"Mas, kakinya masih sakit banget, ya?" Mas Aris menoleh padaku, mengabaikan siaran TV. "Kenapa? Kamu udah gak sabar aku pengen cepet kerja?" Astagfirullah. Kenapa suamiku berpikiran seperti itu? Aku hanya nanya. Kenapa dia tersinggung? "Aku cuma nanya aja, Mas. Masih sakit banget apa udah berkurang sakitnya? Bukan buat nyuruh kamu kerja." Ada apa gerangan dengan diri suamiku? Semenjak pulang check-up dia jadi sensitif seperti ini. Mas Aris menghela napas. Dia menunduk. "Begini lho, Mas. Gimana kalo dibantu urut cimande aja? Biar cepet sembuh. Nanti aku akan bilangin ke Abah." "Emang ada biaya buat berobatnya?" Mas Aris bertanya lirih seraya melihatku kembali. "Udah satu bulan lebih aku di rumah, Lan. Diam-diam kamu menangis. Di dapur, di kamar, aku tau. Kamu pusing dengan kebutuhan

