"Lani? Mas sudah selesai." Dipanggil Mas Aris aku lekas menghampiri. Masuk dalam kamar mandi. "Sudah, Mas?" "Sudah." Aku memencet tombol di kloset untuk menghanyutkan kotoran Mas Aris. Setelahnya membantu berdiri dan membenarkan celananya. Dulu aku suka menggerutu kenapa pake toilet duduk dan ingin mengganti. Tidak nyaman rasanya, lebih enak yang versi jongkok. Sekarang aku berterimakasih. Kloset duduk ternyata mempermudah Mas Aris di kondisinya yang sakit. Jika toilet biasa mana bisa dia jongkok dengan sebelah kaki yang patah tulang. Juga dengan tangannya. "Maaf, Lani, bau." Setiap usai buang air besar Mas Aris meminta maaf. Bagiku bukan masalah, aku bisa menahan bau tak sedap tersebut yang sementara. Segini tidak begitu merepotkan. Saat di rumah sakit, dia bahkan tidak bisa be

