Aku kangen kamu, Mas ... Tak terasa air mata meluruk jatuh. Kapan bisa bercengkrama bersamamu lagi setelah ini? Aku tidak tahu. Dari celah kaca aku mengusap bayangnya di sana. Aku kerap melihat Mas Aris yang belum sadarkan diri. Sudah dua hari masih terbaring seperti orang tidur. Aku hanya sebentar bisa menengoknya di dalam. Itu pun bersama perawat. Selebihnya banyak memperhatikannya di luar seperti ini. Menurut info, Mas Aris bisa kecelakaan karena berusaha menghindar dari kendaraan lain. Dia menabrak keras trotoar. Malang nian kamu, Mas. Tak bisa kubayangkan betapa sakitnya tubuhmu itu. Semoga cepat sembuh. Jangan lama-lama sakitnya, Mas .... "Assalamualaikum, Lan." Itu suara Ibu. Aku menengok ke belakang. "Waalaikumsalam. Ibu?" Ibu datang bersama Sifa. Ibu merangkulku. Kembali ak

