"Beneran jadi papa muda ini ceritanya?"
Geo menoleh diliatnya Firly yang sudah ada di dekatnya, tengah menata peralatan tempurnya untuk bekerja di atas meja.
"Mau cerita? Mumpung para cecunguk belum sampai?"
Geo nyengir. Ini baru pukul tujuh pagi memang, jadi ruangan masih terlalu dini disambangi para pencari sesuap nasi yang salah satunya teman-temannya. Pria itu hampir tidak bisa memejamkan mata, karena berbagi tempat tidur dengan tunangan kakaknya. Alhasil, dengan kesadaran yang hampir menuju nol, setelah membuat sarapan sederhana, ia pun memutuskan untuk segera berangkat kerja saja meninggalkan Kintan yang tadi masih berjibaku dengan selimut dan juga mimpinya.
"Gue sendiri juga bingung mau cerita apa. Gue cuma bingung apa yang harus gue lakuin, kalau-kalau keluarga gue sampai tahu tentang kejadian ini. Apa lagi, abang gue. Lo tahu hubungan gue sama abang yang sangat harmonis itu, kan?"
Geo dan abangnya memang saudara. Namun, bukannya akrab layaknya adik kakak pada umumnya, mereka lebih seperti orang asing yang akan saling canggung ketika sedang berinteraksi. Geo sendiri jarang ngobrol dengan abangnya begitu pula keluarganya. Mamanya saja alih-alih memarahi abangnya secara langsung, lebih sering melampiaskannya kepadanya. Atau, kalau dirasa penting sekali, mamanya akan bilang kepada Geo dan pria itu yang akan menjadi jembatan keduanya untuk berdiskusi. Itu mamanya. Lain hal dengan sang ayah yang malah tidak pernah bertegur sapa dengan anak sulungnya
"Lo suka sama dia? Soalnya, gue rasa lo bukan cowok yang tiba-tiba mau ngelakuin itu sama sembarang cewek." Firly menatap lekat Geo dan tanpa pria itu mengatakan apa-apa, dia sudah bisa langsung mengartikannya. "Iya, gue tahu. Ngga perlu dijawab. Lo, yang tipenya selalu memikirkan matang-matang sebab akibat sebelum melakukan tindakan dan berakhir kayak gini, sih. Bukan gue juga pun, anak-anak udah pasti bisa nebak. Ya, gue sebagai temen sih cuma bisa support lo aja si, Ge. Semoga kejadian ini tuh ada sesuatu dibaliknya."
"Dia enggak mau gue tanggung jawab, tapi sikapnya sama gue berlawanan dengan apa yang dia utarakan, Fir. Gue jadi bingung harus bersikap kayak gimana."
Geo menatap ponselnya kemudian menyerahkannya kepada Firly. "Dia bilang mau ketemu lagi sama gue."
Firly mengusap kepala sahabatnya. "Temuin aja, Ge. Liat apa mau dia. Ikuti alurnya aja. Bagaimana pun juga lo juga ikut andil dalam kesalahan ini soalnya, Ge."
Geo beberapa kali menguap dan mengucek matanya. Bagaimana tidak, setelah semalaman tidak tidur, sekarang dia harus duduk manis sendirian di dalam restoran melawan kebosanan. Hampir dua puluh menit dan Kintan belum juga menampakkan dirinya. Padahal, gadis itulah yang memaksanya. Bahkan tadi sempat mengancam akan memukul-pukul perutnya, jika Geo tidak mau menemani dirinya.
Untuk Geo yang terbiasa tepat waktu, bisa tetap duduk manis di tempatnya seperti ini adalah suatu hal yang luar biasa. Pria itu, biasanya akan segera pergi saat lebih dari lima menit orang itu lalai dari waktu perjanjian mereka.
"Lo uda datang?" Tanpa basa-basi atau bahkan setidaknya berkata sorry, begitu duduk Kintan langsung saja meminta buku menu dan langsung memilih apa yang dia mau. "Lo mau makan juga, ga?"
Geo cuma menatap gadis itu takjub sembari menghela napas panjang. Pria itu mengambil buku menu tadi dan mengucapkan apa yang dia mau kepada pramusaji.
"Tangan lo, kenapa?" tanya Geo saat tanpa sengaja melihat ada perban menghiasi jari telunjuk Kintan.
"Gue tadi kan abis belajar masak tuh, eh enggak sengaja keiris dong. Kan tai banget! Ogah gue masak lagi! Kegiatan macam apa itu!"
"Sakit?"
Kintan mengangguk. "Sakit banget! Berdarahnya banyak banget tahu, Ge. Ini berbekas enggak, ya?"
"Kayaknya harus diamputasi deh, itu."
Geo terkekeh saat Kintan menghadiahinya dengan pelototan. Pria itu baru tahu ada sisi Kintan yang seperti ini. Tangan Geo bahkan gatal ingin sekali mencubit pipi Kintan yang beberapa kali mengembung saat bercerita. Untung saja akalnya masih bisa bekerja, kalau tidak tangannya pasti akan berucap selamat tinggal kepadanya.
"Pelan-pelan makannya."
"Mumpung gue bisa makan." Kintan menghentikan suapannya menatap Geo. "Ini tuh aneh banget tahu, Ge. Nafsu makan gue pasti muncul saat gue liat lo."
Geo juga ikut menghentikan makannya. Pria itu melipat kedua tangan di d**a sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi. "Bukannya, lo emang selalu nafsu kalau liat gue?"
Bukannya malu Kintan malah mendorong wajahnya maju. Gadis itu mengedipkan salah satu matanya. Dan sudah bisa dipastikan, Geo yang ada di hadapannya langsung berubah menjadi cacing kepanasan. Ini sih namanya senjata makan tuan.
Geo menyodorkan minum saat dirasa Kintan sudah menghabiskan makanannya. Walau setelah itu, tidak ada kata terima kasih yang didapatnya.
"Ge, lo kok enggak marah?"
Geo mengernyitkan kening. "Marah kenapa?"
Apa ini taktik wanita yang akan memulai perkelahian di antara mereka?
"Karena sikap gue selama ini. Gue juga ngrecokin lo mulu."
"Ternyata, sadar juga."
"Kenapa, lo enggak marah?" ulang Kintan lagi.
"Kenapa, gue harus marah?"
"Lo aneh. Lo cowok paling aneh yang pernah gue temuin."
"Terserah lolah. Lo uda kenyang kan, sekarang? Gue uda boleh balik buat kerja?"
"Peluk dulu, boleh?"
"Di sini?" Geo menatap sekitar.
Walau suasana restoran tidak terlalu ramai, akan tetapi berpelukan di tempat umum dengan status Kintan yang masih tunangan kakaknya, rasanya agak kurang tepat. Bisa saja, di antara orang-orang itu ada yang mengenali dirinya ataupun kakaknya.
Kintan mengangguk. "Iya di sini? Lo maunya di mana lagi? Hotel dekat sini?"
"Kintan...."
"Bercanda, ih ... serius amat!"
Setelah menghela napas cukup berat akhirnya Geo pun merentangkan tangannya juga. Sambil menahan senyumnya, Kintan menggeser kursi yang baru didudukinya, kemudian melangkah maju ke hadapan Geo sebelum pada akhirnya berhambur ke pelukan pria itu.
"Gue suka wangi lo," ujarnya sambil menghirup dalam-dalam aroma tubuh Geo.
"Mau gue kasih parfumnya?"
Kintan menggelengkan kepala. "Rasanya bakalan beda kalau nyiumnya enggak langsung sama orangnya."
Spontan Geo melepas pelukan mereka. Pembicaraan ini akan terus berlanjut, jika dia tidak segera menghentikannya. Jantungnya tidak kuat menerima serangan yang bertubi-tubi ini. "Kalau gitu gue balik, ya? Lo mau diantar atau gimana?"
"Kenapa telinga lo merah banget. Lo salting, ya?"
"Menurut, lo?"
Mana ada pria yang akan baik-baik saja diperlakukan seperti itu?
Kintan tertawa. "Gue balik sendiri aja."
"Abis ini lo mau ke mana? Kerja?"
Kintan menggeleng. "Gue cuti. Abis ini gue mau ke kantor Fiko."
"Sialan!"
Apa ini rasanya habis manis sepah dibuang?
Kintan tertawa. "Itu kantor tempat lo kerja juga, ya? Oh iya, Fiko atasan lo, kan?" goda gadis itu.
"Lo, sengaja?"
"Lo, lupa? Gue calon kakak ipar, lo," bisik Kintan.
"Lo, lupa juga, ya? Di perut lo ada siapa?"
Kintan menarik kepalanya, menaikkan sudut bibirnya. "Lo, lupa juga, ya? Ini bakalan gue apakan?"
Geo terdiam dengan kening berkerut menatap Kintan agak lama. Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, pria itupun akhirnya berbalik pergi.
Geo kembali gelisah. Walau belum tahu bentuk calon manusia yang berada di dalam perut Kintan seperti apa, rasanya dia seperti sudah sayang begitu saja. Dia ingin melarang rencana Kintan, namun Geo sendiri tahu, gadis itu tidak akan pernah mendengar ucapannya.
Salah tidak sih, Geo berpikir punya hak atas kepemilikan calon bayi itu? Atau juga memiliki keputusan yang sama mengenai apa yang harus dilakukan soal janin yang ada di dalam perut Kintan? Hatinya tidak sanggup merasakan kesakitan yang akan dirasakan calon bayi mereka, jika nanti dimusnahkan begitu saja oleh orang dewasa. Bukankah janin itu tidak salah apa-apa? Ini kesalahannya. Seratus persen salahnya.