"Lo marah?" teriak Kintan dan itu membuat Geo berbalik, kembali mendekat.
"Gue boleh marah? Gue ... gue tahu ini tubuh lo. Tapi, Kin yang di dalam perut lo itu juga bagian dari gue. Gue nggak sanggup ngebayangin janin yang nggak salah apa-apa itu harus dibuang gitu aja. Dia nggak salah, Kin. Kita yang salah. Lo bisa nggak berpikir ulang. Kita cari solusi bareng-bareng. Percaya sama gue, gue bisa ngatasin ini."
"Ngatasin kayak gimana maksud lo? Mau nikahin gue?"
"Iya. Kalau itu harus. Gue bisa nikahin lo."
Mata Kintan bergetar mendengar, tidak adanya kegentaran di dalam ucapan Geo barusan.
"Gimana? Kalau lo mau, gue bisa ngomong sama keluarga gue habis ini. Toh makin lama hal kayak gini juga bakalan terendus juga."
"Tapi gue gak cinta sama lo. Gue cintanya sama abang lo. Gimana, dong?"
"Terus? Kenapa lo ke apartemen gue waktu itu? Lo belum kasih gue alasan yang pasti soal itu?"
"Itu cuma kesalahan. Ini semua tuh, di luar prediksi gue. Tapi yang jelas, terserah gue mau gue apain apa yang ada di dalam tubuh gue nanti. Lo, nggak berhak atur-atur gue."
"Please, Kin. Kenapa pikiran lo bisa kayak gini?"
Kintan diam saja. Rasanya, tidak adil jika gadis itu harus merengut masa depan Geo begitu saja.
Setelahnya, keduanya hanya diam saling tatap. Kintan bisa merasakan kekecewaan pada sorot mata Geo. Ternyata apa yang orang-orang bilang mengenai betapa baiknya adik Fiko itu benar. Dan sialnya, pembuktiannya berakhir seperti ini.
Kintan menatap kepergian Geo dalam diam. Gadis itu tidak dapat berbuat apa-apa, walau tahu betapa tidak nyamannya Geo mendengar apa yang tadi diucapkannya. Apa benar dia akan sejahat itu membuang bagian dari tubuhnya begitu saja? Namun, untuk membiarkan Geo bertanggung jawab kepadanya, rasanya tidak benar. Ini semua kesalahan Kintan. Dia yang memulai semua ini. Jadi, dia sendirilah yang harus menanggungnya.
Harusnya, Kintan cari pria lain untuk melampiaskan kekesalannya kepada Fiko. Namun, hatinya tidak bisa. Dia tidak bisa menyerahkan tubuhnya begitu saja kepada sesorang asing yang bukan keinginannya.
Malam itu, walau pikirannya caruk-maruk tidak bisa ia pungkiri, ia lega juga.
"Kenapa ke sini?"
Kintan berusaha untuk tetap tersenyum mendengar pertanyaan singkat tunangannya. Mencoba tetap anggun, gadis itu mengeluarkan lipstik lalu membubuhkannya pada bibir miliknya.
Walau hatinya sakit, Kintan juga harus tetap cantik, bukan?
"Aku kangen sama kamu. Udah lama kan kita gak ketemu. Aku udah punya tunangan, tapi berasa nggak punya gandengan."
Mereka tidak menjalin hubungan jarak jauh. Mereka satu kota, namun untuk ketemu saja, seolah diberi kuota.
"Tapi kenapa ke sini? Ini tempat kerja Kintan."
"Siapa, yang bilang ini club? Kalau nggak ke sini ke mana? Ke rumah kamu? Bisa-bisa kamu malah tambah marah, kan sama aku?"
Ini juga yang bikin Kintan heran. Mereka tidak sedang menjalin hubungan secara diam-diam, akan tetapi dia merasa seolah menjadi wanita simpanan.
Fiko berjalan mendekat, duduk di sebelah Kintan lalu memeluknya. "Ada apa? Tumbenan kamu kayak gini?"
"Kamu nggak takut aku selingkuh, kalau sikap kamu kayak gini terus sama aku?"
"Emang, kamu bisa selingkuh dari aku? Ada yang mau sama kamu selain aku?"
"Maksudnya?"
"Mau cari cowok kayak gimana lagi Kintan, Sayang? Cita-cita kamu kan dapat cowok ganteng dan kaya. Mau cari di mana lagi yang kayak aku yang punya dua-duanya?"
"Serius, kamu bilang kayak gitu?"
Walau Kintan sadari, sama sekali tidak ada yang salah dengan apa yang keluar dari mulut Fiko. Namun, kenapa segak nyaman itu mendengarnya?
Fiko tersenyum. "Bercanda ih, kenapa jadi serius gini kamu?"
Kintan, memejamkan mata mencoba mengatur nafasnya. Memang ada ya orang bercanda dengan wajah poker seperti itu?
Kintan menyandarkan kepala pada bahu Fiko. "Sayang ... tangan aku kena pisau. Sakit." Gadis itu mengangkat jari telunjuknya tinggi-tinggi, supaya terlihat jelas oleh kekasihnya.
"Habis ini kamu pulang, ya? Aku ada meeting bentar lagi."
Kintan mengerutkan kening, meyipitkan mata, dan mendorong kepalanya maju mendekat ke arah Fiko. "Serius aku diginiin? Kamu, nggak tanya luka ini kena apa? Bisa saja ini nanti parah terus amit-amit diamputasi?"
"Cuma sedikit aja nggak bakalan mati. Kamu pulang, ya? Enggak enak nanti dilihat orang-orang."
"Fiko. Kamu sayang sama aku enggak, si?"
Sial, Kintan tidak bermaksud merengek seperti ini. Tapi, kenapa nada yang keluar malah menjijikan seperti ini?
"Sayanglah. Kalau enggak ngapain aku lamar kamu?"
Kintan menghela napas. "Aku pulang," ujarnya.
"Hati-hati."
"Serius? Gitu, aja?"
"Terus, gimana?"
"Bahkan kamu gak tanya aku sudah makan atau belum? Kenapa aku tengah hari ke sini? Apa nggak kerja? Atau aku lagi sibuk apa? Keadaan aku gimana? Kamu nggak bisa ya sedikit saja bertanya?"
"Kamu sudah makan belum, Sayang?"
Kintan mengusap dadanya menahan diri. "Terserahlah!" serunya meninggalkan ruangan dengan menghentakkan salah satu kaki setelahnya.
Dimana perasaan berbunga-bunga seperti saat pertama kali Fiko mengutarakan perasaan suka kepadanya? Kenapa, hubungan mereka jadi hambar seperti ini? Apa Kintan terlalu banyak berekspektasi? Gadis itu tahu dari dulu, Fiko adalah tipe pria dingin yang sulit di dekati. Namun, dia kira perubahan akan terjadi saat mereka menjalin hubungan nanti. Toh, seorang Fiko yang terkenal tidak punya hati itu tiba-tiba menyatakan perasaan kepadanya adalah suatu keajaiban yang menjelaskan bahwa pria itu masih memiliki sedikit hati. Lagi pula, bukannya, itu saja sudah menjadi bukti, bahwa Kintan adalah satu-satunya gadis yang cukup beruntung?
"Cemberut aja itu muka," sindir Geo yang tiba-tiba berdiri di sebelahnya.
Kintan menatap lurus pria yang tengah membawa tumpukan berkas di sebelahnya. Dalam diam ia perlahan melangkahkan kakinya untuk maju. Semakin Geo memundurkan langkahnya, semakin ia tertarik untuk semakin mendekat. Hingga tembok di belakang Geo memblokade pria itu.
"Lo mau ngapain?" tanya Geo terbata. "Lo sadar kan ini di kantor tunangan lo?"
Kintan menatap bibir Geo lumayan lama. Sial, kenapa dia jadi berpikiran kotor terus seperti ini? Apa bisa ia menyalahkan hormon ibu hamil? Tadi, bahkan dengan tunangan sendiri saja sama sekali tidak terbersit pikiran-pikiran Kotor seperti ini.
Geo dan Fiko lumayan mirip. Ya jelas kan mereka bersaudara. Mereka sama-sama tampan, tapi bedanya yang satu tahu kalau dirinya tampan yang satunya lagi masih polos tidak sadar akan pesonanya. Dan pria yang ada di depannya ini lebih terlihat manusiawi.
Kintan tidak boleh seperti ini terus. Dia tidak boleh lemah. Apalagi, semakin lama mucul pikiran membanding-bandingkan keduanya di dalam kepalanya. Ada di dekat Geo juga membuat sisi yang lain di dirinya terus saja berontak ingin keluar. Sebelum terlambat, ia harus segera memikirkan jalan keluar atas semua konsekuensi yang dia perbuat.
Kintan mundur satu langkah. "Setelah ini, gue harap, kita nggak ketemu lagi," ujarnya lalu pergi.