Part 6

1335 Words
AUTHOR POV   Hari ini hari kelulusan Nissya. Hari yang sangat bersejarah baginya. Hari itu sekaligus hari yang membuat Nissya takut dan degdegan akan dua hal. Takut dengan hasil kelulusan dan pernikahannya yang semakin mendekat.   "Nis? Jangan gemeteran gitu." Juan menatap Nissya yang sedari tadi duduk di sampingnya menanti kata sambutan kepala sekolah mereka. Kini siswa kelas 12 SMA Cendrawasih berada di sebuah ruangan auditorium yang cukup besar.   "Ngga kok Ju. Gue cuma lagi bingung kenapa kepseknya ngomongnya lemot banget kaya ngejar siput." Gurau Nissya yang membuat Juan tertawa kecil. Juan menyadari ada getaran aneh setiap dekat dengan Nissya. Hawa menyenangkan dan tawa seakan selalu menghampirinya jika dekat dengan Nissya.   "Et dah. Biarin aja Nis. Sekali kali dia ngasih sambutan bertubi-tubi sama kita. Biar eksis sedikit di angkatan kita." Celetuk Pita tiba-tiba yang duduk di sebelah Nissya.   "Jangan grogi sama takut gitu Nis. Gue yakin angkatan kita lulus seratus persen koma satu persen." Ucap Juan yang langsung menggenggam tangan Nissya. Nissya menatap Juan kaget dan bingung, namun Juan malah memandang lurus ke depan seolah ia benar-benar memperhatikan sambutan kepala sekolah.   "Baiklah, saya akan mengumumkan dua siswa yang dapat bertengger di peringkat satu dan dua ujian nasional tahun ini. Mereka berdua adalah siswa yang cerdas yang mampu berada di peringkat satu dan dua." Ucap Kepala Sekolah dengan lantang. Seluruh siswa harap-harap cemas. Sangat berharap bahwa salah satu dari merekalah yang memiliki nilai tertinggi ujian nasional tahun ini di tingkatan sekolah mereka.   "Peringkat pertama....diberikan kepada Damian Juanda Benedict dari kelas 12 IPA 1." Riuh tepuk tangan langsung terdengar begitu nama Juan terpanggil oleh Kepala Sekolah. Cowo most wanted seantero Cendrawasih ini memang sangat cerdas dan memikat.   Nissya memberi tepuk tangan kencang dan tersenyum lebar menatap Juan.   "Gilaaaa lo keren Ju!!!!" Mereka berdua berhigh five dan Juan beranjak berjalan menuju panggung untuk diberikan ucapan selamat serta sebuah sertifikat.   "Dan peringkat kedua untuk nilai tertinggi ujian nasional diberikan kepada....Danissya Salshabilla dari kelas 12 IPA 2." Suasana auditorium semakin riuh. Tak ayal membuat Nissya hampir sangat berjengit kaget kala namanya disebutkan oleh Kepala Sekolah.   "Nisssss gila gila gilaaaaa!" Seru Pita dan Farah langsung mengerubungi Nissya.   "Gila lo sist! Otak lo ternyata tersimpan rapi selama ini sampe kita gatau kalo lo punya otak bening banget!!!" Teriak Farah kencang.   "Baik, Danissya silahkan naik ke panggung." Pinta Kepala Sekolah. Tak banyak siswa siswa yang menaruh rasa bingung dan heran sebab Danissya yang mereka kenal, sangatlah berbeda dari apa yang mereka dengar kali itu.   Nissya terkesan cuek dengan pelajaran dan sering berbuat ulah. Namun memang dibalik semuanya, Nissya memang sangat pintar.   "Hebat ya Nissya. Bisa peringkat dua nilai UN tertinggi se-sekolah. Ga nyangka gue sama temen lo Far." Ucap Ranty teman sekelas Farah di kelas 12 IPS 2.   "Yaiyalah Nissya tuh emang pinter! Makanya jangan ngeliat orang dari covernya doang dong. Diluar aja dia badung, aslinya mah encer banget otaknya kaya es teler." Sengit Farah begitu Ranty terkesan meremehkan Nissya.   "Baiklah semoga peringkat ini memberikan kalian motivasi agar lebih sukses ke depannya. Semoga kalian semua mendapatkan cita-cita kalian dan mampu menghadang kerasnya dunia selanjutnya yang akan kalian jalani. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Nissya dan Juan berjabat tangan ke Kepala Sekolah sembari mengucapkan terima kasih.   Riuh tepuk tangan masih terdengar hingga Nissya dan Juan kembali ke tempat duduk mereka.   **   "Nis, pas promnite besok lo berangkat sama siapa?" Juan langsung menghampiri Nissya yang sedang berbincang dengan Pita dan Farah.   "Ehemm...." Farah pura-patu batuk dan mengusap lehernya.   "Kayaknya sendiri, Ju. Kalo ngga ya sama dua kunyuk ini." Sahut Nissya menunjuk kedua sahabatnya yang kini mengapit kedua lengannya.   "Gimana kalo besok gue jemput lo? Kebetulan gue alone." Pinta Juan. Pita dan Farah langsung berdecak kagum dan menatap Nissya, mengisyaratkan untuk mengiyakan ajakan Juan.   "Gue...belum bisa pastiin Ju. Nanti gue kabarin lo lagi ya." Jawab Nissya. Juan menghembuskan nafas pelan dan berusaha tetap tersenyum dengan jawaban Nissya.   "Okedeh. Gue tunggu kabar dari lo ya." Juan melambaikan tangannya dan pergi menuju teman temannya.   "Ih bedon! Kenapa ditolak coba dateng ke promnite sama cowo seganteng sekece secetar JUAN? Lo gesrek ya Nis?" Kesal Pita mendengar penuturan Nissya pada Juan barusan.   "Gila ya. Gue belum izin sama nyokap. Bisa ngamuk dia kalo gue diem diem dianter jemput sama cowo lain." Ucap Nissya pelan.   **   Nissya pulang kerumah dengan perasaan bahagia. Mamanya pasti sangat bahagia jika mendengar Nissya lulus dengan nilai tertinggi kedua di sekolah. Namun salah satu alisnya berkerut mendapati mobil yang dikenalinya terparkir rapi di depan rumahnya.   "Assalammualaikum." Sapa Nissya langsung membuka pintu lalu menuju ruang tamu. Dan ketakutannya pun terjawab dengan hadirnya Arsya yang sedang berbincang dengan Mamanya.   "Eh udah pulang kamu Nis. Gimana hasilnya?" Nissya tersenyum tipis lalu duduk di samping Mamanya.   "Ma, mama harus tau kalo aku lulus dengan nilai tertinggi kedua di sekolaaaaah!!!!" Seru Nissya langsung memeluk Mamanya dan tanpa ia sadari ia menangis terharu. Begitupun Mamanya.   "Yaampun anak mama emang pinter. Mama ga nyangka Nis." Mama Nissya mengelus pelan kepala Nissya di tengah pelukan mereka.   "Ehem....jadi cuma Mama nih yang dikasih tau kalo kamu lulus dengan nilai bagus?" Nissya langsung tersadar seketika melihat seringaian Arsya.   "Buat apa? Ga penting." Nissya memeletkan lidahnya yang langsung disanbut dengan tatapan tajam Arsya.   "Eh ga boleh gitu dong Nis." Ucap Mama Nissya seraya melepaskan pelukan mereka.   "Nah kebetulan Arsya mau ngajak kamu jalan. Katanya sih buat refreshing. Ganti baju sama dandan yang cantik gih." Nissya membelakakkan matanya kaget dan hendak menolak namun langsung diberi tatapan tajam Arsya.   "Iya deh iya. Yaudah tunggu sebentar, aku siap siap." Dengan langkah kesal, Nissya berjalan menuju kamarnya dan bersiap untuk pergi bersama Arsya. Walau kesal setengah mati dengan Arsya namun tak dipungkiri ia sedikit senang karna Arsya ternyata peduli pada hari bahagianya.   **   Nissya sudah siap dengan celana jeans ripped serta kaos tumblr berwarna putih bertuliskan "infinite" yang baru dibelinya beberapa bulan lalu. Rambutnya ia biarkan tergerai. Tak lupa sneakers pink andalannya.   "Kok hari ini kayaknya santai banget pakaiannya?" Komentar Arsya begitu mereka sampai di mobil.   "Terus? Aku harus pake dress panjang dan dandan menor gitu?" Arsya tertawa kecil dan diam diam menelisik lebih dalam wajah Nissya.   "Ya ngga gitu juga."   "Emang kita mau kemana sih?" Gerutu Nissya.   "Jalan-jalan. Sambil beli kado buat hadiah kelulusan kamu." Sahut Arsya. Pipi Nissya memanas. Ternyata Arsya peduli juga padanya.   "Ngapain? Gausah kali. Dikasih selamet juga udah seneng kok." Ucap Nissya.   "Maunya sih gitu. Ya formalitas ajalah. Kan sebagai calon suami harus peduli sama calon istrinya." Kata Arsya lagi, sambil terus fokus pada jalanan.   Oh cuma formalitas.   Senyum yang tadinya ingin mengembang di bibir Nissya langsung ia urungkan begitu mendengar alasan Arsya.   **   Mereka sampai di mal daerah Jakarta Selatan. Arsya turun dan membukakan pintu untuk Nissya. Nissya hanya menatap Arsya kikuk dan berjalan mendahului Arsya. Namun tanpa Nissya sadari, dengan kecepatan berjalan Arsya, ia mampu mensejajarkan tubuhnya dengan Nissya dan menarik tangan Nissya lalu digenggamnya erat.   "Apa apaan nih? Gaenak Ka diliat orang." Risih Nissya begitu tatapan para pengunjung mal terutama remaja wanita yang memberikan tatapan memuja pada Arsya.   "Biar ga lari." Nissya hanya mendengus sebal dan mereka berhenti di toko boneka.   "Mau yang mana?" Tanya Arsya.   Nissya memilih beberapa boneka. Dan pilihannya jatuh pada boneka beruang yang berukuran sedang berwarna pink. Kesukaan Nissya.   "Ini aja." Tunjuk Nissya. Arsya lalu segera membayarnya dan pelayan lalu memberikan paperbag kepada Nissya.   "Suka?" Tanya Arsya. Nissya mengangguk semangat.   "Kita ke rooftop yuk." Ajak Arsya. Nissya tak mampu menolak dan membiarkan tangannya dibawa pergi menyusuri mal oleh Arsya.   ** DANISSYA POV   Jika pikiran pertamaku begitu mengetahui Arsya adalah orang yang dewasa, menyebalkan, garang dan tak berperasaan rasanya sedikit meleset. Ia bahkan jauh lebih kanak-kanak dibanding aku. Buktinya, jika di mal ia suka memperhatikan barang barang remaja pada umumnya.   Dan kini kami berdiri di rooftop. Sepi. Padahal ada cafe di rooftop ini.   "Kok disini sepi?" Tanyaku bingung mengetahui tak ada satupun pengunjung disini.   "Tempat ini udah aku booking. Jadi gaakan ada yang bisa masuk kesini." Aku membulatkan mata kaget. Gila aja! Berani banget ini orang! Mal ini kan tempat umum, seenaknya aja main booking booking tempat sampe gaada yang bisa masuk.   "Emang kita mau ngapain sih?" Gerutuku sebal. Arsya tak menjawab dan menutup matanya pelan seraya menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Tampan. Hey! Apa yang salah dengan otakku?   "Kak?" Dia masih diam dan menutup matanya.   "Kak Arsya..." Kataku lebih kencang.   CHU~   Ya tuhan....   Paper bag yang kubawa tadi sudah jatuh ke lantai. Arsya....dia....menciumku. Ciuman pertamaku. Dia merebutnya.   Dia makin memperdalam ciumannya dan kini tangannya sudah merengkuh pinggangku. Aku tak membalas karena bingung dan shock dengan sikapnya yang tiba-tiba seperti ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD