Ceroboh

1482 Words
Geo pelan-pelan menarik kepalanya menatap penuh khawatir gadis di depannya. "Lo janji nggak bakalan marah kan, tadi?" tanyanya memastikan. Mereka sahabatan sudah cukup lama dan akan sangat menyedihkan kalau berakhir begitu saja gara-gara kecerobohan dirinya. "Gue minta maaf, ya?" Firly hanya terus diam menatap Geo dengan dua alis yang hampir bertabrakan. "Fir, jangan diam terius kayak gitu dong. Gue malah makin nggak enak nih sama lo." Ditatap dengan sedemikan rupa tentu saja membuat Geo semakin nelangsa. Ia akui, kali ini dirinya keterlaluan. Hal yang tadi dilakukan sangat berlebihan. Harusnya, disituasi tadi, otaknya bisa berpikir jernih seperti biasanya. "Lo ngapain nyium gue, setan!" seru Firly yang itu, justru membuat Geo sedikit banyak bisa kembali mengatur degup jantungnya. Melihat ekpresi jengkel gadis itu beribu-beribu lebih baik, dari pada wajah tak terbaca yang beberapa detik tadi hampir menghentikan alat peredaran darahnya. "Please pukul guenya nanti aja," desis Geo memberi kode kepada Firly, jika masih ada beberapa manusia yang tengah memperhatikannya. Firly mencebik menurunkan tangannya yang hendak menyambangi kepala sahabatnya. "Gue merinding, Fir ... liat noh, pak Yoga masih aja liatin gue. Gue reflek aja tadi. Berharapnya sih pak Yoga tahu kalau gue itu sukanya sama cewek." Geo menghela napas melirik takut-takut ke arah bos di kantornya itu yang sialnya masih saja mengawasi mereka. "Gue lebih baik sama lo aja dari pada sama pak Yoga," ucapnya putus asa. "Dih! Gue kali yang ogah! Lo kenapa seyakin itu sih kalau pak Yoga liatin lo? Bisa jadi, kan? Dia itu ternyata liatin gue! Lagian cium jidat kan, bisa! Ngapain malah cium bibir gue? Cari-cari kesempatan ya, lo!" Firly hendak akan menjitak kepala Geo, namun lagi-lagi ia urungkan saat melihat wajah melas sahabatnya. "Demi! Gue, gak berpikiran apa-apa saat tadi nyium lo!" bela Geo sambil mengacungkan dua jari ke atas kepalanya. Mana berani dia berpikiran m***m kepada sahabatnya sendiri. Pria itu berdehem memperbaiki posisi duduknya. "Lebih meyakinkan cium bibir tahu, Fir dari pada jidat. Lagi pula kenapa juga pak Yoga liatin lo? Gak ada kerjaan banget." Firly mencebik. "Meyakinkan, meyakinkan your eyes! Bisa jadi kan pak Yoga tertariknya sama gue, bukan sama lo." "Nggak mungkinlah." Geo mengibaskan tangannya. "Lah, kenapa nggak mungkin, coba?" "Ngapain juga harus tertarik sama lo?" Firly menyepitkan matanya memegang kepala Geo dengan kedua tangan agar menatap dirinya dengan seksama. Supaya pria itu tahu, dia juga punya pesona. "Hey! Lo serius bilang kayak gitu sama gue? Sekarang coba liat gue baik-baik! Cepetan! Atau lo perlu diajari cara menggunakan mata lo dengan benar? Enak aja lo bilang enggak mungkin pak Yoga suka sama gue. Gue itu cantik, Ge!" Geo mengerjap. Ditatapnya benar-benar Firly. Wajah oval, mata bulat, bulu mata lentik, hidung mancung, kulit bersih. Dia sama sekali tidak pernah menampik kecantikan yang dimiliki oleh sahabatnya. Sebenarnya, bukan maksud dia mengatakan, jika tidak mungkin bos mereka menyukai Firly. Kan, ini konsepnya pak Yoga suka yang sama-sama punya batang dan gak mungkin juga dia tertarik sama perempuan termasuk, Firly dan gadis cantik lainnya. Pria itu memejamkan mata beberapa saat. Sungguh, ini semua gara-gara Raya yang meracuni pikirannya. "Lo cantik, Fir. Nggak ada yang bilang lo nggak cantik. Lo cantik dan bukan itu maksud gue." Firly mendorong kepala Geo mencoba mengalihkan pandangan menyembunyikan pipi merahnya. Sial, Yoga masih saja menatap mereka di tempatnya. Firlypun mau tidak mau akhirnya kembali menatap Geo. Gadis itu menyipitkan mata saat Geo kedapatan menahan senyum saat bertemu tatap dengannya. "Kenapa, lo?" "Pipi lo merah." "Terus?" "Lucu." "Jijik gue! Jangan bicara aneh-aneh deh! Merinding gue! Gue geplak juga ya, lo!" Geo kembali cemberut. "Kenapa sih cewek-cewek suka banget melakukan penindasan?" Firly mencebik. "Eh, lo liat cewek yang disamping pak Fiko, enggak? Yaaa gak usah lo liat juga, Nyet!" "Iya-iya sorry! Reflek aja gue. Lo kenapa marah-marah mulu, deh? Nggak perlu juga kali geplak pipi gue lagi. Kalau besar sebelah lo mau tanggung jawab? Kalau gue gak ganteng lagi gimana? Terus nggak ada cewek yang suka sama gue lo mau nikahin gue?" "Lo bisa diam nggak, sih!" Geo seketika menggerakkan tangan di bibir seolah-olah ada penutup di sana. Lebih baik dia diam dari pada gadis di hadapannya berubah menjadi serigala. "Cewek itu liatin kita mulu deh, Ge. Apa liat lo, ya? Apa jangan-jangan naksir sama lo? Atau kalian saling kenal?" Geo buru-buru mengalihkan tatapannya. Wanita dengan segala intuisinya sungguh mengerikan. "Kita pulang aja, yuk? Lo udah dapet kan kadonya? Jadi boneka Lisa black pink, tadi?" Geo tidak berniat memberi tahu Firly, jika gadis yang dimaksud tadi adalah tunangan kakaknya. Karena, itu sama saja memberi tahu Firly, bahwa salah satu bos mereka adalah keluarganya. Bersyukurnya Firly bukan Raya yang rasa penasaran dan mau taunya sangat gila. Gadis itu tidak memperpanjang pertanyaan dan malah mengangguk mengiyakan ajakannya. "Kalian pacaran?" Mendengar pertanyaan tiba-tiba membuat Geo mau tidak mau menghentikan langkahnya termasuk juga Firly. Mereka saling pandang. Tentu saja Geo bingung mau menjawab bagaimana. Kenapa juga tiba-tiba tiga orang yang baru menjadi topik pembicaraan tadi sudah berada di belakang mereka. Apa ketiganya adalah the flash? Mana mungkin? Itu hanya pikirannya yang gila. Firly dan Geo pun akhirnya berbalik dan tentu saja langsung bertemu tatap dengan mereka. "Kalian pacaran?" ulang Fiko. Geo berdecak. Sejak kapan manusia yang berstatus anak pertama di keluarganya itu penasaran dengan kisah percintaannya? "Saya tidak berkewajiban menjawab pertanyaan dari Bapak, karena itu masalah pribadi kami." Geo menoleh ke arah Firly yang berdiri pucat di sampingnya. "Permisi, Pak. Kita duluan." Pria itu mengangguk lalu menggandeng tangan Firly agar mengikutinya. "Ini di luar kantor. Masih saja mau beradu akting seolah kita nggak saling mengenal?" Geo memejamkan mata sebelum menoleh ia terlebih dahulu menata ekpresi wajahnya. "Mau Bapak apa?" "Sebagai abang sih gue bersyukur banget ternyata ada juga hal yang lo suka yang itu bukan punya gue." Geo mengepalkan tangan kembali memaksakan senyumnya. "Maksudnya apa, ya?" "Gue sempet berpikir sih lo nggak berhubungan sama cewek karena suka sama apa yang gue punya. Lo kan dari dulu memang orang semacam itu. Merengek dan akhirnya mama papa bantu lo buat merebut apa yang gue punya." Geo hendak akan menyerang abangnya, namun untungnya Firly menahannya. Pandangan Fiko beralih kepada Firly. "Karena kamu pacar Geo..." Fiko mengulurkan tangannya. "Perkenalkan gue abangnya, Geo." Firly masih terkejut walau sedari tadi dia juga sudah mengais beberapa puzle yang didengarnya. "Bapak, abangnya Geo?" tanya gadis itu memastikan. Fiko mengangguk. "Geo memang enggak mau aja mengakui kalau gue abangnya di kantor." "Memang orang-orang akan percaya kalau tiba-tiba gue bilang, kalau gue adiknya lo? Lagi pula, gue juga gak mau dicap nepotisme sama orang-orang." "Lah emang iya, kan? Lo di kantor ini kan emang atas rekomendasi dari gue? Pakai acara bilang mau merintis dari bawah segala. Itu bullshit! Merintis dari bawah itu benar-benar dari nol, enggak punya apa-apa, bukan sudah disiapkan perusahaan sama orang tua." "Please deh, Bang. kalau enggak nyokap yang nyuruh gue di kantornya lo, sekarang gue juga bakalan masih di Inggris. Kenapa nada lo kayak iri ya sama saudaranya sendiri? Kalau mau, lo bisa ambil itu perusahaan." "Karena lo anak kesayangan jadi—" "Please ... masih mau dibahas di sini?" Fiko berdehem. "Sorry ya Fir jadi dengar sesuatu yang nggak harusnya kamu dengar di pertemuan pertama kita jadi calon keluarga." Firly hanya memaksakan senyumnya karena tahu situasinya cukup panas, jika ia ikut bersuara. Gadis itu juga masih terkejut dengan informasi yang baru diterima. Sebenarnya, sebelumnya Firly memang cukup curiga dengan Geo yang katanya hanya perantauan dari desa itu berpenampilan yang jauh dari apa yang diceritakan kepadanya. Baju, sepatu, bahkan walau tidak mencolok semua adalah brand-brand ternama. Namun, Firly pikir apa yang dikenakan Geo bukanlah barang-barang asli. Setelah kepergian Fiko, Yoga, dan Kintan. Keduanya masih diam di dalam mobil tanpa ada masing-masing yang mulai untuk mengeluarkan suara. Sesekali Firly melirik Geo yang terlihat mengatur nafasnya. "Sorry, ya?" "Buat?" "Jadi kayak gini akhirnya. Ini semua gara-gara gue yang berpikir konyol tentang pak Yoga." "Jadi itu cewek—" Geo mengangguk. "Dia Kintan, tunangan abang gue. Mereka udah dua tahun tunangan." Pria itu mencengkeram kemudi. "Sebenarnya abang pantas segitunya marah sama gue. Dengan mengingat apa yang gue lakuin sama Kintan sedikit banyak sudah membuktikan apa yang tadi abang gue bicarakan. Gue cuma anak manja yang bisanya merengek buat bisa memiliki apa yang abang gue punya." Firly memegang lengan Geo dia juga bingung harus bereaksi bagaimana. Firly merentangkan kedua tangannya. "Mau peluk?" tawarnya entah dapat ide dari mana. Gadis itu terkejut walau dia yang menawarkan begitu Geo berhambur kepelukannya. Firly menepuk-tepuk punggung Geo berharap sedikit menenangkan pikiran sahabatnya yang ia sungguh tahu tidak baik-baik saja. "Jadi lo orang kaya?" Geo tertawa melepas pelukannya. "Kenapa? Lo mau pacaran beneran sama gue kalau gue kaya?" Firly melotot menarik kedua tangannya untuk berancang-ancang ke tahap selanjutnya. Merasa hawa di dalam mobil menjadi mencekam Geo pun menurunkan tangan Firly merapikannya di tempatnya sambil memaksakan senyumnya. "Hehehe ... Bercanda kali Fir, elaaah ... mau makan apa ini nanti?" "Ogah!" "Gue traktir. Gue beliin deh apa yang lo mau." "Oke! Gue tahu sekarang lo orang kaya, jadi jangan berlagak melas minta makan sama gue ya lo! Awas!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD