Part 1

947 Words

DANISSYA POV

 

Kurenggangkan kedua tanganku seraya menguap lebar dan terduduk di kasur empukku. Sinar matahari sudah menyilaukan penglihatanku. Aku melirik sekilas ke notif ponselku yang berkedap kedip. OH GOD! Hari ini hari pertamaku ujian nasional!

 

Segera saja aku bergegas menuju kamar mandi dan bersiap menuju sekolah.

 

Sudah cerah, wangi dan cantik. Aku melihat pantulan diriku dalam cermin. Aku menguncir rambutku dengan model ponytail dan menyisir rapi poni depanku.

 

"Nis, udah jam 7 loh. Mau berangkat jam berapa? Mama udah telat!" Terdengar suara teriakan Mama dari bawah yang hampir memekakan telingaku.

 

"Iya bentar Ma!" Sahutku kencang. Setelah merasa penampilanku cukup rapi dan cantik, aku menuju ruang makan dan mendapati Mama tengah menatapku masam seperti pagi pagi sebelumnya.

 

"Semalem kamu pulang jam berapa? Kok sampe jam 11 Mama tungguin, kamu ga pulang?" Aku menyengir khas dan dibalas dengan dengusan Mama.

 

"Mama cape ya Nis sama kamu." Mama menggelengkan kepalanya.

 

"Aku kenapa lagi sih Ma? Aku cuma nikmatin masa masa remaja aku, toh bukan hal yang negatif yang aku lakuin." Belaku saat Mama sedang bersiap menyemprotkan emosinya yang sepertinya akan meledak.

 

"Emang semalem kamu kemana? Mama ga percaya kalo kamu belajar kelompok untuk ujian hari ini." Tukas Mama sambil menyentikkan tangannya di meja makan.

 

"Nanti aku jelasin sekarang mending kita berangkat Ma." Mama melihat jam tangan di pergelangan tangannya dan menepuk dahinya.

 

"Yaampun, lupa kalo udah telat. Ayo cepet Nis." Mama menarik pergelengan tanganku dan kami berjalan menuju mobil.

 

Namaku Danissya Salshabila. Hari ini adalah hari bersejarah bagiku. Hari dimana aku akan menumpahkan seluruh ilmu yang kutimba selama 3 tahun lamanya. Hari yang menegangkan sekaligus menyenangkan untukku. Hari ini aku akan melaksanakan ujian nasional tingkat SMA.

 

Semalam sebenarnya aku memang bertujuan untuk belajar kelompok dengan kedua temanku, Farah dan Pita. Namun, mereka berdua justru mengajakku jalan-jalan ke mal sampai pukul 12 malam.

 

Apa salah? Aku hanya ingin memiliki waktu untuk bersenang-senang menikmati masa remajaku, selama aku masih memperhatikan sekolah dan tak mengabaikan sekolahku, itu sah-sah saja kan? Mama saja yang terlalu berlebihan dan menganggapku terlalu mengabaikan sekolah dan lebih mementingkan bermain hingga Mama terkadang terlalu frustasi mengurusiku, katanya.

 

"Nah udah sampe. Cepet kamu masuk ke kelas. Bentar lagi gerbangnya di tutup." Ucapan Mama barusan menghentikan lamunanku dan menatap sekolahku.

 

"Iya Ma." Baru saja akan membuka pintu mobil, Mama menarik pergelangan tanganku dan menatap wajahku sendu.

 

"Maaf kalo Mama sering marah-marah. Demi apapun, Mama cuma mau yang terbaik buat Nissya." Aku mengangguk haru dan memeluk Mama erat.

 

Memang, semenjak meninggalnya Papa, Mama jadi lebih overprotective padaku. Tapi justru hal tersebut malah mengekangku dan membuatku jengah sehingga aku sering mengabaikan perintah Mama. Yaa...selama apa yg aku lakukan tak bernilai negatif, aku akan menjalankan apa yang aku mau.

 

**

 

Ujian pertama berjalan lancar. Semua soal soal matematika kuraup lancar. Memang, walau aku ini malas belajar namun jika guru menjelaskan aku dapat dengan mudah mencernanya. Sehingga aku masih mampu bertengger di peringkat kelas.

 

"Nis!" Teriak seseorang yang kuyakini Pita dan Farah.

 

"Oi!" Sahutku.

 

"Gimana mtk? Lo babat habis tu soal soal?" Tanya Farah sambil kami berjalan menuju kantin.

 

"Yoeh!" Sorakku gembira. Farah dan Pita menggelengkan kepalanya tak percaya.

 

"Lo tuh sebenernya pinter Nis. Tapi MALES!" Pita menyentil dahiku dan menekankan kata 'males' di ucapannya barusan.

 

"Bodo teuing ah." Jawabku tak peduli. Pandanganku kini beralih pada cowo ganteng yang most wanted di sekolahku, yang kini tengah berjalan kearahku. Juan. Dia murid seangkatanku yang sudah lama kusukai dari awal masuk sekolah ini.

 

"Eh Juan, nyet!" Seru Farah menepuk nepuk pundakku. Emang deh, nyablaknya Farah gaada duanya. Panggilan aneh kadang suka sesuka hari keluar masuk mulut Farah, tapi dia tetep sahabat kesayangan kok.

 

"Iye nyet gue juga liat!" Jawabku menengok sebal kearah Farah yang dibalas cengiran olehnya.

 

"Jangan-jangan Juan mau kesini lagi, Nis. Tuh liat!" Benar kata Pita, Juan semalin mendekat kearah kami bertiga dan manik matanya langsung bertemu manik mataku. Juan tersenyum manis kearahku. Oh hello, hanya kearahku ya!

 

"Mampus senyumnya kaya permen kojek, manis banget!" Celetuk Farah. Aduh ini bocah.

 

Juan tepat berdiri di hadapanku. Ia menatapku bingung dan mengayunkan telapak tangannya di wajahku.

 

"Nis?" Aku melonjak kaget. Ke gap lagi merhatiin. Malu amat ya.

 

"Eh...Juan? Kenapa?" Tanyaku gugup.

 

"Ngga. Cuma mau ngembaliin catetan mtk lo aja. Nih." Ia menyodorkan sebuah buku tulis yang kuyakini buku catatanku dan aku mengambilnya cepat.

 

"Ok."

 

"Thanks ya. Gue duluan." Juan mengacak rambutku pelan. Dan oh jantungku!!!!

 

**

 

Hari ini cukup melelahkan. Jika dibilang stress tentu saja aku stress. Hei, aku juga manusia yang jika diforsir berfikir aku akan kelelahan.

 

Aku sampai di pintu rumah. Sepertinya Mama sudah pulang. Tumben sekali. Biasanya Mama akan pulang sore. Namun, baru jam 1 siang Mama sudah sampai dan mobilnya sudah ada di pelataran rumah.

 

"Assalamualaikum." Kataku seraya membuka kenop pintu. Kulihat Mama tengah memainkan ponselnya di meja makan seraya menungguku mungkin? Terlihat jejeran makanan sudah tersedia rapi. Dan...sangat banyak. Apa hari ini ada acara penting?

 

"Wa'alaikumsalam." Mama mendongakan wajahnya melihatku dan akupun menyalami tangan Mama.

 

"Loh Ma, ini ada acara apa? Kok tumben ada banyak makanan?" Tanyaku dan langsung duduk di salah satu kursi meja makan.

 

"Hari ini akan ada pertemuan penting. Antara dua keluarga." Sahut Mama. Aku menganggukkan kepala saja tanpa bertanya lebih jauh.

 

"Untuk membicarakan perjodohan kamu dengan anak teman mama." Lanjut Mama. Tunggu, sepertinya ada yang salah disini. Telingaku sepertinya tak sinkron. Pasti ada yang salah kudengar.

 

"Mama jangan bercanda deh."

 

"Mama serius Nis." Aku menatap rait wajah Mama yang serius, errrr. Tak ada sedikitpun wajah canda.

 

"Hah? Ma, aku masih muda. Aku belum lulus sekolah. Mama jangan bertindak sesuka Mama!" Emosiku benar-benar memuncak. Bagaimana bisa Mama membuat perjodohan tanpa sepengetahuanku?

 

"Ini sudah direncanakan Nis. Bahkan almarhum Papamu yang memintanya." Aku masih menggeleng tak percaya.

 

"Ma, ini gila Ma. Aku bahkan ga kenal sama orang yang akan dijodohin sama aku."

 

"Kalian bisa saling mengenal. Dan setelah kamu lulus sekolah, kita akan urus pernikahan kalian." Shock. Aku benar-benar tak tau harus berucap apa lagi. Aku beranjak menuju kamarku dan membanting pintu kasar.

 

Tiba-tiba airmata meluruh begitu saja dari pelupuk mataku. Aku sangat tak menginginkan semua ini.

Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd