September ceria, mungkin hanya jargon tanpa fakta untuk Geo tahun ini. Mana ada ceri-cerianya. Awal bulan sudah dikejutkan dengan calon manusia baru hasil dari kerja keras satu malamnya dan sekarang ada lagi masalah menanti. Padahal, masalah yang satunya saja belum bisa teratasi.
Geo berjalan tertatih. Siku dan kakinya terasa ngilu sekali, akibat menyambangi lantai pantry. Bukan tanpa sebab ia jatuh terjerembab tadi. Ada seseorang yang Geo yakini melakukannya dengan sengaja. Iya, dia berani bersumpah, salah satu bosnya di kantor yang bernama Yoga itu bukan tanpa sengaja melakukannya. Geo melihatnya sendiri.
Apa ini karma instan yang didapat karena menghianati abangnya? Apa pria itu tahu, kalau Geo diam-diam berhubungan dengan tunangan kawannya?
"Lo punya masalah apa sih sama pak Yoga?"
Seketika Geo seperti menemukan oase di padang pasir. "Rend! Lo, tahu tadi pak Yoga memang sengaja jegal gue, kan! Gue gak mengada-ngada!" serunya begitu antusias, karena sebelumnya tidak ada yang percaya dengan ucapannya.
Rendra mengangguk mengamini. "Kemarin juga gue liat dia liatin lo mulu, tuh." Pria itu bergidik geli. "Jangan-jangan ... dia suka lagi, sama lo?"
"Najis! Otak lo bisa nggak sih digunain buat mikir hal yang normal? Aneh terus pikiran lo!"
Raya memundurkan kursi dengan kakinya lalu mendekat ikut bergabung dalam pembicaraan. "Heh kalian tahu, nggak? Sebenarnya ini gosip udah lama juga, sih. Berhubung gue peduli sama lo, Geo. Jadi, gue kasih tahu lo. Lo harus waspada. Katanya, pak Yoga itu suka sama yang berburung. Itu makanya, mungkin doi suka sama lo, tapi lonya gak peka. Makanya--"
"Teori sesat!"
"Lo harus hati-hati, Ge. Katanya, penyimpangan kayak gitu itu tuh nular, tahu. Kalau lo tiba-tiba dideketin, lo harus cepet-cepet ngejauh."
"Pak Yoga normal, tahu!" Firly mulai ikut bersuara.
Geo menghela napas, karena ucapan Firly membuat pria itu sedikit lega.
"Sok tahu, lo! Emang pernah lo liat dia sama cewek? Enggak, kan? Dia ganteng, cok! Ganteng banget. Biasanya ganteng, sukanya sama yang ganteng juga. Dan, masak udah tiga puluh tahun masih aja jomblo aja dia. Aneh banget tahu, enggak?"
Geo meringis. Baru juga dia sedikit lega. Tambah lagi kekawatirannya mendengar teori lain dari mulut Raya.
"La, ini cecunguk satu ini juga jomblo." Firly menunjuk Geo dengan dagunya.
"Gue diem lo ini."
"Bedalah! Geo kan cuma statusnya aja yang jomblo. Tapi, udah ada buktinya kan burungnya akurat."
"Setan!"
"Ih, Sayang nggak boleh gitu ih kalau ngomong." Rendra mencoba mengendalikan kekasihnya.
Geo, bergidik. Sialan! Otaknya jadi berpikiran yang tidak-tidak. Ada benarnya juga apa yang dikatakan Raya barusan, karena pak Yoga yang hampir sulit ditemui itu mendadak akhir-akhir ini lebih sering riwa-riwi. Bukannya, itu saja sudah cukup aneh?
"Udah gue pulang aja. Otak gue lama-lama lo cuci dengan teori-teori sesat lo, kalau gue masih tetap saja di sini." Geo menoleh ke arah Firly. "Jadi ditemenin, enggak?"
Firly mengangguk. Rendra dan Raya saling tatap.
"Ada apa, ni? Kita ketinggalan info apa ni?" Raya mulai berasumsi.
"Gue minta tolong Geo, nemenin gue beli kado buat ponakan gue."
"Kenapa nggak minta tolong sama gue buat nemenin lo? Ini malah jalan berdua. Bikin kita berpikir yang iya-iya, lagi?"
"Lo emang ada waktu? Wong pacaran mulu kerjaannya. Udah deh kalau gitu kita balik duluan." Firly yang tiba-tiba teringat sesuatu menoleh menatap Geo. "Tapi, Ge ... lo emang nggak apa-apa? Kaki lo kan sakit?"
"Ciee ... perhatian banget ni kayaknya," sindir Raya, masih mempertahankan asumsinya.
"Apa sih, Ra! Gak jelas banget tahu, enggak? Gimana, Ge?"
"Aman ... buat jalan keliling mall aja masih aman. Jangan lupa aja traktirannya."
"Lo tau kan, Fir. Budget buat ngejajanin dia sama beli kado pasti bakalan lebih banyak ngejajanin dia. Geo makannya banyak tahu ... mending lo sama gue aja."
"Ogah! Gue sama Geo aja. Ini masih tanggal muda, gue masih kaya. Ngejajanin brondong, bukan masalah buat gue."
Geo merangkul Firly sambil tertawa. "Keputusan yang tepat, sahabat!"
Geo berjalan mengekori Firly ke sana ke mari, hingga akhirnya gadis itu berhenti pada stan barisan boneka mini yang viral dari beberapa minggu lalu.
"Lucu banget, enggak sih boneka ini?"
Geo mengerutkan kening. Dia memang tidak begitu paham dengan perbonekaan, namun dia tahu mana bonek yang lucu dan mana yang sebaliknya. Berusaha mencari-cari Geo tidak menemuka sisi mana yang bisa dikatakan lucu.
"Serem tau Fir itu boneka. Mulutnya lebar, gitu. Emang anak-anak enggak takut?"
"Mereka malah suka, tahu. Ini tuh pernah dipakai sama Lisa black pink."
"Siapa, itu?"
"Duh dasar bapak-bapak. Itu girl band korea. Lo dua puluh lima tahun hidup masak nggak tau black pink?"
"Tau gue. Tapi gue taunya cuma jennie doang. Baru tau gue kalau ada mbak Lisanya."
"Eh itu ada pak Fiko. Wuaah ceweknya cantik juga, ya?"
Geo memaksakan senyumnya mendengar Firly berbicara. Gadis itu memang hanya mendengar tentang hubungan dia dengan abangnya tanpa tahu abang Geo itu siapa. Fiko dan Geo juga sudah sepakat merahasiakan hubungan persaudaraan mereka di kantor.
Tanpa diduga Geo dan Kintan bertemu tatap. Mereka saling pandang beberapa saat, sampai seseorang di belakang Fiko membuyarkan kesedihannya.
"Anjir! Gue gak salah lihat, kan?"
Firly memutar bola matanya. "Iya, kenapa sih itu manusia kayak laler, di mana-mana ada?"
"Dia ngeliatin gue mulu, f**k! Gue jadi mikir dia beneran suka sama gue, lagi. Ini gara-gara Raya, gue jadi mikir hal yang nggak waras."
Otaknya benar-benar berhasil dicuci oleh Raya.
"Ahaha ... hayo lo...."
Ini juga, bukannya menenangkan malah bikin dirinya malah tambah panik.
"Kita kabur aja nggak, sih?"
Firly tertawa. Sepertinya, gadis itu sangat bahagia melihat betapa cemas dirinya. "Tenang aja kali? Dia nggak ngegigit."
"Pait pait pait! Gue jadi kepikiran aneh-aneh gara-gara Raya."
"Lagian Raya, lo percaya."
"Mana bisa gue nggak percaya sama Raya, Fir. Sekarang itu pak Yoga ngeliatin gue mulu dari sana." Geo menahan kepala Firly agar gadis itu tidak sampai memutar kepalanya. "Jangan liat mereka, liat gue aja. Kita pura-pura aja nggak liat mereka, oke? Lagi pula, dengan banyaknya karyawan di kantor semoga saja dia nggak hafal muka kita. Bisa jadi nggak sih pak Yoga liatin gue karena mungkin merasa wajah gue nggak asing? Atau gue mirip siapa gitu sodaranya dia?" ucapnya mencoba menghibur diri.
Firly menahan tawa. Mukanya sampai merah, karenanya. "Lo lucu banget sih, Ge."
Geo tiba-tiba memiliki ide. "Fir, gue minta maaf, ya?"
"Hah? Minta maaf, untuk?"
"Habis ini. Lo, enggak perlu traktir gue nggak apa. Kalau perlu gue yang traktir lo. Tapi, Fir ... lo, harus maafin gue ya habis ini? Janji, ya?"
Tanpa tahu apa-apa, Firly hanya mengangguk saja.
Geo mengetuk-ketuk jari-jarinya di atas meja. "Janji, ya? Jangan pukul gue juga."
"Iya iya ... kenapa, sih?" Firly melotot saat sesuatu menempel pada bibirnya.