Kemarahan Aris

1322 Words

Aku langsung menyusul Mas Aris. Dia masuk dalam kamar. Bruk! Pintu ditutup kencang saat aku hendak masuk dan dikunci. "Mas, buka pintunya, Mas." Jantungku berdegup kencang bukan hanya pernyataan cinta Wira, tapi karena takut dan merasa bersalah pada suamiku juga. Saat ini dia pasti sedang terluka. "Buka, Mas. Aku sayang sama kamu, Mas." Terus aku ketuk-ketuk pintu itu. Mas Aris tetap tidak menyahut. Dari dalam tetap hening. Aku takut dia kenapa-napa. Aku tidak menyangka Mas Aris akan ke dapur. Setahuku dia sedang tidur. Pintu tidak kunjung dibuka. Aku berbalik dan bersandar lemas. Wira sedang menatapku. "Maafin aku, Lan." "Jangan minta maaf sama aku, minta maaflah sama Mas Aris!" Ketus aku sampaikan itu, lalu pergi meninggalkannya sendiri mematung menatap pintu kamar Mas Aris. Ak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD