mempertanyakan itu. Sudut bibirku berkedut lagi menahan tawa. "Mau ke rumah sodara di kota," jawab Wira. "Yaah. Mae udah dandan rapi nih, mau ngajak jalan tadinya. Mas Wira malah mau pergi." "Maaf." Ngapain Wira minta maaf sih? Emang dia pacarnya apa? Gak mungkin mereka pacaran. Cuma si jahe aja yang kegenitan. Wira tidak perlu seperti itu. "Kapan pulangnya?" "Kenapa emangnya?" "Mau nunggu. Mau ke sini lagi." "Lama. Sore. Atau, mungkin malem. Jangan nunggu. Buat apa?" Wira tampak risih. Aku tahu itu. Iya, tuh. Ngapain coba itu si jahe. Niat banget nunggu gara-gara Wira gak ada waktu. "Kapan-kapan deh kita jalan mau gak?" Mae masih berusaha mencari kesempatan. Wira tidak menjawab. Dia menuju ke motornya dan memakai helem. "Aku pergi dulu." Wira menghidupkan mesin motor, tidak peduli Mae yang cemberut dan berdecak kesal. Wira menekan klakson motor, aku melihatnya. "Pergi dulu, Lan. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam," jawabku pelan. Wira berlalu. Aku menjembrengkan jemuran terakhir. Mae mendekat padaku. "Teh, Wira udah pacar belum sih?" "Mana kutau. Kepo," jawabku sambil berlalu membawa ember dalam rumah. "Dasar judes." Tidak kupedulikan gerutuan Mae. Aku masuk dalam rumah dan menutup pintu sesudahnya. Membiarkan Mae jengkel sendiri di luar. "Tadi si Mae datang ke sini nanyain Wira," kataku saat menemani Mas Aris makan siang. "Oh, ya? Si Mae adiknya si Endang yang di belakang rumah itu?" "Iya." "Mau ngapain?" "Mau ngajak jalan." "Masa? Berani bener sama orang baru kenal udah ngajak jalan." "Iya, beneran." "Terus? Wiranya gimana?" "Wiranya gak mau. Dia malah pergi, katanya mau ke rumah sodaranya." "Baguslah. Aku gak setuju tuh cewek deketin si Wira." "Kenapa? Dia janda Wira duda. Pantas tuh." "Gak, gak. Gak cocok." Mas Aris mendadahkan tangannya lalu mencelupkan pada mangkok air untuk cuci tangan. Makanannya sudah habis. "Wira tuh cocoknya sama perempuan seperti kamu. Rapi dan berhijab." Aku menahan napas mendengarnya dan sedikit mundur dari kursi. Seperti aku? "Biar pun Wira duda. Dia bisa mendapatkan perempuan lebih baik lagi. Bahkan mau nikahi anak gadis pun masih pantas. Wira itu masih muda." "Berapa sih umurnya emang?" "Beda diikit lah sama aku mah. Di bawah aku tapi di atas kamu." Aku mengeryit, gak suka menebak-nebak. "Iya, berapa?" "Baru tiga puluh." "Oo ...." Beda tiga tahun sama aku. "Si Mae nanyain Wira udah punya pacar belum katanya?" "Kamu jawab apa?" "Aku jawab gak tau." "Udah biarin aja, gak usah diladenin." Mas Aris meneguk minum, kemudian beranjak dari kursi. Aku ikut berdiri. "Aku mau ngerokok dulu." "Iya, Mas." Setengah jam kemudian Mas Aris bersiap-siap hendak pergi lagi. Dia sudah mengenakan jaket ojolnya. Di luar gerimis, aku ragu melepas kepergiannya. "Hujan, Mas." "Gak apa-apa cuman gerimis kecil." "Kalo jadi hujan deres gimana?" "Ya, neduh dulu." "Gak usah berangkat deh, Mas." Mas Aris melihat ke arahku dan tersenyum kecil. "Mas mau ikhtiar lagi. Doain aja. Magrib juga pulang." "Yaudah, hati-hati kalo gitu." "Iya, Lan." Mas Aris menstater motor lalu pergi dari hadapanku. Suamiku kadang pulang dulu untuk makan siang serta solat zuhur di rumah, kadang tidak. Kadang setelah isya berangkat lagi nyari penumpang onlinenya, kadang tidak. Kadang sampe siang sudah dapat lumayan, kadang sepi sekali, lalu dilanjut malam. Kadang kalau sedang lelah sekali Mas Aris gak berangkat lagi walau dapat sedikit. Maaf kan aku, Mas, sering ngeluh jika dapat sedikit. Tidak ada yang lebih berharga selain melihatmu pulang dengan selamat. Aku tunggu kepulanganmu, Mas. *** "Subhanallah, subhanallah, subhanallah ...." Aku tengah wirid menggulir tasbih seusai solat magrib. Berharap dapat ketenangan hati lebih banyak, hidup lebih berkah, juga meraih lebih banyak pahala. "Bun, Ayah kok belum pulang?" Aku menoleh pada Puput yang sedang mewarnai di buku gambar kartun. Dia melakukannya seraya tengkurap di tempat tidur. Aku di bawahnya tengah duduk bersila di atas sajadah masih dalam balutan mukena. "Mungkin sebentar lagi," jawabku di tengah gerakan bibir mengucapkan kalimat takbir yang berulang. "Puput kan mau mewarnai sama Ayah." "Tunggu, ya, sabar." Puput tidak berkata lagi, dia menunduk melanjutkan mewarnai. "Aha! Mau bareng Om Wira aja, ah." Aku langsung menoleh padanya lagi. Puput juga melihatku. "Jangan. Om Wira masih solat." "Pasti udah selesai, kok, solatnya kan gak lama kayak Bunda." Anak itu beranjak dari kasur dan keluar kamar membawa bukunya. Tidak mengindahkan perkataanku. "Puut!" Dia sudah pergi untuk menemui Wira di kamarnya. Aku berdiri hendak menyusul tidak mau anak itu mengganggunya. Baru keluar kamar langkahku tercekat mendengar nada dering panggilan handphoneku sendiri. Suaranya berasal dari atas lemari kulkas. Aku menaruhnya di sana, entah sehabis mengambil apa. Lupa. Benda pipih itu aku raih, nomor Mas Aris yang menelepon. "Hallo, assalamualaikum. Selamat malam," sapa suara laki-laki di sebrang sana setelah aku menekan panggilan terima. Lho, mengapa bukan suara suamiku? "Waalaikumsalam." "Apa benar anda anggota keluarga Bapak Aris?" "Benar, saya istrinya. Ada apa? Siapa anda? Kenapa handphone suami saya ada pada Anda?" "Saya dari pihak kepolisian. Mengabarkan suami Ibu mengalami kecelakaan. Sekarang ada di rumah sakit." "Apa?! Astagfirullah ...." Aku syok mendengarnya. Badanku langsung lemas, tak kuat berdiri dan terjatuh di lantai. Sementara orang itu masih memanggil-manggil dari handphohe yang ikut jatuh dan tergeletak tidak jauh dariku. "Bunda!" Puput berlari ke arahku. "Oom. Om Wiraaa. Bunda jatuh Oom. Bundaaa ...." Puput menangis. Ya tuhan, kepalaku terasa berkunang-kunang. "Ada apa, Put? Astagfirullah. Lani!" Itu suara Wira. Selanjutnya aku tidak tahu lagi. Tidak mendengar apapun lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD